Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
masalah cemburu


__ADS_3

Jika mengatakan kebahagiaan itu datang terlambat, orang itu salah besar. Kebahagiaan tak pernah telat atau pun salah alamat, hanya saja orang itu tidak tau cara menggapai impiannya.


Seperti salva sekarang, ia menemukan kebahagiaan diwaktu yang tepat. Disaat ia berusaha mengobati lukanya, datang Arya yang menawarkan obat penawarnya.


Cinta yang tulus itu tak bisa diukur dengan apapun, meskipun ditawarkan dengan bongkahan berlian, tapi hati tidak menghendaki kita mau apa. Meskipun kaivan yang kaya, bergelimang harta tapi dia tak seberuntung itu memiliki cinta yang tulus. sedangkan di sisi lain, Arya yang orang yang sederhana, tapi ia kaya cinta. jika disuruh memilih biarlah hidup apa adanya dengan cinta dari pada kaya tapi makan hati.


"Sayang... Apa kamu tidak ingin menceritakan kegiatan mu tadi siang?" Salva sedang meringkuk di pelukan suaminya, malam yang dilanda hujan gerimis membuat dua sejoli itu tak mau berjauhan.


"Cerita apa mas?" Salva menatap Arya dengan pandangan tak mengerti.


"Apa saja," Arya tersenyum manis.


Apa mas Arya tau aku bertemu dengan Kaivan? mmm lebih baik aku jujur, dari pada nanti dia tau sendiri, pasti ia akan kecewa.


"Tidak ada yang sepesial mas... setelah kamu pergi bekerja, aku pergi berkeliling ditaman untuk sekedar menenangkan pikiran...."


"Memangnya ada apa dengan pikiran istriku? Apa ada yang kamu pikirkan?" Salva menggeleng cepat.


"Bukan seperti itu... hanya saja aku merasa jenuh dirumah Tampa bekerja, tapi...." Ia melihat suaminya sebelum melanjutkan ucapannya, ia takut Arya cemburu nanti.


"Tapi apa..?"


Boleh dirinya jujur, entah mengapa setiap hari ia melihat istrinya bertambah cantik. Apalagi mengeluarkan ekspresi seperti itu, benar-benar lucu saat Salva takut dirinya marah, dia tidak murung, tapi malah seperti orang malu-malu kucing.


"Tapi... tapi aku bertemu dengan dia," ucap Salva sambil menusuk-nusuk dada suaminya.


"O... apa aku bisa tau Dia siapa?" Arya berpura-pura tak paham, padahal ia sudah ingin tertawa sekarang.

__ADS_1


"Dia... Dia, maksudku mantan suamiku,"


"Ohhh...," Arya menjawab santai. Arya berpura-pura tidak peduli.


"Hanya oh? kau tidak marah?" Sepasang alis mata Salva terangkat naik. "Kau... kau tidak cemburu?" salva mengigit bibirnya karena malu, bagaimana mungkin ia bertanya hal itu, hanya saja ia tidak bisa menahan kehendak hatinya untuk bertanya.


"Kamu ingin aku marah dan cemburu?" Tanya Arya.


Cemburu? ia tidak akan melakukan itu lagi, gara-gara satu kata terkutuk itu ia hampir kehilangan istrinya.


"Ya...aku hanya bertanya, jawaban mu seperti tidak perduli denganku. Apa kamu tidak mencintaiku?" Salva bertanya sambil memilih selimut.


"Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu?" Salva menjauh dari dekapan suaminya. Ia merajuk, ya merajuk karena Arya tidak peduli.


"Tentu saja bisa..! Jika kamu mencintaiku,kamu pasti cemburu mas! tapi kau tidak peduli saat ku bertemu dengan dia, itu artinya kau tidak mencintaiku!!" Salva masih bersikeras dengan pendapatnya.


Arya tertawa, ia merasa lucu saat mendengar istrinya, bahkan wanita itu tidak mau dipeluknya lagi.


"Benarkah? lalu siapa yang kemarin marah-marah saat melihat istrinya dipeluk pria lain? Dan siapa juga yang kabur sampai tak pulang-pulang dan berakhir sakit karena rindu?" Ejek Salva balik.


Arya hanya bisa nyengir malu, entah kenapa istrinya masih saja mengungkit masalah itu. Karena itu lah ia berjanji tidak akan ada kata cemburu lagi dalam hidupnya.


"Hehe... itu beda sayang...." kilah Arya. "Kamu lihat kan, hanya karena cemburu seseorang bisa membuat kesalahan, menyakiti istrinya bahkan sampai memutuskan hubungan. Karena itu aku tidak ingin cemburu lagi, cukup sekali Melaku kesalahan, tidak ingin jauh dari mu lagi."


Tak ada yang bisa diucapkan Salva lagi, ia merasa malu karena sudah mempertanyakan cinta suaminya. Akhirat ini diam memang sangat puitis setiap ucapannya, jadi ia sudah mulai terbuka.


Salva teringat sesuatu, sudah tiga hari ini ia tidak pergi menjenguk ayah Kaivan. Bagaimana ia bisa lupa akan hal itu, pasti pria tua itu akan kecewa nanti.

__ADS_1


"Mas...?"


"Ya...."


"Bagaimana keadaan tuan Hendra? Maksudku ayah Kaivan, bukankah mas yang merawatnya?" Arya mulai berpikir pasien yang mana. "oh... maaf sayang, mas tidak tau. Saat mas sakit, ia dirawat oleh dokter lain."


"Mas...."


"Mmm" Balas Arya.


"Apa aku boleh bertemu dengannya? Aku berjanji akan sebentar!" tanya salva, ia berharap kali ini suaminya berbaik hati untuk mengizinkan dirinya keluar. Bukan berarti Arya selama ini mengurungnya, hanya saja Arya tidak mengizinkan Salva keluar sendirian, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Baiklah... kamu boleh menemuinya besok...," ucap Arya.


Salva tersenyum senang. Meskipun ia bermasalah dengan kaivan, bukan berarti ia juga harus mengabaikan mantan ayah mertuanya itu kan.


"Terimakasih mas, aku janji tidak akan macam-macam."


"Jangan senang dulu sayang... kau tidak akan macam-macam karena aku akan ikut dengan mu!" Senyum Salva Langsung hilang, ia sudah menduga Arya tidak akan membiarkan dirinya pergi sendirian.


"Katanya tidak cemburu... Selalu percaya! tapi kenapa mas gak boleh aku pergi sendirian?" Sungut salva.


"Aku bisa percaya denganmu sayang, tapi aku tidak yakin dia akan melepaskan mu dengan mudah." Lingkaran tangan Arya semakin kuat memeluk.


Salva tak bisa berkata-kata lagi, mungkin memang lebih baik bila Arya ikut dengannya, setidaknya ia tidak akan takut pada kaivan.


"Baiklah... selamat malam suami ku...," Salva berkata lirih, sebelum ia menutup matanya untuk beristirahat malam ini.

__ADS_1


Meskipun aku bilang tidak cemberut, tetap saja aku tidak akan membiarkan pria itu memiliki kesempatan untuk mendekati istriku. Jika dia masih berani menemui istriku, aku tidak akan tinggal diam lagi!!!


*****


__ADS_2