Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3


...[Sky Tulip ( Pinterest) ]...


Rhapael berdiri dari duduknya di dalam ruangan Ratu Zeline.


"Kenapa Pangeran kau ragu, Aku tidak membuat takdirmu sama seperti sang Raja Damian tapi, itu adalah sudah benang merahmu dengan wanita itu, Aku juga tahu kau berpikir itu tentang... Hem sesuatu yang aku tahu, ia harus mencari siapa dirinya di dunia ini," ucap Ratu Zeline dengan wajah yang tenang. 


Limino disana seperti obat nyamuk.


Limino sebenarnya curiga siapa yang sedang di bicarakan kenapa membawa wanita dan benang merah tapi, Limino akan menyimpan untuk dirinya sendiri.


'Apa mereka membicarakan wanita Guarding itu?' Melayang kemana-mana pikiran Limino sampai mengenai tentang Damanda.


"Yaa.. Walaupun aku tahu itu di hadapan akan menjadi sebuah pilihan untuk mu, Darahnya juga ada darah keturanan mu di masa depan dan akan terpisah lalu kalian akan bertemu dalam perbedaan yang sangat jauh," ucap Ratu Zeline.


Rhapael menatap Ratu Zeline dengan wajah yang cukup santai.


"Aku tidak akan memiliki rasa padanya ataupun menikah dengan siapa pun," ucap Rhapael lalu pergi membawa buku itu keluar lalu pelayan lelaki didepan mengikuti Rhapael dan Limino juga keluar mengikuti Rhapael.


Ratu Zeline tersenyum dengan raut wajah yang misterius.


'Tidak akan bisa kau menghindar Pangeran karena itu sudah terlihat jelas. Walaupun kau mengubahnya rasa sakitnya akan jauh lebih dalam dan membuatmu bisa mati dengan caramu,' pikiran Ratu Zeline menatap pintu yang tertutup.


Seketika bayangan dimana Seorang wanita dengan rambut hitam bergelombang cantik dengan hidung dan tatapan sama seperti Rhapael terhanyut dalam rasa tidak suka mata coklat itu mengerling malas.


'Rasanya aku melihatnya dalam diri Pangeran, Perempuan menyebalkan juga keras kepala itu ternyata ibu dari pria tampan yang barusan keluar dari ruanganku.'


'Aah... yaa aku baru ingat tentang mereka sekarang, ternyata nasipnya lebih baik dirinya bisa meninggal dengan baik.'

__ADS_1


Ratu Zeline menatap dan membaca berkas diruangannya kembali duduk tenang didepan meja kerjanya.


Damanda dan Marcus saling menatap dan terdiam beberapa menit.


"Baiklah kami tahu karena kami penyihir. Kau ini bertanya kenapa kami bisa tahu namamu," ucap Tristan kali ini sambil memakan apel.


"Iya.. Aku tahu aku paham itu," ucap Damanda dengan wajah yang biasa sedikit lesu.


Seketika itu Damanda mendapat sebuah ingatan milik Tristan tapi, tidak terlalu jelas karena langsung hilang saat suara ketukan pintu Damanda melangkah membukanya.


"Oh.. iya, sebentar." Damanda membukanya ternyata Limino.


"Nona datanglah ke ruangan ratu Zeline karena beliau ingin bicara," ucap Limino dengan wajah yang datar. Damanda mengangguk dan pergi.


Marcus dan Tristan menatap kepergian Damanda dan Limino.


"Ratu Zeline menetralkan istananya dengan sihir kuat miliknya," ucap Tristan membuat Marcus menoleh dan mendengus malas.


"Iya aku tahu sejak tadi aku mencoba tapi, selalu gagal, kemarikan apel hijau itu, aku ingin istirahat jangan ganggu aku, jika kau mau latihan pergilah," ucap Marcus lalu memakan apelnya dengan memejamkan matanya.


Tristan mengedikkan bahunya lalu bersandar dan diam seketika mengeluarkan buku pada lemari di bawah meja tempat meletakan buah-buahan.


