Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Jangan Pergi


__ADS_3

Hari ini, hari pertamaku untuk masuk latihan basket dengan siswa-siswi lain yang sudah terpilih sebelumnya. Karena bisa dibilang aku anak baru dalam klub ini, aku disuruh memperkenalkan diri terlebih dahulu oleh Pak Damar pada rekan-rekan yang ada di sana. Satu pun aku tidak mengenal wajah mereka.


"Kalau begitu seperti biasa kita akan membuat tim yang akan saling bertanding." Kata Pak Damar dalam arahannya. Setelah itu, ia langsung membagi tim yang terdiri dari dua tim laki-laki dan dua tim perempuan.


"Masih kelas sepuluh, ya?" Seorang senior menyapaku dari samping. Tubuhnya lebih tinggi sedikit dariku.


"Iya, Kak."


Senior itu menyeringai, "Di klub basket ini sebelumnya cuma ada satu siswa kelas sepuluh. Itu, yang pakai baju biru di sana." Dia menunjuk seseorang yang berada di tim lawan, aku pun ikut melihatnya. "Sekarang jadi dua orang." Lanjutnya. "Tapi, jangan minder," Senior itu menatapku, "Itu tandanya kalian punya kesempatan besar." Dia lagi-lagi menyeringai. "Yuk." Senior itu mengajakku ke lapangan dengannya karena kami memang satu tim.


Bola dilambung.


Salah seorang teman timku menangkap bola itu cepat lalu melarikan bola dengan teknik-teknik yang menurutku sangat keren. Aku memperhatikan setiap gerak-gerik semua pemain yang bisa kutatap dari posisiku dan mengikuti cara mereka bermain.


TAP. Bola melayang ke arah keranjang milik kami.


HUP. Salah seorang dari timku berhasil menangkapnya sebelum masuk keranjang. Ia lalu menggiring bola, berusaha mengelak dari tepisan lawan.


Bonce pass berhasil ia lakukan padaku. Kini aku menjadi sasaran para lawan untuk merebut bola. Dengan langkah kaki dan gerakan tangan penuh taktik, aku berusaha mempertahankan bola dan mencari celah untuk melakukan operan pada teman timku. Kini posisiku sudah terdesak. Behind the back pass, bola itu melayang tepat ke tangan timku yang lain. Sementara aku makin menyusul ke keranjang lawan. Mataku terus menerawang peluang dan bola itu.


HUP. TAP


Sebuah overhead pass yang dilayangkan padaku berhasil ku tangkap, sementara tempatku yang sekarang sedikit renggang para lawan mengubah formasi mereka sehingga pertandingan makin sengit, aku berusaha mempertahankan bola tapi posisiku sekarang sudah terdesak lagi, aku harus melakukan passing lagi, tapi ternyata lemparan bolaku dapat terbaca dan akhirnya direbut oleh grup lawan.


Teman satu timku mengehela napas kasar memandangku. Ya, aku tahu itu memang kesalahan, tapi tentu saja setiap personil mencari peluang seberapapun kecilnya dan urusan dapat/tidak dapat adalah hal yang lazim.


Kami lalu kembali fokus ke bola di tangan lawan. Lama sekali cetakan poin tercapai dan semua sudah mulai terengah kelelahan. Ini sebenarnya sebuah peluang tapi tentunya karena stamina sudah terkuras tentu kekuatan jadi berkurang. Peluh segar sudah berjatuhan di lapangan. Semua masih seperti tadi, saling merebut bola.


Mungkin memang peluang untuk saat sekarang ini.


CRACK!!


Tembakan bola oleh tim lawan berhasil mencetak poin. Nada-nada kebahagiaan keluar dari suara-suara mereka. Kami hanya dapat memandang ketertinggalan poin itu dengan mengakui kelalaian sambil mengatur pernapasan yang sudah terengah-engah dari tadi.


Permainan dilanjutkan, keadaan mulai sengit lagi. Hingga waktu bermain selesai cetakan poin tidak berubah sama sekali, kedua tim sama-sama punya pertahanan yang kuat dan tak-tik yang hebat.


PRIIIT!! Suara peluit Pak Damar terdengar menggema pertanda bahwa permainan telah usai. Kami semua saling berjabat tangan lalu berjalan keluar dari lapangan.


Aku mengambil air minum dalam tas lalu meneguknya sampai puas.


Pak Damar sudah memanggil, kami bergerak ke arahnya. Tanganku masih memegang tumbler di tangan.


"Bapak puas melihat latihan hari ini dan berharap ke depannya lebih baik lagi." Kata Pak Damar sambil menggut-manggut dengan senyum hangat di wajahnya. "Sekarang kalian sudah boleh pulang, istirahatlah yang cukup." Akhir kata dari Pak Damar. Kami pun bubar.

