Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Si Kacamata


__ADS_3

"Cin, Cinta!" Yoga berlari menghampiri Cinta, melambaikan tangannya pada siswi itu.


"Yoga. Kenapa?"


"Cin, kamu.. mau ikut lomba math itu nggak?"


"Mm.. sebenarnya mau. Tapi, kayaknya nggak bakal lolos seleksi, deh."


"Aku juga mikir gitu waktu bilang mau ikut ke Bayu."


Ada sesuatu yang lain bila nama itu disebut. Cinta menyadari dirinya yang selalu terbelenggu mengingat pemilik nama itu. Air mukanya berubah, sembari tersenyum berusaha tenang dalam diamnya menatap Yoga.


Yoga menyadari perubahan di wajah siswi itu. Dalam hati ia menahan gelak, ingin sekali menceritakannya pada pemilik nama yang ia sebutkan tadi.


"Katanya, 'buktiin dulu'." Lanjut Yoga.


Cinta lagi-lagi tersenyum. Kali ini ia memalingkan wajahnya sekali.


"Ok, deh. Kamu ikut juga, kan?"


"Iya. Jadi, rencananya aku mau ngajak kamu sore ini, habis sekolah belajar bentar sebelum pulang. Nanti pulang aku antar. Mau?"


"Mm, boleh."


"Ok. Sore ya."


Cinta mengangguk setuju.


Yoga kembali ke kelas, bel masuk pas sekali berbunyi setelah percakapan mereka usai.


***


"Ga, aku duluan, ya."


"Ok, hati-hati, Bay."


Pulang sekolah ini aku akan ke papan mading lagi, melihat kotak fans sekalian mencari ide untuk karya berikutnya. Para siswa masih dalam perjalanan mereka untuk meninggalkan pekarangan sekolah. Ku lihat di depan mading beberapa siswa tengah memperhatikan karya-karya disana, hanya sebentar, lalu mereka pergi.


BRUK!


Tiba-tiba seorang siswa tidak sengaja menabrakku yang tidak memperhatikan jalan dengan baik karena perhatianku bertumpu pada seorang siswa berkacamata yang masih berdiri di depan mading.


"Eh, sorry."


"Ah, iya nggak papa."


Aku mendekatinya dan dia menoleh padaku sembari tersenyum tipis, aku pun membalas senyumnya.


"Hai." Sapanya.


"Hai."


"Kamu tertarik juga, ya, sama mading ini?"

__ADS_1


Aku tidak berniat untuk memberitahunya kalau aku adalah salah satu pembuat karya di mading itu. "Iya."


Dia kemudian melempar senyum sinis, aku memperhatikan wajah itu, "Sebenarnya... orang-orang yang buat karya seperti ini tidak lain cuma mau pamer."


Aku menatapnya penasaran, "Gimana kamu yakin begitu?"


"Kamu coba liat yang ini. Dia menggambar sesuatu yang menurut orang lain sangat rumit untuk dilakukan, sementara dia sendiri menunjukkan kalau dia tidak seperti kebanyakan orang, dia bisa melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan. Bukankah dia memamerkan diri?"


"Maksud kamu... setiap orang yang menunjukkan kemampuannya itu berarti pamer?"


"Menurut kamu?"


Ini tidak ubahnya seperti adegan perdebatan sengit. Aku harap dia hanya sedang berusaha memancing opini yang akan terlihat seru dengan rekaan suasana serius.


"Setiap orang itu memiliki segenap kemampaun dalam dirinya. Sebagian ada yang mudah dengan terus terang mengatakan dari mulut mereka kalau mereka mampu. Tapi, sebagian yang lain tidak punya keberanian mengungkapnya dari mulut mereka melainkan dengan berbuat diam-diam." Jawabku.


Siswa itu lagi-lagi tersenyum sinis. Apa itu ekspresi yang biasa ia tampilkan di setiap keadaan?


"Kalau gitu, kamu yang mana?" Dia menatapku.


"Perlu aku jawab?"


Bibirnya lagi-lagi bermain, menyeringai. "Nggak juga. Aku juga nggak tertarik tau."


Aku membalasnya dengan senyuman ringan.


"Aku duluan." Laki-laki berkacamata itu berjalan pergi sambil melambai dengan posisi sudah memunggungiku. Sosoknya lenyap di balik dinding bangunan sekolah.


