Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Perhatian


__ADS_3

Aku kembali ke aktivitas rutin di sekolah ini dan melaksanakan tugas jabatan di ekskul mading. Senyumku merekah saat melihat ruangan itu lagi yang sudah dua hari ini tidak ku datangi.


"Wah, Ketua, sudah sembuh, ya."


Pertanyaan yang sama menyerbuku di awal masuk ke sana, setelah satu orang bertanya demikian lalu menjawabnya, hal serupa juga dilakukan oleh rekan-rekan yang lain.


"Ketua, jangan terlalu berlebihan kerja, kita di sini khawatir, tau." Ucap salah seorang teman siswi di sini. Aku membalasnya dengan senyum.


"Eh, kamu, masuk cepet sana." Fina meleraiku dan siswi itu. "Ketua, masuk aja dulu."


"Iya, Fin. Makasih."


Aku akhirnya masuk ke ruangan itu, tidak ada yang berubah, hanya kertas karya yang biasanya ada di atas meja sekarang sudah tidak ada lagi, sepertinya sudah dikerjakan yang lain.


"Ketua, ini karya yang sebelumnya. Aku udah kerjain kemaren." Dani, wakil ketua di ekskul ini, menyerahkan buku besar itu padaku.


Aku tersenyum, "Makasih banyak, Dan. Maaf untuk dua hari ini."


"Udah jadi tugas aku, Ketua. Ya udah, aku balik ke kakak senior dulu."


"Iya, silahkan."


Aku lalu duduk di tempatku, di meja ketua. Melihat-lihat kembali buku panduan tugas di kepengurusan ini, karena sekarang kerjaanku sedang kosong. Lembaran-lembaran buku itu sudah sedikit rusak karena sudah lama, aku harus hati-hati setiap membalik tiap lembarannya.


"Ketua, ada yang cariin di luar." Genta datang ke mejaku.


"Siapa?"


"Bidadari."


Aku menatapnya heran.


"Nyonya, Ketua, cepetan. Nanti Nyonya ngambek, tuh."


Aku masih memasang wajah bingung padanya lalu berjalan ke pintu keluar. Ada Cinta di sana.


Cinta melihatku yang berjalan keluar lalu menunduk canggung.


Aku sudah berdiri di bingkai pintu. Rekan-rekan yang duduk-duduk di luar memperhatikanku sambil berbisik-bisik dengan teman sebelahnya, sebagian ada yang senyum-senyum melirik ke arahku. Kak Rian tiba-tiba memberi kode dengan tangannya menyuruhku untuk meladeni Cinta yang datang. Aku lalu memasang sepatu.


"Cari tempat duduk, yuk, Cin." Aku sudah di hadapan Cinta sekarang dan dia mengangguk.


Tak jauh dari ruang mading itu ada satu kursi panjang di dalam taman. Aku pun membawanya ke sana.


Kami sudah duduk. "Kenapa?"


"Kamu udah sembuh?" Tanyanya dengan suara halus itu. Dia melihatku dengan wajah perhatian. Aku sampai terdiam melihatnya.


"Udah." Jawabku lalu menunduk.


"Udah makan?"


Aku menerawang ke depan sana lalu kembali menoleh padanya. "Aku udah sarapan di rumah."


Cinta merogoh goodie bag miliknya.


"Ambil ini." Cinta menyerahkan sebuah kotak makanan berukuran mini.


"Itu apa?"

__ADS_1


"Salad." Cinta meletakkannya di pangkuanku. Dia menatapku. "Makan."


Tanganku meraih kotak mini itu lalu membukanya, di dalamnya sudah ada sendok lipat. Aku tersenyum melihat makanan itu. Tanganku belum bergerak meraih sendok di sana hingga beberapa saat.


Cinta tidak sabar melihatku yang hanya melihat makanan itu. Dia lalu merebut kotak makanan dari tanganku. Aku hanya memperhatikan kotak makanan itu yang sudah berpindah tangan. Cinta mengambil sendok lipat di sana lalu menyendoknya.


"Makan." Aku terdiam melihatnya dengan sesendok salad sudah ada di depan mulutku. Aku tidak terlalu lapar sekarang, tapi sendok itu sudah di hadapanku. Aku memakan makanan itu dari suapannya. Tangannya gesit kembali mengambil sesendok salad untuk selanjutnya. Aku merasa seperti anak kecil sekarang.


"Lagi." Sendok yang sudah berisi salad itu tiba lagi di hadapanku.


Aku menerimanya. Setelah selesai menelan habis sendok kedua itu, "Sudah, Cin." Aku kenyang.


Cinta menaruh kembali makanan yang sudah di sendok itu ke tempatnya lalu merogoh goodie bag nya lagi untuk mengambil sebuah aqua gelas, dan memberikannya padaku. Mataku menerawang ke depan sana. Memikirkan apa yang dia lakukan padaku sekarang. Lama aku seperti itu, sengaja menghabiskan air di aqua gelas di tanganku ini pelan-pelan. Setelah habis, "Makasih." Aku menoleh padanya.


Dia tersenyum. "Aku balik dulu." Ia langsung berdiri dan beranjak meninggalkanku yang masih duduk di kursi panjang itu. Ku perhatikan dia yang menjauh, goodie bag-nya ia pegang dengan kedua tangannya, tanpa terasa aku melayangkan senyum melihat kepergiannya.


