Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Kali Kedua


__ADS_3

NOTE: Sudut pandang yang ku gunakan dalam bercerita ini adalah sudut pandang campuran. Bila kejadian dalam cerita tentang apa yang dialami tokoh utama maka aku gunakan sudut pandang orang pertama. Tapi, bila tokoh utama tidak hadir dalam cerita maka otomatis akan Author Pov. Terima kasih.


______________________________________


Pulang sekolah adalah waktu yang ditunggu-tunggu setelah seharian dengan kesibukan yang unfaedah ala anak masa orientasi. Wajah-wajah lesu-lunglai nan kucel itu mulai cerah menyambut pemandangan rumah yang sebentar lagi akan menjadi tempat bernaung melepas beban kekesalan hari ini. Walau bisa dibilang elit, sekolah ini tidak membenarkan para siswa-siswinya membawa kendaraan, dengan alasan agar orangtua bisa memberi perhatian. Semoga saja.


"Bay! Bayu!" Seorang teman laki-laki yang sama-sama denganku saat orientasi tadi berlari melewati para siswa lain yang mengikuti arus perjalanan pulang.


"Hai." Aku lupa namanya, kami tidak banyak bicara tadi, hanya perkenalan yang selintas lalu saja karena kakak kelas menyuruh kami untuk memperkenalkan diri, setelahnya kami lebih banyak diam.


"Bay, pulang bareng siapa?"


"Sendiri." Semoga dia tidak menanyakan apakah aku tahu namanya atau tidak.


"Yuk, aku antar."


"Sama apa?"


"Itu. Aku dijemput." Dia menunjuk sebuah mobil mewah yang beberapa hari ini sering ku searching di mesin pencari. Alasannya, ya, suka saja.


"Mobil itu?" Aku menunjuk mobil berwarna hitam mengkilap di sana yang terparkir gagah.


"Bukan, sebelahnya." Ternyata dugaanku salah. Tapi.. "Mobil merah itu?" Keningku mengernyit minta kepastian.


"Iya. Yuk." Dia menyeret tanganku agar bergegas karena di dalam mobil itu seseorang sudah menunggunya.


Astaga. Walau salah duga pun, mereknya sama. Beda warna saja. Sebelum naik, ku hirup napas dalam-dalam terlebih dahulu. Aku benar-benar akan naik ke dalam mobil impian.


Hari ini banyak hal yang kupikirkan, mulai dari masuk gerbang sekolah, kejadian di lapangan, masa bersama kakak kelas, hingga pulang sekolah naik mobil ini. Aku tidak boleh melewatkan momen berharga satu pun. Akan kutulis dalam catatanku yang setiap hari menjadi wadah pelampiasan perasaanku.


***


Sebuah notebook yang baru ku beli di toko buku beberapa hari sebelum masa orientasi ku letakkan di atas meja belajar, bukan meja belajar ber-rak itu tapi meja belajar anak TK yang bisa dilipat kakinya. Aku duduk di atas tempat tidur dengan meja belajar tadi di hadapanku, sudah lengkap dengan alat tulis yang kuperlukan.


Hogwart, aku adalah siswa disana, dengan siraman Indoneaia yang unik, nuansanya menjadi beda. Ini bukan kisah Harry Potter, karena tidak ada nama seperti itu dalam buku absen, selain namaku dan siswa lain yang cenderung bergaya Indonesia.


Hari ini, siang serupa senja, mengantar kenangan dengan siraman hangat yang menggugah mata. Berkenalan singkat walau hanya sebatas flashlight, yang membuatku tidak menaruh perhatian lebih karena sibuk memasang mata pada sudut-sudut ruang di sana.


Bukan tak dapat apa-apa. Aku malah menjadi seorang pengamat sejati, benar-benar sejati. Hingga aku menyadari arti kata 'sejati' itu sendiri.


Sepatu berbunyi itu karena ada sebabnya. Pasti ada langkah yang bergesek di atas pijakan kasat. Rasa penasaranku muncul karena sedang berada di tempat berbeda, walau bukan di Wonderland ala Allice in Wonderland.


Aku bertemu dengan wajah-wajah, yang kuamati setiap mereka memiliki kadar perbedaan dan kesamaan yang unik. Ada yang sama-sama bisa mengandalkan satu sama lain dan ada yang lebih memilih sendiri dengan suatu alasan.

__ADS_1


Ah, kalau boleh bercerita, aku kini sedang malu. Malu pada diriku, sang penghuni dasar laut yang tak ada daya untuk mengikuti arus ombak di permukaan. Hanya bisa berada di bawah dengan kekerasan pikiran memperhatikan sesuatu di atas sana.


Tak sengaja aku jadi memperhatikan seorang perempuan. Ah, iya, perempuan. Aku tidak tahu namanya. Sebut saja 'Cinta'. Sebuah kata yang terdengar indah, seperti dirinya.


Aku ingin meneruskan kisah, semoga akan berlanjut di hari berikutnya. Sebuah kisah dari seorang penghuni dasar laut.


