
Apakah aku jatuh cinta
Karena perasaan kecil di lubuk hati menggebu menyembur asap menyesak
Apakah aku jatuh cinta
Karena keelokan datang mewujud dalam benak lalu terpatri begitu saja
Atau itu bukan cinta
Kadangkala ketahuanku hanya sedang menerka kalau aku jatuh cinta padahal bukan apa-apa
___________________________________
Malam ini kian larut, mataku yang kupaksa memejam tak kunjung terlelap. Ini sudah jauh dari jadwal tidurku biasanya. Sambil mencari kesibukan yang berharap akan membuatku bosan dan mengantuk, ternyata butuh waktu dua jam untuk mewujudkannya, dan aku bersyukur karena diriku yang perlu istirahat ini akhirnya bisa menggapai alam mimpi.
***
Jam istirahat, seperti biasa, kesibukan di eskul mading menyita banyak waktu. Pagi tadi aku belum sempat sarapan dan jam istirahat juga tidak memungkinkan untuk ke kantin walau sebentar.
"Setelah ini setiap anggota diharap mengumpulkan hasil pelatihan jurnalistik kemarin, nanti senior-senior akan memeriksanya. Bagi yang karyanya terpilih akan kita tampilkan di mading." Kalimat dari ketua mading di depan sana. Setelahnya, ia lalu duduk melanjutkan perbincangannya dengan senior-senior yang lain.
"Bay, kamu udah buat?" Genta, temanku di eskul mading.
"Udah."
Dia menghela napas dalam, "Aku capek, Bay. Udah beberapa minggu kita selalu sibuk kayak gini. Tambah lagi di kelas yang bikin aku hampir gila."
Aku melihat wajahnya yang terlihat putus asa.
"Kamu cuma perlu nerima lapang dada, Gen. Kalau kamu lawan, itu bakalan bikin kamu lebih sulit dari ini."
Genta menghela napas kasar. Ia tidak lagi meneruskan ucapannya. Desah lesu mengiringi tundukan kepalanya. Setelah menyerahkan karya hasil pelatihan ia langsung pergi tanpa menyapa rekan lain yang biasa ia lakukan. Bel masuk sebentar lagi berbunyi. Aku ingin ke kantin sebentar sekedar membeli roti untuk mengganjal perut yang belum terisi apa-apa.
"Eh, Bay, Si Genta, kenapa dia?" Fina menghampiriku.
"Dia capek, Fin. Aku yakin kita semua capek juga. Apalagi setiap hari nggak ada kegiatan yang santai."
Fina menerawang ke depan sana, mencerna kata-kataku. "Iya, Bay, sebenarnya aku juga udah capek. Tapi, aku nggak bisa berontak dengan keadaan."
Aku memperhatikan Fina yang wajahnya sama seperti saat Genta bicara begitu tadi. Aku pun juga sama seperti mereka, sama-sama lelah dengan semua pekerjaan di sekolah ini. Tapi, tidak ada terbesit niat untukku menyerah hanya karena lelah seperti ini. Aku hanya perlu merilekskan pikiranku yang tiap sebentar menegang karena semua kegiatan di sini yang memang menuntut demikian.
"Seandainya ada yang bisa aku lakukan untuk menghapus rasa lelah seseorang, aku bakal ngelakuinnya, Fin."
Senyum Fina merekah menatapku. "Makasih, Bay."
"Semangat, ya."
Fina tiba-tiba merasa bersemu. Ia alihkan wajahnya ke sisi yang lain pura-pura memperhatikan ke arah sana.
Bel terdengar di seluruh penjuru sekolah. Aku belum sempat ke kantin untuk membeli makanan pengganjal. Ku putuskan untuk masuk ke kelas saja, semoga jam istirahat berikutnya aku sempat ke kantin.
"Dari mana aja, Bay? Kok nggak keliatan dari tadi?" Dina teman sekelasku, menghampiriku saat kami sudah di halaman depan kelas.
