
Semua mata tertuju pada kami sekarang, termasuk penjual di kantin ini. Aku tersadar memandang sekitar, malu sekali.
Terlebih dahulu ku turunkan tangan Cinta lalu meneguk air minum di gelasku sampai habis.
"Cin, Ga, aku duluan, ya. Udah telat." Aku berlalu dari kantin ingin cepat-cepat sampai ruang mading, tapi kakiku tidak bisa berjalan lebih cepat dari ini apalagi berlari.
"Cin, duduk dulu." Yoga menunjuk kursi di dekat Cinta. Ia memindahkan makanan dan minuman Cinta tadi padanya.
Cinta bergerak duduk, karena tatapan semua penghuni kantin masih tertuju padanya dan Yoga.
"Ayo, Cin. Makan dulu. Habis ini kita keluar." Bisik Yoga, ia pun sudah risih berada di kantin sekarang, apalagi beberapa teman kelasnya ada di sini sekarang. Cinta mengangguk lalu segera memakan makanannya.
***
Di kelas
"Eh, Ga. Itu cewek tadi siapa? Romantis amat sama Bayu. Cantik lagi." Lima orang teman kelas Yoga menghampiri mejanya yang membuat teman-teman lain jadi penasaran lalu ikut nimbrung. Jadilah meja Yoga jadi tumpuan kerumunan teman-temannya sekarang.
"Ooh, itu temen aku di kelas math. Dia emang gitu orangnya, nggak bisa liat orang kenapa-kenapa. Tadi Bayu nggak sengaja keselek."
"Coba, kalau aku yang kenapa-kenapa, disamperin kayak tadi nggak, ya?" Seorang teman di kerumunan itu menyela, yang lain tertawa lepas mendengarnya.
Yoga jadi lebih risih dari pada di kantin tadi. Bisa-bisa ini jadi biang gosip. Orang-orang di sini mulutnya ember semua.
"Ya, nggak mungkinlah. Itu karna Bayu orangnya di atas rata-rata makanya disamperin." Jawaban salah satu teman itu mendapat tanggapan serius dari teman-teman yang lain.
"Bener juga, tuh. Memang, deh, si Bayu."
"Iya, juga, ya."
Yang lain hanya manggut-manggut mengiyakan sebuah opini yang seenak jidat mereka.
"Itu dia orangnya!" Salah seorang teman di kelas menunjuk ke arahku yang baru masuk kelas. Mata mereka terus memperhatikanku sampai duduk. Beberapa di antara mereka terlihat membekap mulutnya.
"Eh, Bay, gimana rasanya disamperin cewek cantik tadi?" Akhirnya salah seorang dari mereka bersuara. Oh, jadi itu.
Aku tidak menanggapi mereka dengan jawaban melainkan dengan sebuah senyuman sederhana dan tetap bungkam.
"Alah, Si Bayu, mah, gitu orangnya, nggak suka cerita dikit doang."
"Udah, duduk sana, bentar lagi guru datang tuh." Yoga mengusir mereka yang masih nongkrong di sekitarnya. Nada-nada kecewa keluar dari mulut mereka. Sementara Yoga tersenyum puas melihat mereka yang akhirnya beranjak pergi.
Pelajaran kali ini Bahasa Indonesia. Sedikit banyaknya aku lebih tertarik pada pelajaran ini dibanding yang lain.
"Hari ini kita akan masuk ke dunia puisi." Kata Bu Ita di depan sambil menyapu tatapan para siswa-siswinya.
Ucapan guru itu membuatku tersenyum seketika. 'Dunia puisi'. Aku menyukai bahasa yang berbeda dari bahasa percakapan. Kata-kata yang mengantar ke dunia imajinasi yang tak terbatas, bermain-main dengan kata-kata, penuh diksi yang tersusun elok.
Kali ini yang akan jadi bahan ajar adalah sebuah puisi karya pujangga Indonesia.
_____________________________________
Aku ingin mencintaimu dengan sedearhana
__ADS_1
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono)
_____________________________________
***
"Cin, jarak duduk kita jauh, aku tambah deg-degan, nih."
