Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Lelah


__ADS_3

Saat di kantin sebelumnya


"Cin, kamu suka, ya, sama Bayu?"


Cinta melirik Yoga di hadapannya, tidak menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan padanya itu. Ia lalu menyedot minumannya mengalihkan pembicaraan.


Yoga terkekeh melihat Cinta yang terlihat sedang mencari jawaban yang pas untuk situasi ini. Dia tidak bermaksud mempermainkan Cinta dengan pertanyaan itu, hanya ingin memastikan kabar tentang dua orang sahabatnya yang saling sembunyi perasaan.


"Bayu itu susah ditebak orangnya. Belum tentu apa yang orang lain pikirkan tentang dia sama seperti apa yang dia pikirkan."


Cinta memperhatikan Yoga yang menerangkan.


"Tapi, dia bukan orang yang suka main-main dengan pilihannya, Cin."


Semakin dijelaskan, semakin membuat Cinta penasaran kelanjutannya, dengan segenap kekaguman pada sosok yang sedang mereka bicarakan sekarang.


"Kamu suka dia, kan?"


Cinta menundukan wajahnya dalam-dalam.


***


Sudah jam pulang, siswa-siswi yang sudah menahan lelah dan kantuk sejak tadi bernapas lega sambil memandang pemandangan luar kelas yang efektif melepas beban-beban mereka.


"Bay, kemana buru-buru?"


"Aku mau ke ruang ekskul dulu, Ga. Penting."


"Aku tunggu kamu, ya?"


"Buat apa?"


"Udah, nanti aku kasih tau."


"Tapi, mungkin agak lama, Ga."


"Udah, pergi aja dulu."


"Duluan, ya."


"Yop."


Aku berlari kecil menuju ruang ekskul, melewati langkah-langkah para siswa lain yang berjalan pulang. Beberapa siswa menyapa saat melewati mereka, sebagian ada yang malah menghambat untuk sekedar bicara basa-basi.


"Kak Ketua."


"Oh, Bayu. Yuk, masuk dulu."


"Iya, Kak. Permisi." Aku membuka sepatu lalu masuk ke ruang itu. Di sana sudah ada beberapa kakak senior lain dan teman-teman seangkatanku. Masih ada yang belum datang, jadi acara belum dimulai. Sambil menunggu, aku memperhatikan deretan buku di rak buku di sana, berharap ada yang menarik.


Sebuah buku biografi seorang pujangga Indonesia, Sapardi Djoko Damono, sosok yang telah berhasil membuatku jatuh cinta pada karya sastra terutama dunia puisi, terdapat di deretan buku itu. Ku raih buku itu ke genggamanku. Sebenarnya, aku juga memiliki buku ini di rumah, sudah pula tuntas ku baca habis, tapi sekali pun tidak pernah membuatku bosan untuk mengulangnya. Selalu saja menggugah perasaanku saat kembali menggambarkan setiap barisan kalimat disana. Kata-kata romantis miliknya membuatku ingin terus-menerus menuliskan kata 'Cinta'.


DEG


Cinta? Tunggu dulu. Cinta. Perempuan itu. Apa benar yang dikatakan Yoga? Aku masih menolak kebenaran ucapan Yoga. Bisa saja dia hanya membuat umpan supaya aku terlihat salah tingkah.


"Bayu."


Aku menoleh mendadak mendapati Kak Ketua di sampingku.


"Ayo duduk dulu, kita mau mulai."


"Ah, iya, Kak." Aku menaruh kembali buku itu di tempat sebelumnya.


Lima puluh menit sudah acaraku di ruang mading ini, jam sudah menunjukkan pukul lima kurang.


"Sampai disini pembahasan kita kali ini. Mohon maaf sudah menyita waktu kalian. Berikutnya, kita akan menentukan siapa yang akan jadi penerus jabatan di ekskul ini. Semoga apa yang selama ini kami-kami, kakak senior, lakukan sudah dapat memberikan manfaat. Sekian." Akhir kata dari Ketua.


Suasana sekarang sudah seperti sebuah perpisahan. Beberapa dari semua yang hadir tidak dapat menahan haru mereka yang selama ini sudah menjadi bagian di masa jabatan selama ini. Isak tangis mulai terdengar menjalar dari tiga orang, menjadi lima, bertambah dan bertambah. Akhirnya, acara jabat tangan menjadi akhir dari pertemuan ini, langkah-langkah yang sudah rindu rumah terlihat ringan hendak meninggalkan pekarangan sekolah.


"Bay!"


