Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Lelah 2


__ADS_3

Aku yakin pelangi pasti datang setelah datangnya hujan yang mengguyur lebat. Badai pasti reda setelah mengobrak-abrik hamparan terbentang. Cinta pun akan berpulang ke dalam dekapan setelah perjuangan panjang.


________________________________________


Sudah berjalan beberapa minggu setelah kuputusksn untuk ikut dengan teman-teman kelas bermain futsal sekali seminggu yang kemudian membawaku ikut bergabung dalam kegiatan demi kegiatan lain yang kian menyibukkan hari-hari. Ini ku lakukan agar hubungan baikku dengan orang-orang di sekitar tak lagi sekedar kata teman karena sekelas.


Beberapa kegiatan lain yang juga ku ikuti agar bisa merasakan nuansa pertemanan juga tak kunjung absen setiap waktunya. Satu hal yang masih belum kunjung selesai hingga sekarang...


"Ga."


Tidak ada jawaban, Yoga selalu menyibukkan dirinya sendiri atau bahkan menghindar dariku setelah menyapanya dan selama itu pula aku tidak pernah lagi bicara dengan Cinta. Dia selalu menjauh saat melihatku. Sebegitu besarnya kah salahku pada mereka?


Di jam istirahat aku tak sengaja bertemu dengan Cinta di kantin. Dia pun sepertinya baru menyadari kalau aku akan datang untuk sarapan di tempat itu.


"Aku duluan, ya."


"Eh, kenapa, Cin."


"Nggak papa."


Setelahnya, ia berlalu di sampingku yang masih di depan pintu kantin. Aku tak dapat menahannya walau hanya bicara sebentar. Sudah berulang kali ku rencanakan ingin bicara tapi tak pernah berhasil.


Aku tidak pernah menyangka kalau kedekatanku dengan mereka sebelumnya akan berakhir seperti ini. Mungkin memang aku yang terlalu lengah.


Niatku tak urung setiap hari untuk mendekati mereka, saat masuk kelas, jam istirahat, saat belajar, maupun di waktu pulang, tapi masih saja gagal. Sementara hubunganku dengan anggota kelas yang lainnya sudah jauh lebih akrab dari sebelumnya, dan kegiatan wajibku untuk ke mading dan latihan basket tetap ku jalankan sebagaimana biasa.


Aku menemui jalan buntu memikirkan itu semua. Dan lagi, rasanya mulai lelah. Lelah memikirkan jalan apa lagi yang harus ku lakukan untuk meluruskan keadaan. Sementara kesibukan harian selalu menungguku setiap selesai satu pekerjaan hingga istirahat malam. Aku masih ingin berjuang. Walau esok, lusa, atau berminggu kemudian masih harus mencoba lagi. Aku sungguh-sungguh. Ku harap aku mampu bertahan.


*****


"Ga, aku mau ngomong bentar."


Hening seketika, Yoga menatapku sebentar lalu menghela napas sembari memalingkan pandangannya ke arah lain dengan tatapan kosong.


"Udahlah, Bay. Urus aja diri kamu sendiri. Toh, kamu juga banyak teman, kan."


Aku hanya dapat meneguk air ludah mendengar itu. Keberanianku seketika surut untuk meneruskan niat. Tapi aku tidak ingin berlarut-larut dengan ini semua.


"Aku cuma mau minta maaf..."


"Nggak perlu minta maaf, Bay. Nggak ada pentingnya buat kamu. Balik aja ke mading sana daripada telat."

__ADS_1


Sejak tadi suara itu selalu ku dengar tidak nyaman. Mungkin memang aku sudah melakukan kesalahan besar.


Dina datang dari arah perkumpulannya dengan siswi lain di dekat pintu kelas. "Kalian ngapain?"


Yoga beranjak malas dari tempat duduknya, keluar dengan langkah gontai, tidak nyaman dengan keadaannya sekarang. Sementara aku hanya dapat memandangi kepergiannya.


"Yoga kenapa, Bay?"


"Nggak papa, Din. Dia lagi nggak enak aja."


"Nggak enak gimana?"


Aku tidak ingin menjawabnya dan sudah waktunya untuk kembali ke ruang mading.


"Din, aku ke mading dulu, ya."


"Oh, OK."


Langkah kakiku berjalan lebih pelan dari biasanya, yang bisa ku lakukan sekarang hanyalah memikirkan cara lain yang akan ku lakukan di waktu lain setelah ini.


Aku tak sengaja melihat Cinta baru keluar dari kantin. Begitu dia melihatku dari kejauhan sana, langkahnya terhenti tiba-tiba lalu menyeret tangan kawannya untuk masuk lagi ke kantin.


*****


Yoga sudah berulang kali ingin lupa tentang kejadian itu, kejadian ketika pertanyaan 'ada yang penting?' itu muncul. Memangnya apa yang ia lakukan selama ini tidak penting, keluhnya. Sejak awal ia berniat agar kedekatannya dengan dua teman yang lain itu akan terus hangat di setiap pertemuan. Tapi, setelah 'pertanyaan itu' tiba, ternyata apa yang ia lakukan selama ini seolah hanya angin lalu semata. Di ponsel miliknya, tangannya mulai mencari nama Bayu dan memblokirnya kemudian.


