Goresan Tinta Dariku

Goresan Tinta Dariku
Hari Terbaik


__ADS_3

Di sini hatiku, dan aku merasakanmu. Di sini mataku, dan aku melihatmu. Di sinilah diriku, bagaimana kau memandangku?


________________________________


Aku sadar dengan satu helaan napas yang akhirnya membuatku membuka mata. Lemas, itu yang ku rasakan sekarang. Pandanganku lurus dan singkat. Beberapa kali setelah berkedip aku pun mencoba menutup mataku dalam-dalam agar bisa melihat kembali normal.


"Bayu."


Aku tahu persis suara itu. Cinta.


"Ga, Bayu udah bangun, Ga." Lanjutnya lagi.


Ku palingkan kepala sedikit ke samping dengan penglihatanku yang belum normal dan kepalaku masih ikut berdenyut seiring dengan gerakanku, tapi aku bisa pastikan bahwa dua orang temanku ada di sini. Mereka berusaha bicara padaku tapi aku belum bisa membalas apa pun.


Yoga ku lihat berlari keluar setelah Cinta menyuruhnya agar memanggil orang tuaku dan aku masih belum bisa berkutik. Sekarang hanya ada aku dan Cinta. Dalam diamku dia selalu berkata apa yang kuinginkan. Aku tidak menginginkan sesuatu apapun selain berhentilah menangis di depanku.


"Bayu. Nak..." Akhirnya orang tuaku datang. Berlari kecil dan segera memelukku, anak mereka satu-satunya. Aku berterima kasih bahwa hidupku dikelilingin oleh orang-orang yang menyayangiku. Tapi sayang, aku terlalu lemah untuk membalas rasa mereka. Apa yang kulakukan pada akhirnya hanya akan terlihat menyedihkan.


*****


Ini hari terbaikku. Setelah tiga hari harus mengurung diri di rumah sekarang aku bisa kembali ke sekolah dengan segenap semangat dan rindu dengan lingkungan sekolah. Aku bertemu Kak Rio di gerbang sekolah, sambil menepuk bahuku dia berkata, "Kamu benar-benar ngangenin, Bay. Anak-anak di basket juga udah pada nanya. Belum lagi cewek-cewek yang tiap kali latihan pantengin kamu." Kali ini dia tertawa kemudian berusaha menahannya karena tidak ingin ditatap mata siswa-siswi yang berlalu lalang. Ku pikir ini intermezzo dan berharap setelah ini akan baik-baik saja.


Kami berjalan ke kelas beriringan. Sesekali mencomot sembarang topik untuk melengkapi perjalanan hingga waktu berpisah karena kelas Kak Rio berbeda arah dengan kelasku. Sejauh ini aku masih merasa aman. Tapi, ada sesuatu yang dari tadi membuatku selalu terpikir, dan tanpa ada alasan kepalaku tiba-tiba langsung menoleh ke satu kelas. Entah kenapa aku ingin seseorang berdiri di pintu itu. Kali ini anganku berkelana. Aku sadar bahwa kini aku tengah tersenyum.


"Bayu!" Seseorang dari arah kelasku berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya. itu Dina.


Dari dalam kelas beberapa teman keluar mungkin tertarik ingin tahu dari teriakan Dina barusan. Aku berjalan menuju kelas. Teman-teman kelasku terlihat tersenyum hangat, dan dua orang berjalan ke arahku terus merangkul pundakku. Aku belum pernah merasa disambut sehangat ini terlebih karena apa yang sudah kulakukan?


Hal pertama yang mereka tanyakan adalah bagaimana kabarku. Ku bilang bahwa kabarku baik. Baik seperti mereka melihatku sekarang. Bahkan lebih baik. Dina kemudian datang memecah kerumunan. Seperti biasa, dia lebih cerewet, ah maksudku ya... apa ya... ya itu... untuk mengatakan sesuatu.


"Hei. Udah pada komplit, nih." Yoga baru datang di kerumunan depan pintu kelas ini. Dia tersenyum padaku, setulus yang pernah ku tahu. Hal yang beberapa hari belakangan sempat membuat beban pikiranku karena tak lagi melihatnya seperti ini sebelumnya. Sekarang terbayar sudah.

__ADS_1


"Ga."


"Yuk, Tarok tas dulu." Yoga merangkul pundakku sambil menyeret ke dalam kelas membelah kerumunan.


"Ga," Kami sudah sampai di bangku masing-masing, "Aku... mau minta maaf buat..."