"Dari ruang eskul, Din."
"Oh, kamu udah makan?"
"Belum, nanti aja."
"Nih, ambil. Kebetulan aku beli lebih."
Aku menoleh ke arah sebuah roti yang disodorkan Dina padaku. "Nggak papa, Din, jam istirahat nanti aku ke kantin aja."
__ADS_1
"Udah, ambil aja. Nanti kelaparan lagi." Dina menyerahkan paksa roti itu padaku. "Makan, ya." Dina jalan mendahuluiku masuk kelas.
"Makasih, Din." Ucapku sedikit berteriak karena dia sudah menjauh di depan, ia lalu membalas dengan lambaian tangan dengan posisi memunggungiku sambil terus berjalan ke kelas.
Mataku tiba-tiba menoleh ke arah lain. Aku mendapati Cinta yang melihat ke arahku. Begitu dia sadar aku juga melihat ke arahnya, ia lalu berlalu masuk ke kelasnya.
Guru mata pelajaran sekarang sudah terlihat di ujung sana, aku pun langsung masuk ke kelas ingin memakan roti pemberian Dina walau hanya beberapa cubit.
***
Jam istirahat kedua ini ku segerakan ke kantin terlebih dulu, baru setelahnya pergi ke ruang mading.
"Bay! Kemana?" Yoga berlari mendekat.
"Ke kantin, aku belum makan."
"Kamu belum makan?" Cinta datang dari arah belakang. Spontan aku dan Yoga menoleh ke arah suara itu.
"Eh, Cinta." Yoga menanggapinya.
Aku tersenyum ke arahnya, dan ku tangkap dari wajah itu ada guratan khawatir di situ. "Iya, tadi pagi aku nggak sempat sarapan, jam istirahat harus ke ruang mading."
"Yaudah, yuk, ke kantin." Ajak Yoga kemudian. "Kamu ikut, Cin?"
Cinta menggangguk cepat. Kami pun berjalan ke kantin bertiga.
Aku merasa aneh sekarang, di satu sisi aku merasa hangat di antara mereka, di sisi lain aku merasa malu karena seolah-olah aku adalah orang yang sedang mereka kasihani, itu buruk.
"Biar aku yang pesan. Kalian mau apa?" Yoga menatapku dan Cinta bergantian. Kami sudah sampai di kantin.
"Aku pesan sendiri aja, Ga." Pintaku.
"Udah..bilang cepat mau apa? Kalian duduk di sana terus." Yoga menunjuk meja kosong tak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. "Buruan, mau apa?" Desak Yoga, menatapku dan Cinta bergantian.
"Kamu apa, Cin?"
"Aku moccacino, deh."
"Ok, bentar, ya. Duduk dulu sana." Yoga langsung pergi memesan.
"Ayo, Cin." Ajakku. Cinta menggangguk lalu kami berjalan ke meja yang ditunjuk Yoga sebelumnya.
Tidak lama, Yoga tiba dengan nampan yang berisi pesanan untuk kami bertiga.
"Nih, Bay. Habisin cepat. Kamu mau ke ruang mading lagi, kan?"
"Makasih, Ga."
"Halah, biasa aja, Bay. Dan ini moccacino-nya, Cin."
"Makasih, Ga."
"Halah kalian ini sama aja." Yoga lalu duduk meneguk minuman pesanannya, Sprite dingin.
Aku tertawa kecil memperhatikan Yoga sambil menggeleng-geleng ringan. Setelahnya, ku sendok makananku cepat karena aku harus ke ruang mading lagi segera.
Yoga dan Cinta memperhatikanku yang makan terburu-buru sampai mereka pun menatapku heran.
"Ini minum dulu. Nggak usah tergesa-gesa." Cinta menyodorkan gelas minumanku.
Aku langsung berhenti melihat gelas yang mendekat itu karena didorong olehnya lalu melayangkan senyuman ringan menyambut minuman itu. "Makasih." Ku teguk air minum itu lalu melanjutkan acara makan dengan kecepatan yang sama.
