Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Mading


__ADS_3

Bel masuk akhirnya berbunyi dan aku belum sempat untuk melihat kembali karyaku di sana, mungkin nanti setelah kelas selesai. Sudah waktunya untuk kembali ke kelas, guru-guru juga mulai keluar dari ruangannya siap untuk kembali mengajar. Aku pun berjalan menuju kelas melewati tiang-tiang tinggi yang sungguh memanjakan mata.


***


"Ada pengumuman untuk kalian semua." Suara Bu Ratna membuka topik jam ini. "Sesuai dengan undangan yang datang ke sekolah, hampir tiap minggu kita menerima surat dari berbagai pihak, dan setelah dijadwalkan sekolah kita akan disibukkan minimal dua kali dalam sebulan."


"Sibuk kenapa, Bu?" Salah seorang siswa mengangkat tangannya.


"Perlombaan."


"Waaah." Terdengar sambutan dari para siswa yang sumringah mendengar jawaban dari guru di depan. "Kereen."


"Untuk informasi tentang apa saja yang akan dilombakan, setiap kelas mendapatkan ini." Beberapa helai HVS di tangan Bu Ratna membuat para siswa tampak antusias. "Nanti ketua kelas yang akan menempel ini di mading kelas."


"Baik, Bu." Sahut ketua kelas merasa bertanggung jawab. Senyumnya tegas, aku sangat mengagumi sosoknya yang demikian.


"Baik. Kita lanjutkan pelajaran sebelumnya." Lanjut Bu Ratna sembari membuka lembaran buku di atas mejanya.


"Psstt, Bay. Nanti bantuin aku ya. Soalnya kemaren sempat ketinggalan karna disuruh ke ruang guru." Gama, teman yang duduk di depanku.


Seperti biasanya, setelah paparan dari guru selesai, di akhir jam pelajaran kami akan ditantang dengan latihan-latihan yang harus dituntaskan di jam itu juga. Tidak jarang kebanyakan siswa hanya dapat mengerjakan beberapa poin saja lalu mengumpulkannya dengan wajah tidak puas. Bahkan ada yang mengomeli tugasnya yang tidak sesuai keinginan.


Aku mengacungkan jempol kanan pada temanku itu yang berarti OK, ditambah seutas senyum yang cukup membuatnya lega lalu berbalik badan ke depan memperhatikan Bu Ratna yang sedang menjelaskan.


"Untuk yang ini ada yang masih belum paham?" Bu Rita menyapu tatapan para siswa di depannya.


"Bu! Saya." Seorang siswa mengacungkan tangannya lalu menyampaikan masalah ketidakpahamannya tentang materi yang baru saja dibahas guru di depan.


Aku tadi juga ingin bertanya hal yang sama seperti pertanyaannya. Akhirnya, ketidaktahuanku tadi terjawab sudah setelah Bu Ratna benar-benar menjabarkannya tepat sasaran. Aku tersenyum puas mendengar jawabannya.


Setelah itu, bahasan selanjutnya berlanjut hingga target yang ingin guru itu selesaikan tuntas sudah. Tidak ada pertanyaan yang datang saat guru itu menanyai ada pertanyaan? Tibalah saatnya sesi latihan yang hanya diberi waktu setengah jam.


Wajah-wajah yang dari tadi yang sudah menyiapkan mental untuk datangnya waktu ini, langsung saja menegang. Pikiran mereka mulai bekerja keras dan berharap akan dapat memecahkan soal-soal yang diberikan.


Lima menit, sepuluh menit, seperempat jam sudah berlalu, wajah-wajah antusias itu sudah berkerut kening menjawab soal-soal di atas lembaran bukunya. Ada yang tiba-tiba berhenti menulis, ada juga yang memain-mainkan pulpennya, yang intinya wajah mereka memperlihatkan bahwa mereka sedang berpikir keras mencari jalan penyelesaian.


"Eh, error, nih. Bantuin dong."


Para siswa sudah mulai mengundang riuh. Memang, tidak akan dimarahi, karena sesi latihan diizinkan untuk bekerja sama.


"Bentar dulu, aku lagi nulis, nih. Nanti ilang lagi."


"Cepat, ya. Bantuin aku.."


