Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Bertemu


__ADS_3

"Eh, itu siapa yang dibawa gitu?"


"Nggak tau."


"Liat yuk."


"Yuk."


"Eh, itu bukannya yang ikut basket itu, ya?"


"Eh, iya bener. Kasian banget dia."


Genta dan Rian masih membawa tubuh malang itu menuju salah satu mobil yang sudah menunggu di luar gerbang. Hiruk pikuk sekitar mengiringi langkah mereka yang terburu-buru.


"Eh, itu Bayu dari kelas XC."


"Eh, iya, itu Bayu."


Sebelumnya


Ruang kelas disibukkan oleh topik 'Bayu kemana'. Sejak jam istirahat pertama yang biasa ia habiskan di ruang mading kini sama sekali tidak masuk di jam pelajaran berikutnya hingga pulang.


"Kalian beneran nggak tau dimana Bayu?"


"Nggak. Coba tanya Yoga deh."


"Eh, Ga. Kamu tau di mana Bayu?"


"Nggak."


Apa yang ada di pikiran Yoga sekarang tidak lain adalah kemana Bayu pergi sampai tidak masuk kelas, hal yang tidak pernah menjadi pilihan bagi anak itu untuk bolos.


Walau sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Bayu, tapi untuk kejadian ini ia tidak bisa menolak kalau dirinya sekarang sedang memikirkan Bayu


Sementara itu, Cinta sudah merasa tidak enak sejak pagi hari ia berangkat ke sekolah. Haluan pikirannya tak lepas dari Bayu, bahkan jam pelajaran berlalu tanpa mendapat apa-apa dari pengajaran itu.


Hati terhubung itu tak akan pernah tuli mendengar setiap bisikan yang terus berbisik. Terdengar jelas tanpa perantara perangkat. Segenap rasa mencoba membaur satu sama lain. Kenanglah, wahai sang pujaan tersayang.


*****


Rian, Genta, dan seorang teman yang lain sudah sampai di rumah Bayu.


"Bayu! Nak, Bayu kenapa?"


"Maaf Tante, tadi Bayu pingsan di jam istirahat pertama. Badannya panas, Tante."


Air mata kesedihan mengalir di wajah wanita empat puluh tahunan itu melihat wajah anaknya dalam gotongan tangan tiga orang siswa di depannya. "Nak, tolong bawa Bayu ke dalam."


"Baik, Tante." Jawab Genta. Setelahnya, ia dan dua rekannya membawa Bayu ke dalam kamar mengikuti langkah wanita itu tadi yang terus saja menangis.


"Masuklah, Nak."


"Iya, Tante. Permisi."


Sudah dibaringkan di tempat tidur, wajah Bayu terlihat sayu lagi sesekali ringisannya terdengar sembari wajah polos itu berkerut menahan rasa yang ia tanggung sekarang. Empat orang di sana hanya dapat melihat wajah malang itu dengan iba.


"Nak." Terdengar halus sekali, sampai Genta tak dapat menahan air matanya melihat seorang ibu di depannya mengusap wajah anaknya yang tidak dapat melakukan apa-apa. Ringisan menyelimuti ruang kecil itu. Tiga siswa yang masih berada di sana hanya membalasnya dengan raut dan rasa kasian.


Bagaimana dengan Bayu...


Bayu. Ah, iya, aku akan mengambil alih cerita ini. Semata hanya ingin memperkenalkan diri padanya yang selama ini hanya sebuah ilusi yang kian kemari saling bercerita mengisahkan kehidupannya. Ini bukan sebuah fantasi semata, keberadaanku bermaksud menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Di sinilah Bayu sekarang. Di sebuah kamar, tempat di mana kisah ini kutulis, mengisahkan dirinya yang adalah sebuah hasil rekayasa anganku yang bersifat subjektif. Dinding-dinding bertempelkan nama-nama serta karakter mereka tergores elok dengan ukiran raut wajah yang selalu merepsentasikan siapa mereka. Aku sangat menyukainya.

