
Bel masuk berbunyi. Suara langkah siswa-siswi di sekolah ini kembali hiruk pikuk menuju kelas-kelas. Begitu juga dari ruang mading, sebagian ada yang sudah keluar beberapa saat sebelum bel berbunyi, salah seorang anggota keamanan mengunci ruang itu lalu bergegas kembali ke kelas.
Angin menghembuskan hawa panas, membawa napas-napas yang pernah sesak ke permukaan yang lain dan menampar sembarang wajah-wajah yang terkena. Raut wajah tak secerah matahari di atas sana, mulai kusut menerawang beban apa lagi yang akan datang setelah ini.
Aku. Aku tak sengaja berpas-pasan dengan angin pengantar rasa sesak itu. Inilah aku sekarang, terkulai begitu saja berusaha mendamaikan perasaan di tengah badan yang terasa meremuk.
"Bay, guru mau masuk, tuh." Dina berusaha membangunkanku. Aku sadar dia ada di samping mejaku sekarang, tapi kepalaku rasanya berat sekali dan mataku juga sulit membuka.
"Bay, Bayu. Eh." Kali ini Dina menepuk lenganku pelan.
"Kok, panas?"
"Kenapa, Din?" Yoga baru saja masuk kelas.
"Bayu, demam kayaknya."
"Hah? masa?" Yoga memegang lenganku yang menumpu kepala. "Bay, ke UKS dulu, yuk."
Aku sebenarnya mendengar mereka bicara, tapi semua seolah seperti mimpi, antara iya dan tidak, bergerak pun tidak bisa. Kepalaku susah sekali diangkat, badanku rasanya lain. Teman-temanku mulai mendekat satu per satu.
Bu Ratna tiba di kelas saat semua siswa di kelasku sudah berkumpul mendekat ke mejaku.
"Ada apa disana?"
"Bayu sakit, Bu."
"Sakit?" Bu Ratna datang memeriksa keadaanku. "Tolong bawa Bayu ke UKS."
Yoga mendekat lalu mengalungkan lenganku di lehernya. Badanku sakit semua, kepalaku makin berdenyut membuat napasku tersengal menahan. "Gama, tolong di sebelah sana." Gama menurut.
Teman-teman melihatku saat meringis menahan sakit saat Yoga dan Gama membawaku keluar dari ruang kelas. Kepalaku terkulai menunduk, ini parah aku harus tahan.
Dina sampai menangis melihatku yang selalu meringis di setiap langkah itu.
"Gama, kayaknya nggak bisa gini. Angkat saja." Kami sudah di luar kelas sekarang. Mataku masih tertutup sambil terus menahan rasa sakit yang hebat saat ini.
Gama mengangguk menyetujui kata Yoga. Aku lalu mereka angkat dan bergegas membawaku ke UKS.
Di UKS, seperti biasa, sudah ada dokter sekolah di sana. Setelah dibaringkan di salah satu tempat tidur di sana, dokter pun memeriksa keadaanku. Lebih baik rasanya kalau aku benar-benar tertidur sekarang agar sakit ini terlepas rasanya. Tapi, begitu susah, kepalaku makin berdenyut.
"Kenapa sampai separah ini?" Dokter mulai bertanya pada Yoga dan Gama.
"Kami baru tahu, Bu. Sebelumnya dia baik-baik saja tapi dia memang selalu sibuk."
Dokter menghela napasnya, "Dia kelelahan."
Yoga menganggguk, dia tahu penyebab itu.
"Sekarang kalian balik saja ke kelas, biar saya yang menanganinya di sini. Terima kasih sudah mengantarnya."
"Baik, Bu. Kami permisi."
Dokter mengangguk mempersilahkan mereka lalu melanjutkan pemeriksaannya.
"Baru kali ini aku liat Bayu gitu." Gama menoleh pada Yoga.
"Dia orangnya keras sama tanggung jawab, apalagi udah jadi ketua di ekskulnya, sampai nggak tau waktu."
"Aku jadi kasian liat dia tadi."
Yoga hanya mengangguk. Di depan mereka, Cinta setengah berlari mendekati mereka.
"Eh, Cin. Mau kemana?"
"Bayu mana?"
"Dia di UKS."
"Dia kenapa?" Raut khawatir di wajah cantik itu selalu saja terlihat jelas kalau dia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Yoga dan Gama menyadarinya.
__ADS_1
"Demam, kecapekan."
"Nanti jam istirahat ke sana, ya. Aku ikut."
Yoga mengangguk, Cinta lalu balik ke kelas.
"Siapa, Ga?" Gama yang dari tadi penasaran siapa siswi cantik itu akhirnya bertanya.
