
Setelah kemaren aku benar-benar tidak bisa melanjutkan aktivitas di sekolah seperti biasa, seharian hanya terbaring di ruang äaUKS lalu pulang diantar Yoga dengan mobilnya, tidak lupa... Cinta juga ikut mengantar.
Hari ini aku istirahat di rumah. Mama sudah mengirim surat ke sekolah untuk memberi kabar atas kondisiku.
"Bayu." Mama masuk ke kamarku membawa makanan dan segelas air putih.
"Gimana, Nak? Udah baikan." Mama duduk di tepi tempat tidurku, tangannya meraba keningku hingga pipi. Aku sangat menyukai tangannya yang menempel di wajahku. Sebelum ia menarik tangannya kembali, terlebih dulu ku tahan tangan itu agar tetap di menempel wajahku. Sambil memejamkan mata, aku ingin tangannya tetap seperti ini dulu.
Mama tersenyum melihatku, memang sudah jadi kebiasaanku bila keadaannya sudah begini. Ibu jarinya bergerak-gerak, meraba wajahku. Aku menikmatinya.
"Makan dulu, Sayang."
"Bentar lagi. Gini dulu, ya." Aku ingin seperti ini hingga terlelap.
"Kamu nggak mau terus-terusan begini, kan?"
Mataku membuka menatap Mama dengan tatapan sayu ini, tidak ada senyum di bibirku. Mama masih memainkan ibu jarinya di wajahku dengan senyum tulus itu. Ma, biarkan aku merasakan tangan halus ini sekarang. Tangan yang selalu membuatku merasa damai.
"Ya sudah, setelah ini makan, ya."
Aku kembali memejamkan mata berharap bisa cepat terlelap dengan posisi seperti ini dan ternyata aku benar-benar terlelap, tangan halus itu benar-benar ampuh membawaku ke zona nyaman.
Aku terbangun di siang hari. Mama sudah tidak lagi di kamarku. Makanan yang ia bawa masuk tadi pagi di taruh di meja belajarku.
Ku tutup lagi mataku dengan niat sekedar untuk menutupnya saja, tapi ternyata malah membuatku tertidur untuk yang kedua kalinya, melanjutkan mimpi yang sama seperti sebelumnya. Rasanya hari ini aku benar-benar puas istirahat. Aku tidak tahu apakah Mama masuk lagi ke kamarku sewaktu masih tidur atau tidak. Apakah tidurku terlalu nyenyak sampai-sampai tidak menyadari itu?
Aku terbangun setelah sore tiba. Badanku rasanya sudah jauh lebih baik. Aku menyempatkan diri untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Keadaanku berantakan sekali sekarang. Ku regangkan badan yang sudah terlalu lama berbaring lalu menerawang setiap sudut kamar yang hening itu.
Di atas meja belajar, makanan yang Mama bawa tadi pagi masih ada di sana lengkap dengan air minumnya yang ditutup dengan salah satu bukuku. Aku baru sadar kalau sejak pagi belum makan.
CEKLEK
"Nak, ada yang datang." Mama membuka pintu kamar.
"Siapa?"
Yoga masuk ke kamarku dan... Cinta juga.
"Tante tinggal, ya."
"Iya, Tante, makasih." Jawab Cinta mengangguk.
"Oh, iya. Nak, ini belum dimakan, ya? Mama ganti dulu sebentar." Mama mengambil piring makananku tadi pagi dari atas meja belajar lalu membawanya keluar.
__ADS_1
"Gimana, Bay? Udah baikan?" Yoga berjalan mendekat.
Aku mengangguk dan memperbaiki posisi dudukku di tempat tidur. Yoga duduk di tepi tempat tidurku.
"Walaupun berantakan begini, kamu tetap ganteng, ya, Bay." Yoga memulai leluconnya yang berhasil membuatku tersenyum hari ini. Aku baru sadar dengan keberantakan itu, segera ku perbaiki rambutku dengan kedua tangan.
"Tambah ganteng." Katanya lagi. Kali keduanya lelucon itu membuatku tersenyum lagi.
"Eh, Cin. Sampai lupa. Duduk sini." Yoga menepuk-nepuk sisi tempat tidur di sampingnya, lebih dekat dengan posisiku. Cinta menggeleng malu.
Menyadari itu, Yoga lalu memperhatikan sekitar mencari sesuatu. "Bentar, deh." Ia berjalan ke arah meja belajar, di sana ada sebuah kursi. Yoga membawakannya untuk Cinta lalu menaruhnya di samping tempat tidurku. "Duduk, Cin."
Cinta pun duduk di kursi itu, menghadap tepat di hadapanku. "Kamu udah baikan?" Tanyanya dengan wajah perhatian itu. Aku menyadari arti dari tatapannya padaku, ada sendu juga di wajahnya sekarang.
Aku menunduk tersenyum lalu mengangguk.
