
Apakah sosok nila dalam pepatah 'gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga' itu aku? Kalau iya demikian, jadi apa yang harus ku lakukan sekarang? Berbaur hanya akan membuat kerusakan. Padahal aku tidak bermaksud demikian. Apa aku terbuang?
Jam istirahat kali ini aku ingin ke kantin dulu, karena belum sempat sarapan tadi pagi.
"Ga, mau ikut ke kantin, nggak?"
"Duluan aja. Lagi malas."
"Oh, yaudah."
Aku mendengar nada yang lain dari biasanya saat mendengar Yoga menaggapiku sekarang.
Jadilah sekarang aku ke kantin sendirian. Biasanya tidak ada waktu untukku ke kantin tanpa mereka, Yoga dan Cinta. Aku bukannya tidak bisa sendirian ke sana, hanya saja tidak terbiasa tanpa mereka.
Akhir-akhir ini rasanya hubunganku dengan mereka cukup renggang dan yang lebih tidak biasa lagi adalah saat melihat Yoga yang terlihat tidak senang dengan kehadiranku. Aku jadi terus memikirkan mereka. Apa aku terlalu menjauh selama ini, sementara mereka dengan senang hati membujukku agar kami bisa bersama walau hanya dalam waktu yang singkat.
Perlu ku katakan, aku rindu bersama mereka.
Aku sudah memesan pesanan di kantin. Kantin ini adalah kantin yang pertama kali aku datangi saat pertama dulu masuk sekolah ini, yaitu saat membeli pesanan untuk salah satu siswi yang sempat pingsan saat masa orientasi. Saat sendiri seperti ini mudah sekali mengundang untuk mengingat kembali masa lalu.
Aku duduk di salah satu kursi, tanpa memperhatikan apa dan siapa yang ada di ruang ini. Tak lama berkutik dengan makanan, aku pun selesai, dan pergi ke ruang mading setelahnya.
"Eh, Cin. Itu Bayu, kan?"
"Iya."
Dari tadi Cinta sudah melihat siapa yang duduk sendirian di salah satu meja di kantin yang ia kunjungi sekarang. Hatinya meringis melihat sesiapa tidak ada yang ikut duduk di sampingnya yang biasanya akan ada Yoga dan dia di sana.
Pikirannya terus mengenang saat-saat bersama itu. Entah bagaimana menjelaskan alasannya, kini ia dan Yoga sama-sama memikirkan hal yang sama, menganggap semua yang ada di antara mereka selama ini seolah tidak pernah terjadi, sengaja ingin melupakan. Tapi, hati yang bicara tak bisa berbohong.
Di ruang mading
"Ketua, izin bentar, ya."
"Iya."
Aku masih dengan pekerjaan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tangan yang meliuk-liuk di atas buku besar itu. Bedanya, kali ini aku diusik oleh beban pikiran yang berbeda.
Aku sudah berteman baik dengan Yoga bahkan sangat dekat, sudah seperti saudara. Di tengah kesendirianku, dialah orang yang datang sukarela, memberi perhatian dengan perasaan tulus. Aku merasakan itu di setiap senyum dan lelucon yang dia berikan padaku. Tapi, selama ini aku sering acuh karena di waktu itu aku menganggapnya seolah dia hanya akan singgah di waktu itu sebagai pencair suasana, ternyata tidak, dia setia, dan aku baru menyadarinya.
__ADS_1
Cinta. Tidak berbeda dengan Yoga. Bahkan aku menyimpan rasa padanya sejak pertama kali jumpa. Tapi, aku tidak tahu apakah itu rasa suka atau aku hanya ingin sekedar ingin mengenalnya. Perhatiannya selama ini ku anggap karena dia menganggapku sebagai teman dekatnya, bukan karena dia suka padaku seperti yang pernah dikatakan Yoga.
Aku tidak berani mengatakan kalau aku suka padanya. Aku tidak yakin kalau aku benar-benar menyukainya. Jadi, biarlah itu ku simpan sendiri.
Kalau boleh ku nilai sendiri, aku bahkan lebih ingin kalau Cinta menyukai Yoga, karena selama ini Yoga selalu ada untuknya saat aku sama sekali tidak bisa di sampingnya. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya teman lalu di hadapan mereka yang akan singgah sebentar sekedar menumpang bercengkerama.
Aku hanya seorang yang ingin belajar banyak dan aku menyadari kalau diriku sangat acuh dengan sekitar, begitu egois dengan diriku sendiri. Apa itu salah?
Setetes air keluar dari sudut mataku jatuh tepat di permukaan buku besar di atas meja. Aku baru menyadarinya.
"Eh, Ketua. Ketua nangis?" Genta mendekat ke mejaku sekarang, meninggalkan kertas pekerjaannya di atas lantai begitu saja.
