
Damanda terkekeh dan mendorong dada Rhapael dengan satu telunjuknya.
"Jangan bicara omong kosong, aku tahu kau itu imortalia, memangnya aku mau dan menyukaimu, aku disini karena tubuh ini dan ya, jika kau bisa kembalikan aku dan berikan tubuh ini pada pemiliknya silahkan aku tidak masalah, kalian semua memiliki keunikan ke istimewaan kalian tahu jika yang ada di dalam tubuh ini bukan pemilik tubuh ini, Kalian semua sebenarnya jahat bermain baik atau memang benar benar baik."
Rhapael terdiam dan kembali meneggakkan tubuhny Rhapael menatap lamat Damananda dan menyentuh ke dua bahu Damanda.
"Maafkan aku, aku bahkan tidak ingin Marcus ataupun Teristan juga Limino ada di pihakmu aku juga tahu rasa lelah dan tidak bisa hidup tenang aku tahu itu tapi, satuhal saja... Jika aku bilang untuk menjauhiku jauhi aku jangan pernah mendekatiku karena aku bukan manusia, iya Aku tahu Ratu Zeline memberikan kalung itu karena pesan ibuku, Aku menyembunyikan perasaan nyamanku darimu tapi, jangan balas perasaan nyaman ini dengan kau terus mendekatiku, aku sulit dan merasa lebih tahu diri jika kau manusia dan aku imortalia. Kesalahan yang ayahku lakukan, kesalahan dari bangsa Imortalia lainnya tak bisa aku lakukan di kehidupanku, seharusnya Kami hidup sendiri menyendiri tanpa pasangan atau keluarga."
Tunggu dulu Damanda kenapa jadi kemari semua pembahasannya tidak, tidak mungkinkan jika sekarang Rhapael menyatakan perasaannya pada Damanda.
Damanda menatap mata Rhapael seketika Damanda lepesakan kedua tangan Rhapael di kedua bahunya dan memeluk Rhapael.
"Tidak aku tidak membahas itu tapi, kenapa kau mengarahkan pembicaraan itu kesana. Apa aku keterlaluan, Aku tahu perasaan itu, kau pasti sulut merangkainya semua hal berkaitan denganmu semuanya seperti menjeratmu aku tahu aku tahu itu semuanya sangat tidak membuatmu nyaman, Aku tidak akan menyukaimu kita akan menjadi teman saja tapi, aku kan cuman bertanya kalung dan juga pembicaraan tentang Sultan." Damanda mengulangi beberapa kata juga kalimat yang pernah di ucapkannya.
"Aku memang kebingungan aku tahu aku terlalu agresif mendekatimu tapi, kau, kau.. lah yang pertama kali bisa bicara banyak padaku walau kadang di hadapan mereka kau selalu diam. Aku tak masalah dengan itu tapi, bisakah aku memahami kondisimu tanpa izin atau dapat izin darimu, kau juga harus bisa tahu aku karena kau tahu aku juga bukan berasal dari dunia ini, betapa asing dan anehnya aku sulit memahami sendiri tanpa teman bicara."
Damanda melepaskan pelukannya dan menatap Rhapael yang membuang wajahnya.
"Yaa... mungkin itu jawabanmu aku baru mengatakannya, Yaa... baiklah tak masalah, Kau sulit di pahami sebenarnya tapi, aku akan berusaha. Kedepannya juga aku akan mendaji penjaga pedang Vampirmu tanpa banyak menyentuh urusanmu maafkan aku, Aku juga tidak akan mendekatimu lagi, Terimakasih sudah menyatakan perasaan yang kau pendam."
Damanda melangkah pergi Seketika itu mata biru Rhapael menatap kedepan keluar dari jendela yang sekarang ada di hadapannya.
Rhapael terdiam dengan posisi itu.
Tidak bisa menangis ataupun bicara tentang segalanya. Setidaknya menjauhnya Damandan tidak mendekatinya itu sudah lebih dari cukup. Setedaknya ini kedua kalinya kalung itu dan Damanda menempel padanya.
Jika suatu saat akan ada bahaya. Rhapael juga tetap harus membantu Damanda. Jika sudah menjadi Raja pun Rhapael harus melupakan Damanda.
__ADS_1
Ketika menjadi Raja pun Rhapael harus mengngat Damanda sebagai Teman dan penjaga pedangnya.
...[Sky Tulip (Pinterest) ]...
