
Marcus dan Limino masuk dengan membawa air makanan juga buah dan satu ramuan obat yang Marcus buat.
Damanda menoleh dan menatap apa yang di lakukan Marcus dan Limino dengan membawa semua itu.
"Minum ini dan jangan ulangi lagi," ucap Marcus pada Damanda. Seketika memberikan ramuan pada Rhapael juga untuk meredakan dimana rasa ingin meminum darah Damanda lagi, setelah Rhapael makan daging segar atau darah hewan lagi Rhapael akan seperti biasanya lagi.
Marcus sebenarnya cukup khawatir tapi, jika Rhapael Marcus percaya ia bisa dan mungkin liur vampir juga di jaganya agar tidak mengenai Damanda.
"Kau juga minumlah sekarang habiskan dan istirhatlah," ucapnya pada Rhapael. Damanda makan dengan acuh dan pergi keluar kamar Rhapael dan hampir menabrak pintu ketika akan menabrak pintu Damanda menahannya lebih dulu.
Rhapael, Marcus, Limino dan Tristan menatap dengan aneh dan hanya diam.
"Aku keluar," ucap Damanda. Tapi, terhenti ketika ingatan tentang pedangnya, Damanda berbalik dengan santai mengambil pedangnya dan berjalan lagi keluar lalu menghentikan langkahnya lagi mengambil manisan yang lain. Damanda dengan santainya sampai di kamar langsung memakan semuanya menghabiskannya lalu membersihkannya dan meminta tolong pada pelayan untuk membuang sisanya juga memberikan tiga potong manisan untuk upahnya. Damanda terdiam setelah beberapa detik mendudukan diri di atas kursi.
Damanda sedikit mengingat kejadian tadi.
'Aa... kenapa aku mengingat itu, Memalukan.'
'Tidak... Itu kemauanku harusnya tidak malu!' Dengan mengepalkan tangan kanan dan memukul telapak tangan kiri Damanda mengeraskan tekatnya untuk menahan malu.
Mengangguk pasti tapi,
'Tidak bisa aku malu sekali huwaaa... bagaimana bagaimana bagaimana ini.... kalo ketemu bertatapan haaah... Otak ayolah otak jangan mesum akkkh... kebanyakan nonton drama romantis terus dateng ke dunia lain eh malah di cium cowok ganteng, Ayolah... aku ini bingung memalukan.'
Damanda menangis batin bingung harus apa sangat malu dan aneh eh.. tapi, Damanda ingat sesuatu tentang lukanya dan juga meraba lehernya.
'Luka? Lukaku?, Aah.. iya.. Eh...ini tidak terlihat seperti akan menjadi kulit kering seperti luka kering yang seharusnya ini malah seperti luka sudah tertutup dan tersamarkan, Aku... eh leherku cermin,' Pikiran Damanda tertuju pada benda-benda itu dan seketika berdiri di hadapan cermin Damanda melihat lehernya hanya luka kecil seperti di sayat silet berukuran lima senti dan itu hampir tersamarkan sama seperti telapak tangan yang hampir sembuh padahal luka seperti ini akan ada drama perih guling-guling kalo cuci piring atau bisa jadi sulit melakukan sesuatu lah ini.
Damanda menggeleng. Tidak! Pasti Rhapael sengaja tidak menggigitnya dan hanya melukainnya dengan kukunya atau benda tajam, pastikan.
Damanda menatap luka di leher dan tangannya.
Damanda pergi ke kasur dan berbaring.
*
Di ruangan Rhapael semuanya hanya terdiam. Trustan dan Limino duduk sambil terdiam kadang menghela nafasnya.
"Kita harus mempercepat semuanya sebelum hal aneh terjadi lagi ini berbahaya untuk Pangeran," ucap Limino.
__ADS_1
Marcus setuju menganggukkan kepalanya dan menatap Rhapael yang berdiri menghadap keluar.
"Mereka sudah memulai hal yang bahkan kita sendiri saja tidak duga jika mereka bakalan menggunakan cara itu," ucap Tristan kali ini setelah mengunyah Apelnya didalam mulutnya.
"Pangeran apa anda punya hal lainnya," ucap Limino.
Rhapael berbalik dan menatap ketiganya.
"Satu-satunya cara aku langsung menghadapi Galen. Waktu kita singkat aku tidak ingin Menjadikan Damanda korbanku lagi, Wanita keras kepala itu harus aman," ucap Rhapael.
Mereka berempat saling diam setelah ucapan Rhapael.
Di kamar lainnya Damanda sudah tertidur dengan nyenyak.
*
"Datanglah jika kau ingin pergi jika kau tak ingin pergi jangan datang kemari," ucapan seorang wanita tua pada pada seorang anak kecil.
"Ayolah nak ibu ini sudah tua berikan saja apa yang di inginkannya," ucap Ibu lainnya menatap anak kecil itu.
"Tidak, Aku tidak ingin," ucap Anak lelaki itu berlarian menjauh dari sana dan menabrak Damanda.
