Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Dia yang di sana


__ADS_3

Hari ini, gedung sekolah nan megah dengan tiang-tiang besar lagi tinggi itu diriuhkan oleh siswa-siswi yang merapat padat pada posko-posko yang didirikan para kakak kelas. Bukan bazar, melainkan posko untuk mengambil formulir kegiatan ekstrakurikuler sekolah ini. Kalau dihitung-hitung tidak kurang dari lima belas posko yang berdiri. Walau sesak, siswa-siswi nampaknya tetap semangat mengantri untuk mengambil formulir dan bertanya-tanya perihal kegiatan-kegiatan di dalamnya.


Aku mendekati posko mading.


"Bayu?" Salah seorang kakak kelas yang duduk dalam posko itu menatapku seolah kenal.


"Iya."


"Kamu yang waktu itu nolongin siswi baru yang pingsan itu, kan?"


"Iya, Kak." Balasku tersenyum.


"Wah, benar loh, rumornya."


"Kenapa? Kamu naksir?" Teman yang duduk di samping kakak itu menyela. Ku lihat kakak yang bicara pertama tadi jadi salah tingkah.


"Kak, aku boleh minta formulirnya satu."


"Boleh dong. Nih. Nanti setelah isi formulir jangan lupa sertakan foto 3x4 di sini baru serahkan lagi, ya."


"Baik, Kak. Makasih." Aku berlalu dari posko riuh itu mencari tempat tenang untuk membaca isi formulir.


Sebuah tempat duduk tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang terlihat kosong, aku pun memutuskan untuk duduk di sana.


Cuaca cerah kali ini sedikit membuatku gerah, untungnya setiap tempat duduk di setiap taman pasti berada di bawah pohon rindang. Aku cukup menikmati suasana.


Formulir yang ada di tanganku sekarang dilengkapi dengan brosur yang memaparkan setiap kegiatan yang ada dalamnya. Setelah melahap beberapa baris kalimat di sana, tanpa sadar aku tersenyum, masih mengikuti alur kalimat dalam brosur.


"Manis bangeeet." Ujar seseorang.


Mataku menangkap tiga orang siswi yang sedang berjalan di depanku sekarang. Mereka lalu membuang muka ke arah lain sembari mempercepat jalannya. Aku hanya bisa memandang mereka bingung.


"Bay!" Lagi-lagi Yoga. "Ngapain disini? Sendirian lagi, ntar diculik baru tahu." Yoga ikut nibrung duduk di sebelahku.


Aku terkekeh ringan mendengarnya, "Emangnya siapa yang mau culik aku?" Pancingku padanya, aku yakin dia punya jawaban.


"Siapa lagi kalau bukan maling orang." Tuh, kan. Yoga memang selalu terlihat bersahaja, bahkan tidak pernah seperti kekurangan bahan untuk membuat lelucon ringan yang cukup menarik senyum terangkat. "Kamu pilih eskul apa, Bay?"


"Aku ambil mading. Kamu?"


"Aku ambil math." Ternyata orang yang banyak bicara seperti Yoga tertarik pada dunia eksak seperti itu. Ya, di sana wadahnya para calon-calon yang akan direkrut untuk mengikuti perlombaan bidang itu.


Satu hal yang kusadari sekarang, kover luar seseorang belum dapat memastikan sisi dalamnya.


Aku tersenyum menyambut jawabannya. "Keren. Semangat."


"Kamu juga, Bay."


***

__ADS_1


Aku ingin mengantarkan lembar formulir yang telah ku isi semalam. Posko itu sudah tidak jauh lagi di depan sana.


"Iya, habis ini kata kakaknya ada pertemuan buat pendaftar baru." Suara itu, suara'nya'.


Aku tidak sengaja bertemu dengannya di belokan ini. Dia bersama dua orang temannya berjalan berlawanan arah denganku.


Setelah matanya melirik padaku, ucapannya yang ku yakin masih ada lanjutan pada temannya itu terhenti tiba-tiba.


Aku tersenyum mengangguk singkat dan dia pun membalas dengan hal serupa. Setelahnya, aku melanjutkan jalan menuju posko, bel masuk sebentar lagi berbunyi.


Tanpa kusadari, dia memperhatikanku pergi.


"Kenapa, Cin?" Salah seorang temannya memperhatikan tingkahnya.


"Nggak papa. Yuk."


***


"Berhubung guru rapat sampai istirahat siang, kita free." Pemberitahuan ketua kelas membuat suasana riuh seisi kelas. Padahal tidak ada beban berarti kalau pun gurunya masuk. Perkara belajar memang menjadi poin yang membosankan bagi kebanyakan siswa-siswi.


Aku memutuskan untuk keluar, niatnya ke taman di depan kelas, tapi.. ternyata sudah diisi siswa lain.


