
Dari sepuluh siswa yang ikut mata pelajaran matematika, tujuh siswa berhasil lolos ke babak semi final. Sebuah perolehan yang memuaskan. Sementara itu SMA Model dapat menarik delapan siswa mereka yang lolos ke babak semi final. Terjadi saling pandang sinis dari dua sekolah itu.
Semua yang berhasil lolos ke babak semi final segera masuk ke ruangan, kali ini peserta jauh menyusut dari sebelumnya. Mereka duduk lebih renggang sekarang, berjarak satu kursi kosong dengan peserta yang lain.
"Waktu dimulai dari sekarang!" Ujar panitia di panggung dengan microphone di tangannya.
Para peserta itu kembali berhadapan dengan soal-soal baru. Suasana hening, semua mata tertuju pada lembar soal dan lembar jawaban mereka. Coretan-coretan sudah tergores di lembar soal itu yang sekaligus jadi kertas buram. Waktu berlalu begitu saja sampai mereka tidak menyadari kalau waktu sudah berada di ambang batas.
"Waktu tersisa lima menit lagi." Pemberitahuan itu membuat tangan,-tangan yang masih sibuk mencoret-coret kertas soal jadi kalang-kabut karena masih ada beberapa soal yang belum tercapai.
KRIIIIIING!
Suara bel mengakhiri kegiatan semua peserta. Para panitia bergegas menjajaki jalur tempat duduk peserta untuk mengambil lembar jawaban mereka.
Desah lelah, lesu, kecewa, senang menjadi satu dalam ruangan besar itu, para peserta segera bergerak meninggalkan ruang.
"Aku kesal sama soal peluang tadi. Padahal cuma tinggal satu lagi. Jadinya kosong." Gerutu Cinta setelah sampai di luar ruang.
"Bagian mana yang susah, Cin?" Sofian menanggapinya.
"Kakak coba liat ini." Cinta menyodorkan lembar soalnya dengan kode paket soal B.
Cuma memperhatikan sesaat saja, Sofian mengambil pensilnya kemudian mencoret soal itu menulis penyelesaiannya. "Ini, Cin."
Cinta meraih lembar soalnya dari tangan Sofian.
"Ih, kok bisa. Aku kesal banget pokoknya sama soal ini!"
Kak Sofian terkekeh melihat Cinta sekarang.
"Udah, Cin." Bujuk Yoga yang hanya bisa berujar.
Sejam setelah itu, pengumuman kembali dipampang di sisi dinding yang masih kosong bangunan besar itu. Gerombolan peserta kembali memadati lembaran pengumuman. Kali ini hanya diambil sepuluh peserta saja yang akan ikut di babak final satu jam ke depan.
Lagi-lagi nama kakak kelas itu kembali terpampang di nomor satu dan Cinta berhasil lolos dengan peringkat yang tidak berubah dari sebelumnya, di nomor empat.
"Kita cuma lolos dua orang. Kak Sofian sama Cinta." Kata salah seorang dari teman yang melihat pengumuman itu.
Cinta mendapat kejutan kedua kali ini, berhasil lolos lagi di babak ini. SMA Cendikia hanya tinggal dua siswa saja yang masih bertahan dan ikut nanti di babak final.
"Hebat, Cin. Selamat, ya." Sofian mengangkat tangannya untuk adu jotos merayakan keberhasilan mereka. Cinta menyambut tangan itu dengan semangat. Sementara Yoga hanya bisa menerima hasil di pengumuman itu karena harus gugur di babak ini
"Cinta, kemari sebentar." Bu Fatma mengode dengan tangannya.
Cinta mengikuti ajakan itu. "Kenapa, Bu?"
__ADS_1
"Kamu ulang lagi materi sebentar, ya."
"Iya, Bu." Cinta mengangguk setuju.
Setengah jam siswi dan guru itu berkutik dengan beberapa materi yang masih lemah dalam pemahaman Cinta. Cinta kali ini tidak lengah dengan materi yang walau hanya sekilas itu. Beberapa soal yang ia jawab akhirnya mendapat nada puas dari guru pembimbingnya.
"Cukup. Semoga ini bermanfaat." Ujar Bu Fatma menghentikan acara mengajarnya. Cinta mengangguk mantap. Kali ini ia berdebar-debar lagi. Mengingat sebentar lagi babak final akan dimulai.
"Cin, semangat ya. Jangan pikirin gimana nanti, main-main aja dulu, kan udah belajar." Kata Yoga sembari tersenyum hangat padanya.
Kata-kata Yoga mengingatkan Cinta pada kejadian saat ikut seleksi di sekolah. Cinta ikutan tersenyum. "Iya, Ga."
"Gimana? Udah siap?" Kali ini Sofian.
Cinta mengangguk pelan.
Sudah waktunya untuk kembali ke dalam ruang untuk ikut babak final.
"Cin, jangan nyerah dulu. Pikirin dulu yang tenang." Sofian memberi peringatan sebelum mereka berpisah mengambil tempat duduk. Cinta mengangguk mantap.
Soal dibagikan panitia pada peserta. Kali ini soalnya dalam bentuk essay.
"Waktu dimulai dari sekarang."
