
"KAMU NGGAK USAH DATANG KE SEKOLAH BESOK." Ucap Cinta penuh penekanan. Bibirnya bergetar menahan kesal dan mata yang mulai basah memperhatikanku sekarang. Aku tidak bisa mengelak darinya. Maaf.
Keesokan harinya, aku benar-benar tidak masuk ke sekolah karena nyeri di kakiku rasanya makin parah. Mau tidak mau aku harus menghabiskan waktu di kamar, bercengkerama dengan sunyinya ruang. Ternyata tidak cukup sehari aku bahkan libur hingga tiga hari lamanya.
***
Cinta dan Yoga baru selesai dari pelatihan hari ini. Mereka kembali ke mading untuk melihat karya di sana.
"Cin, lusa, nih."
"Iya, aku ingat, kok. deg-degan, sih."
"Nanti habis lomba aku traktir, deh, Cin."
Cinta tertawa, "Beneran, ya."
"Iya. Nanti aku ajak Bayu juga sekalian."
Cinta kembali teringat kejadian sebelumya. Ia menghela napas berat, ada banyak hal yang ada dalam benaknya saat ini, sekolah, tugas besok, lomba, dan tentunya yang satu itu.
Sementara itu
Di rumah aku tak putusnya berkutik dari gawai di tangan sambil mendengar musik dengan earphone terpasang di telinga. Mendengar lagu Charlie Puth cukup melepas bosan.
Gerimis turun menangkap helaian debu yang berterbangan di luar sana. Penghuni bumi menyambut dengan segala bentuk prasangka. Tapi, bagi wajah-wajah yang butuh perhatian, ini adalah saat yang dinanti-nanti, mendinginkan suasana hati dan pikiran yang panas dengan semua hal yang melelahkan hari ini.
Jalanan raya sudah padat lagi oleh kendaraan-kendaraan yang berjalan hendak kembali ke naungan rumah, kebetulan di jalan yang sudah wajar karena jam pulang kerja memang dipukul rata, sore jam segini.
Gabut, begitu kata orang-orang sekarang, kurang kerjaan. Selama di rumah, tanganku sampai lelah berhubungan terus dengan yang namanya smartphone. Walaupun banyak hal menarik dari sana, bagiku di sekolah lebih dari sekedar nikmatnya memainkan benda pipih itu.
"Aku mau ke sekolah besok." Ku telungkupkan badan di tempat tidur yang selalu menjadi tempat nongkrongku beberapa hari ini.
Pintu terbuka, "Nak, mau makan sekarang?" Mama di depan pintu kamar.
"Nanti aku turun sendiri, Ma." Aku kembali ke mode telungkup memalingkan wajahku ke sisi lain.
Wanita itu mengangguk ringan lalu keluar menutup pintunya kembali.
Aku lalu duduk di tepi tempat tidur, menggerakkan-gerakkan kaki yang masih nyeri, tapi mulai tak seberapa dari sebelumnya. Aku meneruskannya pada berjalan-jalan, berputar-putar di kamar kecil ini. Langkahku sudah lebih baik walau masih sesekali timpang lagi saat aku memaksakan untuk jalan lebih cepat. Aku terus melakukan itu sampai benar-benar bosan.
***
"Bayu. Gimana kakinya? Udah sembuh?" Yoga datang ke mejaku, dia baru saja menaruh tas hitam miliknya di atas mejanya.
"Udah mendingan, Ga."
Yoga lantas menepuk bahuku dengan semangat. Dia lalu duduk di bangku di depanku, penghuninya belum datang.
"Eh, Bay. Besok kita udah mau tempur, nih."
"Semangat kalau gitu."
"Yah, itu sih nggak cukup, Bay."
Aku memperhatikan wajah yang menyeringai di depan ku sekarang.
"Sebelum pergi besok, hari ini kita makan dulu. Udah tegang nih otak buat mikir setiap kali pelatihan. Daan... Kamu yang traktir."
Apalagi yang bisa ku lakukan sekarang kalau bukan tersenyum terpaksa. "Iya."
__ADS_1
"Nah, gitu, dong."
Para penghuni kelas mulai berdatangan, masuk dengan wajah cerah pagi ini. Walau hanya berlaku hingga jam pelajaran pertama masuk, setelahnya wajah mereka akan keluar dengan kumpulan kerutan kening dan ocehan-ocehan ringan.
Bel sudah berbunyi, guru pun datang. Saatnya mode belajar aktif lagi.
"Bay, aku kemarin di jalan nemu kucing mati." Bisik Gama di depanku.
Apa hubungannya dengan pelajaran kimia di depan? Aku menatap bingung ke arahnya, atau mungkin lebih aneh dari bingung.
Dia terkekeh, "Cuma mau liat kamu aja, Bay. Muka kamu bikin ilang bosen."
Aku tidak menggubrisnya selain terus melihatnya yang lagi-lagi terkekeh itu.
"Ehem, di belakang!" Guru kimia itu menunjuk ke arah kami berdua diikuti tatapan mata teman-teman yang lain yang tertarik dengan masalah kecil ini. Beberapa bibir sumringah menatap kami yang kena tegur.
Gama yang ketahuan hadap belakang spontan menghadap ke depan kembali. Aku yang tidak bergerak dari sandaran kursi hanya pindah melirik ke arah guru di depan. Kelas hening seketika sampai guru di depan kembali melanjutkan materinya.
Jam istirahat tiba, wajah-wajah yang dari tadi low bate, seperti sudah ter-charge penuh.
"Bay, yuk."
