Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3


...[Sky Tulip ( Pinterest) ]...


Masih dengan latihan pedang dan seketika Ratu Zeline meminta Damanda berhenti.


Damanda menghentikannya dan akhirnya selesai sampai sini Damanda sangat senang Damanda diajak Ratu Zeline ke meja untuk minum teh dan juga makan makanan kecil.


Ketika melihat airnya Rhapael tak di sentuh Ratu Zeline paham dan memberikannya pada Damanda saja. Damanda meminumnya pelan sambil duduk lalu merasa lega sadar sikapnya sedikit membuat ratu Zeline terkejut ketika merasa lega setelah minum. Damanda mengangguk dan tersenyum malu.


"Kalian bisa tinggalkan kami dan berikan kuda untuk kami di tempatnya," ucap Ratu Zeline. Seperti terlihat tidak ingin membuang kesempatan Ratu Zeline terlalu banyak membuat kegiatan untuk Damanda.


Seketika akan memakan kueh Ratu Zeline melepas kalung liontin merah dari lehernya dan mengalungkannya pada Damanda perlahan


Damanda terkejut tapi, tidak bisa berbuat apapun ketika selesai. Damanda baru bicara.


"Yang mulia ini, bukannya tidak suka Maaf, tapikan ini milik anda dan saya..."


"Damanda," ucap Ratu Zeline lembut.


"Maaf Yang mulia."


"Hem.. Bagaimana aku mulai menjelaskan tapi, berhubung aku punya waktu denganmu, Kalung itu sebenarnya ada sihir pelindungnya perjalananmu dengan yang lain akan berlanjut ke Timur kenapa kau tidak tinggal karena Rhapael membutuhkanmu, Rhapael pasti akan membutuhkanmu disana."


Damanda menatap tidak mengerti dan malah bingung dengan ucapan Ratu Zeline yang berputar aneh beda ini itu dan Rhapael liontin, sihir pelindung ada sihirnya.


"Maaf tapi, apa hubungannya memangnya bagaimana?" Damanda bertanya dan menatap harap pada ratu Zeline dengan mata yang melebar.


"Tidak semuanya harus di jelaskan Semuanya akan terjadi jadi jangan banyak menduga sesuatu biarkan semuanya berlalu. Damanda kamu adalah hal berkaitan dengan Rhapael jika Manda tidak membawamu maka aku yang akan membawamu pada Rhapael," ucapan Ratu Zeline semakin aneh.


"Tapi, Yangmulia. " Damanda menghentikan ucapan ketika Ratu Zeline berdiri dari duduknya.


"Jangan katakan pada siapapun tentang ini dan jangan laporkan jika aku memanggil Rhapael tanpa embel embel pangeran." Damanda terdiam wajahnya heran.


'Anda Ratu dan aku rakyat jelata, Jelas tak masalah walaupun ada yang dengar, bagaimana lah, aneh sekali,' pikir Damanda.


Ratu Zeline melangkah di ikuti Damanda. Mereka pergi ke tempat latihan berkuda tampatnya tenang sepi, apa sebenarnya tidak ada kesatria di sini atau ada alasan dasarnya.

__ADS_1


"Maaf yangmulia Tapi, kenapa tidak ada kesatria atau apapun di sini kenapa tempatnya... sepi," ucap Damanda. Ratu Zeline tersenyum terus melangkah mendekati kuda yang sudah di siapkan dan meminta pengurus kuda wanita dan lelaki membantu Damanda naik.


Setelah naik. Lelaki pengurus kuda membatu menuntun kudany untuk Damanda lalu Ratu Zeline melihat dengan kudanya.


Ratu Zeline memperhatikan Damanda sampai ketika Damanda minta berhenti dan akhirnya terduduk lemas.


'Padahal sudah di tahan tapi, kenapa masih mual sih, ahk... Tidak nyaman ini!' Damanda memegangi kepalanya yang pening. Seketika telapak tangan kanan Ratu Zeline menyentuh kepala Damanda dan mengusapnya sampai belakang juga membantu Damanda berdiri.


"Lebih baik," ucap Ratu Zeline Damanda berdehem menoleh dan mengangguk.


'Aneh.. kok ilang, kemana pening dan rasa mual itu, apa jangan-jangan Ratu Zeline ini ajaib,' Pikir Damanda.


Mereka melanjutkan berkuda kembali tidak lama kalung itu bersinar dan membuat Damanda menaiki kuda dengan lancar, eh kenapa ada apa yang terjadi. Damanda bingung sendiri rasanya Damanda bisa menaikinya sendiri.


Beberapa jam Damanda menaiki kuda dari berjalan santai sampai di tengah hari dan hampir berganti malam Damanda turun dari kudanya dan berjalan menghampiri Ratu Zeline.


