
"Cin, foto dulu, yuk." Yoga sudah siap dengan poselnya untuk ber-selfie ria setelah kemenangan Cinta.
"Eh, Kak Sofian, sini, ikut."
JEPRET!
***
Piiip piiip
Suara notifikasi dari handphoneku berbunyi. Sudah jam sepuluh kurang seperempat malam, mataku dari tadi belum bisa tidur. Aku beranjak dari tempat tidur hendak mengambil benda pipih itu di atas meja belajar.
Ku buka sebuah chat yang baru datang. Tiga buah foto kiriman dari Yoga. Aku tersenyum melihatnya.
"Hebat."
***
Hari ini hari Senin. Upacara bendera sudah menjadi acara wajib paginya sebelum masuk kelas. Setelah upacara selesai, guru yang jadi pembina upacara tadi memberi perintah agar tidak bubar dulu. Ada perihal yang ingin disampaikan.
"Kita mendapat kabar gembira pagi ini. Peserta yang ikut lomba di Universitas Sanjaya sebelumnya meraih peringkat juara di masing-masing empat mata pelajaran yang diperlombakan, ialah Biologi, Fisika, Kimia, dan Matematika..."
Semua hadirin upacara menanggapi kabar itu serius, barisan yang awalnya teratur rapi menjadi berantakan karena yang mendapat barisan di belakang berdesakan ke depan untuk melihat apa yang terjadi di depan sana.
Nama-nama pemenang lomba disuruh ke depan.
"Cintaaa! Kamu menang juga ya? KYAAA!" Terdengar riuh dari kelas lain diikuti teman-teman sekelasnya.
"Kepada Adinda Cinta dimohon maju ke depan." Ucap guru di depan dengan microphone di tangannya.
Teriakan histeris pecah di lapangan saat Cinta berjalan ke depan. Setelah namanya, nama Sofian disebutkan, ia pun maju ke depan.
Teriakan dari para fans terdengar riuh kembali. Kini Sofian sudah berdiri di samping Cinta.
"Selamat, ya, Cin." Kata Sofian.
"Selamat juga, Kak." Cinta terkekeh ringan walau kakinya masih gemetaran berdiri.
"Cin, mau... makan bareng, nggak? Aku yang traktir."
Cinta berpikir sejenak, ia bingung harus menjawab apa dengan ajakan itu. "Hari ini aku ditraktir makan sama temen, Kak."
"Besok mau nggak?"
Cinta jadi tidak enak menolak tapi ia juga tidak enak untuk menerima, karena... Pandangannya kali ini menoleh pada salah satu barisan di sana.
"Nggak bisa juga, ya?" Sofian tiba-tiba menyela.
"Eh. Mm, bisa, Kak."
Sofian tersenyum. Ia jadi canggung berdiri di tempatnya sekarang, kepalamya tertunduk menahan semu di wajahnya, "Ok, besok kita ketemu di tempat duduk itu baru setelahnya ke kantin." Sofian menoleh pada sebuah kursi taman di depan sana lalu kembali menoleh pada Cinta.
__ADS_1
Cinta hanya bisa mengangguk tapi sedikit terpaksa.
***
Kali ini aku diajak makan lagi di jam istirahat, karena Yoga janjian traktir Cinta setelah lomba usai. Lagi-lagi aku harus makan ngebut seperti sebelumnya.
Yoga memesankan pesanan untuk kami bertiga, aku dan Cinta mengambil tempat duduk lebih dulu.
Setelah mendapat meja, ku lihat Cinta tidak bersemangat seperti biasa. Aku jadi bingung harus menegur bagaimana jadi ku putuskan untuk menunggu Yoga, aku yakin Yoga bisa mengerti keadaan ini.
"Eh, Cin, kenapa gitu mukanya?"
Tuh, kan. Yoga begitu peka dengan hal-hal seperti ini. Syukurlah.
"Nggak papa, Ga. Yuk, makan." Cinta mengambil pesanannya dari nampan yang dibawa Yoga. Langsung ia santap tanpa banyak bicara.
Aku dan Yoga memperhatikannya beberapa saat. Ingatanku kembali pada mading. Pesananku tadi segera ku lahap juga, tentunya dengan mode tergesa-gesa.
Tidak perlu waktu lama akhirnya aku selesai sudah berurusan dengan yang namanya makanan. Aku lalu meminum air putih dalam gelas sampai habis.
Tidak ada percakapan apa pun sejauh ini dan aku selesai lebih cepat dari biasanya.
"Ga, Cin. Aku duluan, ya." Aku sudah berdiri dari kursi.
"Iya, Bay." Jawab Yoga, sementara Cinta masih sibuk dengan makanannya tanpa menoleh sama sekali selain pada makanan di depannya.
Oh, iya, aku sempat lupa. "Mm, Cin."
"Selamat, ya, buat peringkat satunya."
Cinta tersenyum ringan. Lalu melanjutkan makannya kembali.
"Kalau gitu, aku duluan." Aku pun berlalu dari kantin melanjutkan tujuanku kembali ke ruang mading.
"Eh, Cin. Kamu kenapa? Sakit?" Yoga berhenti dengan acara makannya.
Cinta menghela napas, "Ga, besok aku ditraktir makan sama Kak Sofian."
"Trus?"
"Aku nggak enak, Ga."
"Kenapa nggak nolak?"
"Kalau kamu mau traktir orang trus ditolak gimana?"