Kembali, aku melanjutkan niatku sebelumnya yang sempat teralih kejadian sebentar ini.


Apa yang membuatnya sampai berpikir seperti itu? Aku tidak dapat menebak kepribadian seseorang selain hanya dapat melihat sekilas dari perilakunya yang bicara tentang siapa dirinya.


Setelah mengambil beberapa carik kertas yang ternyata ada lagi di kotak fans, aku lalu berjalan meninggalkan tempat itu hendak pulang. Ingatanku masih dibelenggu oleh ucapannya. Memangnya apa yang aku dan yang lain lakukan di eskul mading ini bisa dikatakan pamer sepeti yang dia maksud? Sebuah kesalahpahaman ini cukup membuat pikiranku sibuk memikirkannya walau aku sendiri tidak percaya dengan ucapannya.


Tanpa sadar pikiranku ini merubah raut wajahku yang seketika menjadi terlihat dingin. Apakah ini yang namanya 'kesal'?


"Bayu!"


Mataku menoleh ke arah sumber suara, ku dapati Yoga bersama... Cinta duduk di salah satu kursi panjang di sana.


Sebuah senyuman ku sematkan pada mereka, lalu berlalu meneruskan langkah pulang dengan wajah yang kembali terlihat dingin lagi.


"Kenapa dia?" Yoga melirik Cinta.


Cinta menggeleng tidak tahu sambil menatap kepergianku yang menjauh menuju keluar sekolah. Hatinya bertanya ada apa dengannya?


"Kalau gitu kita lanjutin lain waktu aja deh, Cin."


Suasana kali ini tidak lagi mendukung mereka untuk meneruskan rencana. Cinta mengangguk setuju dengan ajakan Yoga lalu mengemaskan bukunya ke dalam tas. Wajahnya tidak lagi cerah seperti di awal tadi.


Mereka kemudian berjalan menuju keluar pekarangan sekolah dan di luar sana sudah terparkir mobil jemputan Yoga.


"Yuk, Cin, naik." Yoga membukakan pintu untuk Cinta. Setelah Cinta masuk ditutupnya lagi pintu itu lalu ia masuk dari pintu di seberangnya.

__ADS_1


"Pak, ke jalan xxxx dulu, ya."


"Baik, Nak."


Hingga setengah perjalanan, Cinta terus diam dengan tatapan kosong yang terpasang di wajahnya, menerawang ke alam pikiran yang mungkin tengah sibuk memikirkan suatu hal.


"Cin, kamu nggak papa?" Sebenarnya Yoga dari tadi sudah merasa tidak enak.


"Nggak papa, Ga."


"Kalau ada apa-apa, cerita aja ke aku. Aku bisa jaga omongan kok."


Seutas senyuman tersungging di bibir siswi itu.


"Aku nggak papa, Ga."


"Ya, aku juga nggak maksa, sih. Kalau kamu nggak keberatan buat aku dengar. Kali aja aku bisa bantu."


"Makasih, Ga."


"Nggak usah makasih, Cin. Biasa aja."


Wajah sayu milik perempuan itu kembali terlihat cerah dari tarikan senyumnya. Yoga berhasil, membuat seorang Cinta merasa lebih baik.


***


Malam ini sepertinya akan terasa panjang. Pikiranku belum berhenti memikirkan siswa berkacamata itu. Aku yang secara tidak langsung disebutnya sebagai orang yang 'pamer', tidak terima dengan anggapannya yang demikian.


Piiip piiip


Suara notif dari ponselku berbunyi. Jam dinding sudah menunjuk pukul sebelas kurang lima menit.


Aku bangkit dari tempat tidur hendak mengambil ponsel di atas meja belajar.


TAP


_______________________________


Yoga


Bay, sorry... malam2 gini chat kamu


Aku cuma kepikiran kamu lagi ada masalah ya?


Tadi kamu nggak kayak biasanya sampai2 Cinta ngerasa nggak enak waktu kamu pergi gitu aja


______________________________


Cinta? Ada apa dengannya?


*Di kamar Cinta*


Cinta meneguk air minum di atas meja belajar lalu melanjutkan kembali kegiatannya mengerjakan soal matematika berbasis soal tingkat sedang dan rumit, mengingat rencananya yang akan mengikuti seleksi untuk calon peserta lomba matematika empat bulan lagi.

__ADS_1


"Kok aku kepikiran Bayu, ya."


__ADS_2