Sudah dimulai lagi. Kali ini mereka berkutik dengan jalan penyelesaian yang harus ditulis jelas. Soal di depan mata membuyarkan pikiran mereka, tangan-tangan yang hanya terbiasa dengan soal pilihan merasa risih dengan soal essay kali ini.
Babak final yang langsung khidmad itu akhirnya berujung dengan suara bel yang sama dengan sebelumnya. Tangan-tangan yang sudah tegang mencoret-coret lembar jawaban akhirnya dapat melepas alat tulis mereka. Sebagian terlihat senyum-senyum sendiri, sebagian yang lain tampak tak acuh, apa pun yang terjadi yang penting sudah selesai.
"Cin. Yuk." Sofian menghampiri Cinta yang masih duduk di tempatnya.
"Iya, Kak. Yuk."
Mereka berjalan ke luar hendak menghampiri rombongan yang sudah menunggu di luar
"Gimana soalnya kali ini?"
"Seru!"
Sofian tersenyum menyambut jawaban Cinta. Ia senang dengan jawaban itu. Acungan jempolnya ia tunjukkan pada siswi yang sekarang sedang jalan berdampingan dengannya.
Cinta tertawa ringan. Terlihat manis.
Acara penutupan akan berlangsung sore ini, pengumuman akan dimumumkan di waktu itu.
***
__ADS_1
Pengumuman untuk biologi, kimia, dan fisika sudah diumumkan. SMA Cendikia sejauh ini mendapat lima perolehan kemenangan. Sebuah pencapaian yang sangat baik.
Tiba giliran pengumuman matematika.
"Peringkat tiga, meraih nilai yang sama dengan peringkat dua. Atas pertimbangan kami, akhirnya kami memutuskan...Peringkat tiga diraih oleh..." Suara pembicara di depan itu membuat para hadirin penasaran. "Sofian Priyangga dari SMA Cendikia!" Tepuk tangan dari para hadirin dan sorak sorai SMA Cendikia menggema di ruang besar itu.
Tapi, ada dua perasaan yang berkecamuk saat nama itu tersebut di peringkat tiga, walaupun memang nilainya sama dengan peringkat dua. Namanya yang sudah biasa berada di peringkat pertama dan sekarang turun begitu saja menjadi sebuah pertanyaan.
Laki-laki itu naik ke panggung.
"Peringkat kedua, dengan perolehan nilai yang sama dengan peringkat tiga, diraih oleh..." Suara itu lagi-lagi terputus. Hening sesaat, "Arya Giantara dari SMA Model!"
Sorak kemenangan dari SMA Model kali ini menggelegar. Ada perasaan puas dari mereka, karena telah berhasil mengalahkan peraih juara satu sebelumnya, Sofian dari SMA Cendikia, walau status nilai mereka sama. Tatapan sinis kembali dilemparkan SMA Model pada SMA Cendikia. Sementara pemilik nama yang tersebut tadi sudah berjalan menuju panggung diiringi sorak bahagia dari teman-temannya.
Siswa yang bernama Arya itu sudah berdiri di samping Sofian sekarang dengan senyum bahagianya menatap para hadirin.
"Hai, selamat, ya." Sofian mengulurkan tangannya pada siswa dari SMA Model itu.
"Ah, iya, makasih. Kamu juga, selamat, ya." Arya meraih jabatan tangan itu sopan dengan senyuman yang sama-sama ditampilkan keduanya.
"Peringkat satu pada kesempatan ini mendapat perolehan yang hanya berselang tipis dari peringkat dua dan tiga. Sengit sekali nilai dari ketiga pemenang kita kali ini." Ucapan pembicara di panggung itu membuat para hadirin makin tidak sabar mendengar hasilnya. "PERINGKAT SATU DIRAIH OLEH ADINDA CINTA DARI SMA CENDIKIA!"
"Waaaaah." Tepukan tangan serta sorak sorai para hadirin menggema lebih keras.
Cinta terperanjat mendengar pengumuman yang baru saja dilontarkan pembicara di depan sana. Sejenak ia masih diam di tempatnya sambil membekap mulut tidak menyangka akan mendapat peringkat satu pada kesempatan pertamanya di SMA Cendikia.
Bu Fatma memeluk Cinta kemudian. Cinta menangis bahagia di pelukan itu. Sementara teman-temannya yang lain mengucapkan selamat yang tak putus-putusnya.
"Yasudah. Ayo ke depan dulu." Ucap guru itu melepas pelukannya.
Cinta mengangguk, menghapus air matanya lalu berjalan ke depan dengan langkah gemetaran.
Cinta sudah tiba di atas panggung, berdiri di samping peraih juara kedua, ia masih menangis bahagia saat berdiri di sana.
"Lucu, ya.. Nih, ambil." Arya terkekeh lalu memberikan dua lembar tisu dari sakunya.
Cinta melirik tisu yang disodorkan itu. Ia menerimanya malu-malu. "Makasih." Cinta lalu menyeka wajahnya.
"Hai.. boleh kenalan?"
"Eh?"
"Arya." Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Seketika Cinta melirik uluran tangan itu padanya.
"Cinta." Cinta membalas uluran tangan siswa itu dengan senyuman yang tersembunyi di balik tisunya.
__ADS_1
Sementara itu, Sofian memperhatikan mereka berdua dari tempatnya berdiri sekarang.