
Matahari mulai menampakkan dirinya, pagi ini entah mengapa mendung? mungkin ia sedang bersedih, sama seperti hati Salva pagi ini.
Salva tak bisa tenang setelah mengobrol dengan Arya tadi malam, keputusan pindah bersama Arya membuatnya merasa takut. Takut akan terulang kedua kalinya, sama seperti saat tinggal bersama kaivan dulu.
Arya memilih membawa Salva untuk tinggal dirumah yang sudah ia beli sebelumnya, ia hanya ingin hidup mandiri dan rumah itu lumayan dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja.
"Apa kita harus pindah?" salva mencoba bertanya sekali lagi pada Arya.
"Ada apa dengan mu? Ini sudah kesekian kalinya bertanya?" Arya tak mau keputusannya dibantah, lagi pula ia dulu juga tidak tinggal dirumah utama ini. Arya sudah terbiasa tinggal di rumahnya sendiri.
"Tak ada. Hanya merasa terlalu cepat." salva kembali merasa bimbang. "Apa kita harus tinggal bersama? maksudku kita bisa bercerai...."
Brakkk
Salva terdiam melihat kemarahan di wajah Arya yang begitu tiba-tiba, satu gelas sudah menghambur dilantai karena dibanting suaminya itu. Salva merasa sangat berdosa karena mengucapkan kata keramat itu, ia merasa ketakutan mendapatkan tatapan tajam Arya. Apakah suaminya marah?
"Apa aku terlalu lembut dengan mu?! Beraninya kau mengucapkan kata terkutuk itu! Siapa yang memberimu hak untuk memilih?!" salva sudah hampir menagis. Merasa tak siap menerima kemarahan yang mendadak ini.
"Jika kau berani mengatakannya lagi... Akan aku pastikan kau tidak akan bisa berbicara lagi!!" Kesabaran Arya sudah habis, ia paling sensitif jika seseorang menyinggung perasaannya.
"Maaf." Ternyata pagi yang buruk ini terjadi lagi. Haruskah di pernikahan kedua ini, suaminya membentak dirinya dipagi pertama mereka menikah. hanya sedikit kurang, saat bersama kaivan ia dibentak dan dikatai pelayanan, dan sekarang....
__ADS_1
Tangisan itu tak dapat lagi ditahannya, dengan sisa keberanian Salva bangkit berlari keluar dari kamar. Ia bahkan tak sadar menginjak pecahan kaca yang berhamburan dilantai. Pikirannya kacau, luka itu terbuka lagi, kenangan itu memenuhi isi otaknya lagi. Sebegitu besar kah luka yang ditinggalkan kaivan? sampai ia begitu trauma?
Salva tak memperdulikan luka di kakinya, ia berlari keluar dari rumah menuju taman belakang. Sekarang ia hanya ingin menagis, berteriak, mengatakan bertapa ia sangat tersiksa dengan luka ini. Bertapa ia sangat sakit menahan luka yang tak kunjung sembuh. Selama ini ia hanya tersenyum untuk mengatakan pada orang-orang bahwa ia bahagia, tapi tak seorang pun tau jika dia menyimpan begitu banyak beban dan luka dihatinya.
"Aku membenci mu!!! aku membenci mu...," memukul dada yang begitu sesak tak membuat dirinya merasa lebih baik, semakin lama dadanya semakin sakit serasa ingin meledak tubuhnya. Semaki dipukul dadanya semakin sakit semakin hancur hati dan harapannya.
"Aku membenci mu kai! Aku membenci mu!!!" suara itu semakin lama semakin lemah, entah karena darah yang tidak berhenti di telapak kakinya atau ia sudah tak mampu untuk bernafas lagi. Salva mulai terlihat hilang kesadaran, ia ambruk ditaman Belakang rumah mertuanya itu.
Sedangkan disisi lain...
Arya terdiam melihat Salva menangis dan berlari keluar dari kamar, awalnya ia memilih tidak peduli karena masih kesal dengan ucapan Salva. Tapi melihat perempuan itu menginjak beling, Arya tak bisa tidak peduli apalagi melihat darah yang tertinggal dilantai membuat ia sangat menyesal sudah membentak istrinya itu.
Saat sampai di taman belakang, ia terkejut melihat Salva meraung sambil mengucapkan kata benci. Awalnya Arya berpikir itu untuk dirinya, tapi saat mendengar ia mengungkapkan nama orang lain entah mengapa hatinya merasa sakit tak terima.
Dada Arya Semaki sesak, ia mulai tersadar saat ibunya sudah berteriak histeris melihat keadaan Salva. Ternyata Salva sudah tidak sadarkan diri, semakin membuat Arya sangat menyesal.
"Apa yang kamu lakukan Ar...? cepat angkat dan obati istri mu!" Arya yang masih linglung, mengendong istrinya kembali kekamar. Ia dapat melihat wajah yang begitu menyedihkan, apa lukanya begitu besar yang ia alami dimasa lalu? mungkin ia harus mencari tau siapa pria yang disebutnya tadi?
*****
Arya sudah selesai mengobati dan membalut luka Salva, tapi perempuannya itu belum juga sadar membuat Arya semakin cemas.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan dengannya Ar? kenapa ia bisa menagis dan terluka seperti itu?" padahal tadi Bu Mala berencana mengajak menantunya itu untuk serapan bersama, tapi ia terkejut mendengar teriakkan bercampur tangisan di taman belakang. dan ia sangat terkejut melihat kondisi disana, apalagi Salva yang sudah tak sadarkan diri.
"Maaf... Aku tak senagaja membentaknya," ucap Arya yang masih setia menatap wajah Salva.
"Kenapa? Kenapa kamu sampai membentaknya?" Kali ini ayah Tio yang bertanya dengan tegas.
"Aku hanya tidak suka... Saat dia mengatakan ingin bercerai!! Aku marah...." mereka yang ada Disana menghembuskan nafas berat, ia sangat tau sifat putra mereka.
"Jagalah perasaannya nak... dia wanita yang rapuh." Bu Mala berucap dengan sedih. Ia menatap kasihan menantunya yang malang.
Ayah Tio atau Arya belum tau tentang status perempuan itu, karena itu ia tidak tau perasaan istri anaknya itu sangat sensitif dengan hubungan.
"Arya... ayo ikut ayah! ada yang harus dibicarakan!" terlihat wajah tidak senang Arya, saat ini ia hanya ingin menunggu istrinya bangun.
"Ini sangat penting... Menyangkut tentang salva dan masa depan kalian! biarkan istrimu dijaga ibumu dulu!" mau tak mau Arya terpaksa ikut ayah.
*****
nanti disambung lagi yaπ π
jangan lupa berikan vote,like end like...
__ADS_1
salam cinta semua πππ