__ADS_1


Bayu baru saja datang ke ruang kecil ini. Lihatlah wajah polos itu, aku selalu kagum dengan sosoknya. Hanya di sini aku bisa menemuinya, dalam ruang imaji yang kurangkai pribadi.


"Hai. Selamat datang."


"Kamu siapa?"


"Aku? Aku pemilik ruang ini. Bayu..."


"Kamu tau siapa aku?"


"Tentu. Aku melukismu dalam kertas lusuhku."


"Maksudmu?"


"Duduklah dulu di sampingku."


Bayu mendekat padaku. Tak ada yang dapat kulakukan sekarang selain melihatnya yang segera duduk dan tarikan senyumku mengiringi arahnya pergi.


"Jadi, kamu siapa?"


"....aku pelukis wujud kamu. Kamu adalah anak pikiranku."


"......"


"Tidak usah di pikirkan."


"Memangnya kalau aku anak pikiranmu apa yang akan terjadi padaku?"


"....kamu hidup dalam dunia khayalku, karakter dan segala macamnya aku yang atur... termasuk Cinta, Yoga, dan yang lainnya."


Aku sangat kagum melihat rautnya yang ingin banyak tahu.


"Cinta, Yoga, dan yang lain?"


"Kamu tahu.. kamu itu rekayasa pada apa yang aku suka, Cinta itu rekayasa dari perasaan cintaku, Yoga itu rekayasa dari kepribadianku, dan yang lain itu representasi dari rasa kemanusiaan, mereka hangat dan peduli, dan aku menyukainya."


Kalian tahu bagaimana raut polos itu sekarang? Aku bahkan dari tadi memandanginya, semakin dilihat semakin membuatku sayang pada sifatnya.


"Maafkan aku. Aku sengaja menutup hatimu. Kamu ingin aku membukanya? Kamu ingin merasakan apa itu cinta?"


"Aku..tidak tahu." Dia menekur.


"Maafkan aku sudah membuatmu terombang-ambing dalam keraguan. Sebenarnya aku tidak bermaksud membuatmu demikian, tapi aku sangat menyukai orang yang berjuang, terutama kamu yang berjuang mencari apa itu cinta."


"......."


Bayu terlihat lesu di hadapanku, segala kebimbangan menyelimuti dirinya sekarang.


"Kalau begitu bukalah pintu itu. Kamu akan kembali pada duniamu."


Dia menoleh ke arah pintu yang kutunjuk, walau masih menyirat raut bimbang di sana.


"Bukalah." Pintaku meyakinkannya.


"Boleh aku...di sini dulu."


"Apa yang kamu pikirkan?"


Wajah anak yang ku lihat sekarang ini sedang menyimpan beban pikiran.


"Kalau aku kembali.. aku sangat menyayangkan diriku yang sekarang. Mereka sudah tidak ada bersamaku."


"Kamu hanya menerka, Bayu. Kamu dan dua temanmu itu tidak pernah ada ingin lepas satu sama lain. Itu hanya karna sikap egoismu yang sempat tidak kamu sadari. Mereka hanya bereaksi, bukan berpisah. Dan.. kamu tau bagaimana perasaan Cinta padamu?"

__ADS_1


Wajah itu kini terlihat tertarik dengan kalimatku, walau masih terbilang dingin, tapi manik matanya menatapku lekat penasaran.


"Bukalah pintu itu. Kamu akan tau jawabannya."


Beberapa detik tatapannya hanya tertuju padaku, memikirkan hal lain yang masih menahan dirinya untuk bertahan di ruangan ini.


"Bagaimana kalau aku tetap di sini..."


"Ruang ini akan ku kunci rapat setelah semuanya berakhir. Aku akan menjadikan ruang ini sebagai ruang koleksiku bahwa aku pernah menata segala sesuatu di sini. Semua tentangmu dan yang lainnya akan tersimpan sebagai kenangan imajinasiku."


