
Di istana Damian sangat marah hingga membuat para pelayan kesakitan karen ulahnya seketika itu Damian di hentikan Rhapael dengan kekutannya tanpa menyentuh mencekik Damian menempelkan pada dinding.
"Ayah aku ingin jadi kuat bukannya darah manusia bisa membuat Akh.." Katanya dengan setengah tercekik dan berusaha lepas tapi tidak tahu apa yang harus di lepaskannya karena tali ini tidak terlihat dan mencengkram lehernya pun tak terlihat.
"Aku mengajarimu untuk menjadi pewaris tahta selanjutnya dengan baik, aku memberikanmu nama Kakekmu agar kau bisa menjadi lebih baik, memang payah,"Kata kasar Rhapael selalu membuat Damian tersakiti.
Ketika akan mendekat seketika itu mata biru Rhapael muncul dan membuat cekikan di leher Damian semakin kencang.
Seketika itu Limino masuk dan membuat Rhapael melepaskan cekikkannya.
"Damanda dan Daman sudah bertemu dengan Tristan dan juga Marcus. Dan ada dua orang yang ingin bertemu dengan anda Tuan," kata Limino dengan sangat tenang.
Damian terbatuk dan seketika itu pingsan. Limino menatap kasih tapi, Rhapael tidak mengizinkan siapapun menyentuh Damian tanpa izinnya.
*
Daman kembali dengan Elina sudah sangat berantakan sampai ada daun tersangkut di kepala Daman. Daman melangkah masuk bersama Elina. Seketika melihat ada Marcus Tristan Damanda sedang bicara Elina sadar tidak tepat jika Daman tahu dan langsung membalik badan Daman mengajaknya untuk bersih-bersih badannya juga mengganti pakaiannya.
Marcus dan Tristan terdiam lalu Damanda menatap keduanya.
"Jika hanya diam saja aku lebih bosan."Kata Damanda sedikit membuat Marcus kesal. Masalahnya Marcus itu tidak bisa bicara membujuk seseorang tapi ini malah di minta untuk membujuk.
"Hem Damanda. Aku Yakin kau pasti punya pilihan lain selain tempat ini dan atau hal yang ingin kau tinggali," ucap Marcus sepertinya merasa salah bicara Tristan menyikut lengan Marcus.
__ADS_1
"Kau salah bicara Bodoh." Kata Tristan kesal.
"Kalo gitu kau saja aku malas sebenarnya," ucap Marcus. Damanda menarik nafas dan menghelanya.
"Apa maksud kalian aku di usir dari wilayah ini," ucap Damanda. Seketika Marcus dan Tristan saling menatap.
"Bukan begitu tapi, kau pasti paham Damanda jangan berpura pura tak paham aku tahu kau paham maksud kami." Kata Tristan kali ini.
Seketika, Damanda termenung menundukkan wajahnya. Tristan menganggukkan kepalanya dan berdehem.
"Kami tahu Sudah beberapa tahun ini kau pergi dan kau sudah bersama Daman sampai umur tiga tahun. Damanda? Pikirkan lagi aku tahu kau pasti punya hati nurani yang besar kau ini orang baik Damanda. Kau pasti bisa melakukan apa yang Ibu Damian tak bisa lakukan." Kata Tristan bijak kali ini. Marcus sampai terheran heran, kembali lagi ke situasi serius mereka.
Damanda mengangkat wajahnya seketika matanya terlihat berkaca-kaca air matanya menumpuk banyak di kelopaknya tak sabar untuk jatuh dan membuat jalannya air mata jatuh ke bawah.
Damanda bangkit dan pergi berbalik meninggalkan Marcus dan Tristan sadar seketika Damanda melihat ada Daman di belakangnya berdiri dengan Elina mematung terdiam.
Elina melihat wajah Damanda sedih seketika menatap Marcus Tristan bergantian. Elina menatap tajam Seketika gelengan kepala keduanya membuat mereka bertiga bernafas lemas.
"Hemm.. Daman Ucapakan selamat tinggal Paman dan Bibi akan pergi. Ayo," ucap Damanda mengajak Daman menatap Tristan Marcus juga Elina sebelum kembali.
Daman tak bergerak karena takut menghampiri Tristan dan Marcus. Damanda pun turun tangan menuntun Daman mengajaknya bersalaman sebelum ketiganya kembali ke istana.
Daman dan Damanda mengantar Marcus Tristan juga Elina ke depan.
__ADS_1
"Aku tahu sulit, mengangatakannya padamu. Sebenarnya Damanda. Damanda, Sebenarnya alasan kami kemari adalah Groures dan Green meminta kami membujukmu, mereka berdua tak tega jika bicara terus terang padamu tentang ibu Damian. Mungkin sekarang mereka juga sedang membuat Yangmulia Raja mengerti, mereka sedang mencoba bicara pada Raja."
Damanda menggendong Daman dan mengangguk dengan senyuman.
Elina menghela nafasnya lagi lemas dan tersenyum pada Daman juga melambai dengan senyuman lebar.
Daman dan Damanda menatap kepergian Marcus Tristan juga Elina. Mereka menaiki kudanya dan melangkah pergi dari sana.
*
Di istana Rhapael yang baru pergi dari kamar Damian kini memasuki ruangannya bersama Limino ketika itu melihat dua kaum bison yang sudah lama di percaya menjaga Damanda dan Daman dalam tempat tinggal mereka. Sebenernyata Ratu Zeline tidak memberi tahukannya tapi, Rhapael tahu dengan sendirinya dari patroli Limino di hutan.
Lalu dua kaum bison yang di asingkan Kaumnya ut di panggil ke istana tanpa sepengetahuan Damanda. Mereka di beri pekerjaan upah dan juga pendapatan bulanan untuk membiayai kehidupan Damanda dan Daman bahkan mereka sering melaporkan perkembangan Damanda dan Daman tanpa sepengetahuan Damanda juga jika sebenernya Rhapael telah tahu keberadaannya dan selalu mengawasinya.
Damanda dan Daman tidak tahu itu, mereka hanya tahu jika Green dan Groures bekerja di istana karena keberuntungan mereka berbuat baik.
Di sini di ruangan Rhapael. Groures dan Green duduk saling berhadapan pada Rhapael yang menatap mereka tajam.
Groures menguatkan dirinya untuk bicara pada sisi sensitif Rajanya.
"Yang mulia Anda harus menguatkan hati anda tentang nona, jika Yangmulia masih menutup pintu hati juga mengakui perasaan anda pada nona, kami sendiri tidak bisa juga melihat kesedihan bersampul kebahagiaan tanpa masalah, kami semakin sedih. Wajah nona hampir tak pernah ada kesedihan setelah waktu itu," ucap panjang Groures dengan perani menatap sayu berharap ucapannya mempan pada Rajanya. Tapi, hati beku tetap sulit di cairkan jika caranya tak tepat.
Groures menatap Green berisyaratkan padanya untuk bergantian mencoba bicara untuk kali ini.
__ADS_1
Green juga mengawali dirinya untuk berkuat diri bicara pada sisi sensitif Rajanya.
"Jika semua terlambat itu akan membuat Yangmulia pangeran Damian semakin tersakiti dan semakin membencin anda Yangmulia Raja." Kata Green dengan pelan dan wajah tak sanggup menatap wajah Rajanya yang perlahan luruh sedih dan berusaha di kuatkan.