"Yangmulia Nyonya sedang menunggu anda," ucap Panglima itu pada seorang anak kecil yang sudah berubah menjadi dewasa. Sekarang anak lelaki itu adalah seorang bangsawan.
Ketika Damanda mengikutinya pergi bersama panglimanya.
Seketika seorang gadis kecil dengan tersenyum lebar menariknya dan mengajaknya untuk pergi ke tempat yang banyak dengan pohon seketika semua berubah menjadi hitam lebat yang banyak dengan pohon-pohon besar.
Anak kecil perempuan tadi menghilang dan Damanda kebingungan berputar menatap kesekeliling tidak ada siapa pun seketika Damanda melihat seorang Lelaki dengan rambut coklat ikal pendek wajahnya tak asing, Tunggu itu adalah lelkai yang menyerangnya malam itu dengan para srigala besar yang eh, tunggu Damanda melihat wanita cantik yang akan di perlakukan buruk oleh lelaki itu.
Damanda mendekat seketika itu Seorang lelaki datang dan menyerang lelaki rambut coklat Damanda berhenti melangkah ketika sebuah tangan menyentuh bahunya.
Damanda terdiam lalu berbalik. Saat itu juga Hutan berubah menjadi tempat yang cerba putih dan ada sesuatu seperti kunang-kunang tapi, berwarna biru mengelilingi Damanda.
"Kamu Damanda, Maafkan putraku," ucap seorang wanita cantik Wajahnya mirip dengan Rhapael dan rambutnya juga hitam sama seperti Rhapael.
"Siapa, Kau?" Damanda terdiam tak bisa bergerak seketika sebuah tangan cantik dan lembut maraih tangan kana Damanda dan membawanya lalu menepuk-nepuk pelan tangan kanan itu.
Mengusap-usap punggung tangan Kanan Damanda dan berjalan mendekat perlahan lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Berbahagialah dengannya Nak, Aku ibu mertuamu, Aku sengaja tidak kembali dan menunggumu aku sengaja datang hanya untuk melihat bagaimana cantiknya menantuku," ucap Wanita itu.
"Haah... Ka-kau Ratu A-alexa Be-benar begitu," ucap Damanda seketika gagap karena tak menyangka hal ini.
Melepaskan pelukannya dan menatap dengan lembut wajah Damanda.
"Aku titip putraku dan pedang itu, Putraku harus bersama denganmu, kalian sudah terikat sejak lama. Aku senang kau membantunya jika sampai kau terlambat memberikan darahmu sebagai obatnya Rhapael akan menjadi Vampir yang haus darah manusia dan akan akan menjadi monster peminum darah sesungguhnya."
Wanita bernama Alexa alias Ratu kerajaan selatan , atau ibu dari pangeran Rhapael.
Mencurahkan isi hatinya dan pikirannya pada Damanda sekarang di pertemuannya kali ini, seperti sangat akrab.
Damanda sampai bingung harus menjawab apa tapi, mata biru itu tunggu seperti mata Rhapael dan tidak terlihat taringnya.
"Maaf yang..."
"Ibu.. Panggil aku ibu aku juga akan menjadi ibumu, Si Zeline itu memberikan kalung ini padamu kan nak, Jadi jaga baik kalung ini sebelum waktunya Kalung ini lepas darimu, Aku tidak akan datang lagi, Mana ku hanya sedikit dan aku gunakan di pertemuanku kali ini denganmu dan yang terakhir."
Seketika menghilang seperti butiran berlian dan serpihan Berlian. Damanda terdiam.
"Aku belum sempat bicara apapun tapi sudah pergi." Ketika Damanda mengangkat wajahnya seketika itu semuanya berubah menjadi tempat aula istana dan ini sangat menyeramkan.
Damanda juga melihat belati biru yang mirip dengan belati ungu itu tertancap di leher lelaki dewasa yang anak kecilnya berlari menabrak Damanda.
"Itu Anak kecil yang sama dan sekarang aku melihatnya terbunuh. Jantungnya dimakan dan," ucapan Damanda sama seperti yang di pikirkannya dan yang di ingatnya dari perkataan Rhapael.
"Kau datang kemimpiku atau kau ingin menyerahkan nyawamu, Guarding?"
Suara itu lelaki dengan mata merah dan berjalan mendekat wajah penuh darah dan habis memakan jantung lelaki itu.
Damanda berjalan mundur perlahan.
Seketika Leher Damanda tercekik seketika itu Damanda akan di gigit.
*
Sebuah kain jatuh menimpa seseorang yang sedang tertidur. Seketika itu Damanda terbangun dengan nafas ngos-ngosan dan melihat jika dirinya tertimpa kain kelambu yang bisa terpasang untuk melindungi tidur dari serangga malam.
Damanda terbangun menyingkirkan kain itu.
__ADS_1
Seketika pintu terbuka Damanda terkejut dan tak sadar siapa dia langsung berteriak.