
Hari Jum'at, jam bagi kelasku untuk olahraga. Dimulai dari pukul setengah tiga hingga jam empat sore.
"Pemanasan dulu!" Ucap guru olahraga kami di depan dengan suara beratnya. Pak Damar namanya. Pria setengah baya berkumis tebal dengan tubuh proporsional itu sangat disegani oleh siswa-siswi di sekolah ini. Beliau sangat telaten dan ucapannya berwibawa.
Pemanasan dilakukan dengan beberapa gerakan sederhana, mulai dari kepala hingga kaki.
PRIITT! Suara peluitnya menggema di lapangan terbuka ini. Guru itu lalu mengambil dua buah bola basket dari dalam tas besar yang dibawanya tadi.
"Hari ini kita bermain basket. ....."
Beliau memberi arahan terlebih dahulu tentang permainan bola itu, sementara kami yang berbaris rapi di hadapannya menyimak.
"Sebelumnya kalian sudah pernah bermain basket, bukan?"
"Sudah, Pak!" Jawaban serentak dari kami itu menggema.
"Hari ini saya tidak lagi akan memberi tahu seperti apa cara bermain basket, tapi saya akan melihat seberapa jauh kalian tahu tentang permainan ini. Mengerti?"
"Mengerti, Pak!" Paduan suara itu untuk yang kedua kali.
"Jadi sekarang akan dipisah yang perempuan di lapangan sebelah sana, yang laki-laki di sebelah sini." Ucap Pak Damar sambil menunjuk lapangan yang ia maksud.
Di lapangan luas ini ada empat lapangan bola basket dan untuk lapangan permainan lain juga lebih dari satu, mengingat jumlah siswa-siswinya yang banyak dan ukuran luas sekolah yang memungkinkan.
Kami mulai bermain setelah tim dibagi oleh Pak Damar. Tim laki-laki terbagi menjadi empat dan di tim perempuan juga sama. Akan ada dua ronde dalam permainan ini.
Guru olahraga itu duduk di kursi panjang yang ada di tepi lapangan memperhatikan para siswa-siswi yang bermain basket di lapangan.
Aku dan Yoga terpisah tim, tapi sama-sama di kesempatan pada ronde kedua. Sambil menunggu waktu datang, kami menonton ronde pertama main di sekitar Pak Damar. Mereka yang kebagian tempat duduk di kursi panjang itu duduk manis di atasnya, sementara yang lain duduk di bawah atau berdiri. Aku dan Yoga berdiri dan kami berada di belakang Pak Damar sekarang.
Beberapa di antara mereka terlihat jago bermain hingga teman-temannya yang lain tidak kebagian memegang bola. Pak Damar sampai tersenyum melihatnya.
CRACK!
"Wooooo..." Sahutan dari para penonton karena bola berhasil masuk dengan lemparan yang indah.
"Ketuaaaa!" Itu sahutan melengking dari kaum hawa di sekitar lapangan perempuan di sana. Teriakan histeris itu heboh menyanjung ketua kelas yang berhasil mencetak poin. Kami dari kaum Adam hanya dapat tertawa ke arah Ketua yang dapat sambutan ekstrim itu. Sementara ia di lapangan itu membuang muka menahan malu.
"Memang Ketua kita bukan abal-abal!" Sahut seorang teman laki-laki ke arah orang yang dimaksud dan dibalas tawa oleh teman-teman yang lain.
Mereka yang berada dalam lapangan itu seketika semua berhenti bermain karena Ketua menepi dari tengah lapangan masih membuang mukanya ke arah lain menahan malu. Teman-teman regu dan lawan pun menepuk-nepuk bahunya seraya tersenyum menahan tawa.
Pak Damar pun tak dapat menahan senyumnya yang menampakkan gigi-gigi yang masih kokoh itu melihat siswanya demikian.
Sementara pandangan melongo ke arah lapangan tim laki-laki, tim perempuan yang sedang bermain di lapangan sana pun semakin semangat menggiring bola kesana-kemari. Hingga lengah sedikit pun menjadi peluang terbesar.
