Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Pengumuman


__ADS_3

Hari ini adalah hari seleksi bagi para siswa yang ingin menjadi peserta lomba pada perlombaan berbasis MIPA, yaitu matematika, kimia, biologi, dan fisika, yang akan diperlombakan tiga minggu dari sekarang.


Peserta seleksi yang akan dipilih berjumlah sepuluh orang per mata pelajaran. Ada sekitar dua ratus siswa yang ikut seleksi untuk mata pelajaran matematika hingga dibutuhkan tujuh ronde untuk menyeleksi semuanya. Peserta akan mengadakan ujian seleksi di ruang matematika.


"Untung kita ujian di ronde yang sama, Cin. Aku gugup, nih."


"Jangan gitu, Ga. Aku ketularan gugupnya." Cinta sudah menggenggam tangannya erat karena gugup.


Mereka berdua akan seleksi di ronde kedua, yang akan ikut ujian di jam sembilan nanti. Peserta seleksi diizinkan untuk tidak masuk kelas untuk siap-siap.


Peserta di ronde pertama sudah mulai masuk ke ruangan matematika. Guru yang bertugas pun sudah terlihat berjalan ke ruang itu membawa lembaran soal dan kertas untuk jawaban dibantu oleh beberapa guru lain.


Guru-guru itu pun masuk ke dalam ruang. Peserta ronde pertama sudah duduk di tempat yang disediakan lengkap dengan alat tulis mereka masing-masing. Wajah-wajah mereka terlihat beragam, ada yang terlihat, ada yang komat-kamit dengan doanya, dan ada banyak yang kelihatan tenang walau sebenarnya gugup.


Guru-guru di depan itu mengeluarkan lembar soal dari dalam amplop serta kertas untuk jawaban. Tangan-tangan itu kemudian membagikannya ke setiap peserta seleksi dengan keadaan kertas dibalik. Setelah semua sudah mendapat kertas soal dan kertas jawaban, "Waktu dimulai dari sekarang, silahkan dikerjakan." Ucap salah seorang guru di depan.


Suasana hening, peserta mengerjakannya dengan khidmat. Waktu terus berlalu saat tangan-tangan itu sibuk mencari penyelesaian soal-soalnya di kertas buram lalu menuliskannya di lembar jawaban, terlihat sangat antusias.


"Duh, bentar lagi, nih, Ga." Cinta makin gugup.


"Iya, Cin. Tenang, dong."


Cinta melirik dari jendela, peserta di dalam masih sibuk dengan soal-soal di depan mereka.


"Ga, lima menit lagi."


"Aduh, Cin. Aku ketularan gugup, nih. Tenang dong." Yoga sudah berusaha menyiapkan mentalnya dari tadi, tapi selalu rubuh saat Cinta bicara dengan nada gugup itu.


"Hai."


"Bayu." Yoga menoleh padaku di sampingnya.


"Lagi nunggu, ya?"


"Iya, nih. Kok kamu di sini?"


"Aku izin bentar mau liat kalian."

__ADS_1


"Ga, bentar lagi..." Suara Cinta bergetar kali ini, dia sibuk melihat jam tangannya lalu melirik ke dalam ruang lagi.


"Memangnya kenapa di dalam?" Aku ikut menoleh ke dalam ruang matematika seperti yang Cinta lakukan. Dia terkejut melihatku yang tiba-tiba di sampingnya.


"Bayu." Lirihnya.


"Kamu ngapain liat mereka? Mending main-main dulu, kan udah belajar. Kalau liat mereka terus nanti nambah beban." Aku menatapnya.


Cinta menelan ludahnya berat melihatku. Lalu ia mengatur napasnya dalam diam di hadapanku sampai ronde kedua tiba. Selama itu pula Cinta memantapkan diri menghadapi ujian yang sebentar lagi berlangsung.


"Makasih. Aku masuk dulu." Cinta masuk.


"Kamu hebat, Bay. Dari tadi Cinta gugupnya nular terus ke aku. Ya udah, masuk dulu, ya."


Aku mengangguk sembari melepas senyum untuk menyemangatinya lalu memperhatikannya yang masuk ke dalam. Setelahnya aku kembali ke kelas.


Aku akan berusaha semampu yang ku bisa. Rasanya aku hanya ingin memberi, tidak ingin sebaliknya.


***


"Bay, mau ikut, nggak, liat hasil seleksi?"


"Katanya jam istirahat ini ditempel di mading."


"Ok."


"Kayaknya aku nggak lulus." Yoga mulai lesu membayangkan apa yang diucapkannya.


"Kita buktiin." Jawabku.