"Udah, duduk dulu sana. Aku juga deg-degan." Cinta pergi ke kursinya yang terpisah sekitar sepuluh kursi dari Yoga.
Sebentar lagi perlombaan dimulai. Acara pembukaan sudah berlangsung dari tadi. Mereka mengikuti lomba tingkat nasional di salah satu universitas yang masih satu kota dengan sekolah mereka, dan sekarang berada di ruang aula kampus ini yang tempatnya luas luar biasa.
Peserta yang ikut dalam perlombaan ribuan jumlahnya. Mengingat empat mata pelajaran yang diperlombakan dihimpun dalam satu tempat besar ini yang hanya dipisahkan dengan sekat seperti tali simpul besar berwarna biru. Para panitia pengamat sudah berdiri di tempat-tempat mereka masing-masing. Peserta duduk berjarak 50 cm dari peserta lain
Acara pembukaan akhirnya selesai, saatnya panitia itu memberikan arahan terkait perlombaan. Panitia lain yang berdiri di dekat peserta sudah siap dengan soal-soal di dalam kardus-kardus besar.
Sesi pembagian soal pun berlangsung. Para peserta belum diizinkan untuk membuka soal sebelum diberi aba-aba oleh panitia yang berada di atas panggung di depan.
"Hati-hati, Cin." Kak Sofian, yang duduk di belakang Cinta memberi perhatian. Cinta menoleh padanya sembari mengangguk mantap.
"Waktu dimulai dari sekarang." Aba-aba itu memberi perintah pada peserta untuk segera membuka lembar soal.
Beberapa mulut berkomat-kamit sambil menulis sesuatu di kertas soal mereka yang sekaligus dijadikan buram.
Satu jam berlangsung khidmat. Beberapa sudah merasa jenuh dengan soal-soal itu, menyerah dengan apa yang didapatnya, walau masih ada beberapa soal yang masih kosong. Selain itu, ada juga yang sudah terkantuk-kantuk karena hening senyap.
Sementara itu, mereka-mereka yang merasa dapat menjawab sebagian besar soal di sana, merasa puas lalu memeriksa kembali jawaban yang sudah diisi.
Mengingat sistem yang diterapkan dalam perlombaan ini adalah sistem minus, jadi sebagian besar peserta lebih banyak memutuskan untuk mengosongkan apa yang mereka tidak tahu.
"Waktu tersisa lima menit lagi." Suara dari panitia yang ada di panggung sana.
Kebanyakan dari peserta sudah ingin beranjak dari tempat duduknya, lelah karena duduk tanpa banyak gerak.
Kriiiiiing!
Suara bel berbunyi, tanda waktu pengerjaan soal di babak eliminasi ini telah selesai. Para panitia bergerak menyusuri jalur-jalur tempat duduk peserta untuk mengambil lembar jawaban.
"Cin, yuk, keluar bareng." Ajak Kak Sofian di belakang Cinta.
"Oh, iya, Kak. Tapi, aku mau tunggu Yoga dulu."
"Oh, iya."
Cinta melambai pada Yoga untuk segera menghampirinya, yang dipanggil pun segera mendekat sambil membawa alat tulisnya.
Sekitar dua jam lagi pengumuman babak eliminasi akan diumumkan di dinding luar bangunan ini. Sambil menunggu waktunya tiba, para peserta beristirahat di luar ruangan untuk makan, minum, atau berkeliling menikmati pemandangan kampus.
__ADS_1
"Gimana soal tadi?" Tanya Kak Sofian.
Mereka bertiga sudah duduk di atas rumput di bawah sebuah pohon sambil menyedot soft drink masing-masing. Sementara teman-teman yang lain duduk tak jauh dari mereka.
"Mm, lumayan. Aku puas walau pun ada tiga soal yang nggak kejawab. Semoga aja jawabanku benar." Cinta menerawang ke depan sambil menyedot kembali minumannya.
"Gila kamu, Cin. Aku sepuluh atau sebelas soal yang kosong." Yoga menyela.
Cinta menoleh ke Yoga. "Kok, bisa?"