Yoga terlihat berpikir lalu manggut-manggut paham.
"Aku cuma berani ditraktir sama kalian berdua." Lanjut Cinta, ia kembali menyendok malas makanan di hadapannya. Wajahnya murung tak bersemangat.
Yoga mulai paham arah bicara Cinta. Sofian akhir-akhir ini memang terlihat lebih dekat dengan Cinta. Memang posisinya karena mereka sama-sama berada di ruang yang sama, ruang matematika, tapi perhatiannya seperti lebih dari sekedar bercengkrama karena matematika.
__ADS_1
"Kamu terima aja dulu, Cin. Aku yakin Kak Sofian orangnya nggak gegabah minta kamu makan bareng dia."
Sementara itu di ruang mading
"Ketua, itu tadi Nyonya, kan? Wah hebat banget, baru kelas sepuluh begini udah dapat peringkat satu di lomba math." Genta sudah mulai dengan cerocosnya hari ini. Tangannya tidak terganggu untuk terus menulis pekerjaannya, terlihat multitasking.
"Eh, beneran? Itu siswi yang waktu itu sama Ketua? Gila, hebat banget. Ketua udah ucapin selamat dong, ya?" Seorang rekan yang lain menyahut dari tempat duduknya.
"Ketua kasih apa ke dia? Bunga? Coklat? Aksesoris?" Rekan yang lain menimpal.
Ruang mading riuh dengan topik itu. Aku tidak tahu harus menjawab mereka bagaimana, selain karena pekerjaanku sudah dimulai, aku jadi sangat terusik. Ingin rasanya keluar mencari tempat tenang, tapi itu tidak efektif kalau aku membawa lembaran-lembaran kertas itu juga.
"Ketua." Genta sudah di depan mejaku.
Aku meliriknya, tanganku terhenti menoreh tinta, dia malah cengiran dengan perawakan yang sudah biasa ku lihat itu. Ia lalu menekuk kakinya sehingga lengannya bisa bertengger di depan mejaku.
"Ketua udah ngasih dia sesuatu belum buat ucapan selamat?" Genta tambah menjadi-jadi sekarang.
Aku sama sekali tidak konsen dengan pekerjaanku. Sebagai balasan, aku menggeleng cepat, berharap ia segera menjauh sekarang.
"Oh, belum, ya. Kalau gitu aku saranin Ketua buat kasih sesuatu yang dia suka, Ketua. Bunga atau apalah, biar dia tambah semangat."
"Genta.. Udah. Ketua nggak kelar-kelar, tuh, kerjaannya." Mantan ketua itu akhirnya menegur.
"Apasih, Kak Rian. Ini lagi bagi tips nih sama Ketua. Kayaknya Ketua belum berpengalaman sama soal beginian. Aku kasih pencerahan."
Mantan ketua itu terkekeh tidak mau lagi menanggapi Genta yang tidak akan mau berhenti dengan pekerjaan itu.
"Ya, Ketua. Jangan lupa kasih. Nanti keduluan orang lain, loh." Genta berusaha merayu dengan rayuan peliknya.
Aku jadi tidak bisa menghindar dari mendengarnya. Untuk sekarang ku iyakan semua kata-katanya, dan kabar baik akhirnya Genta pergi dari depan mejaku.
***
Aku seolah terhipnotis dengan kata-kata Genta. Ingatan tentang apa yang diucapkannya tadi membelenggu pikiranku.
Sekarang aku sedang di perjalanan pulang, berjalan kaki seperti biasa, sendirian. Tapi, tiba-tiba aku jadi ingin pergi ke toko buku yang tak jauh dari tempatku sekarang. Jadilah aku mengikuti kata hati, pergi ke toko buku tapi tidak tahu harus membeli apa di sana.
Aku sudah membuka pintu toko buku itu. Pemandangan yang terlihat tidak berubah dari sebelumnya, kecuali hanya beberapa item sudah dibeli pengunjung yang datang.
Aku lalu berjalan ke pojok buku notebook. Banyak sekali notebook yang menarik di sana, aku jadi ingin membeli semua jenisnya, tapi tidak mungkin.
Aku teringat lagi pada kata-kata Genta. Pikiranku jadi tidak karuan sekarang. Dengan pertimbangan minim aku lalu memutuskan untuk membelikan satu notebook untuk... Cinta. Ini kulakukan agar pikiranku tidak lagi sibuk tentang 'apa aku harus beli sesuatu untuk Cinta sebagai ucapan selamat atau tidak'.
Tapi, aku sama sekali tidak tahu harus pilih yang mana, yang aku tahu perempuan itu identik dengan warna pink. Tapi aku tidak berani memperlihatkan itu nanti saat membayar di kasir, malu.
Beberapa yang ada di sana banyak yang terlihat lucu menurutku. Tapi, apa itu tidak terlalu kekanak-kanakan. Aku jadi bingung dengan semua ini. Mana yang harus ku ambil sekarang.
Akhirnya tanganku mengambil dua notebook yang menurutku bagus dan tidak lagi melirik yang lain agar tidak tergoda melihatnya yang membuatku tambah bingung. Setelahnya, aku ke kasir membayar belanjaanku di sini.
Notebook ini, aku berencana akan memberikannya besok. Lebih cepat lebih baik, aku tidak suka menumpuk beban pikiran. Semoga ini bermanfaat baginya.
__ADS_1