Damanda sangat senang dan berterimakasih Ratu Zeline mengangguk mengerti dan mempersilahkan Damanda pergi.


Setelah Damanda pergi Elina muncul dan mengambil pelana kuda yang Ratu lepas dari kudanya.


"Sepertinya akan ada hal baru yang mewarnai kisah kerajaan damian dan pedang itu," ucap Elina.


"Yaa Bisa dibilang seperti itu, aku kemari karena mendapat kabar jika Marcus dan Tristan sampai disini kemari. Lelah aku bersama mereka berduaengoceh tak karuan yang mendengarnya mungkin sebal," ucap Elina.


"Jangan terlalu menekan adik-adikmu mereka itu pasti butuh hal baru agar mereka paham. Kau seperti tak kenal mereka," ucap ratu.


Elina tersenyum aneh dan meringis. Pergi dari arena latihan kuda dan melangkah melewati lorong Damanda tak sengaja melihat Rhapael terjatuh berlutut dan memegangi kepalanya.


Ratu Zeline dan Elina menghentikan langkah mereka.


"Kita tidak bisa mencegah ini jika ini waktunya dan bukan esok, Maka, Damanda dan Rhapael akan..." Ratu Zeline menghentikan ucapannya dan menatap Elina.


"Aku mengerti maksudmu tapi," ucap Elina.


Ratu Zeline menggeleng. Pertanda jangan melanjutkan ucapan ragu dan ketakutan itu sampai selesai.


Marcus dan Teristan mendecih.

__ADS_1


'Apa aku merasakan hal aneh, tidak mungkinkan jika ada mereka disini,' pikir Marcus merasa ada bangsa Imortalia lainnya di dalam istana ini.


Damanda berjalan cepat menghampiri Rhapael. Seketika wajah pucat Rhapael dan mata merahnya memamerkan kemenangan dari raut wajahnya.


'Ayo Darah Guarding mendekatlah bersama pedangmu,' pikir seorang yang berlutut lemah memegang kepalanya.


"Ada apa denganmu, eh..." Damanda mendekat seketika bahunya dan seluruh tubuhnya berputar dan seketika itu Rhapael asli dengan mata birunya dan taring tajamnya menempelkan bibirnya dan bibir Damanda.


Seorang yang berlutut dan memegang kepalanya itu terkejut ketika suara dan lehernya terasa tercekik.


'Apa! Apa yang terjadi?'


'Ada apa kenapa? Aaargh... Aku,' lelaki dengan mata merah itu diangkat Rhapael keatas dengan di cekik tanpa di sentuh dan membuat suaranya menghilang.


Damanda mundur perlahan dan seketika mendorong kasar dada Rhapael, tidak berpindah dengan dorongan Damanda raut wajah Rhapael malah aneh. Damanda membenturkan alisnya ketika berbalik Damanda terkejut.


Mata Rhapael sudah berubah lagi berwarna coklat ketika Damanda menatap wajah Rhapael ke atas.


"Loh.. Ke.. Eh.. kok Mana yang, Tadi itu ada kok kamu, Pangeran Rhapael!" Damanda menghentak kesal.


"Jangan menggangguku lagi." Damanda menatap tajam.


"Apa... jangan menggangguku lagi, Heeh Tuan tampan kau ini terlalu sombong aku itu melihatmu tapi, kenapa malah Haaaah.... Kemana ciuman pertamaku," katanya kesal seketika sadar ciuman pertamanya hilang dan walaupun hanya kecupan lama itu sudah sama saja bagi Damanda membuat dunia Damanda berhenti seketika.


Damanda pergi meninggalkan Rhapael.


Sekarang Rhapael ada di luar istana di halaman jauh dari banyak orang yang berlalu lalang.


"Apa yang kau lakukan Dasar Imortalia," ucap seorang dengan wajah mirip Rhapael tapi, matanya merah. Rhapael memperlihatkan lagi mata birunya dan taringnya.


"Pergilah jika kau masih mau hidup lebih lama." Rhapael berdiri tegap menatap tajam kearah orang yang mirip dengannya.


"Jika tidak maka.... Aaarg..." Seketika Jantungnya sudah ada tangan Rhapael dan di bakar dengan api sihirnya.


Orang mata merah itu kesakitan dan seketika berubah menjadi abu dan hilang di bawa udara.


'Liontin merah itu membawanya kemari, Ratu Zeline.'

__ADS_1


Rhapael terdiam menatap udara yang berlalu di sekitarnya.


Dari tempatnya berdiri Ratu Zeline menatap punggung Rhapael.


__ADS_2