"Aku nggak ingat caranya."
Kali ini Cinta menoleh pada Kak Sofian. "Kakak gimana?"
"Aku.." Jawaban itu terputus karena dia sendiri malu untuk berterus terang. Setelahnya ia hanya manggut-manggut canggung.
Cinta tahu maksud bahasa tubuh itu. Ia tersenyum sumringah. "Pasti kakak jawab semua. Ya, kan."
Yang ditanya hanya tersenyum.
"Wah, hebat. Emang nggak diraguin lagi." Puji Yoga, ia sampai geleng-geleng kepala dibuatnya sambil menyedot minuman di tangannya.
Para peserta dan pendamping yang lain masih sibuk dengan acara istirahat. Mereka tidak berpisah jauh-jauh dari rombongan masing-masing. Beberapa ada yang tidak nafsu makan minum, jadi mereka membahas kembali soal-soal yang mereka kerjakan tadi. Ingin mengoreksi jawaban dengan guru atau teman-teman mereka.
"Anak-anak, ayo ke sana, sebentar lagi pengumuman keluar." Ujar Bu Fatma, guru pembimbing, yang sudah berdiri sambil menunjuk gedung besar itu. Rombongan segera beranjak dari tempat duduk. Debaran jantung tak karuan mulai lagi, karena pengumuman yang lolos seleksi akan ditempel.
Sebanyak dua ratus orang panitia bergerak hendak menempel hasil pengumuman di dinding luas itu. Para peserta sudah berduyun-duyun mengerumuni mereka.
Cinta, Yoga, dan Sofian sudah menjadi bagian dari kerumunan walaupun berada di belakang yang lain, menunggu yang di depan mereka selesai melihat namanya di kertas pengumuman itu.
Peserta yang sudah tahu statusnya segera keluar dari kerumunan agar peserta lainnya mendapat giliran melihat namanya juga.
Mereka bertiga akhirnya mendapat giliran tak lama setelah peserta lain selesai melihat nama mereka. Mereka mulai memperhatikan dari nomor satu. Di babak ini akan dipilih lima puluh skor tertinggi dari tiap mata pelajaran untuk lanjut ke semi final.
"ASTAGA, Kak Sofian nomor satu." Yoga dan Cinta terbelalak menatap kakak kelas itu yang balas menatap mereka. Bagi dua orang ini, ini adalah kali pertama bagi mereka melihat nama laki-laki itu di nomor satu. Tapi, bagi yang sudah tahu siapa Sofian di mata sekolah maupun sekolah lain hal itu sudah biasa bahkan guru pembimbing mereka pun hanya membalasnya dengan anggukan santai.
Laki-laki itu tersenyum lalu kembali melihat kertas pengumuman lagi untuk mencari nama-nama teman-temannya yang berhasil lolos babak eliminasi ini.
"Cin, kamu lulus." Kak Sofian menunjuk satu nomor di kertas itu.
Cinta dan Yoga langsung menoleh ke arah tunjuk kakak kelas itu. Cinta sampai tergagap.
"Wah, nomor empat, Cin." Yoga ternganga melihatnya. Cinta masih tidak percaya.
"Selamat, ya." Sofian tersenyum, senang dengan hasil pengumuman itu karena di babak berikutnya masih ada siswa dari SMA Cendikia yang menemaninya untuk ikut di babak semi final satu jam setelah ini.
Cinta masih belum menduga kalau namanya akan ada di nomor empat di sana. Ia lalu bergegas mencari nama Yoga sambil terus mendekap mulutnya.
"Aku... nomor lima belas, Cin." Yoga menunjuk nomor lima belas di sana. Yoga tidak tahu harus girang bagaimana menerima hasil itu.
Cinta yang lebih senang lagi tidak tahu harus berkata apa selain terus menahan rasa senangnya sampai wajah cantik itu memerah dibuatnya.
Sofian yang melihat itu hanya tersenyum melihat mereka berdua yang akhirnya lulus. Tapi, lebih dari itu ia memperhatikan Cinta yang terlihat lucu sekarang.
__ADS_1