Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Hampa


__ADS_3

Setelah kejadian yang menghampiriku silih berganti dan hadirnya Cinta di tengah-tengah itu semua, entah mengapa hariku rasanya hampa bila tanpa kehadirannya. Apakah pikiranku kini telah berganti haluan? Atau celah rasa yang selama ini tidak pernah ada tiba-tiba menampakkan diri? Semua itu kini menjadi beban pikiranku dan yang bisa kulakukan sekarang hanyalah bertahan.


"Ketua! Kok Nyonya nggak nongol-nongol lagi?" Genta sudah mulai lagi, aku tidak menggubrisnya, melanjutkan pekerjaanku menggores-gores dawat pena di buku besar itu.


"Ketua, aku kangen liat mukanya Nyonya. Waktu itu cuma liat bentar doang."


Aku menatap tajam padanya, mengalirkan kekesalanku yang mulai memuncak mendengarnya terus mengusikku. Ah, bukan begitu, aku hanya bermaksud agar dia diam.


Seketika wajah periang itu mendadak hilang mimik. Ia lalu mendekati Kak Rian, mantan ketua, yang sedang duduk di salah satu sudut dinding di ruang ini.


Kak Rian menyeringai melihat Genta yang gagal menggodaku dengan ledekan yang sudah biasa itu lalu melirikku sekilas, kemudian kembali sibuk dengan lembaran yang ada di tangannya. Sementara Genta yang sudah duduk di sampingnya kini rautnya jadi masam.


"Kak Rian, suruh Ketua datangin Nyonya itu lagi, dong. Mau kenalan." Genta terdengar merengek dengan menggoyang-goyang lengan mantan ketua itu manja.


"Kamu ini." Kekeh mantan ketua itu ke arah Genta.


Aku masih meneruskan pekerjaanku di meja. Mataku terus memperhatikan setiap nama-nama yang tertulis di lembar karya lalu menuliskannya kembali ke dalam buku besar, lengkap dengan judul karya, jenis karya, dan beberapa keterangan lainnya.


Ku teguk air aqua gelas yang berada di atas meja lalu melanjutkan kembali pekerjaan yang sama seperti tadi hingga beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi.


Aku melangkahkan kaki hendak meninggalkan ruang ini untuk kembali ke kelas, beberapa dari rekan-rekan yang lain juga tengah bersiap-siap untuk keluar.


Setelah memakai sepatu, aku terdiam sebentar memandangi pemandangan di luar sini yang anehnya tidak menarik sama sekali. Padahal sebelumnya aku sangat menyanjung segala sesuatu seperti yang ku lihat sekarang, apalagi ukiran-ukiran classic itu


"Ketua!" Genta datang dari belakang, aku sampai terkejut. "Samperin Nyonya dulu, Ketua. Lesu amat, sih."


Aku melayangkan seutas senyum padanya lalu berlalu pergi.


"Ketua, jangan lupa temui dulu!" Teriak Genta, yang membuatku berbalik badan melihatnya.


Siswa-siswi lain yang sedang berjalan di sana melayangkan tatapan mereka ke arah Genta dan padaku bergantian. Aku jadi risih, sementara Genta di pintu itu terkekeh geli melihatnya. Aku melanjutkan langkahku ke kelas dengan kepala tertunduk.


Entah sejak kapan aku merasa hampa seperti ini, apa ini efek setelah sakit kemaren? Tapi itu sudah seminggu yang lalu, rasanya tidak mungkin.


"Bay!"


Kepalaku menoleh ke arah suara itu datang. Kudapati Yoga dan... Cinta di sana. Mereka mendekat ke arahku.


"Bay, aku minta tolong tarok ini di laciku, ya." Sebuah buku cetak matematika diberikan Yoga padaku. Aku mengambilnya.


"Iya." Kepalaku masih tertunduk sambil menatap buku itu.


"Kamu sakit lagi, Bay?"


"Nggak." Ku angkat wajah, melihat mereka berdua bergantian.


"Lesu amat."

__ADS_1


Aku membalasnya tersenyum, "Nggak, Ga. Aku balik, ya."


"Bayu!" Cinta memanggilku lalu mendekat. "Kamu sakit lagi?" Dirabanya wajahku dengan tangan halus itu, wajahnya lagi-lagi memasang raut khawatir itu lagi. Entah sudah berapa kali aku menerima pemandangan seperti ini darinya.


Ku turunkan tangannya yang sudah di dahiku.


"Nggak, Cin." Aku tersenyum sembari melepas tangannya.


"Kamu belum makan?"


"Udah. Aku balik dulu, ya." Aku berbalik badan lalu berjalan ke ruang kelas meninggalkan mereka yang masih diam di tempat menatap kepergianku.


Sudah beberapa hari ini mereka berdua akan ke ruang matematika setelah istirahat siang untuk mengikuti pelatihan.


"Cin, yuk. Nanti kita telat." Ajak Yoga. Dia tahu apa yang dipikirkan perempuan itu kini, dia juga memikirkan hal yang sama, sama-sama bertanya ada apa dengan Bayu.


Cinta menurut dengan ajakan Yoga, karena memang jam pelatihan sebentar lagi akan dimulai. Mereka pun menyisiri jalan ke ruang matematika itu.


"Cinta." Seorang senior yang juga ikut pelatihan itu menghampiri mereka.


"Kak Sofian. Kenapa, Kak?" Cinta menanggapi.