Keningnya berkerut, terus menatapku berharap sesuatu.


"Apa ini sebuah perpisahan? Dan... semuanya akan menghilang demikian aku dan yang lain sebagai anak pikiranmu?"


"Aku sedih berterus terang. Tapi... memang demikian."


Kami sama-sama bungkam dengan pikiran masing-masing.


"Aku baru kali pertama bertemu denganmu, dan itu sangat singkat. Seperti hal nya bertemu Cinta. Apa memang begitu jalanku?"


"Kamu dan Cinta hanya terpisah kesibukan. Sekiranya kalian tidak melakukan hal lain selain terus bertemu, kamu akan menemuinya setiap waktu."


"Begitukah?"


Aku hendak tertawa di hadapannya. Wajah polos itu selalu menghibur.


"Lalu... apa kita tidak akan bertemu lagi?"


"Aku tidak bisa mengatakan tidak. Tapi, bila ku katakan bisa pun aku tidak yakin karna ruang ini akan terkunci rapat sebab aku tidak ingin ruangan ini terobrak-abrik. Aku hanya akan bertemu kalian di ruangan ini. Mungkin bila aku ingin bertemu lagi aku akan mencari jalan untuk melakukannya, walau aku tidak tau akan berhasil atau tidak."


"Kenapa kau tidak di sini saja?"


"Aku suka berkelana dan membuat kenangan dalam perjalananku.... Sebelum itu semua terjadi izinkan aku mengucapkan maaf dan terima kasih."


"Aku... tidak tau harus berkata apa."


"Tidak usah dipikirkan. Cerita ini akan berakhir sebentar lagi, dan kembalilah ke duniamu. Kau tau? Cinta dan Yoga sedang menunggumu di sana."


"Benarkah?"


"Apa aku terlihat berbohong? Bukalah pintu itu. Setelah membukanya kamu akan tahu bagaimana sebuah pearasaan itu berbaur dalam dirimu."


Bayu akhirnya menuruti kata-kataku. Dalam langkah pelan itu dia selalu memikirkan hal lain dalam benaknya.


"Mmm.. Sebelum itu, boleh ku tau sesuatu?"


"Apa?"


"Kalau memang kita berada di dunia yang berbeda dan Cinta itu rekayasa dari rasa cintamu. Apa itu artinya kamu adalah Cinta?"


Pintu itu sudah terbuka sederik, segala macam perasaan mulai masuk ke dalam hati Bayu. Aku melihat dengan mataku sendiri kalau aura itu terus mengalir dalam dirinya. Satu per satu ia mulai merasakan dan mengerti apa itu perasaan yang selama ini menjadi belenggu dari setiap pertanyaannya.


Aku pun tak kuasa mengikuti arus perasaan yang dia rasakan. Karena sejatinya Cinta itu...


"Kamu benar. Cinta itu bagian kecil dari diriku. Dan aku adalah wujud utuhnya."


"Aku sangat menyangi temanku Yoga dan aku... mencintai perasaanmu, Cinta. Itu artinya aku sayang dan cinta padamu."


Sebuah kalimat yang membuatku tak kuasa menahan bulir air mata yang sejak tadi tidak berniat keluar karena aku sadar bahwa ini hanya sebuah ilusi semata. Tapi, tak terpikirkan olehku bila kalimatnya akan membuatku merasa jatuh seperti ini.


Telah merasuk segala aura perasaan itu pada Bayu. Ku anggap kata-katanya sebagai kalimat perpisahan.


"Terima kasih. Kembalilah padanya, kamu berada di dunianya, bukan duniaku."

__ADS_1


Bayu tersenyum tulus sebelum benar-benar masuk ke dalam pintu itu dan tenggelam dalam alam luar itu meninggalkanku seorang diri di ruang kecil ini. Aku akan menulis kembali kelanjutan cerita ini untuk mengakhiri semuanya. Ku tutup kembali pintu itu dan segera berkutik dengan lembaran lusuhku.


__ADS_2