Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Fade


__ADS_3

"Cin, pinjam pena bentar, ya."


"Eh, iya."


Cinta masih berkutik dengan soal matematika di buku cetak miliknya. Menyelesaikannya dengan baik dengan beberapa coretan di lembar buram. Pikirannya yang bercabang menemui pencerahan, kini ia bisa fokus dan tenang, tidak menghiraukan masalah yang ada setelah jam pelajaran ini selesai.


"Sampai di sini pertemuan kita. Selamat pagi." Guru di depan keluar setelah jam mengajarnya habis.


Apalah lagi yang ada di pikiran siswi kelas sepuluh itu kalau bukan tentang sisi perasaannya. Memang menjadi hal lumrah untuk terkena perasaan di usia dini pengalaman sepertinya. Mudah goyah dan terluka.


Menyukai seseorang yang rasanya tidak berbalas adalah sebuah kekecewaan mendalam. Di depan, ia harus terlihat baik-baik saja. Sementara di belakang, rasanya sudah pupus semua asa, ingin lari dari kenyataan yang ternyata begitu pahit.


Satu hal yang ia jadikan wacana, ialah berusaha melepas dan melupakan. Ya, itu adalah target yang memerlukan proses, bicara berhasil atau tidak itu urusan nanti.


"Cin, ke kantin, yuk."


"Duluan aja. Aku belum lapar, nih."


Senyuman hangat terpampang begitu saja seolah tiada beban yang sedang mengusik. Demikianlah perasaan.


Tapi, Betapa hebatnya akal. Saat hati sakit maka akal akan mencari cara untuk menutupi sakitnya dan mencari penawar untuk kesembuhannya. Romantis bukan?


Sementara itu di ruang mading


Besok komunitas mading akan mengadakan pameran di sekolah. Karya-karya dari komunitas ini akan diperlihatkan pada khalayak banyak, baik warga sekolah maupun dari luar. Pamflet-pamflet sudah disebar luaskan, spanduk juga sudah didirikan.


"Kak, perlengkapan masih ada yang kurang?" Aku bertanya pada Kak Rian yang sedang menulis daftar perlengkapan yang sudah ada di ruang mading.


"Ada, Ketua. Lampu tiga lagi sama tali. Tapi, itu udah di hendle sama yang lain tadi. Lagi dibeli."


"Cuma itu?"


"Iya."


Hari ini, semua yang diperlukan untuk besok harus sudah fix.


Sedikit banyaknya aku belajar bagaimana menyelenggarakan acara, memang bukan kali pertama aku mengurus hal seperti ini, semasa SMP dulu juga pernah, tapi lebih sederhana, dan sekarang aku adalah orang yang punya peran besar, semua yang ada disini harus ku pahami bagaimana kerjanya.


Sibuk. Itulah yang terjadi sekarang. Sementara nanti sore aku juga tidak akan absen untuk latihan basket. Bisa dibayangkan bagaimana keadaannya.


Di ruang kelas

__ADS_1


"Eh, Ga. Bayu mau nggak, ya, ikutan main futsal bareng?"


"Tau."


"Eh, kok gitu jawabnya, Ga? Kalian berantem?"


Yoga malah pura-pura ngantuk berniat mengusir temannya yang kali ini terdengar nyinyir. Padahal baru dua kali bertanya. Yang bertanya pun akhirnya pergi setelah melihat Yoga yang tidak lagi mengacuhkannya, tentunya dengan rasa sebal.


***


Hari acara pun datang. Aku senang sejauh ini tidak ada kendala sama sekali. Posko didirikan di lapangan sekolah, ada lima belas posko, dan semua terisi penuh dengan karya-karya yang siap diperagakan dengan tiap-tiap temanya.


"Kak, ini puisi, ya?"


Ramai sekali pengunjung yang datang baik dari dalam maupun luar sekolah, selain ingin datang ke pameran mereka juga tertarik untuk melihat sekolah elegan ini. Tapi, aku tidak melihat Yoga atau Cinta ke posko pameran. Apa karena terlalu ramai sampai-sampai aku tidak melihat mereka.


"Iya, Dik. Adik suka?"


Termasuk anak sekolah dasar seperti yang sekarang ada di hadapanku di posko puisi.


"Suka. Di sekolah aku juga pernah baca puisi."