CRACK!
"Woooooww.." Balasan dari kaum Adam melihat Dina dengan kagum di sana.
"Dinaaaa!" Kini teriakan histeris beralih. Lagi-lagi suara melengking itu menggema di lapangan terbuka ini.
"Hebat!" Ucap salah seorang dari teman laki-laki di sini yang dari tadi memperhatikan permainan di lapangan perempuan sana.
Pak Damar tepuk tangan sembari wajahnya sumringah melihat siswa-siswinya yang terlihat bersemangat dan bermain baik.
Dina dapat pelukan hangat dari regunya, sementara regu lawan memandangnya dengan berdecak kagum. Tidak merasa iri atas itu, malah membuat mereka tambah bersemangat lagi.
__ADS_1
Waktu berlalu sudah, kini waktunya untuk ronde kedua. Tim dari ronde pertama keluar dari lapangan disusul masuk oleh tim ronde kedua. Permainan dimulai.
Bola dilempar.
PAKK.
Tepisan pertama berhasil direbut oleh tim lawanku. Mereka kemudian bergerak gesit untuk mencegah bola berhasil pindah ke tangan kami.
"Ambil, Ga!"
HUP
Tangan Yoga menangkap bola itu sempurna, kemudian bergerak gesit sambil menggiring bola dengan gaya yang keren.
"Gama!"
Bola masih berhasil ditangkap oleh tangan lawan. Aku memperhatikan arah bola itu kemana pergi, satu kelalaian membuka peluang.
TAP
Tanganku berhasil merebut bola dari tangan Gama. segera ku giring bola mendekati ring lawan, hanya untuk tak-tik. Lalu, ku melempar bola tiba-tiba ke arah temanku yang lain. Dia tengah berjuang sengit mempertahankan bola yang ada di tangannya.
Aku sudah sedikit mendekat ke keranjang lawan.
"Bay!"
HUP
Hampir saja lawan yang ada di sampingku meraihnya walau bola sempat terpeleset sebentar di tanganku, aku menangkapnya cepat lalu melakukan gerakan gesit untuk menghindar darinya. Mataku menatap tajam keranjang lawan di sana.
HUP. Aku melompat dan melayangkan bola dengan dorongan yang besar.
Bola itu kini terjun bebas ke bawah dari dalam keranjang. Pemain lain hanya bisa menatapnya sambil berdiam bisu melihat bola itu berhasil masuk keranjang.
Pak Damar tepuk tangan dengan senyum yang merekah dari bibirnya, membuyarkan lamunan mereka yang hanya menatap bola yang jatuh dari keranjang begitu saja.
"KYAAAAA!! Bayuuuuu!!!" Mulai lagi.
"Wah, hebat. Kita baru aja mulai, Bay." Sambut seorang teman reguku sambil menepuk-nepuk bahuku dan teman-teman yang lain mendekat memberi selamat.
Ini memang baru menit kedua. Tapi, kan, cetak gol itu tidak memandang waktu. Kalau bisa lebih cepat dari itu tentu lebih baik lagi.
Sambutan serupa terjadi seperti ronde pertama tadi, hiruk pikuk memenuhi lapangan.
Permainan dilanjutkan, timku mendapat poin lebih banyak dari tim lawan. Usai sudah jam olahraga sore ini. Keringat-keringat segar mengucur membasahi badan para pemain. Sebelum pulang, Pak Damar terlebih dahulu memberi arahan baru setelah kami dibolehkan pulang.
"Wah, hebat kamu, Bay. Aku nggak nyangka." Gama menepuk-nepuk bahuku setelah selesai minum di luar lapangan.
"Iya, Bay. Hebat banget." Nanda datang menambahkan.
Aku menggeleng lalu minum air putih yang terasa segar itu lagi.
"Karna yang lain kurang fokus aja." Jawabku sambil menutup kembali tumbler milikku.