Acara di ruang mading sudah selesai, aku baru teringat kalau Yoga menungguku. Ku hampiri dia yang tak jauh dari tempatku sekarang, di tempat duduk panjang di sana.

__ADS_1


"Sorry, Ga, lama nunggu."


"Yaudah, nggak papa."


"Sendirian?"


"Tadi, aku sama Cinta belajar bareng bentar buat seleksi math nanti. Karna dia mau pulang cepat katanya, jadi dia duluan."


Aku manggut-manggut mendengarnya.


"Yuk, aku antar pulang."


"Ok, deh, makasih, Ga."


"Yok, lah." Sanggah Yoga, menolak ucapan terima kasihku sambil mendorongku agar segera berjalan.


Aku lagi-lagi naik mobil impian itu, entah ini sudah yang ke berapa kalinya kursi ternikmat ini ku duduki, tetap saja rasanya seperti kali pertama naik. Aku punya keinginan untuk memiliki mobil seperti ini juga nanti, suatu hari. Sepertinya, aku perlu mengansur tabungan walau kecil-kecilan.


Di perjalan, Yoga sepertinya sedang bersemangat, kalimat-kalimatnya hampir tak pernah putus setelah membahas satu topik lalu menyambung ke topik yang lain. Aku yang tidak banyak bicara, masih menjadi sosok pendengar setianya yang hanya membalas dengan sekedar ucapan singkat atau anggukan pendek. Pembicaraannya melanglang buana, mulai dari urusan sekolah hingga kegiatannya di rumah.


"Makasih, Ga."


"Aku balik, ya." Yoga melambai. Aku pun balas melambai padanya hingga mobil itu menjauh dari tempat ku berdiri sekarang.


Di pintu rumah sana, mama baru saja keluar membawa kantong sampah di tangannya. Sepertinya papa belum pulang. Aku masih berdiri di depan gerbang memperhatikan mama yang berjalan mendekat.


"Kok baru pulang, Sayang?" Mama meletakkan kantong sampahnya di tempat biasa, biar petugas kebersihan besok mengambilnya.


"Tadi ada kegiatan tambahan di sekolah, Ma."


"Ya sudah, masuk dulu."


Aku berjalan mendahului mama yang masih berdiri melihat sekitar di depan gerbang.


"Bayu!"


"Ya, Ma," aku baru ingin membuka sepatu.


"Papa belum pulang, bantuin mama taruh galon, ya."


Tanpa bantuan mama, aku langsung membawa galon itu ke ruang makan, sekalian menaruhnya langsung ke dispenser di sana.


Cinta suka kamu. Tiga kata itu mengusikku lagi setelah dari tadi sudah kuusahakan melupakannya. Oh, ayolah, itu tidak benar, kan? Semoga saja itu hanya lelucon Yoga padaku supaya dia melihatku yang salah tingkah karenanya.


Kuteguk segelas air, kepalaku masih sibuk mengingat kata-kata itu. Bukan karena aku menolak, tapi bukan itu yang aku mau. Aku beranjak ke kamar ingin membersihkan diri terlebih dulu.


"Wah, sudah dibawa." Mama di teras luar tidak menemukan galon di sana lagi.


***


Dikau Cinta


Pelihara ucapmu jangan sembarang


Bisa saja angin semilir meliuknya ke dalam bencah


Bencah dipijak atau dibiar kering tak dihirau


Dikau Cinta


Simpan rasamu hati-hati


Kunci erat dalam dirimu


Waktu tak pernah berhenti berdetik


Hingga saatnya tiba akan ada ahli kunci yang akan membukanya tanpa kau sadari


***


Tiga minggu sudah setelah pelantikan pengurus baru ekskul mading, dan entah angin bertiup dari arah mana, suara bulat memilihku sebagai ketua baru di kepengurusan ini, padahal masih ada senior yang sudah berpengalaman lebih dariku. Alasan mereka,


"XOCOX kita ini bukan anak kecil, dia senior yang menyamar atau pujangga yang turun lagi ke sekolah."

__ADS_1


Ya, semua yang ada di kepengurusan ini tahu kalau nama XOCOX yang ku sematkan di karya-karyaku di mading itu adalah aku. Tapi, itu alasan yang terlalu hiperbola dan tidak rasional untuk jadi alasan. Aku masih perlu banyak belajar dari senior-senior, tapi suara sudah bulat di pemilihan waktu itu.


