Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3


Damanda menangis.


Tidak sekarang! Kenapa Damanda menangis sekarang.


Damanda menghampiri Rhapael. Di saat itu juga suara saling bersahutan di kepala Damanda, tentang sesuatu buruk akan segera terjadi pada Rhapael, Damanda langsung menangis saat itu juga.


'Tidak, jangan sekarang hal buruk itu tidak boleh ada yang terjadi. Rhapael sangat baik Rhapael hanya perlu dengan tahta dan juga kerajaannya pedang ini juga kenapa sulit sekali jika aku memberikannya sekarang.'


Damanda mendekat melihat Rhapael mencekik orang itu dengan keras dan merobek dadanya mengambil jantungnya paksa.


Rhapael bangkit dan mencabut belati ungu dengan permata ungu itu lalu meremukkan jantung lelaki yang sudah membuat serigala menyerang Damanda dengan sangat berutal dan mengerikan.


Belati itu pecah patah dan berserakan diatas tanah lalu hilang seperti asap.


Rhapael berbalik dan saat itu juga tubuhnya lemah terhuyung jatuh ke depan Saat itu juga Damanda menyanggah Rhapael agar tidak langsung jatuh ke tanah.


"Pangeran," ucap Damanda panik. Limino segera membantu Rhapael dan Marcus juga Tristan membantu. Marcus dengan jubahnya mengambil dan menggendong Damanda membawanya pergi.


Rhapael di bawa oleh Limino dan Tristan. Semuanya usai sampai disini.


Lelaki rambut coklat ikal gondrong itu berubah seperti abu dan menghilang.


Di ruangan kamar Damanda. Marcus dan tristan.


"Kita tidak bisa membiarkan Pangeran bertambah lemah." Marcus kesal pada Tristan.


Marcus menatap dengan tatapan seorang yang kesal jika ada orang lain memaksakan kehendaknya pada orang yang sedang sakit. Tristan meminta pada Marcus untuk berpikir dan membuiarkan Darah Damanda di ambil Rhapael. Tapi, tidak seperti itu juga Rhapael pasti menolak dan marah.


"Tapi, tidak ada cara lain jika Damanda adalah kesempatan terkhir Rhapael," ucap Sultan yang kali ini masuk ke dalam kamar Damanda tiba-tiba dan ikut menyanggah ucapan Tristan.


"Kita semua tahu benang merah yang terhubungan dengan Damanda dan Pangeran Rhapael kalian, Ratu Zrline bahkan sudah mewanti-wanti tentang hal ini yang akan terjadi," ucap Sultan lagi.


Damanda yang sebenarnya sudah sadar samar-samar mendengar semua ucapan mereka.

__ADS_1


'Aku tidak bisa seperti ini.'


'Rhapael seperti itu karena aku, aku berjanji dengannya baru saja untuk menjaga pedangnya dengan baik, kalau dia saja tak selamat bagaimana dengan pedang ini.'


'Aku harus bangkit harus.'


Bicara sendiri dan hanya dirinya yang tahu tentang semua ucapannya Damanda perlahan membuka matanya memaksakan penglihatannya fokus.


Dengan lemah Damanda mencoba bangkit dan mencoba untuk duduk.


Marcus langsung sadar Damanda bergerak untuk bangun langsung bergerak dan membantu tapi, Damanda melarang dan seketika akan terjatuh pelayan wanita refleks untuk menahan. Damanda menolak lagi.


"Aku tidak apa-apa." Damanda duduk. Marcus dan Tristan sadar sinar Liontin merah itu seperti melakukan pengobatan untuk Damanda.


"Dimana..." Damanda mengangkat wajah menatap Sultan Marcus dan Tristan.


Damanda menatap ke tiganya dengan tatapan penuh harapan.


Di dalam kamarnya Rhapael duduk dengan mata biru dan nafas tersenggal seperti masa dimana seorang bangsa imortalia ingin segera menghilangkan dahaganya. Tapi, sekarang Rhapael tidak bisa dan harus menahannya sampai rasa itu hilang seharusnya tidak sekarang perasan haus itu melanda. Tapi, sampai kapan perasaan ini datang, Ia tidak boleh minum darah Ia tidak bisa meminum darah siapapun, Ayahnya sendiri mengajarinya untuk menahan perasaan ini.


Rhapael bangkit dengan lemah bersandar pada pinggir ranjang untuk berusaha berdiri. Limino menjaga depan pintu.