"Eh, Bay. Duluan, ya." Temanku yang lain melambai. Aku mengangguk sembari tersenyum.
"Selamat ya, Bay." Ketua menghampiriku dengan senyum tegas itu.
__ADS_1
"Kamu juga, Ketua."
Siswa yang disapa ketua itu lalu berlalu meninggalkan lapangan hendak pulang.
"Wah, pahlawan memang kamu, Bay." Yoga datang menghampiri.
Aku tidak tahu harus menanggapinya dengan apalagi, yang bisa kulakukan hanya menggeleng dan tersenyum.
"Yuk." Ucapku agar kami semua segera berjalan untuk pulang, mereka balas mengangguk.
"Eh, aku duluan, ya. Ada perlu." Nanda berpamitan lalu disusul Gama. Mereka berdua berlari mendahuluiku dan Yoga. Kami pun melanjutkan jalan dengan santai.
"Bayu." Suara Pak Damar dari salah satu ruang. "Boleh bicara sebentar?"
"Oh, iya, Pak."
"Bay, aku tunggu di sini, deh."
"Iya, Ga. Bentar, ya."
Aku berlari kecil menghampiri Pak Damar yang masih di depan pintu ruang itu. Ia mengajakku masuk ke dalam dan mempersilahkan duduk di salah satu kursi di sana.
"Begini, Nak. Bapak sedang mencari siswa-siswi yang akan ikut pertandingan nanti." Pak Damar berhenti sejenak, aku masih menunggu apa yang akan diucapkannya. "Bapak lihat kamu punya potensi. Jadi, Bapak ingin mengajukan kamu untuk ikut di grup basket. Kamu bersedia?"
"Bukannya di ekskul basket sudah dipilih untuk ikut itu, Pak?"
"Benar, tapi tidak menutup kemungkinan yang dari luar ekskul itu juga bisa ikut berpartisipasi. Bagaimana? Kamu mau?"
Aku menimbang-nimbang sejenak keputusan ini. Secara, keseharianku memang sudah sibuk dan boleh dibilang cukup padat. Apa jadinya kalau aku menambah kegiatan lain, bisa jadi satu atau beberapa kegiatan jadi terbengkalai.
"Saya khawatir tidak bisa ikut latihan, Pak."
Pak Damar menyunggingkan senyum hangat di wajahnya, "Latihannya di luar waktu belajar, satu jam setelah pulang sekolah dan hari Sabtu-Minggu dari jam setengah tiga sampai jam lima."
Aku berpikir lagi. Memang di jam itu tidak ada kegiatan lain, dan aku sebenarnya juga tertarik dengan ini. Ku tarik napas dalam-dalam untuk meyakinkan diri.
Ku putuskan keputusanku dengan anggukan mantap, "Baik, Pak. Saya ikut."
Pak Damar terkekeh menepuk-nepuk pundakku. Ia lalu memberi sedikit arahan sebelum mempersilahkanku keluar ruangan.
"Udah selesai, Bay?" Yoga masih menunggu di tempat tadi, dan kini ia bersama Cinta. Hari ini mereka libur pelatihan matematika.
"Udah."
"Dipanggil kenapa, Bay?" Yoga tampak penasaran.
Aku sedikit ragu memberitahunya.
"Bagi tau, dong. Kepo, nih."
"Aku... diminta ikut jadi peserta untuk pertandingan basket nanti, Ga."
BUKK. Kepalan tangan Yoga bertumbuk di pangkal lenganku yang membuat badanku terhuyung. Aku memegangi pangkal lenganku karenanya.
"Aku dukung kamu, Bay." Ucap Yoga mantap dengan senyum lebar di wajahnya. "Selamat, ya." Kali kedua kepalan tangganya memukul pangkal lenganku.
Aku sedikit canggung, "Makasih, Ga."
__ADS_1
"Selamat, ya." Ucap Cinta dengan senyum yang terlihat senang mendengar kabar ini.
"Makasih, Cin."