Ternyata dia melihatnya.
"Kenapa, Ketua? Ada masalah?"
"Eh, Nggak, Gen. Lanjutin aja kerjanya."
"Oh, yaudah." Genta kembali duduk di tempatnya tadi, walau dia tahu kalau ada sesuatu.
Ku lirik Kak Rian yang tak jauh dari Genta duduk. Dia balas menatapku. Ada raut penasaran di wajahnya, untungnya ia mampu menyimpan, tidak langsung terus terang untuk bertanya.
Hariku tanpa mereka terasa sepi saat kusadari bahwa mereka selama ini selalu ada, dan kini rasanya tiada.
Kalau memang selama ini memang aku yang salah, aku akan bertanggung jawab untuk meminta maaf.
Sudah waktunya untuk kembali ke kelas. Urusanku di mading juga sudah selesai.
Apakah kepalaku akan terus menekur seperti ini sampai di kelas tiba? Aku malu dengan tampangku sendiri yang menyedihkan. Baru kali ini aku merasakan yang namanya terabaikan, setelah selama ini orang lain hanya terus menampilkan sisiku yang postif, dan kini baru ku temui wajahku yang sebenarnya, tampang pecundang yang hanya mampu mengemis kata-kata baik dari orang lain
Di kelas ku lihat Yoga tidak lagi menyambut ku dengan sapaan. Dia mulai menganggap semua kedekatan yang kemaren-kemaren seolah tak pernah terjadi. Semuanya kembali seperti pertama kali tiba di sekolah ini, tidak kenal sama sekali.
Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk berterus terang untuk ku akui kesalahan padanya. Semoga waktu membelaku untuk dapat mengucapkan kata 'maaf'. Ku harap kalau memang demikian jalannya, dia mau menerimanya.
Aku terus menanti sampai waktu itu benar-benar berpihak padaku, tapi sampai pulang sekolah pun aku masih belum dapat mengerjakannya. Hingga Yoga sudah berjalan lebih dulu pulang.
Aku tidak sengaja melihat Cinta, dia pun melihatku. Aku berniat menunggunya untuk bicara. Tapi..
"Teti, yuk, buruan. Aku mau cepet-cepet pulang."
__ADS_1
Cinta menarik tangan seorang temannya dan terus berlalu. Aku yakin dia melihatku tadi. Apa Cinta juga sama seperti halnya Yoga padaku? Mereka menjauhiku?
Aku hanya bisa menatap kepergiannya masih berdiam diri di tempatku sekarang.
"Bay!" Teman kelasku menegur dari belakang.
Kali ini aku tidak benar-benar sadar, terlalu larut dalam lamunan, hingga keterkejutanku begitu terasa.
"Eh, sorry, Bay." Dia terkekeh puas melihatku yang berhasil terkejut.
"Kenapa?"
"Mm.. aku mau ngajak kamu main futsal, mau nggak, Bay?"
Mungkin ini kesempatan untukku bisa dekat dengan teman-teman yang selama ini sempat ku abaikan. Walau memang kesibukanku hampir tidak ada celah. Tapi, kali ini aku ingin mengubah kebiasaan lama. Selama masih ada celah untuk bisa bersama mereka akan ku kusempatkan waktu itu sebisa mungkin.
Ku balas terlebih dahulu dengan sebuah senyuman, "Kapan mainnya?"
"Malam, Bay. Cuma sekali seminggu, jam 8 sampai jam 9."
Itu adalah waktu senggangku di rumah, selebihnya waktu istirahat. Tapi, ini hanya sekali seminggu. Tidak apalah bila ku gunakan sehari itu untuk benar-benar full kegiatan, asal bisa bersama mereka.
"Ok, deh. Hari apa?"
"Tiap malam Sabtu."
"Ok."
"Ok, Bay. Kalau gitu aku duluan, ya."
"Iya."
Namanya Gani, salah satu teman yang dekat dengan Nanda.
Sepertinya setelah ini aku perlu membuat agenda tambahan.
***
Notebook yang ingin ku berikan sebelumnya untuk Cinta sampai sekarang masih ada di tanganku. Aku jadi kurang percaya diri untuk memberinya lagi, sudah terlalu lama setelah hari kemenangan itu. Aku tidak berani mengungkit kejadian itu, bukan lagi topik hangat. Walaupun ku akui itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Dia adalah perempuan yang pintar.
__ADS_1
Tapi, dari semua kejadian ini, tanganku masih belum jera untuk menulis kata 'Cinta' di buku harianku. Entah sampai kapan ini akan bertahan. Mungkin sampai aku yakin apakah rasaku selama ini berarti 'menyukainya' atau 'bukan'.