"Damanda." Limino menghalangi Damanda yang akan masuk ke dalam dengan pedang. Sebelumnya Damanda berdebat dengan keras pada Marcus hingga Akhirnya Marcus mengizinkannya dan mengatakan semoga saja Rhapael bisa mengatasi sikap anehnya ketika Damanda datang padanya.


Tatapan mata Tajam Limino dan damanda saling beradu. Dari sana terlihat Marcus Tristan dan Sultan bersama para pelayan datang.


"Jangan masuk, Pangeran sedang tidak bisa di ganggu dan semua ini karenamu, jika kau tidak sembarangan dan ceroboh, yangmulia mungkin tidak akan seperti ini," ucap Limino dengan benci. Damanda mememgang pedang itu dengan keras sambil menatap marah Limino.


"Aku tahu ini adalah kesalahanku, jika kau membuatku menghindari masalah ini maka kau juga akan kehilangannya dan aku akan hidup dengan rasa bersalah. Biarkan aku masuk Sekarang!" Limino menentangnya dan tidak mengizinkannya.


Rhapael menyeringai dnegan taring tajamnya menatap lantai.


'Rasanya sangat segar.' Rhapael meneguk ludahnya kasar. Sudah kering rasnaya tenggorokan ini.


Seketika Marcus menarik Tangan Damanda pelan. Bisa bahaya jika Rhapael tahu dan melihat Darah Damanda keluar.

__ADS_1


Darah sudah terlihat di telapak Tangan Damanda. Pedang juga terlihat ada noda darah dari Damanda.


"Limino biarkan Damanda masuk," ucap Sultan dengan wajah yang tegas dan kencang.


"Tapi, bagaimana jika..." Limino terkejut dan menghentikan ucapannya ketika Damanda masuk dan menutup pintu dari dalam.


Didalam ruangan.


Damanda terdiam menatap Rhapael yang terduduk di lantai dengan lemah.


Di luar ruangan Tristan langsung membersihkan darah Damanda dengan sihir penyamaran dan membersihkannya dengan daun apel hitam.


"Kau gegabah Limino," ucap Marcus.


"Darah Damanda Tidak boleh keluar begitu saja. Kalu dan Darah itu sangat menyatu, Bisa-bisa itu membawa bangsa imortalia datang dan memanfaatkan Darah Damanda untuk mengambil pedang itu." Kesal Tristan menimpali ucapan Marcus.


Marcus menoleh pada Limino dengan tajam.


"Ini semua demi kebaikan pangeran jika sampai Damanda celaka Pangeran juga akan menyalahkan dirinya dan kita juga tidak bisa menahannya, kita cuman manusia." Alasan Limino membuat Marcus dan Tristan terdiam.


"Sekarang kita hanya bisa menunggu apa yang terjadi di dalam, jika yang di kabarkan sepertinya wanita itu lebih berani dari informasinya," ucap Sultan menatap ketiganya.


Di dalam Damanda membeku ketakutan meneguk ludahnya kasar dan pergi mendekat. Damanda sedikit merasa tercekik di leher dan nafanya serasa sesak. Rasanya ruangan ini dingin dan menyeramkan.


"Rhapael," ucap Damanda memanggil dengan suara bergetar di paksa berani.


Rhapael tetap diam seketika Damanda mendekat lebih dekat lagi dan menyentuh bahu Rhapael dengan tangan yang tidak sakit dan bersih dari darah. Damanda tidak merasakan apapun dan leher Rhapael terlihat berwarna hitam dengan urat menjalar.


"Rhapael," panggilan Damanda lagi. Seketika Rhapael bangkit dan berdiri dengan sempoyongan.


Damanda ingin meraih dengan kedua tangannya seketika di pegang Rhapael.


"JANGAN SENTUH DAN MASUK KE DALAM!" Rhapael.membentak Damanda dan mendorongnya hingga mundur beberapa langkah.


Damanda sedikit kaget dan tak suka tapi, ini Rhapael sedang dalam masalah.

__ADS_1


Damanda mendekat lagi seketika Rhapael mundur menghindar.


"Jangan dekati aku, Darahmu... Darahmu... Aaarg..." Rhapael mengerang sakit dan terbatuk hingga jatuh berlutut kelantai dengan banyak keringatnya juga menetes jatuh kelantai seperti orang yang habis olah raga dan bekerja keras.


__ADS_2