Sofian, siswa yang waktu seleksi kemaren memperoleh peringkat 1. Di sekolah ini, ia terkenal sebagai master matematika. Sudah beberapa kali selama bersekolah di sini ia mengikuti perlombaan bidang matematika dan semuanya memperoleh kemenangan. Dia adalah salah satu kebanggaan sekolah, dan ancaman bagi SMA Model bila kedua sekolah ini saling berkompetisi di ajang perlombaan.


"Kok nggak semangat gitu mukanya? Lagi ada masalah?"


Senior itu manggut-manggut, "Ya sudah, yuk, masuk." Senior itu melirik Cinta dan Yoga bergantian lalu berjalan bertiga ke ruang matematika itu.


Bel masuk berbunyi setelah mereka sampai di koridor. Di dalam sudah ada beberapa siswa-siswi lain yang sudah duduk, mereka pun mangambil tempat masing-masing sambil menunggu guru datang.


Seorang guru masuk ke ruang itu. Ia lalu menaruh barang-barangnya di atas meja, mempersiapkan peralatan yang akan digunakannya nanti untuk mengajar.


"Jangan belajar dengan pikiran bercabang, itu sia-sia." Bisik Kak Sofian pada Cinta sebelum guru di depan mulai menerangkan.


Cinta mengangguk mantap, mengikuti pesan senior itu saat belajar tiba. Setiap materi yang diterangkan guru di depan ia dengar dan catat baik-baik. Tak satu pun poin yang tertinggal untuk ia catat guna diulang lagi nantinya. Tiba di bagian mengerjakan soal yang diberikan ia kerjakan dengan serius dan dapat selesai dalam waktu singkat.


Di akhir pelatihan itu, senyum puas melengkung di bibirnya. Ia merasa menikmati setiap detik di ruang itu dengan banyak sekali bekal penting yang ia dapat hari ini.


"Kita sudahi pelatihan kita hari ini, hati-hati di jalan." Guru itu beranjak meninggalkan ruang, diikuti oleh siswa-siswi lain yang keluar setelahnya.


"Yuk, Cin." Yoga menghampiri meja Cinta.


"Yuk."


Setelah pelatihan usai, otak yang menegang tadi mulai rileks kembali. Tapi, itu hanya berlaku sementara pada Cinta. Saat kakinya sudah berada di luar ruangan itu pikirannya kalut lagi. Langkahnya mendadak berhenti lalu menoleh ke arah kelasnya dan kelas Yoga di sana. Yoga memperhatikan arah pandangnya.


"Mau tunggu, Bayu, Cin?"

__ADS_1


Cinta mengernyitkan dagunya yang terlihat menimbang-nimbang apa yang akan ia putuskan sekarang, setelah beberapa saat berlalu ia menghela napasnya berat, "Yuk, lanjut, aja, Ga."


"Oh, ya udah. Ku antar, ya."


Cinta mengangguk lalu mereka berjalan hendak meninggalkan pekarangan sekolah ini.


"Eh, tunggu, temani aku ke mading bentar dulu, Ga." Cinta menahan Yoga dengan tangannya.


"Oh, Ok. Yuk."


Di mading besar itu, tidak ada lagi siswa yang singgah menatapnya. Mereka berdua mendekat lalu memperhatikan setiap karya yang ada di sana.


Cinta yang sudah beberapa saat lamanya mencari sesuatu tak kunjung juga ia temukan. Yoga sudah memperhatikan gerak-geriknya dari tadi hingga dia bingung sendiri apa yang ingin dilihat Cinta disana.


"Liat apaan, sih, Cin?"


"Punya Bayu mana, ya, Ga?" Tanpa menoleh pada Yoga, matanya masih sibuk mencari nama Bayu di lembar-lembar karya itu.


"Oh, bilang, dong, dari tadi." Yoga segera mencari karya yang dimaksud. "Tapi, jangan bilang siapa-siapa, ya, Cin. Kata Bayu, dia nggak mau orang lain tau." Bisik Yoga.


Kali ini Cinta baru menolehkan kepalanya pada Yoga, matanya menelisik. "Kenapa emangnya?"


"Katanya, sih, dia nggak PD aja." Yoga masih mencari-cari. "Nah, ini, Cin."


Cinta melihat ke arah tunjuk Yoga. "XOCOX?"


"Sstt, jangan keras-keras, Cin."


"Kan udah nggak ada orang."


"Ya, mana tau."


"Ok, deh, maaf. Tapi, kenapa namanya itu?'


"Itu, sih, aku nggak tau."


Cinta menatap karya atas nama XOCOX itu, dibacanya apa tertulis di sana. Lama ia termenung dengan untaian kata-katanya. Ia bahkan tidak bisa menghindar untuk senyam-senyum sendiri, perasaannya seolah melebur berbagai perasaan, bahagia, sedih, susah, senang menjadi satu. Ia membekap mulutnya kemudian, menahan apa yang ia rasakan sekarang. Sebutir air hangat dari sudut matanya mengalir ringan menuruni wajahnya.


"Aku baru tau kalau dia bisa yang begini." Kini suara itu dibumbui isak haru.


"Dia emang gitu orangnya, Cin. Apa-apa selalu disimpan sendiri. Dan.. aku yakin itu bukan untuk orang lain." Yoga menatap Cinta.


______________________________________


Oleh: XOCOX


Sajak Untuk yang Tersayang

__ADS_1


........


__ADS_2