Aku memutuskan kembali ke ruang mading. Setibanya di sana, "Enak, ya, Ketua. Disuapin sama Nyonya." Genta di depan pintu sudah menunggu kedatanganku sambil berkacak pinggang dengan cengiran khas miliknya.


"Ehem, Ketua, kenalin ke kita, dong." Kakak senior yang duduk di sisi lain menambah.


"Ketua emang nggak salah pilih." Kakak senior lain yang sedang berkumpul tertawa lepas.


"Ketua, nggak bilang-bilang kalau udah punya."


Kali ini aku benar-benar merasa malu mendengar kalimat-kalimat itu silih berganti di telingaku.


"Ketua, jangan terlalu diam, cewek itu perlu perhatian." Kak Rian, orang yang ku kagumi itu, menambahkan lagi.


Aku hanya tersenyum menggelengkan kepala dengan semua itu lalu kembali ke mejaku di ruang mading berharap ada kerjaan yang bisa ku kerjakan di sana.


Beberapa menit berlalu, bel masuk sebentar lagi berbunyi, aku pun siap-siap kembali ke kelas.


"Ketua, jangan lesu gitu." Genta lagi-lagi menghampiriku yang kini sedang memasang sepatu. "Nanti Nyonya khawatir, Ketua."


Matahari siang ini cukup terik. Keringatku mengucur di pelipis. Ku kibas-kibaskan blazer sekolah ini untuk melepas gerah walau hanya mempan sedikit.


Akhirnya tiba di kelas, aku ingin cepat-cepat duduk.


"Bay, kamu nggak papa?"


Dina menghampiri mejaku.


Sebenarnya badanku belum sepenuhnya pulih setelah sakit, napasku mudah sekali tersengal dan cepat lelah.


"Iya nggak papa, Din."


"Kamu udah makan?"


"Udah."


"Eh, Dina, itu guru mau masuk. Duduk dulu, gih." Yoga menyela di antara percakapan itu.


"Oh, OK. Makasih." Dina beranjak ke kursinya. Yoga mengacungkan jempolnya padaku. Aku paham maksudnya lalu membalasnya dengan senyum.


***


Jam belajar telah usai, bel pulang pun sudah berbunyi. Dengan sigap langkah-langkah bersemangat itu menjajaki jalan menuju rumah.


"Bay, yuk, bareng."

__ADS_1


"Aku mau ke mading dulu, Ga."


"Oh, yaudah. Aku duluan ya." Seperti biasa sore-sore begini Yoga akan belajar sebentar dengan Cinta. Langkahnya berbelok ke arah kelas Cinta yang hanya berselang satu kelas tapi letaknya agak mundur kebelakang dari deretan kelasku.


"Cin, yuk."


"Iya, Ga."


Mereka mengambil tempat duduk di tempat biasa. Memang kalau sudah jam pulang begini tidak ada lagi yang duduk di sana.


"Nggak kerasa besok udah seleksi, Cin."


"Iya, aku lumayan deg-degan."


Cinta mengambil buku kumpulan soal-soal dari dalam tasnya. Dibaliknya setiap helai buku itu melihat hasil coretan-coretannya selama ini yang sudah menjawab soal-soal di sana. Dia lalu tersenyum.


"Kenapa, Cin?"


"Nggak papa, Ga. Soal-soalnya udah banyak kejawab."


Yoga terkekeh. "Kayaknya udah siap buat besok, nih."


"Semoga aja kita lulus, Ga."


Yoga menggut-manggut lalu membuka bukunya untuk mencari soal mana lagi yang akan mereka jawab.


Dua puluh soal terjawab sudah dalam waktu singkat.


"Udah dulu, yuk, Cin. Udah sore, nih."


"Iya, yuk."


Sementara berkemas, Yoga melihatku sedang berjalan melewati koridor sekolah.


"Bay!" Tangan Yoga melambai. "Bareng!" Dia dan Cinta berjalan mendekat. Aku berdiri diam di tempatku sekarang menunggu mereka.


"Belum pulang? Lama amat di mading?" Yoga membenarkan letak tasnya.


"Aku lagi cari-cari ide tadi."


"Owh. Yuk, lah." Yoga melihatku dan Cinta bergantian lalu kami berjalan ke luar pekarang sekolah.


"Bay, aku duduk depan. Yuk, Cin, masuk." Yoga sudah membuka pintu untuk Cinta, setelahnya ia menutupnya kembali. Aku masuk dari pintu seberang, dan... duduk di sebelah Cinta.


"Pak, antar temen dulu, ya."


"Iya, Nak." Sahut Pak Supir itu.


Sudah sepertiga perjalanan tidak ada percakapan di mobil ini.


"Bay, besok kita seleksi, nih. Kamu nggak semangatin apa?"


"Oh, ya?"


"Iya, Bayu... Semangatin dong."


"Semangat, ya, buat besok." Ucapku.


"Itu sih buat aku doang, Bay. Cinta juga ikut, tuh." Yoga sudah senyum-senyum di depan. Aku melihatnya dari tempatku sekarang.

__ADS_1


"Udah, Ga. Nggak papa." Cinta menengahi pembicaraan pelik itu. Lalu hening seketika.


"Semangat ya, Cin." Ucapku kemudian.


__ADS_2