"Anak kelas lain, teman deket kita."
"Owh, yuk balik."
"Yuk."
____________________________________
Oh ayolah
Ini tidak lucu
Nelangsa bertamu
Aku terkapar
Terhuyung
Oh ayolah
Ini tidak lucu
Nestapa sudah
Aku terbaring
Lemah
Oh ayolah
Ini tidak lucu
Aku tak berdaya
Benar-benar tidak berdaya
Jangan sentuh kulitku
Dunia seolah bergoyang dibuatnya
Biarkan aku berlayar
Berharap bisa melepas ikatan
Pergilah
Ku mohon
____________________________________
***
"Ga, Bayu udah bangun." Panggil Cinta pada Yoga yang duduk di kursi depan meja dokter. Dokter sedang pergi istirahat.
Ini lebih baik, mataku akhirnya membuka walau belum bisa membuka sempurna. Badanku masih tidak enak.
Ada Cinta di sampingku dan Yoga berjalan mendekat. Aku tidak sadar mata sayuku diiringi ringisan singkat saat ingin bergerak yang cukup memberitahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Ku lihatkan wajahku ke arah Cinta dengan mata yang setengah terbuka itu. Ku lihat dia menghapus air mata. Yoga memperhatikanku.
Ku pejamkan lagi mataku yang masih berat. Aku tidak ingat kapan terakhir kali merasakan sakit seperti ini.
__ADS_1
Berharap segera pulih, ku buka lagi mataku dan masih mendapati mereka berdua. Cinta tambah gusar menghapus air matanya.
"Kamu perlu apa?" Cinta mendekatkan wajahnya sedikit padaku dengan suara serak itu, air mata mengalir di pipinya.
Wajah itu, wajah yang pernah membuatku merasa khawatir. Aku tidak ingin dia membalas dengan perasaan yang sama, aku tidak tega. Kembali tangannya menghapus air mata.
"Tunggu aja dulu, Cin. Kayaknya masih belum baikan." Yoga di sampingnya.
Cinta membenamkan wajahnya dalam-dalam, membiarkan rasa khawatir itu mengalir menjadi butiran air mata hangat yang keluar meluap.
"Kamu kenapa?" Tanyaku dengan suara yang sedapat mungkin bisa ku keluarkan saat ini. Aku lagi-lagi menutup mata, karena semakin ku buka mata kepalaku makin berdenyut. Cinta mengangkat wajahnya setelah mendengarku bertanya.
Apakah itu pertanyaan bodoh? Aku sendiri bahkan mengetahui jawabannya walaupun tidak dia ucapkan sekali pun.
Cinta tidak menjawab. Air matanya berhenti seketika. Ia memperhatikanku yang terpejam lagi.
"Cepatlah sembuh." Suaranya kini diiringi ringisan tangisnya, lalu ia membenamkan wajahnya mengalirkan air kesedihan di matanya itu.
Aku jadi tidak enak, suaranya membuatku merasakan pedih di relung hati. Ku telan ludahku di tenggorokan yang terasa kering menahan rasa itu. Air mata keluar dari sudut mataku.
Oh, apa ini Bayu? Kau sudah masuk ke dalam jurang perasaan yang selama ini kau nafikan. Inikah akhir perjuangan sia-sia itu, perjuangan menepis prasangka rasa yang kau anggap hanya terkaan.
"Iya. Aku akan sembuh." Jawabku pelan dengan mata masih terpejam, sebutir air mata tersangkut di salah satu sudut mataku.
Yoga memalingkan wajahnya saat melihatku yang tidak pernah ia lihat seperti ini sebelumnya. Ia menghapus air mata yang tiba-tiba keluar di sudut matanya.
Aku masih terpejam, berharap bisa kembali terlelap untuk melepas sakit yang masih menjalar di tubuhku. Cinta pun masih membenamkan wajahnya di posisinya tadi.
***
Satu titik berubah menjadi ribuan
Aku kalah jumlah bahkan sudah digerogoti
Basahilah
Basahilah aku wahai air mata
Air mata pelipur lara
Basahilah
Penuhlah hingga meluap mengenai semua gerogotan ini
Aku yang terkapar bangkit lagi setelah diguyur
Aku bersyukur
Ternyata di dunia ini masih ada telaga air mata itu
Ku terawang langit biru yang menghitam
Rasi bintang menyambut binar mata
Bulan utuh penerang kala redup
Di sana terukir guratan
Guratan penuh perhatian padaku
Menerpa hanya padaku seorang
Alam pun iri
Bulan menggandengku menyusuri jalan setapak remang
Agar kakiku tak tersandung benda alam yang iri
Terima kasih
__ADS_1