
Bila hari ini adalah hari terakhirku melihatnya, sekarang juga akan ku temui untuk segera berjabat tangan menyampaikan salam perpisahan. Bila...
______________________________________
Esoknya, aku kembali bangun kesiangan. Buru-buru bersiap untuk kembali ke sekolah. Sebenarnya bukannya karena orang tuaku tidak mau membangunkan, tapi sejak kelas tiga sekolah dasar memang aku tidak ingin dibangunkan lagi, karena sudah bisa mandiri. Alhasil, aku tidak pernah lagi dibangunkan oleh mereka. Hari ini, aku harus sarapan di kantin lagi, dan sama sekali lupa untuk meminum obat yang ku beli kemaren.
Sejak pertama kali membuka pintu rumah rasanya sudah tidak enak badan. Tapi, pelajaran hari ini adalah kesukaanku, rasanya tidak ingin absen sekali pun, langkahku mantap karena memikirkanya, ku anggap itu sebagai pembangkit semangat.
Kenyataan tidak selalu sesuai kemauan. Mau bagaimana?
Jam pelajaran pertama dimulai. Tatapanku nanar ke depan. Bisa jadi ini karena efek lelah kemaren dan pagi ini belum sarapan. Selama jam pelajaran kepalaku terus menekur, mataku berat dan kepalaku juga mulai bergejolak.
"Bu, saya izin sebentar."
Bu Ita, guru Bahasa Indonesia, mengangguk sekilas memberi izin, lalu melanjutkan materinya kembali.
Aku sudah berada di toilet. Mencuci muka dan memperhatikan wajahku di depan cermin. Mataku sudah berkantung walau tidak terlihat begitu parah. Kepalaku masih berdenyut, terlebih saat berjalan. Aku tidak berani untuk ke kantin di jam belajar seperti ini karena itu sebuah kesalahan, aku harus menunggu jam istirahat tiba. Saat kembali ke kelas, sudah saatnya sesi latihan.
"Bay. Bantuin aku."
"Apa?" Aku harus menahan kepalaku yang terus berdenyut saat ini.
"Yang ini."
Selama waktu jam pelajaran itu aku masih bisa bertahan. Akhirnya pelajaran selesai dengan sesi latihan yang cukup termakan olehku.
Di jam istirahat, aku tidak lagi menghiraukan teman-teman di sekitar, langsung keluar kelas pergi ke kantin dengan kepala yang makin berdenyut-denyut. Aku harus sarapan.
Setibanya di kantin, tanpa tahu siapa yang di sana, segera ku pesankan makanan lalu duduk di salah satu kursi. Bagaimana caranya agar makananku cepat habis kalau kepalaku terus membuyarkan selera makanku saat ini.
Sekali suap saja, perutku tidak lagi mau menerima. Sakit kepala membuatku tidak selera apa-apa, jadilah makanan itu terbengkalai ku tinggalkan di meja lalu pergi ke ruang mading secepatnya.
Hati itu terhubung, mata itu selalu melihatnya, benak selalu membayangkannya. Bagaimanakah rasanya melihat pujaan dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mata tak pernah sudi melihatnya terjatuh. Tangan tak pernah sudi melihatnya rebah. Dan hati akan terus bergejolak untuk mendekap.
Cinta sudah lebih dulu datang ke dalam kantin dengan teman-temannya. Lama ia memperhatikan seseorang yang duduk sendirian di salah satu meja di sana. Ia perhatikan baik-baik apa yang dilakukan seseorang di sana yang begitu pelan menyuap makanannya, hingga makanan itu ditinggal bersisa tak seperti biasanya. Hanya sesuap yang ia lihat makanan itu berhasil disantap setelahnya tergeletak begitu saja di atas meja, dan wajah pemilik makanan itu terlihat menahan sesuatu sambil mengusap pelipisnya saat meninggalkan kantin.
__ADS_1
Hatinya bicara, tak pernah lepas dari kata 'dia'. Mengkhawatirkan sosok'nya' yang tak bisa menjauh, walau sudah lelah untuk melupa. Ikatan itu tak akan putus, bahkan bertambah kuat.
Meringis hati sang gadis, karena matanya melihat sosok kerinduan. Hatinya merasakan apa yang dirasakan sosok kerinduan. Batinnya berteriak memanggil sosok kerinduan. Sudah meluap segala rasa. Ingin memanggil namanya, tapi lidah kelu. Air mata lah yang mengungkap itu semua. Sabarlah, Sayang. Dekapan tak akan pernah lepas dari pemiliknya.
Di ruang Mading
"Ketua. Ketua kurang istirahat, ya?" Genta mendatangi mejaku, menekuk kakinya dan menyandarkan lengannya di atas meja.
"Nggak, Gen."
