
Sudah sebulan salva hidup di Bandung bersama keluarga Pamannya, hidupnya berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. apalagi ada Maya yang selalu menyempatkan diri untuk datang ditempat salva, serasa punya saudara disini. dulu di Jakarta ada Nana yang selalu menemaninya, sekarang ada Maya yang selalu menjadi teman ngobrol.
Ada satu hal yang membuat salva sampai sekarang belum mengerti, semenjak salva membuka usaha disini ibu Mala selalu menjadi pengunjung setia. hampir setiap hari ia datang membawa Gilang serta. salva tidak keberatan akan hal itu, tapi ia belum tau apa tujuan Bu Mala mengunjungi nya.
"Hay Bu... mau pesan apa?" tanya salva pada Bu Mala. yang dibalas Dengan senyum manis.
"Mau pesan menantu boleh...?" salva langsung melongo mendengar pertanyaan Bu Mala.
"Boleh!! yang seperti apa?" itu bukan salva yang jawab, tapi Maya sudah lebih dulu menimpali. entah dari mana anak itu datang, tau-tau sudah nyambung aja.
"Yang didepan saya ini boleh...?" goda Bu Mala. yang mendapat tatapan bingung dari Gilang dan salva. sedangkan mereka berdua malah tertawa melihat kebingungan salva.
"Bercanda kok va... tapi jika mau juga gak apa-apa!" Salva Hanya tersenyum salah tingkah, padahal tadi ia tak sampai berpikir kesana. ia berpikir Bu Mala pasti sedang bercanda.
"Ibu bisa saja... jadi mau pesan apa Bu?"
"Seperti biasa saja...." sedangkan Gilang melihat tajam keberadaan Maya, sepertinya anak itu tidak suka dengannya.
__ADS_1
"Ada apa nak?" tanya Bu Mala.
"Kakak itu jelek! kayak preman didepan sekolah Gilang!" tunjuk Gilang tak suka, yang ditunjuk malah terkekeh geli.
"Jangan benci sayang, nanti malah suka sama Tante...." goda Maya yang langsung mendapat jitak dikenangnya dari salva.
"Anak kecil juga dirayu... kamu temani Bu Mala saja, mumpung belum ada pelanggan." memang tempat salva ini masih sepi pelanggan, karena ia baru buka jadi belum banyak yang tau.
"Gak deh kak, aku yang buat persenan. kakak gih yang ngobrol sama calon mertua...." goda Maya sambil lari menghindar dari amukan salva.
Si Maya buat aku malu aja, mana mau dia jadiin aku menantu seorang janda.
"Maaf Bu... jangan dengar kan omongan adek saya," ucap salva sungkan.
"Gak apa-apa, ucapan adalah doa."
"Ibu mah bisa aja... siapa juga yang mau sama janda seperti aku?" ucap salva sendu,jika mengingat dirinya yang harus janda dalam waktu tiga bulan ingin rasanya ia berteriak menyesali takdir yang pernah ia minta.
__ADS_1
"husss Jangan berbicara seperti itu! manusia semuanya sama, setatus itu terjadi juga bukan kehendak kamu. jadi jangan pernah merendahkan diri seperti itu lagi." nasehat Bu Mala.
Salva tertegun mendengar nasehat Bu Mala, dia benar dirinya terlalu tidak mensyukuri nikmat yang Allah beri. masih saja mengeluh, padahal banyak orang diluar sana kisah percintaannya lebih tragis dari yang ia alami.
"Ibu benar... aku sudah terlalu larut dengan penyesalan."
"Jadi ceritanya mau buka hati untuk anak ibu nih?" salva langsung memandang Bu Mala dengan sedikit kesal, padahal mereka sudah berbicara serius tadi. ehh malah kembali kesana lagi!
yang benar saja... berda didekat dia saja, sudah merasa seperti di kutip, apalagi jadi pasangan? ehh kok aku pede kali ya? belajar tentu juga Bu Mala serius....
"Loh kok bengong? pasti lagi mikirin anak Tante ya?"
"Gak..." ucap salva sudah mulai kesal digoda terus.
"Kamu jangan pandang dari luar saja... dia memang terlibat kejam seperti itu, tapi hatinya amat lah lembut. karena sikapnya itu sampai sekarang ia belum juga menikah... padahal umurnya sudah kepala tiga!" curhat sang calon mertua, ehhh maksud Bu Mala.
ibu mana yang gak memuji anaknya? pasti mereka bilang anaknya baik lah, ganteng lah... tapi kenyataannya malah menyeramkan. bagaikan masuk kerumah hantu!
__ADS_1
Salva tak lagi menjawab pertanyaan Bu Mala. ia hanya menjadi pendengar yang baik untuk cerita ibu-ibu itu. jika dijawab pasti ia akan semakin digoda,
*******