Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3

Rhapael mendekat dan menatap Damanda lembut.


“Tidak perlu meminta maaf, kau bisa pergi sekarang aku tidak akan menghalangimu, terimakasih menjaga pedangku sampai aku menjadi raja, kau benar menepati janjimu sekarang aku akan...” Kata Rhapael berbalik dan pergi meninggalkan Damanda sendirian.


Damanda terdia tangannya menggendong Guarding kecil itu dengan erat.


Rhapael masuk ke dalam ruangannya dan duduk dengan tenang.


Damanda sungguhan pergi dari sana dengan mata berarir tak rela dan sengaja membawa bayi di gendongannya ikut pergi juga.


Derap langkah sekejap berjalan sekejap berhenti lalu menangis.


Damanda pergi secara diam-diam.


Memang seharusnya seperti ini. Langkah Damanda semakin jauh meninggalkan Istana dan tanpa ada yang tahu jika Damanda dan bayi itu sudah tidak ada di Istana.


Bayi itu masih tenang dan tertidur dalam gendongan Damanda.


Rhapael terdiam masih dengan posisi sama.


Diruangannya Marcus dan juga Tristan sedang duduk dengan tenang seketika Elina datang dan membuat mereka terganggu, Membuka pintu dan tidak di ketuka sebelum masuk sungguh etika yang baik untuk gadis seperti Elina.


“Apa kalian tidak merasakan keanehan," ucap Elina menatap keduanya yang balas menatap Elina santai lalu kembali fokus pada buku dan jari jemari mereka terus menggulir lembaran kertas mencari sesuatu yang ingin mereka baca.


Bruaakkkk.....


Seketika gebrakan meja membuat keduanya menoleh raut wajah mengeras kesal dan horden tertiup angin jendela ruangan itu memang di buka .


Sunyi seketika.


“Kalian ini aku itu bicara kepada mahluk yang mengeluarkan suara bisa mendengar dan bicara juga sombong salah satunya.” Lirikan tajam pada Marcus sangat lama lalu berganti pada Tristan.


“Apa maksudmu Elina, kau menyindirku,” ucap Marcus tak terima menatap kesal ke arah Elina.


“Iya kenapa? Makanya kalo ada yang bicara dengar tidak asalan lewat sana lewat sini, ku berdoa semo saja jatuh sekalian ke jurang lalu mati.” Kata Elina membela diri lagi menatap tajam menyipitkan mata dan mengerutkan alis marahnya.


Marcus menghela nafasnya mengacuhkan Elina yang berisik.

__ADS_1


Elina melangkah maju seketika Marcus juga melangkah maju seketika itu Teristan yang ada di tengah mereka meletakan buku diatas kepala berlindung dari dua orang aneh yang sangat lama dan sulit sekali akurnya.


“Lagi pula tidak berguna jika aku menjawabnya,” ucap Marcus menunjuk wajah Elina.


“Oh iya .. tidak berguna! Kalo gitu bagaimana jika ini tentang Damanda yang bisa menjadi manusia biasa dan bisa mendapingi Raja Rhapael jika dia inginkan.” Kata-kata Elina seketika membuat Marcus bungkam.


“Pendamping?” suara Tristan pelan seketika Marcus dan Elina menatap Teristan.


“YAA! Bisa saja terjadi lagi pula...”


Marcus memundurkan langkahnya pelan menatap ke arah Tristan bergantian pada Elina yang seketika berhenti bicara menatap Marcus aneh dan mendiamkan bibirnya untuk bungkam sementara.


Marcus duduk lagi tangannya meraih bukunya yang tadi di bacanya dan kembali diam.


Elina memperhatikan gelagat Marcus seperti ada yang salah tapi, sudahlah anak itu selalu aneh juga salah.


“Aku akan mencari Damanda kalian lanjutkan lagi urusan kalian,” ucap Elina yang datang rusuh bicara tak jelas.


Sepeninggalan Elina dari ruangan baca besar itu Tristan menatap wjaah Marcus yang murung sekali seperti seorang yang cemburu tapi, apa mungkin Marcus cemburu juka Damanda di miliki Raja Rahapael.


Tristan mengedikkan bahu dan kembali membaca bukunya dan meluruskan kakinya diatas meja dengan sangat baik dan merasa sangat nyaman.


‘Andai aku tak kemari, tapi, semua terjadi begitu saja. Seharunya aku menyesal atau senang aku bingung tapi, bayi ini jika aku tidak ada? siapa yang akan mengurusnya. Kenapa aku tidak rela.'


