
"Kak Rian, proposal yang kemaren udah diantar?"
"Udah, Ketua. Kata mereka yang nerima, dananya bakalan cair seminggu dari sekarang."
Di ruang mading ini ada beberapa rekan yang tidak masuk karena sakit. Suasananya jadi hening, banyak yang hanya berkutik dengan pekerjaan mereka masing-masing dan hanya bicara seperlunya saja.
"Ketua, nanti kita-kita nonton, ya. Aku udah ajak anak-anak yang lain buat nonton nanti sore."
"Iya, Kak. Silahkan."
***
Bola dilambung.
Rebutan bola berlangsung sengit. Elakan dan operan terlihat gesit dari para pemain basket di lapangan. Guru olahraga yang biasa memakai topi bermerek Adidas itu berkacak pinggang memperhatikan setiap gerak-gerik anak didiknya. Tanpa banyak bicara arahan, pria paruh baya itu hanya sesekali memperingati para pemain di lapangan untuk terus fokus dan atur formasi dengan baik.
Sepuluh menit berjalan tanpa ada kenaikan poin dari salah satu tim. Langkah-langkah penuh hentakan itu terus memperhatikan peluang yang bisa mereka ambil untuk meraih poin.
"Wah, sengit banget. Sampai sekarang skornya masih 0-0." Salah seorang penonton bicara pada teman di sampingnya. Matanya terus fokus ke arah pemain di lapangan yang terlihat gesit dan keren saat memainkan permainan. Temannya di samping tidak begitu menghiraukannya, sebagai balasannya ia hanya bergumam pendek tanpa menoleh.
"Wah, Ketua hebat juga, ya, Kak."
"Iya, aku juga baru tau." Kak Rian berada di antara penonton di sana bersama rekan-rekan mading lainnya. Matanya terus tertuju pada pemain basket di depan sana.
CRACK.
"Wooooo." Teriakan dari penonton karena satu poin telah tercetak. Teriakan histeris dan lambaian tangan heboh di barisan penonton.
"Bagus." Salah seorang pemain dari timku mengacungkan jempolnya, sementara yang lain menepuk-nepuk bahuku sambil memberikan senyum kagum.
"Ketuaaaa!" Seorang rekan mading berdiri sambil berteriak histeris ke arahku.
Aku menoleh ke arahnya melemparkan sebuah senyuman.
"Ketuaaaa! Aku fans kamuuuu!"
Permainan berlanjut. Latihan ini makin sengit. Teriakan Pak Damar pada para pemain lagi-lagi memberi peringatan agar tidak lengah dan memanfaatkan setiap peluang yang ada.
Keringat sudah mengguyur seluruh badan, deru napas memburu menyeimbangi hentakan kaki. Perhatian para pemain fokus pada bola yang tiap sebentar pindah tangan. Keranjang masing-masing dijaga ketat dengan aturan formasi.
Kakiku terus bergerak mengikuti alur permainan yang tambah menegangkan. Semangat bermain yang sama sekali tak kunjung surut itu membuat celah peluang sangat minim untuk bisa meraih poin.
Aku akan menerima operan dari pemain satu timku sekarang, tapi tiba-tiba kecelakaan datang menimpaku.
"Aaakkh."
Penonton sontak terkejut. Mata mereka melotot pada pemandangan di lapangan basket itu.
"Bayu!"
"Tolongin dulu!" Teriak salah seorang pemain lain. Mereka mengerumuniku yang terjatuh tiba-tiba. Pak Damar masuk ke lapangan memeriksa keadaanku yang masih terduduk di lapangan itu. Tanganku mengusap-usap pergelangan kakiku yang terasa ngilu.
"Kamu bisa berdiri, Nak?"
Aku mencoba berdiri, pergelangan kakiku terasa nyeri yang membuatku terduduk lagi. Ringisanku terdengar, napasku tercekat menahan rasa sakit di pergelangan kakiku sekarang.