Sementara itu di Rumah Cinta


"Cin, makan dulu, yuk."


"Aku nggak lapar, Ma. Nanti kalau lapar aku makan sendiri."


Wanita yang berdiri di depan pintu itu mendatangi anaknya yang duduk di meja belajar. Ia pandangi wajah anaknya lekat-lekat. Ada kesedihan tersirat di sana.


"Kamu, kenapa, Sayang?"


Suara lembut itu menggoyahkan perasaan Cinta yang sejak tadi masih dapat bertahan. Pelukanlah yang menjadi sandarannya saat ini. Meluapkan rasa yang begitu berat yang ia tanggung seorang diri. Mungkin akan luluh segelintir dari curahan air mata yang kini sudah mengguyur wajahnya dalam pelukan itu.


Sementara wanita yang tak tahu-menahu itu hanya dapat menerka sebatas 'mungkin dia punya masalah di sekolah', hanya itu.


Sampai jam istirahat malam tiba, ia hanya dalam mode berbaring, berusaha tertidur dalam pikiran yang terus berseliweran, tentu hasilnya nihil belaka. Sudah lama ia berkutik dengan hal seperti ini, sejak hubungan itu retak tiba-tiba.

__ADS_1


Jauh di lubuk hati terdalam dia tidak pernah melupakan atau mencampakkan nama yang pernah tersimpan dalam itu. Hari-hari tanpanya membuatnya rindu berkepanjangan, bibirnya selalu gentar saat ingin terus menjauhinya, bahkan hatinya tak pernah rela untuk menjauh. Aku sudah sangat rindu, hatinya bicara. Lagi-lagi tetesan air dari pelupuk mata itu mengalir begitu saja.


*****


"Bay, seminggu lagi, nih. Tim kita bakalan bertanding." Suara Kak Rio dari samping kiriku yang kini tengah duduk menunggu anggota lain datang.


"Iya, Kak."


Setelah sekian lama ku teruskan kegiatan harianku yang full setiap harinya, dii rumah aku hanya punya waktu efektif satu atau dua jam untuk berkutik di dalam kamar atau sesekali keluar untuk sekedar makan atau mengambil minum, lalu tidur setelah seharian sibuk dengan jadwal, dan bangun pagi menjadi lebih lambat dari biasanya. Jadilah sekarang, aku lumayan sering ke kantin untuk sarapan di jam istirahat.


"Bay. Akhir-akhir ini kamu keliatan mudah capek. Latihan tiga hari belakangan kamu sering nggak tanggap liat bola. Kenapa?"


"Nggak tau, Kak. Aku juga ngerasa gitu."


"Istirahat yang cukup, Bay. Kita mau tanding bentar lagi."


Aku hanya membalas mengangguk kali ini. Memang benar, kondisiku lagi-lagi tidak fit beberapa hari ini. Mungkin aku perlu membeli penambah stamina setelah pulang nanti.


Latihan basket berjalan. Pak Damar terus memperhatikan setiap siswanya dalam lapangan. Ada guratan khawatir di wajahnya melihat latihan beberapa hari ini, sementara pertandingan akan diadakan minggu depan.


PRIIIT!


Suara peluit dari Pak Damar menghentikan semua pemain di lapangan.


"Berkumpul semua!"


Langkah-langkah berjalan mendekat ke arah guru itu. Napas yang tersengal terdengar jelas saat permainan benar-benar dihentikan.


"Untuk kalian semua." Sebenarnya ia hanya bermasalah pada seorang anggota saja, tapi tidak ada keinginan untuk mengecilkan hati yang seorang itu bila disebutkan namanya. "Pertandingan akan diadakan seminggu ke depan, kita tak punya waktu banyak untuk berlatih lagi. Setiap kalian harus bertanggung jawab dengan posisi masing-masing. Mengerti?"


"Mengerti, Pak." Suara serempak itu terdengar begitu kompak. Setelah itu, Pak Damar tidak lagi memberi aba-aba untuk kembali latihan melainkan menyuruh seluruh pemain untuk pulang.


"Bay. Kalau kurang sehat boleh istirahat dulu."


"Iya, Bay. Kami pun tau kalau kamu bukan pemain yang bisa diremehkan. Tapi, kalau udah gini, tim kita bakalan berantakan."


"Mendingan istirahat aja dulu. Aku yakin Pak Damar juga nggak mau gantiin posisi kamu ke orang lain."


Silih berganti kalimat seperti itu di telingaku dari para anggota basket. Mereka sudah tahu kalau akulah penyebab latihan kali ini batal di tengah jalan. Aku hanya bisa meng-iyakan semuanya karena memang kali ini sudah berlebihan membuat kesalahan.


Aku benar-benar membeli penambah stamina pulang latihan. Ku harap bisa meredakan kelelahan ku yang berlebihan akhir-akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2