Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3

Damanda masih belum terlalu sehat ketika akan bangun dari atas kasurnya.


"Ibu.. Jangan bergerak," ucap kedua anak kecil berlarian menaiki kasur saling dorong hingga Daman jatuh dan bangkit lagi.


"Damin berhenti jangan sentuh ibuku," ucapnya.


"Oiya.. Memang ibu siapa ingat aku lebih tua darimu," ucap Damian dengan sombong dan langsung memeluk Damanda.


Terkekeh Damanda dengan tingkah kedua anak lelaki itu.


Pertumbuhan Damian baru Damanda sadari sedikit lebih cepat atau memang karena Rhapael bangsa imortalia Damian lebih tinggi lebih tua terlihat jika kedaunya di sejajarkan.


"Damian berapa umurmu?" ucap Damanda mengusap kepala anak kecil itu.


"Aku Tiga tahun lebih atau berapa entahlah lagi pula aku sudah lima kali ulang tahun," ucap Damian dengan polos.


"Kenapa wajah ibu seperti bingung," ucap Daman melihat wajah Damanda berubah setelah Damian bicara menjawab pertanyaan Damanda.


Damanda tersenyum menggeleng tersadar dari lamunannya.


"Tidak, tidak ada, Ibu gak kenapa-kenapa, Oiya apa kalian sudah mandi sepertinya ini pakaian yang untuk tidur," ucap Damanda.


"Tidak ibu.. Kami belum mau mandi sebelum melihat ibu," ucap Mereka bersamaan. Sadar mereka bicara bersama.


Langsung tatapan keduanya menajam.


"Kau ini aku bilang jangan ikutan aku bicara." Kata Damian kesal.


"Kau lah Damian kau yang selalu meniruku. Huuh," kesal Daman.


Mereka saling diam membuang wajah satu sama lain Damanda terkekeh sendiri.


Keduanya sangat menghibur.


Tapi, Damanda memikirkan Damian menatap dari belakangnya.


Damian masih keturunan Rhapael Damian tak mungkin manusia biasa pasti darah dari Rhapael lebih banyak dalam dirinya. Pertumbuhan yang cepat dan juga pemikiran yang cepat sekali dewasa.


Damanda jadi bingung sendiri tapi, jika terus di perhatikan itu pasti tidak akan ada baiknya, yaah sudahlah lebih baik Biarkan saja Damanda akan menikmati ini untuk keduanya.


Damanda mengangkat pandangannya kedepan ketika itu melihat sosok yang sedang berdiri.


Ia mematung menatap tiga orang di atas kasurnya. Damanda tersenyum kikuk menatap keduanya.


"Kalian mandi saja ini sudah siang," ucap Damanda dengan lembut pada keduanya.

__ADS_1


Bukannya mendengarkan keduanya malah melempar bantal guling karena kesal dan jahil salah satunya.


Rhapael yang berdiri didepan pintu masih diam menatap ketika Elina yang masuk seketika Elina menghampiri keduanya.


"Ayo para Tuan Muda kalian lari dari kamar kalian bukan," ucap Elina.


Seketika duanya berhenti lempar bantal guling dan menoleh melihat sosok Elina berdiri dengan wajah tersenyum paksa.


"Kenapa.. apa... Kalian sudah lelah mau dibawa oleh ku atau yang mulia Raja kekamar kalian," ucap Elina menatap keduanya seketika Elina bergeser memperlihatkan Rhapael berdiri menatap keduanya.


"Ayah... "Mereka diam seketika setelah berupa pelan menatap takut Rhapael.


"Tidaak.. Ayah aku berani bicara kalo ini semua ulahnya, dia.. Diaaa," tunjuk Damian pada Daman.


"Kenapa aku, Tidak kok bukan, Aku kemari sendirian aku tidak mengajaknya waktu aku kemari sendirian dia masih tidur tapi waktu sampai sini aku di dorong dan jatuh tadi," ucap Daman juga bisa membela dirinya.


Damian mengepalkan kedua tangannya menghentakan tangannya di udara.


"Apaa." Daman menantang dengan tolak pinggang menatap sengit keduanya.


Tak.. Tak... Tak...


Langkah kaki Rhapael seketika membuat kepalan tangan Damian melemah dan menunduk takut Daman juga menurunkan kedua tangannya dan menunduk takut.


"Tidaak.. Ayah kumohon tidak jangan," ucap Damian.


Daman masih diam menunduk.