"Iya, bentar." Aku masih belum pulih seutuhnya. Kakiku memang sudah bisa melangkah seperti biasa, tapi masih lamban. Yoga pun hanya bisa mensejajari jalannya mengikuti irama langkahku yang lambat.
"Tunggu sini bentar. Aku panggil Cinta dulu."
Aku balas mengangguk. Sambil menunggu di sini, aku mendapat pemandangan yang rasanya sudah kurindukan beberapa hari ini, anak-anak berseragam putih abu-abu yang berlalu lalang ke segala arah dengan pola yang tidak menentu itu. Aku kembali mendapati hal menarik di sana, dua orang siswa yang berlari serempak seperti polisi lari sore yang biasa ku lihat di jalan saat pulang.
"Bay!" Yoga menepuk bahuku tiba-tiba. Dia tertawa melihatku yang berhasil terkejut. "Berdiri gitu aja ganteng." Lanjutnya. Ia sudah berniat meneruskan ledekannya, sekilas ia melirik Cinta di sampingnya.
"Ga, aku nggak bisa temani kalian makan. Tapi aku yang bayar, kok."
"Yah, nggak, seru. Makan dulu bentar. Yuk, cepetan." Yoga mengalungkan lengannya di leherku, "Yuk, Cin."
"Iya."
"Kalian duduk dulu sana. Aku yang pesan." Ucapku.
"Yaudah, yuk, Cin." Yoga membawa Cinta ke satu meja yang masih kosong.
Aku memesan seperti yang mereka pesan di perjalanan tadi. Sambil meninggu nampanku datang ku keluarkan dulu uang dari dalam saku.
"Hai."
Seseorang menghampiriku dari arah samping. Siapa dia?
"Hai." Balasku.
"Boleh kenalan, nggak?" Dia menjulurkan tangannya. Aku memperhatikan tangan itu.
"Boleh. Bayu." Aku membalas jabatan tangannya.
"Ona."
Aku mengangguk lalu melepas jabatan tangan itu.
"Aku liat kamu main basket waktu itu, kamu yang jatuh itu, kan?"
"Iya." Aku malu mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Gimana kaki kamu? Masih sakit?"
"Nggak, udah baikan." Aku makin risih berdiri di sini.
"Kok lama, ya." Terdengar sarkastis, Cinta datang menghampiriku tepat saat pelayan kantin itu menaruh pesananku di atas meja antrian. Wajahnya terlihat kesal. Mungkin memang sedikit lama, karena pesanan kami cukup banyak.
"Eh, Cin."
Cinta langsung membawa nampannya pergi begitu saja. Aku memperhatikannya yang menjauh sejenak.
"Eh, Kak. Itu berapa semua?"
"Empat puluh enam, Dik."
"Ini Kak."
"Terima kasih." Ucap penjual kantin itu.
Aku melihat Cinta di sana baru sampai di meja meletakkan nampannya.
Kembali perhatianku pada siswi yang baru ku kenal itu. "Mm, aku ke meja dulu, ya."
"Oh, iya." Balasnya.
Aku berjalan menghampiri meja yang sudah diambli Yoga dan Cinta sebelumnya. Langsung duduk tenang dan menyantap makanan pesananku. Karena harus ikut makan juga dengan mereka mau tidak mau aku harus makan cepat lagi.
Tanpa memperhatikan mereka yang sedang apa aku terus melanjutkan makan yang terburu-buru itu. Sepertinya aku benar-benar akan ahli makan cepat kalau sering-sering seperti ini.
"Cin, kok makannya malas, gitu?" Yoga melirik Cinta yang sedang mengaduk-aduk minumannya dengan pipet.
"Nggak papa."
Yoga terkekeh melihat Cinta yang tidak peduli dengan tampang wajahnya sekarang.
Makanku terhenti memperhatikan mereka berdua, sebentar kemudian aku teringat lagi pada mading. Aku kembali mempercepat makan.
"Mmh, Bayu, emang gitu orangnya. Nggak bisa nolak."
Kedua kalinya acara makanku terhenti. Aku menatap mereka berdua bergantian. Ku teguk air minum milikku.
"Apa, Ga?"
"Tau, tuh, Cinta, nggak selera makan mendadak."
"Makan dulu, Cin." Balasku, setelah itu aku melanjutkan beberapa suap terakhir makananku.
Akhirnya, aku selesai berurusan dengan makanan, segera ku teguk air putih dalam gelasku. Oh, tidak...
"Uhuk!" Kenapa di saat seperti ini malah datang masalah begini. Aku segera memutar badan ke samping.
"Eh, Bay. Aduuh. Makanya, makan minum pelan-pelan." Yoga mendekat padaku.
Sebisa mungkin aku menahan sendakan berikutnya sekuat yang ku bisa agar tidak terbatuk lagi, sampai mataku berair dibuatnya.
"Minum lagi, Bay." Yoga menunjuk gelasku yang masih di tangan. Aku hanya menurut.
Cinta beranjak dari tempat duduknya, dengan langkah kesal ia sampai di hadapan ku sekarang, lalu berjongkok. Selembar tisu di tangan kanannya menyapu mataku yang berair.
Apalagi ini?
__ADS_1
Wajahnya cemberut, tangannya masih sibuk dengan wajahku. "Gimana, sih caranya marah sama kamu." Bibirnya gemetar, tak lama kemudian manik matanya berair. Air mata segar mengalir begitu saja ke wajahnya.
Aku dan Yoga tidak bisa berkutik apa-apa memperhatikannya.