Aku lalu mencari tempat lain sambil membawa buku kecil dan sebuah pulpen untuk melepas suntuk.


"Bay! Mau kemana?" Yoga menghampiriku.


"Aku ikut."


Ada kursi panjang di sebuah taman yang sedikit lebih jauh dari kelasku. Dari pada tidak dapat tempat sama sekali, kami memutuskan untuk duduk di sana.


"Bay, suka basket nggak?"


Aku baru ingin membuka buku kecil di tanganku. "Suka."


"Mau, nggak, weekend ini main bareng?"


Aku mengangguk, "Boleh. Dimana?"


"Di rumahku." Oh, iya aku lupa kenalin kalau Yoga adalah orang yang waktu pertama dulu mengantarku pulang dengan mobil mewah itu.


"Kamu punya lapangan basket?"


"Mm, aku sering nggak ada teman buat main." Wajahnya terlihat murung kali ini, tidak seperti biasa.


Ku lemparkan senyuman andalanku padanya, "Weekend ya." Ajakku.


"Ok."


Ternyata, sebuah senyuman sederhana bisa berarti kebahagian tertinggi bahkan mengalahkan tawa terbahak.

__ADS_1


"Kamu nggak punya rencana lain, kan?" Yoga bertanya lagi. Saat itu perhatianku tertoleh pada seorang siswi di depan sana yang sedang berjalan dengan beberapa temannya.


Dari sekian banyak siswa-siswi yang tiap sebentar berlalu-lalang dekat maupun jauh, perhatianku pasti akan terhenti padanya. Entah sudah sejauh mana diriku menaruh tempat untuknya di dalam kepalaku, tetap saja dia yang terlintas.


"Eh, Bay!" Yoga menepuk bahuku, aku tersadar bahwa tingkahku lumayan aneh sekarang. Yoga memperhatikan arah mataku tadi ke depan sana. Dia tersenyum getir padaku. "Kenapa sama dia?"


"Hah? Nggak papa." Aku masih bisa menjawab tenang.


"Alaah, jangan boong, Bay. Kamu suka ya?"


Ku perhatikan Yoga yang kini menyeringai jail, berusaha membuatku terperangkap dengan kata-katanya. Lagi-lagi tidak semudah itu. Aku kembali menoleh ke depan sana, 'dia' sudah jauh tapi masih bisa kulihat.


"Emangnya kalau cuma liat seseorang itu berarti suka?" Balasku santai.


Yoga yang mendengar hanya bisa bergumam sambil mangut-mangut mendengar jawabanku.


"Kamu itu, ya, Bay. Susah ditebak." Yoga akhirnya mendesah kalah, bersandar ke sandaran tempat duduk.


Aku yang merasa menang tersenyum puas lalu ikut bersandar. Ku buka buku kecil tadi, mencari lembaran yang masih kosong, kemudian menulis sesuatu di sana.


"Itu apa, Bay?"


"Buku buat iseng-iseng."


"Kalau aku malah jadiin buku kayak gitu jadi buku buram di rumah."


Aku terkekeh. "Emangnya buku buram sebagus ini?"


"Aku nggak tertarik nulis, jadi kujadiin buku buram."


Lagi-lagi aku terkekeh dengan tangan masih menggores-gores sesuatu di atas lembaran tipis itu.


***


'Cinta', tadi aku melihatmu lagi. Maaf, aku memanggilmu dengan kata 'Cinta', alasannya karena aku belum tau siapa namamu, alasan lainnya karena kamu cocok dengan sebutan itu.


Aku ingin mengatakan sesuatu. Kau tahu, saat melihatmu di depan mata, dunia seolah berganti panorama, kelabu menjadi cerah, terik menjadi teduh, semua berganti haluan, bahkan waktu. Aku hanya bisa menatap semua dengan seutas senyum, hal yang kulakukan untuk mengungkap rasa bahagia dan terima kasih.


Terkadang aku bertanya, siapakah dirimu yang membuat seorang anak yang baru mengenal dunia luar ini menjadi seorang yang ingin serba tahu, terutama tentangmu yang berhasil merebut perhatianku.


Ah, malunya diriku. Siapa aku? Sementara orang lain disana akan tidak segan untuk menghampiri dan meminta untuk menjadi belahan hatinya. Maaf, aku bukan orang seperti itu. Aku tidak mengenalmu dan kamu pun demikian. Bisa jadi aku hanya 'ingin tahu' tanpa keinginan yang lebih dari itu. Tapi, izinkan aku mengenalmu, 'Cinta'.


24 Juli 20xx


Tertanda


Bayu


Ini adalah catatanku yang kesekian di bulan ini.

__ADS_1


__ADS_2