Pak Damar sigap melakukan pertolongan padaku. Pemain lain masih berkerumun memperhatikanku dan apa yang dilakukan Pak Damar.
"Sudah, kita sudahi latihan hari ini. Bawa Bayu ke tempat duduk sana." Pak Damar memberi perintah pada pemain lain.
Aku pun dipapah ke tempat duduk di luar lapangan oleh dua orang rekan di klub ini.
"Keseleo." Kata Pak Damar yang sudah di hadapanku sekarang, memperhatikan kakiku yang cedera. Ia lagi-lagi memberi pertolongan untuk yang kedua kalinya sebentar.
__ADS_1
"Setelah ini istirahatlah."
"Iya, Pak." Kepalaku menekus menatap kakiku yang terkulai nyeri itu.
"Kumpul dulu sebentar." Pak Damar memanggil para pemain lain yang sedang meneguk minuman mereka. Mereka yang merasa terpanggil lalu berlari mendekat.
"Hari ini kita sudahi latihan walaupun sepuluh menit lebih cepat dari biasanya. Bapak harap kejadian kali ini bisa jadi pelajaran, ke depannya kalian harus hati-hati lagi. Semangat harus, tapi kalian jangan lupa untuk memperhatikan keselamatan dalam bermain."
Kami yang mendengar mengangguk paham.
"Ya sudah, sekarang kalian sudah boleh pulang. Hati-hati di jalan. Bayu, kamu mau saya antar?"
"Pak, biar saya yang antar Bayu pulang." Kak Rio mengajukan diri di antara rekan-rekan yang lain.
Pak Damar mengangguk, "Ya sudah, mari."
"Mari, Pak."
Pak Damar meninggalkan lapangan. Pemain lainnya bergerak mendekatiku.
"Kamu Bayu, kan?"
"Ah, Iya, Kak."
"Jangan panggil kakak, kita seangkatan, kok. Kenalin, aku Leo."
Ternyata dia yang namanya Leo, seperti yang pernah dikatakan Genta sebelumnya. Kami saling berjabat tangan dalam perkenalan itu. Setelah beberapa hari latihan, baru kali ini kami berkenalan. Dia tersenyum padaku, aku membalas dengan hal yang sama. Pemain yang lain berpamitan duluan pulang.
"Aku duluan, ya." Leo melambaikan tangannya.
"Iya."
"Ini tas kamu, Bay." Kak Rio meletakkan tas ku di sampingku.
Aku meraih tumbler air minum di dalamnya karena sudah haus dari tadi.
"Yuk."
Aku mengangguk pada ajakan Kak Rio yang mengajakku pulang. Tumbler tadi ku taruh kembali ke dalam tas. Kak Rio memapahku berjalan.
"Ketua. Ketua nggak papa?" Rekan-rekan sesama mading menghampiriku yang berjalan.
"Cuma keseleo dikit."
"Habis ini harus diurut cepat, Ketua."
"Iya."
"Kalau gitu pulang bareng aku aja. Aku yang antar."
Aku menoleh pada Kak Rio di sampingku. Dia tersenyum, "Biar aku yang antar, rumahku dekat sini. Nanti aku antar pakai mobil."
"Oh, gitu. Makasih. Kalau gitu hati-hati."
Aku mengangguk pada mereka lalu melanjutkan jalan ke luar gerbang.
"Tunggu sebentar disini. Aku ambil mobil dulu."
"Oh, iya, Kak."
Kak Rio berlari ke depan sana. Tak jauh dari gerbang sekolah dia membuka pagar sebuah rumah, mungkin itu rumahnya. Hanya berselang beberapa saat sebuah mobil sport hitam keluar dari sana. Aku memperhatikan mobil itu hingga mendekatiku yang berdiri bersandar pada gerbang sekolah.
Kak Rio turun dari mobil, berlari kecil menghampiriku. "Yuk."
__ADS_1
Aku mengangguk, ia lalu memapahku lagi ke dalam mobil di kursi depan, dan aku diantar pulang setelahnya.