Sebelum jam lima, panitia memberi pemberitahuan bahwa acara akan berakhir di jam itu. Pengunjung masih ramai, terlihat betah untuk berlama-lama di sekolah ini. Beberapa sudah terlihat meninggalkan sekolah sementara yang lain masih ingin bertahan.


Aku tidak lagi berurusan di posko sekarang, karena jam pulang sekolah sudah tiba. Sebelumnya sudah ku sampaikan bahwa setelah pulang sekolah aku ingin izin dari urusan pameran karena harus latihan basket, dan akan menyerahkan tanggung jawab pada wakil.


Aku segera ke kelas mengambil tasku yang masih di dalamnya. Seharian ini, aku juga tidak ikut belajar seperti biasa. Izin karena ada acara pameran.


Di depan pintu kelas, teman-temanku sedang berjalan keluar, dan aku berpas-pasan dengan Yoga.


"Eh, Ga. Besok aku udah senggang. Rencana kemaren jadi?"


"Nggak usah, udah kelar." Yoga berlalu begitu saja dari hadapanku. Apa dia marah padaku?


Segera ku ambil tas di dalam kelas dan mengganti baju kemudian.


Di lapangan, satu per satu anggota basket sudah berada di sana. Aku pun berlari ke lapangan setelah selesai mengganti pakaian dan ku lihat Pak Damar sedang berjalan menuju ke sana.


"Hai, Bay." Kak Rio, dia duduk di tempat duduk panjang di dekat lapangan.


"Hai, Kak."

__ADS_1


"Keren acaranya. Lebih keren dari tahun kemaren."


"Makasih, Kak. Kami udah usahain yang terbaik."


Kakak kelas itu tersenyum.


"Aku kagum sama kamu, Bay. Masih kelas sepuluh begini udah dapat posisi penting, kesempatan bagus, apalagi selain itu?"


Sebelum ku jawab, terlebih dulu aku tersenyum padanya, "Aku nggak tau gimana orang liat aku, Kak. Semuanya datang gitu aja, aku menerimanya."


Sekarang kakak kelas itu terkekeh sembari manggut-manggut.


Pak Damar sudah tiba di lapangan. Kami pun bersiap-siap, setelahnya memulai latihan. Tidak ada gambaran yang berubah signifikan. Latihan rasanya sama seperti hari-hari sebelumnya, sengit.


Kali ini, pengunjung pameran juga ikut nimbrung di barisan penonton basket, tertarik ingin melihat permainan yang satu ini. Wajah-wajah yang belum pernah nonton latihan basket di SMA Cendikia tampak antusias dan tidak beranjak hingga latihan usai.


Latihan berakhir dengan skor seri. Pak Damar terlebih dahulu memberi sedikit arahan, setelahnya baru pulang.


Di lapangan, panitia pameran sedang beres-beres karena acara hari ini sudah selesai. Aku ikut membantu di sana dengan masih memakai pakaian basket.


"Keren banget."


"Kakak itu siapa, ya? Keren."


"Kenalan, yuk. Tapi, malu."


Terdengar desas-desus di sekitarku sekarang. Aku jadi tidak enak. Apa aku harus ganti pakaian dulu, ya?


"Kak, aku ganti baju dulu, ya."


"Oh, iya, boleh."


Aku segera mengganti pakaian ke toilet sekolah. Setelahnya, melanjutkan kembali acara beres-beres tadi. Pengunjung sudah banyak yang pulang tinggal beberapa yang masih berlalu-lalang. Akhirnya semua kesibukan selesai. Acara berjalan sukses. Raut bahagia terpampang menandakan perasaan puas setelah berlelah-lelah seharian ini.


***


Setiba di rumah, aku langsung rebahan di tempat tidur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Tak perlu waktu lama, aku pun sudah berlayar. Hari ini melelahkan. Biarkan aku melepas rasa lelah ini. Bermimpi pun tidak akan menguras otakku, bahkan aku ingin berkelana di alam itu sekarang.


"Loh, Bayu. Sudah tidur." Wanita di depan pintu kamar itu menggeleng-geleng melihat anaknya yang sudah terbaring bagitu saja. Ia lalu menutup kembali pintu.


Apalah lagi daya sehelai benang, tak akan mampu melawan angin yang lewat. Dia butuh penyangga untuk bertahan.

__ADS_1


__ADS_2