"Iya, bentar."


Aku masih tenang melihat soal-soal di lembar buku dan tentunya mendengar mereka-mereka yang terdengar panik, mengingat waktunya tinggal sebentar lagi. Sejauh ini belum ada kendala yang membuatku tersendat. Tanganku masih tenang menulis jawaban butir-butir soal itu.


"Bay, aku mau nanya." Bisik Gama di depanku. Kami sudah berhadapan sekarang.


"Nanya apa?"


"Yang soal ini, habis ini apaan?"


Aku menjelaskan jawaban pertanyaannya, sambil menggores-gores lembaran buram milikku untuk menampilkan beberapa poin yang perlu ku tuliskan. Kepalanya manggut-manggut saat mendengar dan melihat tulisanku.


"OK, makasih, Bay."


"Sama-sama."


Dia berbalik badan, meneruskan jawabannya yang sempat terputus.


"Bay!" Yoga yang duduk di seberang Gama melambai. Aku menoleh padanya. "Habis ini ke kantin, ya."


"Iya."


"Kamu udah siap?"

__ADS_1


"Dikit lagi."


"Owh, lanjut deh, sorry ganggu."


Yoga terlihat santai di tempat duduknya, ia meregangkan tangan dan alat tulis sudah lepas dari genggaman tangannya. Sepertinya sudah selesai.


Tidak berapa lama setelah itu aku pun selesai, tanpa ada soal yang terlewat. Syukurlah. Lalu, suara bel istirahat berbunyi yang membuat para siswa lain yang masih sibuk dengan pekerjaannya mendesah kecewa.


"Yaaah, satu soal lagi, ni." Keluh seorang siswi menatap lembaran bukunya.


Ketua kelas sigap berdiri lalu mengambil buku latihan teman-temannya. "Bukunya."


"Bentar, Ketua, dikit lagi, nih." Menampilkan wajah memelas, berharap dikasihani.


"Maaf." Laki-laki itu mengambil paksa buku latihan temannya, tanpa menghiraukan wajah memohon itu.


"Bukunya."


"Iya, iya! Nggak usah ketus juga!" Siswi itu menghempas bukunya di tumpukan buku lain di atas tangan Ketua, lalu pergi menyeret tangan temannya menuju keluar kelas dengan wajah kesal. Pemandangan seperti itu biasa terjadi kalau situasinya seperti sekarang. Sementara laki-laki yang menjabat sebagai ketua itu hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah temannya yang demikian.


"Buku, Bay." Sekarang giliranku yang ditagih.


Aku menaruh buku milikku di atas buku yang sudah menumpuk di tangannya, lalu ia berlalu ke meja yang lain.


"Bay! Yuk, cepat. Aku lapar, nih." Yoga sudah berdiri di samping mejaku.


"Tapi, aku nggak bisa lama, Ga."


"Iya.. nggak lama."


Siswa-siswi sekolah ini sudah berhamburan dari kelasnya, memuaskan napas yang sudah sesak karena belajar tadi. Di salah satu sisi yang ku pandang, mataku mendapati beberapa siswa terlihat berlari-lari, aku tidak tahu apakah itu juga wujud ungkapan rasa senang mereka karena jam istirahat sudah datang atau karena alasan lain, seperti kebelet. Ah, sudahlah lupakan.


"Hai."


Aku sampai tidak memperhatikan kalau Cinta kini sudah berdiri di depan kami, aku dan Yoga.


Aku tidak habis pikir kalau dari tadi aku hanya menikmati pemandangan di luar kelas ini tanpa memikirkan kalau Cinta akan menjadi bagian dari pemandangan itu juga.


"Dari kantin, makan."


"Cepet banget dari kantin, baru aja bel, Cin." Yoga kembali menyambung percakapan.


"Kelas aku cepat keluar beberapa menit sebelum bel bunyi tadi karna gurunya tiba-tiba ada urusan."


"Owh." Yoga mengalihkan pandangannya padaku. "Bay.." Ia melototi matanya. Sebentar kemudian matanya menunjuk arah Cinta sekilas yang bermaksud Itu Cinta. Buruan, mau bilang apa?


Ya aku paham.