***
Aku jadi risih berjalan timpang seperti ini di sekolah, kakiku masih nyeri berjalan. Beberapa siswa memperhatikanku saat berpas-pasan dengan mereka. Mau tidak mau aku harus menerima setiap pasang mata itu melihatku berjalan seperti ini sepanjang berjalan ke kelas.
"Bayu!" Yoga tergopoh-gopoh mengejarku dari arah gerbang sekolah. "Bareng." Dia mengalungkan lengannya di leherku.
"Yuk."
Kami mulai berjalan.
"Eh, kamu kok gitu jalannya?"
"Kemaren keseleo dikit waktu latihan basket, Ga."
"Mmh kamu, Bay. Kalau sampai Cinta tau, habis kamu ditangisin lagi."
"Kalau gitu jangan kasih tau."
"Yaudah. Cepat lambat dia pasti tau juga." Yoga memapahku ke kelas.
***
"Ketua!" Hari ini Genta sudah bersekolah lagi setelah sebelumnya sakit.
Aku baru saja duduk di kursiku di ruang mading ini, datang lebih awal dari biasanya.
"Ketua cedera di basket, ya?"
"Mm."
"Kok bisa, Ketua?"
Mau tidak mau aku harus menjelaskan padanya perihal kejadian kemaren.
"Oh, Ketua. Hadir juga hari ini? Apa udah sehat kakinya?" Kak Rian baru masuk ke ruang mading.
"Iya, kak. Nggak terlalu parah, kok."
"Syukurlah. Brarti nanti nggak latihan, ya?"
"Iya, Kak. Aku tunggu pulih dulu."
Aku kembali menatap kertas-kertas di atas meja. Dari pada tidak ada kerjaan sama sekali, tanganku meraih lembar karya di sana, membaca tulisan-tulisan milik rekan lain yang berharap menarik perhatianku.
"Bay!" Kak Rian yang duduk di dekat pintu menyeru padaku. Ia kemudian memberi isyarat bahwa di luar sana ada seseorang yang ingin menemuiku.
Genta masih berkutik dengan kertas karyanya, mungkin karena terlalu fokus sampai-sampai kali ini ia tidak menyadari Kak Rian yang memberi kode kalau Cinta ada di luar, yang biasanya dirinya akan sangat bersemangat meledekku habis-habisan.
Ku lihat Cinta di luar sana sedang menunggu. Bagaimana aku harus keluar dengan keadaan begini? Beberapa saat aku masih duduk di tempat dudukku dalam ruang ini, sementara Cinta masih berdiri di luar sana. Kak Rian sudah mengode agar cepat keluar sekarang.
Genta tiba-tiba menoleh ke arah luar. "Nyonya." Dia lalu menoleh padaku. "Ketua! Nyonya tu!" Sudah kuduga, dia bakalan ribut di ruang ini, ia menyeringai melihatku yang terlihat gugup.
Aku tidak bisa diam juga di sini melihat Cinta masih menunggu di luar sana. Akhirnya, ku putuskan untuk berjalan ke pintu itu dengan langkah timpang ini sambil menahan nyeri di pergelangan kakiku yang kembali kambuh saat berjalan, dan dia di sana memperhatikanku yang jalan begitu.
Aku menatapnya merasa tidak enak sambil berpegangan pada bingkai pintu, lalu berjongkok pelan-pelan hendak memakai sepatu.
"Aakkkh!"
"Bay." Kak Rian datang menghampiriku cepat. Cinta pun mendadak meraihku.
"Bayu." Cinta sudah memegang lenganku yang sudah gemetaran karena menahan ngilu di kakiku. Aku melihatnya dengan wajah cemas itu lagi. Harus berapa kali aku harus melihatnya seperti itu di hadapanku. Semua yang ku alami selalu mendapat perhatiannya.
__ADS_1
Ku mohon maafkan aku yang membuatmu selalu khawatir, aku merasakan perasaanmu itu padaku. Maaf sekali lagi dan terima kasih.