__ADS_1


Aku kembali meneguk air minum, setelah itu segera meraih tas dan memasukkan tumbler itu kembali ke dalamnya.


"Hebat." Senior tadi menghampiriku dari belakang. Aku menoleh padanya. "Pantas Pak Damar bela-belain kamu masuk klub basket."


"Aku juga sedang belajar dari anak basket yang lain, Kak. Permainan tadi, keren."


Senior itu menyeringai, "Oh, iya, kita belum kenalan. Rio, kelas sebelas."


"Bayu." Tangan kami saling berjabat.


"Kalau gitu sampai jumpa di pertemuan berikutnya."


Aku balas mengangguk sambil tersenyum padanya. Senior itu pun berlalu. Aku pun berjalan hendak pulang.


***


"Ketua!" Genta lagi.


"Denger-denger Ketua ikutan di klub basket ya?"


"Dari mana kamu tau?"


"Oh, itu teman aku yang kasih tau. Dia di klub basket juga."


Aku jadi teringat kata Kak Rio bahwa sebelumnya hanya ada satu orang siswa kelas sepuluh di klub basket itu. Apa yang Genta maksud itu dia?


"Leo."


Kepalaku manggut-manggut. Aku belum tahu siapa nama siswa kelas sepuluh di klub basket itu.


"Beneran? Ketua ikut klub basket?" Kak Rian menghentikan pekerjaannya dengan lembaran-lemabaran kertasnya sambil melirikku penasaran.


Aku tersenyum, "Iya, Kak."


"Wah, keren. Kapan-kapan boleh dong liat latihannya."


Aku jadi tidak enak. "Boleh aja kak."


"Kapan latihannya?"


"Setelah pulang sekolah sama Sabtu-Minggu jam setengah tiga." Balasku.


Kak Rian mengangguk, "Semangat, ya. Jangan lupa istirahat, Ketua."

__ADS_1


"Iya, Kak. Makasih."


"Nyonya ikut liat juga, kan, Ketua?" Mulai lagi si Genta. "Biar tambah semangat, Ketua." Kali ini dia mencolek tanganku di atas buku besar itu.


Aku menghela napas, menahan kekesalan yang telah membuatku risih.


"Bay!" Suara Kak Rian membuyarkan pikiranku yang kesal saat ini. Aku menoleh padanya. "Ada yang cariin." Kak Rian menunjuk ke arah pintu.


Genta spontan menoleh ke arah yang ditunjuk. "Ehem, cepetan Ketua. Nyonya cantik udah datang."


Aku tidak menghiraukan Genta, aku segera berjalan ke arah pintu, dan kudapati Cinta di luar sana.


Aku menahan napas sejenak lalu bernapas kembali, telingaku sudah siap menerima kata-kata dari mereka yang sedang melihatku di sini sekarang. Aku langsung memakai sepatu.


Suara bisik-bisik mulai riuh dan telingaku pun tak dapat menyaringnya sama sekali, ingin pura-pura tidak tahu pun tidak bisa. Aku berusaha berlalu seperti tidak terjadi apa-apa.


"Yuk, cari tempat duduk dulu, Cin."


Cinta mengangguk mengikuti langkahku yang menuntunnya ke sebuah bangku taman.


Aku menghela napasku kasar, ingin melepas beban pikiran yang rasanya berkecamuk dari tadi.


"Kamu kenapa?" Cinta memulai perbincangan kali ini.


Aku menatapnya sebentar, "Aku nggak papa, cuma lagi banyak pikiran."


Cinta diam sejenak memperhatikanku yang menekur. "Kalau kamu udah gini, biasanya ngapain?"


"Tidur." Ucapku spontan. Aku tersadar dengan ucapanku yang terdengar nyeleneh itu, aku tidak bermaksud mengadu akan hal itu padanya. Cinta menatapku, memikirkan apa yang akan dijawabnya lagi. Ia mengangguk.


"Kalau gitu istirahatlah. Maaf aku ganggu." Suaranya berubah layu. Ia pun berdiri lalu beranjak hendak pergi.


"Tunggu, Cin." Tanganku bergerak meraih lengannya. Ah, pikiranku sedang kacau sekarang, segera ku lepaskan lengannya. "Maaf." Aku kembali menekur.


Dia berbalik kemudian berjongkok di hadapanku.


"Kamu kenapa? Sakit lagi?" Cinta mengangkat wajahku dan meraba keningku dengan tangannya. Aku hanya bisa terpaku memperhatikannya yang selalu tidak segan seperti ini. Raut wajah itu, tangan itu, dan segala bentuk perhatian lainnya membuatku selalu terenyuh. Bagaimana kamu bisa melakukan itu dengan mudahnya?


Beku perasaanku mulai mencair


Teriakanku mulai nyaring


Kerasnya hatiku mulai retak

__ADS_1


Oleh karena sebilah tangan


Apa jadinya bila dua tangan berkiprah


__ADS_2