Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
H-?


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari Tangan lihai itu masih berurusan dengan kertas dan pena di hadapannya. Ngantuk? Iya. Tapi, targetnya belum terpenuhi.


"Lima soal lagi." Gumamnya.


Sret..sret..sret..


"Akhirnya."


Cinta beranjak dari kursinya, berjalan gontai ke tempat tidur. Ia langsung menutup mata yang tak lama kemudian tertidur lelap.


Sudah seminggu yang lalu ia lakukan seperti ini. Karena waktu perlombaan tinggal menghitung hari.


***


"Bay, tiga minggu lagi ada festifal di alun-alun."


"Oh, yang itu. Iya, kenapa?"


"Pergi yuk, nanti."


"Boleh."


"Ntar aku jemput, kita pergi malam, nanti aku ajak Cinta juga."


Aku balasnya bergumam.


Guru pun masuk kelas. Semua sudah siap untuk kembali ke mode belajar, alat tulis sudah stand by di atas meja, tatapan ke depan, dan tak lupa urat kepala yang mulai menegang.


Guru di depan mulai dengan materinya. Papan tulis digores dengan tulisan tangannya yang khas, ala tulisan orang-orang dulu, tegak bersambung semua. Mata-mata para siswa jadi rabun mendadak hendak membaca tulisan itu dengan benar.


"Eh, Bay, yang baris kedua apaan?" Gama yang duduk di depanku pun tidak dapat menerka tulisan di papan sana.


"Oh, ini." Aku menunjukkan tulisanku yang sudah selesai menulis baris ketiga.


"Ok, Bay, makasih. Sebenarnya, tulisan Bapak itu bagus, sih. Tapi, kalau diterapin gini kan susah."


Aku terkekeh. Siswa-siswi lain pun mengalami hal yang sama. Saat tiba waktunya mencatat begini selalu riuh tanya sana-sini apa yang ditulis di papan itu.


"Sudah?" Pak Anton namanya, guru sejarah di sekolah ini. Tulisan khas beliau menjadi bersejarah di mata anak didiknya yang pernah belajar dengan beliau. Bila disebut nama Pak Anton, maka yang terlintas di benak adalah Oh, Bapak sejarah yang tulisannya bersejarah itu. Demikian kata siswa-siswinya.


"Belum, Pak, sedikit lagi." Kata salah seorang siswa yang masih sibuk dengan catatannya, padahal dia baru selesai baris kedua dari enam baris tulisan di papan sana.


Setengah jam terakhir, akan diisi oleh tanya jawab secara lisan, yang berhasil menjawab benar diberikan acungan jempol dari Pak Anton, begitulah kegiatannya hingga jam pelajaran usai.


"Bay, duduk bentar dulu sini." Sudah jam istirahat, Yoga menyeretku ke kursi taman depan kelas. "Bentar lagi aja ke ruang mading."


Aku pun ikut ajakannya, duduk di kursi taman sambil bersandar melepas penat setelah belajar.


"Eh, kalian tumben disini." Dina baru keluar dari kelas.


"Emang nggak boleh." Balas Yoga yang masih santai bersandar di tempatnya.


"Ya, bukan gitu, sih. Nggak biasa aja. Aku boleh duduk juga nggak?" Dina menunjuk bangku panjang yang masih banyak berlebih.


Yoga sedikit risih, beberapa saat ia tidak menjawab, malah menatapku.

__ADS_1


"Duduk aja, Din." Balasku kemudian. Dina pun duduk di sampingku, agak berjarak.


"Hei, geng, nimbrung ya." Nanda datang dan berjongkok di depan kami. Di belakangnya datang lima orang lagi yang juga ikutan jongkok sepertinya. Aku jadi tidak enak karena duduk di kursi sementara mereka jongkok begitu.


"Rame, nih, jarang-jarang kayak gini." Nanda memperhatikan sekitarnya. Yang mendengar hanya cengar-cengir.


"Hayoo, siapa tadi yang matanya rabun liat papan tulis, ayo ngaku."


Semua yang mendengarnya tertawa.


"Nih, si Riko matanya malah kelelep." Yang bicara mempraktekkan apa yang diucapkannya, yang mendengar balasnya tertawa.


"Eh, tau nggak, liat si Putri udah kayak barbie pas liat papan tulis."


"Barbie apa?"


"Rabunsel."


Semuanya tertawa lepas mendengar jawaban itu sampai susah berhenti dengan mata yang sudah berair.


"Eh, Bay. Kamu nggak bisa ketawa, ya? Senyam-senyum senyam-senyum. Ketawa, kek."


"Kamu kayak baru kenal kemaren aja, si Bayu mah, tawanya kelelep semua."


Lagi-lagi tawa mereka pecah tanpa menghiraukan puluhan pasang mata yang melihat mereka.


