
Damanda menatap nanar dengan tangan terangkat ke atas sedangkan tangan satunya memegang pisau dan seketika itu Damanda mengoreskan telapak tangannya dan seketika bau harum darah Damanda hampir menghilangkan Akal seluruh penghuni yang ada di ruangan ini termasuk Galen yang tidak sabaran.
"Heh.. Kenapa kalian menyukainya Ambilah tapi, kalian tak akan bisa memakai pedang ini," ucap Damanda dengan menatang.
Damanda terdiam seketika sebuah tatapan biru dari mata yang di kenalnya ada di depan pintu dengan nafas yang terlihat ngos-ngosan.
Galen terkejut karena Rhapael bisa lepas begitu saja dari orang suruhannya lalu bisa lepas dari labirin istana yang membuat seseorang tak akan pernah bisa keluar setelah masuk dan tidak akan bisa menemukan jalan keluar atau lebih buruknya akan mati.
Damanda di tarik berputar tanpa Galen sentuh untuk segera menjatuhkan setetes darah Damanda diatas permata pedang itu.
Seketika itu Rhapael menarik Damanda dan memeluknya. Galen merasa kesal kali ini.
"Dasar bocah tak berguna," ucap Galen dengan kesal seketika itu Gerhana tepat pada tempatnya.
"Rhapael, " ucap Damanda menatap wajah Rhapael.
Seketika itu Galen menyerang Rhapael hingga dirinya terbanting sangat keras dan seketika itu Rhapael akan mati .
Damanda menatap dengan wajah penuh perasaan yang bingung seketika jatuh berlutut.
'Tidak mungkin aku sendirian,' pikiran Damanda sangat buruk hingga kepalanya menggeleng menolak pikiran buruk yang lainnya berdatangan.
Seketika itu Damanda bangkit dan berbalik langsung mengambil pedang itu dengan tangan yang berdarah tanpa sadar menyentuh dengan permata yang besinar redup di campur dengan luka telapak tangannya.
Seketika itu juga satu ruangan di terangi cahaya yang silau hingga Damanda hanya bisa menatap menatap pedang yang di pegangnya. Rhapael segera bangkit dan bibirnya bergerak seperti mengucapkan sebuah mantra Rhapael bangkit dan berlari mendekat pada Damanda yang terjatuh seketika mencabut pedang dari sarungnya seketika itu akhirnya semuanya telah menghilang silau cahaya yang sangat terang tadi hilang seketika.
Galen menoleh seketika menatap Rhapael yang berdiri gagah dengan membawa pedang yang ingin Galen miliki sekarang malah menjadi milik Rhapael seutuhnya.
"Serahkan pedang itu padaku," Galen berlari untuk mengambil pedang itu seketika itu Galen tak bisa mengambilnya dan malah mendekat ke bayi itu.
"Jangan," teriak Damanda dengan cepat berlari dan mendekat seketika Damanda di lempar dengan sihir Galen hingga membentur dinding kencang.
Rhapael menatap itu sangat kesal Rhapael meletakan Damanda diatas meja batu dengan pelan lalu maju menghajar Galen.
Seketika itu semua maju menghalangi Rhapael seketika Damanda akan disentuh seketika itu semua tersengat sesuatu dan membuat mereka hangus dengan wajah yang hancur.
__ADS_1
Di luar sana Limino dan Tristan juga Marcus bisa menghabisi semuanya dan membuat mereka sangat bangga, lalu apa yang terjadi dan sekarang Rhapael, yaa.. diamana Rhapael mereka harus mencarinya.
Seketika itu cahaya matahari masuk dan membuat semuanya terlihat nyata berguguran di medan perang.
Limino seketika mendengar suara kaki kuda dan itu adalah kuda Elina dan pasukan penyihir lainnya.
"Di dalam akan banyak penyihir yang kalian hadapi," ucap Elina.
"Kami juga penyihir," ucap Marcus dan Tristan pada Elina.
Elina terkekeh.
"Iya.. Bocah aku tahu kalian bisa tapi, tidak dengan kekuatan kalian yang sekarang aku membawa empat temanku yang lainnya."
Mereka masuk bersama ke dalam istana dan prajurit lainnya mengganti bendera di menara sebagai bendera kerajaan Selatan yang selama ini jatuh dan tergantikan dengan bendera dari kerajan Imortalia.