"Memangnya harus, ya, kamu makannya gitu?" Yoga menyela di tengah acara makanku.
__ADS_1
"Aku harus cepat, Ga." Mulutku masih berisi makanan.
Cinta masih menatapku heran tanpa kuhiraukan apa yang dia perhatikan padaku yang mungkin tampangku sangat buruk sekarang, tapi aku harus cepat.
Yoga menahan tawanya melihat wajah Cinta yang seperti itu melihatku makan.
"Besok-besok jangan telat makan lagi, Bay. Orang khawatir tau." Yoga kembali menyela.
"Kamu khawatir?" Tanpa pertimbangan pertanyaan itu keluar dari mulutku yang masih sibuk melahap makanan.
"Bukan aku. Cinta."
Suapan terakhirku terhenti setelah Yoga menjawabku. Aku menoleh pada Cinta, dia menatapku terkejut. Segera ku lanjutkan suapan terakhir itu lalu meneguk air putih dalam gelas itu sampai habis.
DREET. Suara derit kursiku saat aku berdiri.
"Aku duluan, ya. Udah telat, nih. Ini uangnya, Ga." Ku sodorkan uang lembaran ke arahnya.
"Ambil aja. Aku traktir hari ini."
"Makasih, skali lagi, Ga. Aku duluan. Bye, Cin." Aku berlari meninggalkan mereka yang masih duduk. Sudah beberapa menit aku terlambat dari jadwal kumpul di ruang mading. Karena baru selesai makan, aku tidak bisa berlari lebih cepat dari sekarang.
"Nah, itu Bayu." Salah seorang di ruang mading itu menunjuk ke arahku.
"Kamu dari mana?" Ketua menghampiriku.
"Maaf, Kak. Tadi saya makan dulu ke kantin."
"Ya sudah, cepat kembali ke tempat kamu."
"Iya, Kak. Permisi.'
Aku sudah duduk lesehan di ruang itu dengan sebuah meja belajar lipat di pangkuanku. Seperti biasa, kami akan membuat tulisan-tulisan hasil pelatihan-pelatihan sebelumnya, setelah selesai tulisan itu akan dikumpul. Begitu setiap masuk ke ruang ini.
"Bay, menurut kamu ini udah benar belum? Sebenarnya kemaren aku belum ngerti tentang ini. Jadi, tulisan yang kukumpul kemaren ku buat asal." Salah seorang teman meletakkan lembarannnya di mejaku.
Aku menerangkan beberapa hal yang berkaitan dengan pertanyannya. Ada beberapa kesalahan di tulisannya, mulai dari urutan kalimat yang kurang tepat, penempatan kalimat utama dan kalimat penjelas yang beberapa masih simpang siur, hingga penempatan kata yang sering berulang.
Setelah beberapa poin yang kusebutkan ia pahami, sambil mencatat poin-poin itu ia menyempatkan diri untuk menuliskan kalimat yang lebih tepat dari sebelumnya.
"Makasih, Bay."
"Sama-sama."
Aku dan dia melanjutkan kembali kegiatan masing-masing hingga beberapa saat sebelum bel masuk berbunyi.
***
Aku berjalan ke kelas bersama seorang temanku yang kelasnya bersebelahan.
"Bay, kamu dapat banyak tanggapan dari fans, ya?"
"Ada, beberapa."
"Beberapa gimana? Aku sering datang ke mading sebelum ke ruang mading di jam istirahat. Setiap itu pula aku liat ada aja yang masukin kertas ke kotak fans kamu. Kamu udah terkenal, Bay."
Aku hanya menggeleng dengan senyum simpul yang kusematkan.
Di depan sana mataku melihat Yoga yang berdiri di depan pintu kelas. Aku jadi teringat Cinta, yang ku tinggal dengannya tadi.
"Eh, Bay, sini bentar." Yoga menyeretku menjauh dari pintu kelas.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Cinta suka kamu." Bisik Yoga.