Seperti Catur yang harus ada salah satu bidak yang di kalahkan begitu juga perasaan pribadi yang tak penting tentang Damanda dan Rhapael harus mengalakan itu untuk membuat Damanda hidup bahagia ke depannya. Rhapael yakin jika Damanda pasti akan bahagia tanpa dirinya. Atau bisa jadi Logika Rhapael akan membuat Rhapael lebih tenang dan melupakan Damanda sepenuhnya.
Damanda juga aneh kenapa juga mengurusi urusan Rhapael kenapa? Damanda aneh.
Sekarang Damanda berjalan pelan di lorong dengan di terangi cahaya bulan Damanda menatap lantai dan menatap sedih ke arah bulan.
Damanda tersenyum getir dan terduduk di lantai sambil bersandar pada tembok di belakangnya.
Salah... memang salah, semuanya karena Damanda yang terlalu ingin tahu sekarang semua jadi canggungkan gara-gara bertanya tentang hal yang tidak Damanda tahu.
Damanda kembali bangun dan berjalan lagi. Seketika akan berbelok Damanda melihat dua perajurit dan satu pelayan sedang bicara. Damanda bersembunyi di balik tiang pilar besar dan menutup mulutnya.
"Iya.. aku tahu itu, kurasa dia juga memiliki pedang yang di bicarakan seluruh wilayah dan juga memakai kalung merah. Kurasa dia memang Guarding," suara lelaki yang terdengar besar.
"Apa dia sangat dekat dengan putra dari Ratu Alexa? Kurasa tak mungkin karena kata pelayan yang membantunya merias sifatnya jauh dari yang di rumorkan!" Suara wanita itu lagi.
"Aah.. yaa aku ingat jika kalung itu bukannya pernah di pakai Ratu Alexa dari Ratu Zeline. Sekarang kenapa aku merasa kalung itu sama dengan yang di pakai si Guarding itu," ucapnya beda suara dari perajurit pertama.
Ketiganya terdiam dan seketika saling menatap.
"Apa mungkin dia yang di rumorkan akan menjadi ratu berikutnya, karena Ratu Alexa dari Ratu Zeline dan guarding itu mungkin saja juga." suara wanita pelayan itu.
__ADS_1
"Sudahlah lagi pula untuk apa kita membicarakan hal yang kita tak tahu," ucap salah satu suara lelaki itu.
Mereka pergi meninggalkan tempat itu. Damanda duduk sendirian di sini.
'Adakah yang bisa memberi tahuku aku sangat bingung sekarang?'
'Aku memang bukan dari sini tapi, semua ini tidak ada yang memberi tahuku aku di minta menjaga pedang sampai Rhapael menjadi rajanya. Sampai kapan tapi,' pikiran Damanda sangat pusing memahami semuanya.
*
Damanda kembali kekamarnya seketika Damanda melihat orang asing yang sangat aneh.
"Kau, siapa?" Damanda mendekat perlahan.
"Harum mu sangat menyenangkan rasanya aku ingin darah itu darimu lalu menguasai pedang itu, Kau itu naif dan sangat polos." Lalaki itu berucap dengan nada sensual yang serak.
Damanda yang melangkah maju kini mundur.
"Aku tahu kau sangat sedih.. aku bisa mengiburmu dengan caraku bagaimana lalu kau akan pergi bersamaku," ucapnya lalu berbalik menghadap Damanda.
Senyuman miring yang aneh sangat mengerikan walaupun wajahnya tampan dan sangat membuat kaum hawa terpesona tapi, Damanda tidak terpesona Damanda lebih suka wajahd ingin datar dari pada penuh senyum.
Tidak tahu kalo Rhapael yang seperti itu, Aaaih.. Kenapa malah memikirkan Rhapael harusnya Damanda memikirkan bagaimana cara keluar dari sini.
"Jangan terlalu gugup, Sekarang kau serahkan pedang itu lalu Kau akan aman aku janji," ucapnya lagi.
"Mana ada wajah ngomong janji tapi, seprti punya rencana untuk menipu, Dasar aneh." Berani sekali Damanda. Ah.. ya.. Lupa Damanda yang tersudutkan beda dengan Damanda yang tenang.
__ADS_1
"Menarik, Ternyata kau lebih berani dari dugaanku," ucapnya melangkah mendekat. Seketika Damanda menyrmbunyikan pedang di belakang punggungnya.
Lelaki itu tersenyum dengan sangat aneh semakin aneh ketika sesuatu muncul dari jendela ruangannya dan ternyata itu srigala yang sama yang menyerangnya di hutan perbatasan.