
Weekend kali ini seperti rencana sebelumnya, aku dan Yoga akan main basket di rumahnya. Dalam ransel hitam milikku sudah berisi perlengkapan untuk main nanti. Sambil menunggu busway di halte, sebuah buku kecil yang jadi peganganku menjadi pelepas bosan, walau sekedar hanya menggores sebuah gambar atau sebaris kalimat.
Busway-nya datang, aku pun naik dan ternyata tidak ada kursi kosong, jadi aku berdiri sambil berpegangan pada pegangan di bagian atas bus itu. Cukup sesak, kakiku beberapa kali terinjak oleh seorang bapak di depanku, aku memakluminya.
Akhirnya tiba di halte yang ku tuju. Aku melangkah turun dan segera meraih ponsel untuk menghubungi Yoga.
Tiin Tiin.
Sebuah klakson mobil persis di depan halte yang berbeda jalur dengan jalur busway tadi mengundang perhatianku. Dari kaca jendela mobil itu Yoga melambai tangan dan berucap "Ayo cepat!"
Aku berlari kesana lalu masuk ke mobil.
"Udah lama?"
"Nggak, baru aja."
Yoga mangut-mangut. Dia lalu mengambil ponsel dari sakunya karena ada panggilan masuk. Aku mendengar percakapannya, mungkin dari orangtuanya.
***
"Kalau kamu bisa ayo tangkap bolanya, Bay." Suara Yoga terdengar meremeh karena dia sedang menguasai bola sekarang.
Aku tersenyum, "Baiklah."
TAP
Aku berhasil menepis bola darinya sementara dia tiba-tiba tidak habis pikir kalau triknya dapat ku baca. Sebentar dia terdiam kemudian segera hendak merebut kembali bola dariku. Aku bergerak cepat menjauhkan bola darinya. Sekali, dua kali drible-ku gagal ditepisnya.
HUP.. CRACK..
Bola sukses masuk ke keranjang. Yoga melototi bola yang jatuh bebas dari keranjang miliknya.
"Wah, kamu benar-benar, Bay."
"Kamu yang terlalu lengah, Ga. Padahal kalau kamu fokus, kamu bisa mudah menepisnya sebelum masuk keranjang tadi." Aku mendekati Yoga yang masih diam ditempatnya. Nafasnya tersengal begitu juga denganku, cuaca hari ini juga cukup menguras keringat.
"Oh, ya?" Yoga berjalan meninggalkanku menuju sebuah tempat duduk panjang di luar lapangan. "Kamu yang terlalu jago, Bay."
Aku mengikutinya dan ikut duduk di sana.
Aku menolak kalimatnya.
"Eh, Bay, kamu tau nggak?"
"Mm?" Aku mengangkat dagu memperhatikannya.
"Anak perempuan yang kemaren kamu liat itu ambil ekskul yang sama kayak aku."
"Oh, ya?"
"Mm.. Namanya..." Yoga memutus ucapannya, menungguku untuk bertanya balik, sementara aku diam menunggunya melanjutkan kalimat.
"Kamu mau tau nggak?" Yoga memancingku. Aku masih bungkam memperhatikannya. "Kalau nggak perlu yaudah aku nggak usah kasih tau."
"Aku harus jawab dulu?"
"Ya.. kalau kamu mau tau aku kasih tau. Kalau nggak perlu yaudah nggak usah ku beri tau."
Sebentar aku terdiam. "Siapa namanya?"
Yoga tertawa mendengar pertanyaanku, merasa puas karena umpannya tertarik. "Kamu beneran suka dia?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, Yoga malah menambah pertanyaan. Aku tidak menggubrisnya kali ini seraya beranjak dari tempat duduk.
"Eh, Bay! Mau kemana?"
__ADS_1
"Ambil minum." Aku meraih tas yang kubawa sebelumnya, di sana ada sebotol air minum yang sudah kusiapkan dari rumah, lalu meneguknya.
"Bay! Duduk sini."
Aku membawa tumbler ke tempat duduk tadi. "Minum?" Ku sodorkan tumbler itu pada Yoga. Ia meraihnya lalu meneguknya hingga puas.
"Makasih."
Aku sudah duduk lagi di kursi tadi.
"Eh, Bay. Kamu marah?"
"Nggak."
"Mm.." Yoga manggut-manggut, setelahnya ia menepuk bahuku. "Jadi namanya itu... Cinta."
Jawaban itu membuatku tersenyum. Aku tidak pernah menduga kalau kata 'Cinta' yang ku sematkan untuk perempuan itu dalam tulisan-tulisanku ternyata nama yang sebenarnya. Suatu kebetulan yang menurutku lucu.
"Kenapa kamu senyum gitu?"
"Nggak."
***
Minggu ini kegiatan belajar mulai sibuk, ditambah lagi kegiatan ekstrakurikuler yang sudah jalan dan menuntut keaktifan setiap anggotanya. Aku bahkan merasa jadwalku bertambah padat. Para guru sudah membebani siswa-siswinya dengan berbagai tugas yang harus tuntas di jam itu juga, tidak ada yang namanya pr. Setelahnya, di setiap jam istirahat yang singkat itu aku harus mondar-mandir ke ruang mading untuk melakukan beberapa kegiatan sebagai pendaftar baru, hingga aku sering tidak kebagian waktu istirahat.
"Hai, kamu.. temannya Yoga, ya?" Cinta. Dia datang padaku di saat yang tidak tepat.
"Iya."
"Mm..Kamu sibuk?" Dia terlihat canggung sekarang.
Sebenarnya aku tidak enak untuk pergi sekarang, tapi ini mendesak.