Jam istirahat ini aku ikut dengan Yoga dan Cinta ke mading. Siswa-siswi sudah berkerumun di sana. Bayangkan saja, dua ratus siswa yang ikut seleksi matematika, belum lagi tiga mata pelajaran lain yang juga tidak kalah banyak yang ikut seleksi, ditambah teman-teman mereka yang juga ikut ingin melihat hasil seleksi itu, sekarang berkumpul di sini. Sesak sekali.


"Itu hasilnya!" Seorang siswa berteriak ke arah tiga orang guru yang memegang lembaran-lemabaran yang berisi nama-nama yang ikut seleksi lengkap dengan alat perekat. Siswa-siswi itu berduyun-duyun menyerbu guru-guru itu.


"Eh, eh, tunggu dulu! Ditempel dulu!" Guru itu harus berteriak di tengah kerumunan massa para siswa yang menyerbunya.


Banyak sekali lembaran yang ditempel, mengingat peserta yang ikut seleksi juga banyak.

__ADS_1


Setelah selesai menempel lembaran-lembaran itu, tiga orang guru itu cepat-cepat ingin lepas dari kerumunan siswa yang menyesak itu. Untungnya mereka bisa segera keluar lalu mengelus dada karena sudah selamat dari para siswa yang terasa seperti amukan massa, lalu berjalan ke ruang guru lagi.


Para siswa yang sudah melihat nama dan status kelulusan mereka di sana mulai melepas nada-nada yang sesuai dengan status nama mereka di lembaran hasil itu. Yang dinyatakan lulus, berteriak girang dengan senyum-senyum yang merekah di bibir mereka, merayakan kelulusannya dengan bertepuk tangan dengan temannya. Sebaliknya yang statusnya tidak lulus langsung lunglai keluar menjauh dari kerumunan itu dengan wajah putus asa.


Kami bertiga masih menunggu sampai kerumunan ini menyusut. Beberapa menit sudah kami menunggu, akhirnya tinggal beberapa siswa yang masih di depan mading itu. Tiba-tiba seorang siswi di sana menangis lalu memeluk teman di sampingnya.


"Udah, kalau ada kesempatan lain, kita coba lagi. Jangan nangis." Temannya menghibur dalam pelukan itu, setelahnya mereka pergi.


"Yuk, udah bisa liat tu." Ajak Yoga. Dia jalan duluan ke depan mading. Aku dan Cinta mengikutinya di belakang.


Tangan Yoga menunjuk ke arah lembaran di sana, memfokuskan matanya mencari namanya dan nama Cinta.


"Nggak ada nama kita, Cin." Yoga sudah mencari dari nama pertama sampai habis.


"Sini, Ga. Itu yang ikut mata pelajaran lain." Balas Cinta.


Yoga melihat kepala lembaran itu dan ternyata malah Fisika. Dia nyengir lalu segera mendekat ke Cinta.


"Ga! ini!" Cinta menunjuk namanya di sana dengan wajah yang siap untuk berteriak. "Kyaaaa!!" Lepas sudah teriakan itu dari mulutnya sambil lompat kegirangan menghadap Yoga. Di ujung namanya tertulis Keterangan: Lulus - Peringkat: 2.


"Waah. Selamat, Cin." Yoga hampir memeluk Cinta karena girang. Cinta membekap mulutnya sangking terlalu senang tidak tahu harus berkata apa. Bahkan ia sempat lupa kalau aku juga ada di antara mereka.


"Selamat, ya, Cin." Ucapku setelah mereka berdua merayakan kabar bahagia dengan kegirangan itu.


Cinta spontan menoleh padaku, "Eh." Matanya membelalak baru sadar kalau aku juga ada di antara mereka. Cinta kembali membekap mulutnya, lalu... menangis.


"Eh, Cin, kok nangis?" Yoga mendekatkan wajahnya di depan Cinta.


"Aku senang, Ga." Cinta menghapus air matanya. "Eh, maaf aku lupa, cari dulu nama kamu." Dia kembali menatap ke lembaran-lemabaran itu dengan mata yang terus berair.


"Ini." Aku menunjuk nama Yoga di sana, sontak mereka mendekat padaku lalu melihat nama yang ku tunjuk. Dua keterangan terakhir di sana tertulis Keterangan: Lulus - Peringkat:9.


"KYAAA!! Yoga! Kita lulus!" Kali keduanya Cinta berteriak histeris begitu.


Yoga yang tidak tahu harus bagaimana menanggapi kebahagiaan itu, karena tidak mungkin dia juga berteriak seperti Cinta, jadinya hanya cengar-cengir menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Selamat ya, Ga." Ucapku padanya.

__ADS_1


"Thanks, Bay." Yoga tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya.


Hari ini adalah hari baik untuk mereka berdua. Setelah hari pengumuman itu, hari berikutnya mereka akan jadi lebih sibuk karena harus mengikuti pelatihan intensif untuk persiapan lomba nantinya.


__ADS_2