Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Ketinggalan


__ADS_3

Sudah jam istirahat. Seperti rencana kemaren, aku hari ini ingin memberikan notebook yang baru ku beli sebelumnya pada Cinta.


Tapi aku jadi risih. Apa ini terlalu berlebihan ya? Apa notebook yang ku pilih terlalu kekanakan? Atau mungkin terlihat lucu bila kukasih notebook seperti ini padanya.



Ah, jangan mulai lagi. Aku tidak suka plin-plan seperti ini. Ini hanya untuk ucapan selamat, palingan juga bakal jadikan buram seperti halnya Yoga.


"Ga, duluan, ya."


"Ok, Bay."


Aku berjalan ke luar kelas sambil menenteng notebook di tangan kanan tanpa kantong atau sesuatu yang menutupinya. Aku hanya berniat memberinya sesederhana mungkin. Semoga urusan ini cepat selesai.


Tanpa perlu menunggu, Cinta baru saja duduk di sebuah tempat duduk di taman. Segera ku hampiri dia di sana. Aku ingin ke ruang mading setelahnya.


"C.."


"Cinta!" Seorang siswa ku lihat tampak berlari ke arah Cinta. Cinta melambai padanya.


Sementara itu, ia juga menyadari kalau aku juga sudah mendekat. Kali ini ia terlihat bingung, memperhatikanku dan siswa yang baru datang itu bergantian.


Mungkin Cinta punya janji dengannya, aku tidak berniat mengganggu mereka. Nanti saja ku kasih notebook ini, atau bisa ku titip ke Yoga. Ya, itu lebih mungkin. Lebih baik aku ke ruang mading sekarang.


Aku pun menyapa mereka dengan senyum sambil menunduk sekilas lalu berlalu.


"Kenapa, Cin?" Tanya Sofian melihat arah pandangan Cinta.


"Eh, nggak papa, Kak."


Sofian kembali memperhatikan siapa yang diperhatikan Cinta tadi. "Dia siapa?"


"Itu temen aku."


"Owh. Jadi, kan, ke kantin?"


Cinta mengangguk, berharap acara ke kantin ini cepat berlalu.


Yoga dari kelasnya memperhatikan kejadian itu tanpa bisa melakukan apa-apa, tidak mungkin juga ia tiba-tiba ikut dengan Cinta dan kakak kelas itu.


***


Kemana lagi mengalirnya air kerinduan kalau bukan ke pelupuk mata yang dirindukan. Kemana lagi perginya kasih sayang kalau bukan pada sang pujaan.


___________________________________


Sudah seminggu setelah aku membeli notebook yang ingin kuberikan pada Cinta, aku tak kunjung memberikannya juga padanya. Selama itu juga aku disibukkan oleh kegiatan mading yang tak lama lagi akan mengadakan sebuah acara di sekolah, ditambah lagi latihan basket yang sudah ku mulai sejak hari dimana aku ingin memberikan notebook itu.


Kakiku yang sebelumnya masih ngilu sesekali saat bermain perlahan mulai membaik dan sekarang aku sudah bisa dikatakan sembuh, ku harap tidak terjadi lagi cedera pada kaki atau fisikku yang lain.


Acara yang diadakan mading tinggal dua hari lagi. Posko-posko untuk acara sudah disiapkan oleh seksi-seksi yang menanganinya. Tinggal menunggu waktu itu tiba.


Sementara urusanku di klub basket, beberapa hal yang belum tuntas sebelumnya dapat ku selesaikan, seperti berkenalan dengan semua anggota, baik yang putra maupun putri.


"Bay, nanti ada waktu nggak?"


Aku sudah berada di ruang kelas karena sebentar lagi proses belajar-mengajar akan dimulai.


"Nanti kapan, Ga?"


"Pulang sekolah."


"Untuk apa?"


"Duduk-duduk bentar."

__ADS_1


"Sorry, Ga. Pulang sekolah nanti aku harus latihan basket."


"Gimana kalau besok?"


"Ada yang penting ya?"


Yoga tidak menjawab pertanyaanku kali ini, wajahnya terlihat dingin, mungkin karena aku terus menolak ajakannya. Aku tidak bermaksud menolak, tapi memang ada yang harus ku kerjakan.


"Gimana kalau habis acara mading aja, Ga. Sekarang aku lagi banyak kerjaan di ekskul."


Yoga mengangguk saja lalu kembali memutar badannya ke arah depan.


Ku akui memang selama seminggu terakhir aku tidak lagi bertemu untuk sekedar duduk dengannya dan Cinta. Sampai sekarang pun aku masih belum bisa untuk ikut kegiatan santai dengan mereka karena pekerjaan yang lain menyita waktuku tanpa celah yang cukup. Jadi, sekarang aku harus bersabar untuk menunggu sampai acara mading selesai.


Setelah selesai belajar hari ini aku langsung ke toilet untuk mengganti pakaian untuk latihan basket.


"Bay, buruan. Pak Damar udah datang, tuh." Sahut Kak Rio yang juga mengganti pakaiannya di sini.


Aku keluar setelah selesai berberes dengan pakaianku.


"Yuk, Kak." Kami pun berlari ke arah lapangan basket. Anggota yang lain sudah berada di sana. Ku perhatikan barisan penonton terlihat makin ramai saja dari hari ke hari.


Aku melepas tas sandang milikku dan menaruhnya di salah satu pojok tempat duduk di sana.


Pak Damar sudah memberi aba-aba untuk latihan kali ini, "Perhatikan dengan fokus. Lengah sedikit peluang kalah akan besar. Mengerti?"


"Mengerti, Pak." Jawab kami serempak.