"Cin, maaf ya, kemaren.. aku langsung pergi. Karna ada urusan mendesak di ekskul."


"Oh, nggak papa, kok."


"Ehem.. Sorry nih. Tapi, kita ke kantin dulu gimana?" Yoga di sampingku mengadu.


Aku lupa kalau niatku ke arah sini untuk menemani Yoga. Senyumku merekah sebagai ucapan maaf padanya, "Kalau gitu, kita mau ke kantin dulu." Ucapku kemudian pada Cinta.


"Oh, iya."


Seperti sebelumnya, pasti hanya bertemu singkat. Apakah waktu yang tidak mengizinkan atau memang aku hanya butuh yang sedikit itu. Apa jadinya kalau aku bertemu lama-lama dengannya, apa yang akan ku lakukan? Secara, aku bukan seorang yang pandai mencairkan suasana dengan lelucon atau semacamnya. Mungkin benar, aku hanya membutuhkan waktu yang singkat itu untuk.. mengenalnya.


***


Setelah melihat lembaran yang Bu Ratna bawa sebelumnya yang sudah tertempel di mading kelas.


"Kenapa, Ga?"


Yoga menghela napas, "Aku mau ikut."

__ADS_1


"Terus?"


"Ya, pasti udah banyak senior yang banyak pengalaman. Jago lagi."


"Buktiin dulu." Aku berusaha membuang mindernya. Dia menatapku heran, setelahnya ia tampak menyeringai sambil manggut-manggut.


"Thank's, ya."


Aku membuang muka tidak merasa berbuat apa-apa.


"Kamu nggak mau ikut?" Yoga balik bertanya.


"Ekskul-ku lumayan sibuk. Dua kali seminggu aku harus ikut pelatihan jurnalistik. Nanti aku pikirin lagi."


"Semangat, yoo."


Yoga menepuk bahuku sambil melempar sebuah senyum lebar yang terlihat hangat.


***


Pulang sekolah ini, niatku tak urung untuk kembali ke papan mading. Apalagi kalau bukan melihat kotak fans. Yoga sudah duluan, siswa-siswi lain juga tidak berhaluan ke papan mading, mungkin sudah merindukan rumah.


Aku membuka kotak fans milikku.


TAP


Ternyata di dalamnya sudah menumpuk potongan-potongan kertas yang tidak kusadari akan sebanyak itu. Aku lalu mengeluarkan kertas-kertas itu dari kotak dan menyusunnya terlebih dahulu sebelum menyelipkannya dalam buku-ku, lalu melanjutkan jalan hendak pulang.


Di gerbang sekolah tampak beberapa siswa yang masih berdiri di sana, mungkin menunggu jemputan. Aku? Aku pulang jalan kaki karena memang tidak terlalu jauh.


***


Acara tulis-menulis yang biasa kulakukan sebelum tidur kini ditambah dengan acara baca-baca. Tentunya, baca tulisan dari kotak fans tadi.


____________________


Hai, kenalin aku Hendri dari kelas XA.


Waktu liat karya kamu aku langsung kagum. Sebelumnya, aku juga penggemar karya sastra dan beberapa kali mencoba agar dibaca oleh orang banyak. Tapi, setelah aku baca punya kamu, ternyata karyamu jauh lebih baik dari yang aku buat. Jadi, aku putuskan untuk belajar dari karya buatanmu.


Salam


____________________


____________________


Kenalin aku Lintar


Aku suka karya kamu


Walaupun aku bukan orang


yang tahu banyak tentang


puisi atau bahasa


Semangat terus


Tapi kok nama kamu 'XOCOX'


Tunjukin dong diri kamu


Salam


____________________


Aku terkekeh setelah membaca lembar kedua ini. Selanjutnya, aku menulis beberapa rencana di buku yang berhubungan dengan acara 'balasan' untuk para pembaca karyaku.

__ADS_1


Malam ini aku memutuskan untuk membaca dua carik kertas itu dulu lalu menyimpan kembali kertas-kertas itu ke dalam laci meja belajar. Pikiranku sekarang bertumpu pada rencana 'balasan' seperti apa yang akan ku buat nanti. Jam tidurku malah jadi ngaret setengah jam dari biasanya karena memikirkan itu.


__ADS_2