"Alah, apaan sih, Bay. Lupain aja. Nggak ada yang salah kok. Istirahat nanti sempat ke kantin nggak?" Yoga duduk di bangkunya mengarahkan badannya ke arah bangkuku.


Aku mengangguk pelan.


"Kalau nggak sempat nggak papa, Bay. Aku ngerti kok."


"Nggak, Ga. Nanti aku ikut ke kantin."


Ku lihat seringai di bibir Yoga sebelum kami berdua tertawa ringan melihat satu sama lain. Membayangkan bahwa jalan pikiranku sebelumnya yang terus mengisi waktu dengan kesibukan sekolah dan tidak memberi waktu untuk berada dengan orang-orang terdekat bagiku aku telah melakukan hal yang salah. Seharusnya aku juga memberi celah di setiap waktu kesibukan itu agar bisa bersama mereka. Setidaknya aku dapat belajar dari yang sudah-sudah.


Seusai jam belajar, istirahat jam pertama pun datang.


"Ok, Ga."


Entah kenapa aku jadi malu sendiri. Berdiri menunggu Yoga seperti ini bukanlah hal yang baru, tapi kali ini seperti bukan hal biasa. Apa karena sudah lama tidak berkumpul lagi rasanya seperti pertama kali.


"Bay!" Aku terkejut setelah tangan Yoga sontak menepuk bahuku. "Malah ngelamun. Yuk."


Aku malu karena terkejut. Ini aneh, kenapa semua serba terbawa perasaan. "Yuk, Ga."


"Aku aja? Cinta kita kemanain? Tinggalin sini? Tega kamu, Bay."


Sebelum benar-benar tersenyum lebar mendengar Yoga, ini sudah yang ke berapa kalinya aku malu di pagi ini.


"Ayo, Cin." Ajakku.

__ADS_1


Cinta mengangguk dan akhirnya langkah kami menuju ke persinggahan jam istirahat itu. Kami bertiga berjalan senada dan aku berada di tengah di antara mereka.


Seperti biasa kantin selalu ramai. Siswa-siswi lain sudah mengambil tempat terlebih dahulu di mana yang mereka suka. Untunglah masih ada dua meja yang masih kosong. Kami mengambil tempat di salah satunya.


"Bilang, cepet. Kalian berdua mau apa?" Yoga gercep bertanya saat kami sudah di meja. Kalau sudah begini tidak ada yang bisa bantah. Yang bisa aku dan Cinta lakukan adalah menuruti kata-katanya.


"Aku nasi kare sama air putih, Ga." Jawabku.


"Kamu nggak bosan itu-itu aja, Bay? Nggak mau yang lain?"


"Nggak, Ga. Aku pesan itu aja."


"Kamu, Cin?"


"Aku penasaran sama nasi karenya." Cinta menoleh padaku, "Aku mau nasi kare sama mocca, deh."


Yoga tertawa lepas, memperhatikan aku dan Cinta bergantian. "Nasi kare kesukaan Bayu dibuat dengan penuh cinta sama ibu kantinnya, Cin. Makanya seenak itu." Lagi-lagi Yoga tertawa lepas. Aku berusaha menahan tawa, khawatir Cinta akan merasa tidak enak. Cinta memalingkan kepalanya menjauh dari arah pandang kami berdua.


"Sorry, deh Cin. Yaudah kalian tunggu bentar ya. Aku pesen dulu." Yoga berjalan ke meja pesan dan berdiri sejenak di barisan antrean satu orang di depannya.


Sekarang di meja ini, aku dan Cinta duduk bersebelahan. Rasanya lebih canggung dari pada sebelum-sebelumnya. Rasanya makin kacau. Aku merasa sulit untuk mengontrol ekspresiku. Beberapa saat aku hanya memalingkan wajahku dari Cinta, berusaha untuk menepis rasa canggung di antara kami berdua. Tapi, nihil, malah sekarang aku berkeringat dingin.


"Bay. Kamu masih sakit?" Cinta berkerut kening melihatku.


"Nggak, Cin."


Matanya berubah sayu. Apa aku salah bicara?


"Bay, aku khawatir sama kamu." Seketika Cinta membekap wajahnya.


Apa yang sebenarnya ada dalam hati gadis ini. Setiap kali melihatku selalu mengundang perasaan dan hanyut di dalamnya. Kali ini dadaku sakit sekali saat dari celah tangannya mengalir air matanya. Apa tampangku semenyedihkan itu?

__ADS_1


Dia khawatir denganku? Aku lebih khawatir dengannya.


__ADS_2