"Ibu aku mohon aku tidak mau." Damian memohon pada Damanda tapi, Rhapael cepat membawa mereka dan Daman pergi seketika Elina akan menarik dan membawa tangannya dengan menuntunnya.


Daman melepaskannya.


"Bibi Memangnya apa kenapa Damian samapi tidak mau," ucap Daman.


"Sekolah dan aku gurunya kita akan belajar," ucap Elina dengan tersenyum.


Daman menoleh pada Damian. Seketika Damian mengisyaratkan Leher terpotong.


*


Damian dan Daman sudah mandi bersama Elina sekarang di mandikan oleh para pelayan lelaki.


Di perhatikan oleh Tristan langsung.


Damanda di kamarnya sudah mandi dan sekarang sedang duduk tenang di pinggir tempat tidur.

__ADS_1


"Kenapa kau datang bukannya kau masih banyak urusan." Damanda berhgerak untuk berdiri dengan kaki sedikit pincang.


"Tidak aku selalu punya waktu untukmu," ucap Rhapael mengajak Damanda pergi ke tempat dimana Damanda dan dirinya bisa bersama menikmati waktu siang ini.


Damanda terkejut tiba-tiba Rhapael menggendongnya dan membawanya pergi.


Ketika akan menaiki kuda Damanda tak perlu waktu lama langsung bisa naik keatas kuda dan mereka pergi bersama bedua dan menjalan kan kuda dengan tenang.


Damanda terkejut dengan tidak siapannya.


Sampai di hutan yang rindang juga tenang Damanda di bawa Rhapael duduk di salah satutempat di bawah pohon besar dan membiarkan kudanya makan rumput.


Seketika angin sejuk datang menghampiri seketika itu sebuah suara wanita terkekeh geli.


"Bagimana menikmati tubuhku yang bisa terlahir kembali, " ucapitu terdengar tak asing dengan suaranya.


"Apa.. Manda." Kata Damanda seketika itu tepukan tangan terdengar jelas.


"Oh yaa kau ternyata sangat hafal ya." Muncul bayangan Hitam atau sosok Hitam dengan jubah panjang sampai tanang wajah tangan dan kakinya tak terlihat tapi suaranya sangat jelas.


"Rhapael seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku sudah membawakanmu Damanda jika aku tetap bersamamu mungkin aku juga akan mati," Rhapael berdiri dan mendekati sosok hitam itu.


"Kau yang membuat Bangsa Imortalia kaum Galen ingin menyakiti Damanda." ucapnya.


"Yaa bisa di bilang seperti itu aku tak yakin tapi, iyaa.. Kenapa kau kesal aku juga kesal kenapa kau sampai bisa memiliki Damian dari dia," ucap Manda.


"Kukira kau baik Manda," ucap Damanda menyela pembicaraan Rhapael dan Manda.


"Rhapael kau tahu tentang dia kenapa kau diam dan tidak memberitahu aku," ucap Damanda sedikit lemah.


"Tidak benar aku dengannya memang tidak bisa bersama memang ibuku memberikan pedang itu padanya dan memintanya menjaganya ia di rumorkan memiliki keluarga tapi, sebenarnya palsu aku tahu semuanya akundiam saja Untuk apa juga aku bicara," ucap Rhapael seketika Manda marah.


"Ratu Alexa tak menyukaiku karena aku terlalu dekat dan aku meminta kekuatan dari sihir hitam iblis untuk membuatmu menjadi milikku tapi kenapa kau malah.. Aaa... Tidak aku tidak terima." Manda melempar sihir mana berbahaya pada Damanda seketika Rhapael menangkisnya dan mengambil leher Manda dan mencekiknya.


Rhapael bisa merasakan mematahkan tulah leher seorang dengan keras.


"Jika kau menuentuhnya aku qkan membuatmu tak bisa keluar dari dimensi waktu," ucap Rhapael mengancam seketika itu Damanda terpojok Rhapael tak melihatnya tapi Tau dan membuat Manda menghilang lenyap dengan teriakan diakhirnya.


Damanda menghela nafas panjang tadi banyak sekali rambatan tanaman hitam membuatnya terikat dan kesakitan Seketika Rhapael mengambil kaki Damandadan menciumnya seketika tanda hitam tanpa Damanda sadari itu racun yang bisa membunuh perlahan.


"Maaf." Seketika Rhapael menggigitnya dan mengisap darahnya.


Damanda kesakitan.


Seketika itu Damanda tertidur.

__ADS_1


__ADS_2