"Ketua selalu gitu. Bilangnya nggak padahal iya."
Mataku yang sudah berat dari tadi pagi ku paksa agar terus terbuka lebar. Sakit kepalaku yang makin menjalar dan rasanya menusuk kali ini membuatku tak tahan untuk meringis.
"Ketua!" Genta mulai panik. "Kak Rian! Ketua sakit."
Mantan Ketua itu segera menghampiri, melihat kondisi apa yang terjadi. "Kamu selalu aja maksa, Bay." Dalam gelengan kepala mantan ketua itu dia bermaksud khawatir.
"Gimana, dong, Kak?" Genta menyambung.
"Ketua!"
Sontak dua rekan di meja itu segera membantu mengangkat tubuh yang sudah tergeletak di lantai itu.
Malang nasib Si Bayu, anak polos yang tak tahu banyak tentang kehidupan ini harus berada dalam dekapan fisik yang lemah, kekuatan yang lemah, dan hati yang lemah. Hanya akal yang menjadi tambang emas dalam dirinya yang menjadi penentu arah terbaik dari apa yang akan dilakukannya, selalu logis dan terencana.
Tapi, apalah daya dari hati yang lemah, merasa tak mampu bertahan dalam rasa yang bercampur, tak dapat memilah mana rasa yang satu, hanya bisa bertanya tentang rasa apa yang sedang ia cicip.
Pikiran yang berkelana jauh tidak sebanding dengan seberapa banyak rasa yang ia tahu dalam perjalanan itu.
_______________________
Berminggu-minggu sudah kulalui waktu untuk dapat menghubungkan kembali hubunganku dengan teman-teman terdekat. Ini ku lakukan sebagai wujud dari usahaku dalam belajar, belajar peduli dengan apa yang ada dihadapanku yang seringnya kuabaikan.
Lelah. Itulah yang setiap saat ku rasakan saat sudah terbaring di tempat tidur. Aku masih dalam proses, 'bertahan' adalah hal yang harus ku pegang teguh, teguh dengan pendirianku untuk memperbaiki diri dan keadaan. Itulah yang membuatku bangkit dan bersemangat untuk menyingsing hari esok untuk berusaha kembali.
__ADS_1
_______________________
Di Ruang UKS
Tubuh lemah itu terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Beberapa rekan mading menunggunya di dalam ruang itu di tempat duduk yang tersedia.
"Aku sering liat Bayu lesu gitu, Kak. Tapi, dia slalu nggak mau dibilang. Dia bandel, Kak, orangnya." Bisik Genta pada mantan ketua yang duduk di sampinya.
"Hus, jangan bilang gitu. Iya, aku tau."
Hingga waktu pelajaran berakhir di sore hari, anak yang disapa Bayu itu masih juga belum sadarkan diri. Sudah waktunya pulang. Untungnya Genta dan Rian setia ke ruang UKS melihat keadaannya saat istirahat dan waktu pulang ini.
"Kak, gimana, nih? Aku nggak ada kendaraan pulang."
"Kalau gitu biar aku yang antar."
"Sama, apa?"
"Aku panggil teman dulu sebentar, kamu tunggu di sini."
"Oh, iya, Kak.
Rian meninggalkan ruang UKS buru-buru berharap agar teman yang ia maksud belum pulang. Sementara Genta kini duduk sendirian di samping ranjang tempat tidur.
"Bay.. Bay.. kok bisa ya ada orang kayak kamu. Bikin Nyonya tambah sayang tau nggak, kalau dia tau kamu di sini kayak gini." Omelan Genta terdengar berbisik. Matanya terus memperhatikan wajah malang itu dengan iba. Teringat saat ia melihat Cinta kala itu sedang menyuapi makanan dengan wajah penuh perhatian. Betapa sosok Bayu begitu disayang.
Ada rasa kasian dalam diri Genta saat melihat Bayu yang sering dirundung kesedihan di wajahnya setiap kali ia menatap lekat-lekat wajah yang selalu terlihat antusias di meja ketua itu, memaksakan hal yang sebenarnya ia sendiri sudah dalam ambang batas kesanggupannya mengerjakan tugas. Apalah yang ada di pikiran anak itu, pikirnya.
"Genta." Rian sampai di pintu UKS, membuka sepatunya.
"Eh, iya, Kak."
"Yuk, angkat Bayu ke luar gerbang. Temen aku lagi nunggu di mobilnya di sana."
"Ayo, Kak."
__ADS_1
Selama masih menghirup napas, selama raga masih mampu, selama pikiran masih waras, selama hati masih belum berpaling, akan ku cari jalan untuk kembali berpelukan. Walau dalam belukar, walau menerjang ombak bergelombang, walau semua terlihat tidak memungkinkan. Satu yang ku inginkan. Kembali bersama kalian.