Latihan pun dimulai. Seperti biasa, permainan berjalan sangat alot untuk mencetak satu poin. Langkah penuh perhitungan itu bergerak lincah. Menepis, mengoper, atau pun menembak selalu jadi ajang sengit.


Latihan akhirnya usai. Pak Damar hanya memberi sedikit arahan sebelum pulang, setelahnya ia meninggalkan lapangan.


"Mau ku antar pulang?" Kak Rio memegang pundakku.


"Nggak usah, Kak. Makasih."


"Bayu." Suara seorang siswi ku dengar dari arah belakang yang membuatku dan Kak Rio berbalik badan.


"Kamu.. Ona?"


Dia tersenyum sejenak, "Iya, kita yang waktu itu ketemu di kantin."


"Bay, aku duluan, ya." Kak Rio mengode dengan tangannya.


"Eh, iya, Kak."


Kakak kelas itu segera berjalan mendahuluiku.


"Aku senang beberapa hari ini kamu main lagi di basket. Udah sembuh, ya, kakinya?"


"Iya.. udah."


Aku mau tidak mau harus mengikuti irama jalannya yang pelan karena dari tadi dia terus mengajakku bicara.


Setibanya di gerbang sekolah.


"Kamu pulang dengan siapa?" Tanyaku karena di gerbang sekolah sudah sepi.


"Aku tunggu jemputan."


Sebenarnya aku ingin cepat-cepat pulang, tapi di sini hampir tidak ada lagi yang berlalu lalang. Mungkin ada tapi hanya satu-satu aku jadi tidak tega meninggalkannya sendiri.


"Kalau gitu aku tunggu disini dulu sampai jemputan kamu datang." Aku melepas tasku karena ingin mengambil tumblerku yang masih ada airnya.


Aku dan siswi itu berdiri di sisi gerbang yang berbeda. Setelah meneguk habis air minumku, tidak ada lagi pekerjaan lain sekarang, aku jadi canggung lama-lama berdiri di sini. Sementara jemputan siswi itu belum datang juga.

__ADS_1


"Biasanya kamu dijemput jam brapa?" Tanyaku penasaran karena ini sudah terlalu sore.


"Biasanya nggak selama ini."


Aku mengangguk, mungkin ada urusan mendadak atau hal lain.


"Itu. Aku udah dijemput. " Ona menunjuk sebuah sepeda motor yang datang mendekat. Aku lega akhirnya datang juga.


Ona segera naik setelah sepeda motor itu memutar arahnya.


"Kamu pulang sama siapa, Nak?" Tanya seorang pria paruh baya yang mengendarai sepeda motor itu padaku, mungkin ayah Ona.


"Saya pulang sendiri, Pak. Rumah saya dekat dari sini."


"Oh, begitu. Kalau gitu Bapak duluan, ya. Mari."


"Iya, Pak. Mari." Balasku.


Akhirnya aku bisa pulang sekarang. Tapi, aku tak sengaja berbalik badan melihat kembali ke arah gerbang sekolah, kudapati sebuah goodie bag berwarna kuning yang sempat ku lihat dibawa Ona tadi saat jalan denganku.


Sepeda motor itu sudah jauh di depan sana, aku akhirnya mengambilnya untuk ku kasih lagi besok padanya.


________________________________


Pergi sekolah hari ini aku tidak lupa membawa goodie bag warna kuning milik Ona. Tapi, masalahnya aku tidak tahu dia ada di kelas berapa, bagaimana caranya aku mengembalikan barangnya? Akhirnya, mau tidak mau aku harus menanyakan itu pada teman di kelas.


"Ga, kamu kenal siswi yang namanya Ona, nggak?"


Yoga langsung mengernyitkan dahinya saat pertanyaan itu kutanyakan padanya. Dia menatapku heran, "Kenapa dengan dia?"


"Kemaren goodie bagnya ketinggalan."


"Kok bisa sama kamu? Emang nggak ada orang lain selain kamu di sana waktu itu?" Yoga sudah seperti orang yang menginterogasiku sekarang.


"Kemaren aku nggak sengaja ketemu dia habis latihan basket. Trus aku sempat tungguin dia sampai jemputanya datang karna udah kesorean. Pas udah dijemput dia lupa bawa goodie bagnya yang ditarok di dekat gerbang, jadinya tinggal." Jelasku agar Yoga tidak salah paham.


Yoga diam memperhatikanku sejenak. "Coba ku tanya yang lain bentar, mungkin ada yang tau." Yoga masih terlihat dingin melihatku. Aku jadi tidak enak.


Tak lama setelah itu Yoga kembali padaku.


"Kata Putri dia anak kelas XF."


"Makasih, Ga."


"Mm."


Bel masuk berbunyi sebentar lagi. Aku berniat ingin mengembalikan barang siswi itu pagi ini cepat. Ku hampiri kelas XF sekarang juga.


"Hai, boleh tanya nggak? Ona di kelas ini, ya?" Tanyaku pada dua orang siswi yang mau masuk ke kelas XF.


"Oh, iya. Kenapa?"


"Aku boleh minta tolong kasih ini ke dia?"


Persis di waktu itu Ona keluar dari kelas.


"Eh, Bayu. Kenapa kesini?" Ona lalu melirik goodie bag kuning di tanganku. " Oh, ini punya aku?"


"Iya, kemaren ketinggalan waktu kamu pulang."


Ona mengambil goodie bagnya dari tanganku. Dilihatnya isinya kemudian, lalu ia manggut-manggut. "Makasih, ya."


"Kalau gitu aku balik ke kelas."


"Oh. Iya." Balas Ona tersenyum.

__ADS_1


Saat berbalik badan ku dapati Cinta berdiri melihatku di depan pintu kelasnya, setelahnya ia langsung masuk ke kelas. Bel masuk pun berbunyi.


__ADS_2