Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Ini adalah awal masa dimana kisahku dimulai, sebuah kisah yang belum pernah seindah ini selama hidupku. Namaku Bayu, siswa baru di SMA Cendikia, sebuah sekolah favorit impian para lulusan SMP atau sederajatnya, dan aku adalah satu yang beruntung.


Sebenarnya ada dua sekolah favorit yang berdekatan di kota ini, satu lagi SMA Model, seperti namanya sekolah itu adalah salah satu cerminan, model sekolah terbaik untuk tingkat SMA dan selalu merasa bersaing dengan SMA Cendikia bila ada acara perlombaan.


Bicara tentang sekolahku sekarang, ada banyak hal yang menarik disini dan yang paling menarik adalah setiap sudut sekolah ini didekor dengan tingkat artistik terbaik, gaya klasik Eropa, sehingga kamu akan merasa sedang berada di sekolah Hogwarts atau semacamnya. Aku tidak berbohong, bahkan pakaian kami pun mendukung, terlihat keren dan elegan.


Tapi, dari itu semua aku bukan akan bercerita tentang seberapa tenar sekolah ini, melainkan sebuah ruang waktu yang hanya ada aku, dia dan beberapa tokoh pendukung. Ya, ini kisahku.


***


Hari pertama masa orientasi siswa didukung oleh cuaca cerah. Para kakak kelas sangat bersuka ria menguasai gerak-gerik para siswa baru nan lugu lagi polos itu, memang dasar anak baru tidak tahu apa-apa. Di tengah cerahnya wajah-wajah para senior yang leluasa itu berbanding terbalik dengan para junior baru yang hanya bisa melongo dalam panasnya terik matahari yang disiram oleh arahan-arahan kakak kelas yang rasanya malah seperti ocehan belaka, tidak berguna sama sekali, selain hanya menganiaya siswa baru yang sudah seperti hewan piaraan mereka.


"Kalian disini akan diajarkan bagaimana menjadi seorang terdidik, telaten, disiplin, dan nggak banyak bacot." Suara kakak kelas yang menjabat sebagai ketua OSIS itu lebih terdengar seperti youtuber yang sering toxic daripada menjadi pembicara di acara seperti ini. Sementara para kakak kelas yang lain malah bersorak 'BETUL!'. Untungnya mereka tidak menyerukan kata itu tiga kali layaknya serial Upin-Ipin.


Ya, walaupun sudah banyak sumpah serapah yang bersarang dalam benak kepala untuk para senior itu, alih-alih juga tidak akan keluar, mengingat sistem senioritas masih menjadi hukum alam.


Aku yang berada di antara seribuan siswa yang berdiri di lapangan luas sekolah ini tanpa peduli sesiapa yang bicara di depan sana hanya bisa berdoa agar acara berdiri di tengah terik ini akan segera berakhir.


BRUK!


Seseorang tidak jauh dari tempatku berdiri jatuh pingsan.


"Kak! Ada yang pingsan!" Salah seorang di barisan perempuan memanggil ke arah barisan para senior yang berada di belakang barisan.


Para senior yang mendengar itu, salah satunya langsung mencari anggota PMR, sebuah organisasi ekstrakurikuler di sekolah ini, untuk menggotong salah seorang siswi yang pingsan itu. Hanya berselang satu siswa denganku, perempuan yang jatuh pingsan itu dapat kulihat.


Cukup lama menurutku anggota PMR yang entah dimana itu masih belum datang juga, hingga senior itu meminta siapa saja untuk membawa siswi itu ke ruang UKS segera, tapi tidak ada yang mau, mengingat mereka sudah lelah berpanas-panasan. Aku akhirnya memutuskan untuk menolong.

__ADS_1


"Mari, saya tolong, Kak."


"Ah, iya, tolong, ya."


Aku berlari membopongnya ke UKS, sambil mengikuti salah seorang senior yang menuntun jalan ke sana. Sementara, anggota PMR baru datang ke barisan tadi saat kami sudah setengah perjalanan.