*
Rhapael menarik bayi itu dari Galen tanpa melukai tubuh kecil nan mungil itu.
Rhapael membuat Galen terpojok di dinding dengan pedang itu yang seketika bersinar dengan warna merah ke unguan.
Bayi tadi tertidur diatas pelukan Rhapael seketika Rhapael akan menghampiri Damanda seketika itu Damanda tidak bergerak Rhapael semakin curiga dan mendekat.
"Damanda.. Damanda." Panggilan Rhapael berulang kali padanya tapi, tak ada tanggapan apapun seketika bayi itu menangis Damanda perlahan membuka matanya.
"Kau berhasil." Damanda menatap lemah seketika itu Elina datang dan seketika itu beberapa penyihir yang tahu siapa Elina langsung menyerangnya dengan sekali kekuatan keempat temannya mereka semua tumbang.
Elina menghampiri Damanda.
"Bagimana kondisinya apa..."
Damanda menggeleng.
"Jangan buat aku hidup dan selamat. Tidak apa-apa aku akan lebih baik tiada Anak ini adalah Guarding selanjutnya aku akan pergi." Ucapan Damanda yang lemah mengingatkan Rhapael pada detik-detik kematian ayahnya.
__ADS_1
"Jangan lagi, tidak.. Tidak Damanda jangan pergi," ucap Rhapael penuh dengan suara serak dan menahan tangisnya.
Damanda menggeleng.
"Aku sebenarnya bukan berasal dari sini Manda lah yang memberikan tubuh ini untukku, jadi kumohon pada kalian untuk, Uhuhukkk uhuk... Arkh.." Damanda terbatuk darah.
"Waktuku tak lama," ucapnya sambil tersenyum.
Damanda terdiam dengan nafas yang tak beraturan dan rasanya udara sekitar menipis.
"Kita tidak ada pilihan lain selain menukar nyawa." Kata-kata Elina membuat Marcus marah.
"Itu dilarang walaupun kau melakukannya itu tidak akan baik kau bisa menanggung akibatnya, Menukar nyawa hanya pemilik tubuh itu yang mengizinkannya jika tidak, kematian akan terjadi bersamaan," ucap Marcus dengan menarik urat marahnya.
"Tidak bisa jangan lakukan itu semuanya akan berakhir," ucap Rhapael seketika mereka yang berdebat menoleh.
Rhapael menggendong bayi dan meberlutut di hadapan Damanda yang sudah memejamkan matanya dengan tersenyum
pedang di samping Rhapael pun berhenti bersinar dan menjadi pedang biasa selama Rhapael ada didekatnya dan akan ada waktunya pedang itu memiliki kekuatan besar lagi.
Semuanya sadar Damanda telah tiada dan sekarang mereka tak bisa melakukan apapun.
"Tidak akan pernah berhenti sampai di situ pangeran ini sangat tidak aku terima," suara tegas seorang perempuan tua terdengar tak asing seketika memasuki ruangan itu dengan membawa kalung liontin merah dan memasangkan pada Damanda.
Tidak ada reaksi apapun.
Seketika itu seluruh angin di sekitar dan seketika itu kaca yang ada di istana pecah berantakan dan api menyala dengan besar disetiap obor juga lentera lalu padam seketika itu juga.
Damanda di bawa Rhapael ke atas meja batu tempat dimana Damanda meletakan pedang itu tadi.
Dengan cahaya bulan menerangi tempat peristirahatan terakhirnya. Rhapael tidak bisa menerima ini.
Bayi yang Damanda minta selamatkan itu ada didalam gendongan Elina sekarang sebelum Rhapael membawa Damanda .
Rhapael meletakan Damanda perlahan.
__ADS_1
Seketika itu Rhapael menangis untuk kedua kalinya setelah kematian ayahnya dan kini Damanda. Dirinya memang benar-benar tidak bisa menjadi raja yang baik, seorang Guarding saja mati di tangannya.
"Aku yakin Pangeran sekarang menyalahkan dirinya karena orang yang pertama tidak takut mendekatinya dan dia seorang wanita juga orang yang melewati batas seorang wanita yang tenang, Pangeran pasti sudah sangat nyaman dengan Wanita Guarding itu," ucap Limino.