"Iya. Aku duluan ya."
Cinta terus memperhatikan lawan bicaranya tadi yang sudah menjauh.
"Cin! Ngapain?" Seorang teman perempuan yang lain menghampirinya.
"Eh, nggak ada papa."
"Kelas yuk."
"Yuk."
Dari pintu kelas, Yoga memperhatikan kejadian tadi. "Bayu, kenapa pergi gitu, ya?" Gumamnya.
***
"Eh, Bay. Mau pulang bareng aku?"
"Nggak usah, Ga. Makasih."
"Okedeh. Ngomong-ngomong, tadi kenapa kamu pergi gitu aja waktu Cinta samperin?"
Aku menoleh pada lawan bicaraku sekarang dan teringat kejadian tadi.
"Kamu tau?"
"Ya.. nggak sengaja liat, sih."
"Tadi aku ada kerjaan mendesak di eskul."
"Dia merhatiin kamu waktu pergi." Yoga mempercepat jalannya meninggalkanku.
__ADS_1
Aku terhenti, melihatnya berlalu. Apa benar Cinta begitu?
Ku alihkan pandangan ke kelas Cinta. Sepertinya sudah tidak ada lagi siapa-siapa di sana. Aku lalu melanjutkan jalan pulang.
Sementara itu dari kelas Cinta, dia baru saja keluar seorang diri karena baru selesai membereskan alat-alat praktek keseniannya yang belum beres tadi.
***
Malam ini tanganku terasa kelu menulis kata 'Cinta'. Hingga hampir tidak tertoreh di lembar kertasku.
Adakah yang lebih baik dari meminta maaf? Seandainya ada aku ingin tahu, aku akan melakukannya.
Bila bersua lagi, ku ingin mulut ini berkata 'maafkan aku'.
Kalau boleh kutoreh di sini, hatiku sedang menanggung pilu, karena gagal menyambut anugrah penantian.
Tapi, selain itu semua, aku bersyukur karena sebuah kesempatan singkat. Terima kasih, 'Cinta'.
28 Agustus 20xx
Tertanda
Bayu
***
"Kalau gitu, kegiatan mading mulai minggu ini harus sudah diisi oleh anggota baru. Bagi yang belum paham tentang prosedur dan hal lainnya, boleh ditanya pada senior." Sebuah kalimat penutup dari ketua ekskul mading. Sepertinya kegiatan sekolah ini akan bertambah padat lagi.
Seorang teman di sebelah menepuk bahuku, "Eh, kamu Bayu, kan?"
"Iya."
"Kenalin, aku Adit."
"Salam kenal." Balasku menyambutnya.
"Eh, kenalin juga aku Fina."
"Aku Genta."
"Aku Bayu." Balasku sambil menjabat tangan mereka. Setelahnya, mereka menjadi teman dekatku di ekskul ini.
Beberapa hari kemudian, kesibukan mading sudah menjadi perihal biasa. Aku jadi terbiasa mondar-mandir ke ruang mading untuk mengerjakan urusan ekskul ini.
Mengenai mading, sudah ada beberapa tulisanku yang tertempel di papan mading itu. Setiap karya yang dipajang di sana disertai 'kotak fans', yaitu sebagai wadah untuk siswa-siswi lain untuk mengapresiasi karya-karya di sana. Tidak menutup kemungkinan seseorang menjadi terkenal karenanya. Buktinya, beberapa senior menjadi buronan para fans yang setia menunggu karyanya. Aku tidak pernah tahu kalau mading sampai sejauh itu membuat orang terkenal di sekolah ini. Untung aku tidak mencantumkan nama asli di karyaku. Rasanya takut.
Aku berniat melihat catatanku di mading sekalian ingin melihat bila ada catatan para siswa-siswi lain yang barangkali ingin berkomentar. Tapi...
"Siapa yang buat ini?" Bu Ita, guru Bahasa Indonesia, sedang berada di depan mading bersama segerombolan siswa-siswi yang juga ikut memperhatikan. Guru itu menunjuk sebuah karya di sana.
"Kenapa, Bu?"
"Bagus sekali." Bu Ita memandang lekat-lekat pada bait puisi yang ditunjuknya. Dibacanya sekali lagi hingga tuntas ke bawah. "Ibu jadi ingat puisi Sapardi Djoko Damono."
"Penyair itu ya, Bu?" Salah seorang siswa menanyai dari belakang guru itu.
"Iya." Setelahnya Bu Ita mengeluarkan selembar kertas lalu mencatat sesuatu di sana dan memasukkannya ke 'kotak fans' karya itu. Guru itu lalu pergi ke ruang guru diikuti oleh siswa-siswi yang ada kepentingan dengannya.
Papan mading itu tinggal hanya beberapa pengunjung. Awalnya aku berniat menunggu mereka selesai, tapi sudah beberapa menit menunggu dan bel masuk hampir berbunyi mereka masih disana, akhirnya aku ikutan menjadi bagian dari mereka di depan mading itu, lebih tepatnya di depan karya milikku.
"Mana tadi karya yang ditunjuk Ibu tadi? Aku mau liat." Seorang teman siswi di sampingku bertanya pada teman di sebelahnya.
"Yang ini." Tunjuk temannya pada karya.. milikku? Aku spontan menoleh pada mereka dengan heran.
"Kamu kenapa?" Tanya salah seorang dari mereka yang merasa lebih heran lagi.
__ADS_1
"Eh, nggak papa." Aku mundur dari kerumunan itu mempersilahkan mereka kembali mengamati mading di sana.
"Aku masih jauh dari seorang Sapardi Djoko Damono." Gumamku saat teringat kata-kata guru tadi.