Di ruang UKS, sudah ada seseorang yang ku yakin adalah dokter untuk sekolah ini, segera ia menuntunku ke salah satu ruang dengan pembatas tirai itu.


"Kamu temannya?" Tanya dokter itu padaku, sedang tangannya sibuk mempersiapkan alat-alat yang akan digunakannya.


"Maaf, Bu, saya siswa baru, belum kenal sama dia."


"Oh, begitu." Dokter itu mengangguk paham terus melanjutkan pekerjaannya.


"Kalau begitu, saya izin pamit ke lapangan lagi, Bu."


"Oh, iya, Bu." Aku berjalan menuju kursi yang ditunjuk dan duduk di sana.


Senior yang tadi menemaniku ke UKS ini sudah duduk di kursi lain sedang memainkan ponselnya.


Sambil menunggu dokter itu datang, aku memperhatikan ruang UKS ini yang lebih terlihat seperti sebuah hotel, hanya furnitur saja yang membuatnya menjadi ruang kesehatan. Di setiap sudutnya ciri klasik ala Eropa itu sangat terasa, terlihat elegan, bersih, dan dingin. Itu dia yang kutunggu-tunggu dari tadi, AC. Memang dari pada di lapangan aku lebih memilih di sini. Ku hirup sepuas-puasnya angin segar yang keluar berhembus dari alat itu. Untung saja senior tadi tidak memperhatikanku yang bertingkah aneh di ruang ini, dia masih sibuk dengan ponselnya.


Dokter tadi akhirnya datang ke mejanya. "Siapa namamu?"


"Bayu, Bu."


"Bayu." Dokter itu mengangguk-angguk sambil menulis sesuatu di sebuah lembaran yang beralaskan papan ujian dari kaca. "Begini, Bayu. Temanmu itu sepertinya belum sarapan, boleh saya minta tolong belikan..."

__ADS_1


"Bu, saya minta izin ke lapangan, Ketua OSIS meminta anggotanya ke lapangan sekarang." Kalimat senior tadi memotong ucapan Bu Dokter yang tiba-tiba terhenti dan beralih padanya. Setelah anggukan dari dokter itu, ia pun pergi meninggalkan ruang yang kini ku tempati ini.


"Saya boleh minta tolong belikan makanan di kantin?" Lanjutnya.


"Maaf, Bu, saya belum tahu dimana kantin."


"Tidak jauh, kok. Kamu lurus saja ke kanan ruang ini, persis di belokan sana ada kantin di sebelah kanan."


Aku mengangguk paham. "Baik, Bu. Saya mohon izin dulu."


Aku berjalan keluar dan mengikuti arahan dokter itu untuk menemukan kantin sekolah ini. Tidak susah, akhirnya aku menemukan sebuah kantin yang cukup besar di sana, bersih lagi, ini lebih cocok disebut kafe. Entah sejak kapan aku tidak pernah menyadari bahwa ini benar-benar SMA atau kepingan Eropa yang tiba-tiba hilang lalu pindah ke sini. Benar-benar kesan yang sangat menarik untuk sebuah momen perkenalan dengan sekolah ini.


Aku segera memesan makanan kotak dan duduk sebentar menunggu. Tidak ada siswa-siswi yang berkeliaran nongkrong di kantin ini, sepi-senyap, hanya ada para penjual kantin. Tidak perlu menunggu lama akhirnya pesananku sudah selesai dibungkus.


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama." Balas penjual itu diiringi senyumannya.


Aku kembali ke ruang UKS dan menghampiri dokter tadi yang kini telah duduk di samping siswi yang pingsan itu.


"Ini, Bu, makanannya."


Dokter meraih makanan yang baru saja ku beli.


Siswi itu sudah sadar yang sekarang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Wajahnya masih pucat, aku kasihan melihatnya, matanya menatap kosong, dan untuk pertama kalinya dia melirik padaku dengan tatapan lemah itu.


DEG.

__ADS_1


Aku mengkhawatirkannya.


__ADS_2