28 Juni 20xx


Tertanda


Bayu


Aku tersenyum setelah curahan itu selesai tertulis rapi di lembaran pertama buku itu. Segera ku bereskan ke tempatnya masing-masing peralatan tadi lalu beranjak tidur karena sudah waktunya untuk istirahat malam.


***


"Eh, itu Bayu, kan? Samperin, yuk." Dua orang siswa yang baru selesai dari kantin berjalan mendekat ke kursi taman depan kelas mereka.


"Bay!"


Aku tertegun. Kepegangi dada menenangkan rasa terkejut itu lalu menatap mereka yang baru datang.


"Nggak ke kantin, Bay?" Mereka duduk di sisi kursi yang masih kosong. Namanya Yoga yang duduk di sampingku, satu lagi Nanda yang duduk di sebelah Yoga.


"Tahan amat perut kamu. Kalau aku, sih udah dari tadi keruyukan nih perut walaupun udah sarapan." Nanda menggosok-gosok perutnya yang katanya kelaparan tadi.


Aku terkekeh ringan.


"Iya, ya. Tapi badan kamu nggak kurusan, tuh."


"Emang kalau nggak makan waktu istirahat buat orang kurusan?" Ku layangkan senyuman, balik bertanya.


"Ya, nggak juga, sih."


Aku tersenyum lagi. Mereka terlihat sangat bersahaja, mungkin karena masih berstatus 'siswa baru' yang artinya belum punya beban sekolah yang berat.


"Eh, Bay, jangan senyam-senyum gitu. Nanti ada yang liatin lagi."


Wajahku langsung turun setelah mendengar kata-kata Yoga, "Kenapa?"


"Kamu itu diam-diam menghanyutkan." Kekeh Yoga menatapku dan Nanda juga ikut-ikutan sembari mengangguk setuju.


"Itu tuh, kamu banget. Sejak pertama di sekolah ini aku perhatiin kamu yang begitu." Nanda menambahkan, tawa mereka tertahan karena tidak ingin menjadi bahan tatapan siswa-siswi lain.

__ADS_1


"Aku denger, pas orientasi kemaren ada yang mau kirim surat ke kamu, Bay. Tapi nggak jadi. Nggak tau kenapa." Sambung Yoga lagi, dia terlihat menikmati topiknya


"Dari mana kamu tau?" Nanda balik bertanya.


Sementara, aku menjadi pendengar sekaligus penonton setia kali ini, yang sesekali akan menanggapi pembicaraan itu dengan sebuah ekpresi atau hanya ucapan pendek.


"Dari kelas sebelah, ada kenalanku di sana." Yoga kembali melempar senyumnya ke arahku, seolah berniat untuk membuatku merasa malu plus salah tingkah. Tapi, tidak semudah itu. Setelahnya...


"Eh, aku ke kelas dulu, ya." Yoga langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan ke kelas.


"Aku ikut!" Nanda berlari kecil mengikuti Yoga yang sudah beberapa langkah menjauh.


Tinggal aku sendiri yang masih ingin bertahan duduk di kursi panjang taman kelas ini sambil bersandar di sandarannya.


Siswa-siswi lain masih dalam mode jam istirahat, jalan-jalan, makan, bercanda-tawa, dan hal-hal lain yang membuat mereka lebih rileks.


Tiba-tiba pandanganku berhenti pada seorang siswi yang hendak masuk ke kelasnya di sana. Dia ikut menoleh ke arahku. Sebentar ia berbicara pendek pada temannya yang sudah di ambang pintu masuk kelas, kemudian... dia mendekat ke arahku.


Aku langsung tegap dari sandaran, melihat ke arahnya yang semakin mendekat


"Hai," Sapanya dengan senyum canggung di wajah.. wajah manis itu, "kamu yang waktu itu nolong aku ke UKS, kan?"


"Iya." Aku memperhatikannya tenang.


"Makasi, ya. Maaf kejadian itu."


"Nggak papa. Kamu udah baikan?"


Dia mengangguk, "Oh, iya. Aku mau balikin uang buat beli makanan waktu itu. Ini." Selembar uang berwarna hijau dia arahkan padaku.


"Nggak usah. Ambil aja."


"Tapi aku nggak enak."


"Nggak papa. Anggap aja aku traktir." Aku tersenyum padanya agar terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.


"Oh.. Makasi ya. Kalau gitu aku balik." Tangannya menunjuk kelasnya tadi.


"Iya, silahkan."


Tanpa kusadari, dari tadi aku hanya duduk sendiri tanpa mempersilahkannya untuk duduk juga. Kepergiannya membuatku sadar bahwa sejak tadi pikiranku tidak setenang ucapanku.


Dia datang lagi, akhirnya aku bisa melanjutkan kisah yang beberapa hari ini sempat terputus. Aku belum menemukan siapa namanya, mungkin tanganku akan bertahan dengan menulis namanya dengan kata 'Cinta'.

__ADS_1


__ADS_2