Rhapael sekarang sedang ada di lorong sendirian tanpa ada pelayan yang melewati ruangan itu. Rhapael sudah berganti pakaian dengan layaknya seperti pakaian sehari-hari milik Pangeran tidak untuk acara resmi hanya kemeja putih dengan kerah tangan dan tanpa kerah leher ada tali di bagian belahan dada bidangnya dan tali di bagian bahu dan punggung seperti untuk hiasan sengaja terpasang dan tak terikat lalu celana panjang hitam dengan sepatu seperti untuk sehari-hari tanpa hak dan nyaman terbuat dari kain kaku dan pas dengan kaki Rhapael. Rambut Rhapael yang lurus hitam dan mata coklat itu terlihat sangat tampan.


Di tambah rambut yang selalu tampil alami tanpa di tata, menyembunyikan dahi lebarnya, Rambut Rhapael selalu pendek tidak pernah gondrong.



...[Sky Tulip ( Pinterest) ]...

__ADS_1


Rhapael berbalik dan menghadap jendela keluar dan melihat para pelayan juga prajurit yang berlalu lalang.


Ingatannya kembali melayang ketika ayahnya dan dirinya berjalan di taman dengan bergandengan melihat bintang lalu bulan purnama saat itulah ayahnya memperlihatkan rambut putihnya dan mata birunya dengan taring. Rhapael tergerak dengan ingatan yang sensitif itu. Ada perasaan sedikit terhubung di hatinya tentang Damanda.


'Kenapa saat ini aku memikirkan tentang Damanda. Aku tidak tertarik sedikitpun pada Darah Guarding itu,' pikirannya menatap cuaca pagi yang cerah.


Damanda yang sudah lama ada di ruangan Ratu Zeline dan bicara banyak seketika sadar dengan cahaya dari celah jendela.


"Kenapa cepat sekali siang?" Damanda bersuara pelan tapi, Di sadari oleh Ratu Zeline.


Ratu Zeline tersenyum dan menurunkan kaca matanya.


"Kau merasa waktu cepat ya, tapi, kau sudah ada di ruangan ini sampai pagi, terimakasih menemaniku lembur pekerjaan," ucap Ratu Zeline santai pada Damanda.


Mengangguk tersenyum malu.


"Santai saja lah, aku juga sudah sangat santai padamu, jangan terlalu kaku, aku menganggapmu orang terdekat walaupun baru pertama kali bertemu," ucap Ratu Zeline lagi dengan berdiri dan berjalan membuka Horden dan mempersilahkan cahaya pagi memasuki ruangan kerjanya.


"Anda sangat baik Ratu tapi, apa anda memiliki maksud maaf aku tidak bermaksud menyinggung hanya selama perjalanan ini kami bertemu dengan banyak Hal buruk tapi, ketika sampai disini perlakuan kalian sama seperti kami ini tamu terhormat," ucapan Damanda mengundang senyum lebarnya Ratu Zeline.


"Kau terlalu sensitif atau aku menyebutnya seperti terlalu waspada, kau walaupun dari hal yang berbeda kau ini tetap menjadi orang dengan banyak pradugaan dan juga sebuah kepercayaan yang sulit di tebak," ucap ratu Zeline.


'Apa nih.. dia bilang hal berbeda apa dia sama seperti Rhapael yang juga Vampier. Eh... jangan jangan dia itu penyihir tapi, Tristan saja biasa saja.' Pikiran Damanda melayang kemana-mana. Damanda berdehem dan mengangkat wajahnya menatap ratu Zeline yang berdiri didepan meja kerjanya san membawa dua pedang.


"Mari kita latihan berpedang, waktumu di istana ku akan lama. Para bocah itu sedang memulihkan tenaga dan sihir termasuk aku sudah memberi sedikit pelajaran padanya,' perkataan Ratu Zeline membuat Damanda sedikit tidak langsung tanggap mengerti.


Satu detik, dua detik, ting! Damanda seketika nyambung dan tersenyum tanpa sadar memeluk Ratu Zeline dan seketika sadar jika membuat orang terpandang terkena sentuhan kulitnya sembarangan.


"Maaf, Maafkan saya Yangmulia sa-saya sangat senang masalahnya kami bertiga sangat tidak akur terutama si rambut putih, eh.. maaf bukan anda tapi, dia," ucap Damanda dengan malu dan menahan nahan Nada suaranya pelan ketika mengarah ke Marcus Tristan dan tanpa sadar Ratu Zeline juga rambutnya putih.

__ADS_1


__ADS_2