Aku hanya bisa melakukan seperti yang mereka ucapkan, sekedar tersenyum sebagai ganti tawa.


"Aku.. ke ruang mading dulu, ya." Aku sudah berdiri sekarang.


"Sorry, aku harus kesana sekarang, Bye." Aku berlari kecil meninggalkan mereka.


Sementara suasana di taman sekarang jadi berbeda. Hening seketika memandang kepergianku.


"Yah, nggak seru lagi. Udah, ah. Kantin, yuk."


"Yuk, laper juga, nih."


Yoga juga ikut dengan mereka.


"Aku ke kelas, deh." Dina mengode dengan tangannya.


Akhirnya grup ghibah itu bubar.


"Ketua. Tumben baru datang?" Seorang senior menyapaku.


"Tadi, duduk-duduk bentar bareng teman-teman."


"Owh." Senior itu lalu kembali ke tempatnya.


Aku duduk di kursiku. Belum ada kerjaan sekarang. Satu per satu rekan-rekan ekskul ini mulai masuk, mereka langsung duduk mengambil meja lipat yang tersedia lalu mengerjakan aktivitas seperti biasa.


Aku pun mulai mengerjakan pekerjaanku, berkutik dengan lembaran-lemabaran karya dan proposal yang terletak di atas meja hingga waktunya kembali ke kelas.


"Ketua, Genta izin, katanya sakit, sempat lupa tadi mau bilang. Dia nggak hadir ke sekolah hari ini." Seorang teman seangkatanku mendatangi mejaku.

__ADS_1


Pantas saja hari ini suasananya tenang, yang biasanya membuat ricuh di ruang ini ternyata tidak hadir. Aku tidak bermaksud senang mendengar kabarnya yang sakit. Di satu sisi aku senang semua terlihat kondusif, di sisi lain aku juga rindu dengan suaranya yang walaupun sering membuat onar di ruang ini. Tapi, jujur rasanya sepi.


"Oh, gitu? Semoga dia cepat sembuh."


Siswa itu mengiyakan ucapanku lalu berlalu hendak memasang sepatunya.


"Duluan, Ketua."


"Iya."


Aku pun memasang sepatu di depan pintu itu lalu beranjak kembali ke kelas. Bel masuk berbunyi saat aku sudah di depan pintu kelas.


"Eh, Bay. Nanti sore latihan basket, ya?" Yoga mengubah posisi duduknya agar bisa melihat ke arahku.


Aku sudah duduk di kursiku, "Iya."


"Aku pengen banget liat kamu latihan, tapi nanti ada pelatihan matematika." Yoga mendengus sebal.


"Ya udah, liatnya waktu selesai lomba aja."


"Mm, kayaknya emang gitu."


Guru mata pelajaran masuk membawa tas sandangnya yang berisi keperluan mengajar. Kami pun kembali ke mode belajar.


***


Sudah pukul dua lewat dua puluh menit dini hari Cinta masih berkutik di depan bukunya.


CEKLEK


Alih-alih terkejut, ia sama sekali tidak menoleh ke arah pintu kamarnya yang dibuka dari luar.


"Cin, kok belum tidur? Jam brapa Ini?"


"Iya, Ma, bentaaar lagi." Matanya masih mengikuti alur soal di buku tebal itu.


"Nanti kamu kesiangan." Wanita empat puluh tahunan itu mengelus-elus rambut anak semata wayangnya.


"Iya, Ma. Ini mau selesai."


Sejenak mereka saling diam.


"Udah, aku mau tidur sekarang." Suara hidung yang mengendus-endus tidak bersahabat itu sudah terdengar dari tadi. Hidungnya gatal karena cairan bening yang keluar tanpa henti. Bahkan sudah beberapa helai tisu bertumpuk di tong sampah mini di samping meja belajarnya.


"Mama ambilkan air hangat sebentar, ya."


Cinta membalasnya bergumam, ia telah berbaring di tempat tidurnya, menutup matanya dan masih terdengar mendengus.


Wanita tadi datang membawa segelas air hangat. "Duduk dulu, Nak."


Dengan berat Cinta akhirnya mendudukkan dirinya di tempat tidur itu. Ia meraih segelas air hangat dari tangan mamanya lalu meminumnya beberapa kali hingga habis.


Gelas itu berpindah tangan lagi, ia membaringkan tubuhnya lagi di tempat tidur itu dan siap untuk berlayar ke mimpi.


Mamanya beranjak dari tempat tidur, mematikan lampu lalu keluar dengan menutup kembali pintu kamar itu.

__ADS_1


Di kalender meja di atas meja belajar Cinta terdapat kode yang akan mengingatkannya bahwa perlombaan matematika yang hanya tinggal lima hari lagi.


__ADS_2