Kerjaanku bertambah lagi, selain kegiatan wajib sekolah, kini aku juga harus mengatur dan membuat perencanaan di kepengurusan ini. Hampir tiap malam aku harus belajar lebih untuk menyamakan status ketahuanku dengan para senior. Kadang malah sampai jauh lebih larut.


"Bayu. Eh, Ketua. Kamu sakit?" Genta menepuk bahuku.


"Nggak."


"Nggak gimana? Udah beberapa hari ini aku liat kamu nggak kayak biasa."


"Nggak kayak biasa gimana?"


"Mata kamu udah berkantung gitu, kamu kurang tidur, ya?"


Aku menggeleng pelan lalu melanjutkan kembali tugasku di meja, mengurutkan karya-karya yang terkumpul untuk ditelaah nanti oleh para senior di bidang pemeriksaan.


"Aku, izin dulu, deh, Ketua."


Genta pergi ke luar ruang, ku lirik dirinya saat memakai sepatu lalu berlari entah kemana.


"Ketua, ini karya sebelumnya yang sudah diperiksa." Kakak senior bidang pemeriksaan memberikan setumpuk kertas karya.


"Ok, makasih, Kak. Biar disini dulu."


Senior itu mengangguk. "Bay, eh, Ketua. Ketua kurang tidur, ya?"


Aku meliriknya, tanganku berhenti menulis di buku besar itu. Dia adalah orang kedua yang bertanya begitu padaku. Aku lalu menguap sambil menundukkan wajah dalam-dalam.


"Ketua boleh ambil waktu untuk istirahat, kok."


"Kenapa?" Kakak senior yang sebelum ini menjabat sebagai ketua datang melihat kami penasaran.


"Ini, Kak. Ketua kayaknya kurang tidur."


Kak Rian, mantan ketua di kepengurusan ini, dikenal sebagai orang yang hangat pada rekan-rekannya. Walau tidak lagi menjabat sebagai ketua, sifat kepemimpinannya masih terasa. Dia lalu memegang bahuku, aku masih membenamkan wajah.


"Ketua boleh istirahat dulu, jangan terlalu memaksa."


Aku mengangkat wajah, ku dapati dia sedang memperhatikanku sekarang. Mataku terasa berair karena mengantuk.


"Istirahatlah dulu."


"Iya, kak. Sebentar lagi."


"Tanggung jawab itu akan selesai baik dengan kondisi yang baik pula." Kata-kata itu membuatku bergetar. Sosoknya yang sangat ku kagumi. Aku merasa tergerak untuk menulis kembali, pekerjaan yang belum selesai itu. Rasanya baru saja mendapat pencerahan yang membuatku terjaga dari tidur panjang.


Aku mengangguk menanggapinya, "Aku udah baikan, Kak."


"Ya sudah, kalau memang mau melanjutkan. Setelah ini istirahatlah."


"Iya, Kak, makasih."


Tak perlu waktu lama, karena memang sudah tidak banyak lagi, tugas itu akhirnya selesai. Bel masuk masih lama, aku berniat pergi ke kelas lebih awal, ingin istirahat sambil menunggu guru datang.


Saat hendak memakai sepatu di pintu itu. "Bay! Eh, aduh, lupa lagi. Ketua, ini makan dulu." Genta menyodorkan sebuah makanan kotak.


"Apa ini?"


"Nasi kare, ketua makan aja dulu."


Aku terdiam di depannya.


"Halah, ambil aja. Nih, makan, ya. Aku mau masuk dulu." Genta masuk ke dalam meninggalkanku dengan sekotak nasi kare yang sudah tergantung di tangan kananku. Aku tersenyum ke arahnya yang sudah masuk ke dalam.


"Makasih, Gen."


"Dah, makan sana."


Kepalaku menggeleng-geleng melihatnya sudah mengambil kertas yang sebelumnya ia kerjakan. Aku pun melanjutkan jalan ke kelas. Semua kesibukan ini membuatku lupa banyak hal. Mataku mulai lelah lagi. Ku percepat langkah agar segera sampai.


"Bay!" Seseorang memanggilku.


"Bayu!" Kali keduanya seseorang itu menyeru namaku. Aku tidak menyadari itu.

__ADS_1


Mataku makin terasa lelah, kepalaku berat. Aku tidak ingin makan dulu sekarang, aku ingin tidur sebentar sampai guru datang. Setelah sampai di mejaku, nasi kare tadi ku letakkan ke laci, lalu langsung merebahkan kepalaku di meja itu. Untungnya aku duduk di tepi, jadi aku bisa menghadap ke dinding. Jujur, ini benar-benar lelah.


__ADS_2