Damanda menatap wajah kecil mungin dan tenang sedang tertidur tenggelam dalam mimpinya yang sangat nyenyak dan terlihat sangat cantik juga tampan bila terkena sinar matahari hangatnya dari selah dedaunan.


Bulu matanya lentik hidungnya mancung apa jadinya jika bayi kecil ini tertawa. Serasa dunia lebih tenang dan tentram mungkin.


Damanda kembali melanjutkan perjalanannya seketika sekelompok orang berkuda menghentikan langkah Damanda seketika itu Damanda menoleh dan membalik badannya refleks mundur kebelakang dengan cepat, ketakutan dengan mengeratkan gendongannya pada bayi kecil itu.


“Serahkan harta benda milikmu, pada kami cepat!” Salah satu orang dengan rupa menyeramkan dan janggut panjang hitam dengan putih di beberapa rambutnya juga ada yang membawa pedang dan pisau besar seperti golok.


Salah satu diantara lelaki asing itu melihat sedikit wajah Damanda seketika itu tersenyum seperti melihat sebuah santapan yang mengugah seleranya.


“Sepertinya sangat cantik dan sesuatu yang di bawanya adalah bayi bagaimana kalo kita jual saja sebagai budak dan bayi itu kita pelihara lalu kita jual saja,” ucap lelaki yang tahu jika wajah Damanda sangat cantik padahal Damanda menggunakan tudunh.


Damanda mendengar ucapannya yang sangat jelas dari orang yang menatapnya itu ketika menganjak bicara teman disebalahnya.

__ADS_1


Mundur perlahan bersamaan suara dedaunan kering di seret dan di injak.


Damanda lalu berbalik dan berlari seketika itu lari Damanda berhenti ketika semuanya menghentikan dan mengahalangi jalannya untuk kabur Damanda terus mengeratkan pelukannya pada bayi kecil nya itu.


Ketika itu salah satunya turun dari kuda dan memegang lengan Damanda, di tariknya kasar Damanda terus meronta meminta lepas Damanda berteriak minta tolong malah di tarik dari kiri Dan kanan seketika pertahanannya lemah Damanda menyerah tapi pelukan di tangannya semakin kencang.


“Lepaskan atau kalian akan merasakan hal yang tidak akan kalian inginkan," ucapan itu keluar dari mulut Limino yang sedang berpatroli di hutan dan tak sengaja bertemu dengan kumpulan bandit yang menjadi buronan setelah Rhapael menjadi raja.


Limino merasa tak asing dengan wanita dan bayi itu seketika,


Limino turun dari kuda dan mendekat pada Damanda.


“Nona Damanda kenapa.. Nona Damanda, Anda? anda ada disini, anda tidak bisa disini kenapa anda pergi tanpa banyak pelayan yang menemani," ucap Limino lalu Damanda mundur ketika tangan Limino akan menyentuhnya.


Sibuk dengan para Bandit Damanda memanfaatkan selah untuk pergi.


Limino kembali untuk mengajak Damanda bicara seketika itu Damanda tidak ada di tempatnya dan tidak tahu pergi kemana.


*


Elina memarahi Rhapael dengan sangat berani dan membuat satu guci pecah karena kemarahannya.


“Rhaapel kau membuat bahaya Damanda dan Bayi itu kenapa kau biarkan mereka pergi.” Elina sangat kesal.


Rhapael tetap acuh dan pergi saja dengan santai dan wajah tenangnya.


Elina kesal dan tak bisa menunggu kabar lagi jika Rhapael pergi untuk mencari atau tidak pergi mencari juga Elina tak perduli.


Sektika itu Limino datang dan melihat Rhapael menatapnya dan ada Elina.


“Siapa yang memintamu datang," ucap Rhapael sangat dingin.


“ Yangmulia, nona Damanda dan bayinya ada di hutan dan akan di serang para Bandit beruntung saya cepat mengatasinnya jika tidak mungkin nona Damanda dan Bayinya akan menjadi budak,” ucap Limino.


Rhapael pergi tanpa satu katapun terucap.


Elina benar-benar tak habis pikir dengan sikap Rhapael yang pergi menjauh dan tak melakukan apapu .

__ADS_1


Elina menatap Limino seketika itu Elina menghampiri Limino seketika itu Limino seperti ketakutan mundur ke belakang perlahan dengan wajah pias seperti sedang di terkam hewan buas.


“Katakan padaku dimana mereka dan bagaimana kau kembali tidak membawa mereka," ucap Elina seketika menarik kerah baju Limino seperti seorang lelaki yang ingin berkelahi hanya satu tangan dan tangan lainnya mengepal disamping wajahnya Limono, seperti itu Elina sekarang di hadapan Limino.


__ADS_2