Mama datang membawa makanan yang baru, lalu mengambil air minum yang tadi di atas meja belajar.
"Makan dulu, Nak. Kamu belum makan dari pagi." Mama memberikan piring makanan itu padaku.
"Biar aku yang pegang airnya, Tante." Yoga mengulurkan tangannya ke air minum di tangan Mama, air itu pun diberikan padanya
"Kalau gitu Mama keluar dulu, ya."
"Iya."
"Sini." Cinta meraih piring makanan dari tanganku. Dia lalu mengaduk makanan itu mencampurkan nasi dan lauknya. Tiba-tiba air matanya mengalir turun.
"Makan." Dia menyodorkan sesendok makanan itu ke arahku dengan wajah yang mulai basah itu. Aku tidak tahan melihatnya, itu bukan pemandangan yang ku mau.
Aku menerima suapan itu lalu menunduk, mengunyah makanan yang tidak ada rasanya di lidahku. Ku hapus air yang turun hangat di sudut mataku. Lama sekali makanan di mulutku agar bisa ku telan habis. Cinta sudah siap dengan sendok suapan berikutnya, menungguku untuk kembali mengangkat wajah.
"Ayo makan lagi." Suara serak itu makin membuatku sulit untuk menelan. Dengan susah payah, akhirnya makanan itu tertelan juga. Lalu ku angkat lagi wajahku untuk menerima suapan berikutnya yang sudah siap untuk disantap lagi.
Suapan kedua, aku sudah kenyang, tidak bisa lagi menerima makanan ke perutku. Ku raih air minum pada Yoga lalu meneguknya beberapa kali sampai makanan di mulutku bersih tertelan.
"Aku kenyang." Tatapku pada Cinta.
Cinta meletakkan sendok berisi makanan yang sudah siap untuk dia berikan lagi itu di piring. Dia menundukkan wajahnya menghapus air mata yang masih mengalir.
Ku lihat Yoga diam menatapku, wajahnya memasang wajah prihatin. Aku tidak menyukai suasana seperti ini, betapa lemahnya diriku di mata mereka. Aku menunduk merasa malu dan bersalah. Bersalah, kenapa aku di sini sekarang. Mereka bukan orang asing yang hanya ada saat perlunya saja, dalam keadaan bagaimana pun mereka akan tetap ikut denganku.
"Cepatlah sembuh." Suara penuh harap itu terdengar serak dan itu adalah kata yang yang ku dengar untuk yang kedua kalinya dari mulut Cinta. Ia menunduk dalam-dalam di hadapanku mengkhawatirkan keadaanku yang sekarang.
"Iya."
__ADS_1
***
Aku kembali ke sekolah setelah dua hari di rumah. Rasanya rindu sekali dengan bangunan-bangunan megah ini dan semua yang ada di dalamnya.
"Hei, Ketua. Udah sehat?" Genta menyapaku di jalan hendak menuju kelas.
"Seperti yang kamu liat." Aku tertawa ringan menatapnya.
"Syukurlah, anak-anak di mading udah kangen, tuh."
Aku membalasnya dengan seutas senyuman. Hal sederhana yang bisa kulakukan untuk membalas ucapannya.
"Banyak yang tanyain kamu, Bay. Eh, Ketua. Aduh, lupa terus."
"Panggil nama aja."
"Nggak lah, aku ingat, kok."
"Kebanyakan yang nanya itu dari ibuk-ibuk."
Aku mengernyit melihatnya. Dia malah tertawa melihatku.
"Yang cewek-cewek, Bay. Eh, Ketua. Aduuh." Genta menepuk-nepuk mulutnya yang merasa salah bicara.
Aku hanya geleng-geleng kepala mendengarnya lalu melanjutkan jalan menuju kelas.
"Eh, Ketua, tunggu." Genta juga ikut melanjutkan jalannya, mensejajari dirinya di sampingku.
Kami berjalan ke kelas masing-masing. Aku lebih dulu sampai di kelas. Kelasnya terletak dua kelas setelah kelasku.
"Duluan, Gen."
"Yop, Ketua."
Aku masuk ke kelas ini lagi. Belum ada siswa lain yang datang, aku adalah orang pertama. Aku sangat rindu dengan ruangan ini. Ku lihat mejaku di barisan ketiga di sana lalu beranjak untuk segera duduk.
Beberapa siswa mulai berdatangan kemudian, mereka menyapaku dan menanyakan hal yang sudah lumrah, apalagi kalau tidak bertanya bagaimana keadaanku. Aku menjawabnya dengan jujur, baik seperti yang terlihat.
Yoga baru datang, masuk ke kelas dan mendapatiku yang sudah duduk di kursi.
"Hai, kawan. Sudah sembuh, ya. Syukurlah."
"Makasih, Ga."
"Bilang makasih sana sama Cinta." Yoga meletakkan tasnya lalu duduk di kursinya tanpa menoleh padaku.
__ADS_1