Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3

Dua tahun berlalu kini Damanda dan juga guarding kecil berjalan bersama di sebuah pasar, lelaki kecil tampan itu melihat pedagang mainan dan ingin membeli sesuatu.


Damanda dan pedagang yang masih saling tawar menawar tidak sadar jika Guarding kecil menghilang.


Damanda menoleh.


“Daman ingin.. eh dimana anak ini,” ucap Damanda terhenti ketika tidak ada Daman, si guarding kecil disampingnya.


Damanda pergi mencari beberapa tempat dan belum menemukannya seketika itu.


Di depan pedagan mainan tadi Daman kecil sedang melihat dan melompat lompat ingin meraih pedang itu.


Seorang dengan rambut putih tidak sengaja melihat dan tertarik mendekatinya bersama seorang lagi bersamanya.


“Tubuh kecilmu mana bisa menggunakan mainan ini,” ucap lelaki rambut putih.


Seketika itu Daman menoleh. Wajahnya menatap kesal.


“Aku bisa ya.. ibu bilang aku anak kuat aku harus melindungi ibuku, aku bukan anak lemah tahu,” ucap Daman dengan ekspresi anak kecilnya yang menggemaskan ketika kesal.


“Kau darimana mata dan juga rambutmu persis seperti...”


Seketika lelaki rambut putih menyenggol bahu Temannya yang bicara mulai aneh dan mengajak anak kecil berpikir besar sebelum usianya.


"Kau jangan sekarang mengatakan itu, kita belum tahu pasti kalo dia memang..." ucapana lelaki rambut putih itu berhenti ketika anak kecil itu bersuara sambil menatap wajah keduanya.


“Aku ini mirip ibu aku... “ ucapannya membuat kedua lelaki dewasa itu menoleh, seketika berhenti ketika sebuah tangan menariknya dan memeluknya.


“Damanda.” Kata mereka bersamaan seketika itu Damanda berlalu pergi bersama Daman menjauh dari Marcus dan Tristan.


"Tunggu setidaknya berikan ini padanya dia tadi sangat menginginkannya sampai melompat-lompat." kata Tristan dengan menyerahkan pedang kayu untuk Daman melalui Damanda.


"Terimakasih," ucapnya. Berlalu pergi meninggalkan Tristan dan juga Marcus yang menatap kepergian Damanda dengan raut wajah suramnya.


“Aku tidak salah lihat itu Damanda dan Daman... namanya yaa aku ingat jika yang Raja Rhapael berikan ketika Damanda belum sadar dari kematiannya. Anak kecil itu bernama Daman, HAAH..” Tristan memegang dahinya mengusap sampai kebelakang terkekeh.


“Kau benar." kata Marcus menatap tak percaya.


*


Di perjalanan pulang menuju hutan terpencil Damanda dan Daman saling berjalan bergandengan dan saling tersenyum.


“Ibu! aku di katai dua orang tadi kalo aku masih kecil." Katanya sambil mengingat bagaimana ekspresi Marcus menyebalkan di pertemuan pertamanya.

__ADS_1


“Ibu, aku juga tidak asing dengan wajah mereka rasanya aku pernah tahu tapi aku lupa.” Katanya lagi sambil memakan permen gulanya.


“Iyaa... mungkin karena banyak orang di pekan raya kamu melihat banyak orang yang sama, kamu kan selalu menjaga ibu kalo pergi ke pasar pekan raya, oiya kalo ada orang asing lagi mengajak kamu bicara segera pergi dan tunggu ibu di tempat pertama kamu pergi atau langsung pulang ke rumah atau bisa bilang pada bibi penjual permen ya dan ibu akan datang menjemput,” ucap Damanda menjelaskan dengan lembut.


“Tenang aja bu Daman ini pinter Daman pasti hati-hati dan selalu ingat pesan ibu.” Ucap Daman.


*


Sampai di rumah mereka melangkah masuk terlihat Groures dan Green sedang melakukan kegiatannya.


Daman langsung melepas pegangannya dan membiarkan Daman bersama Green.


“Heey.. kapan kau kembali waah kau membeli pedang-pedangan padahal aku sudah membuatkan pedang-pedangan.” Kata Green yang dulunya masih kecil sekarang sudah terlihat remaja.


“Tidak apa paman, Daman akan memakainya bergantian juga paman buatkan lebih bagus, ucap Daman.


“Haha.. Kau pintar memuji seperti ibumu. Kalo gitu sembari menunggu ibumu melakukan keperluannya untuk masak makan malam bersama Paman Groures kita main lebih dulu."


*


Di istana Rhapael di datangi anak kecil dan memanggilnya ayah mata coklat dan rambut hitam itu mirip dengan Rhapael.


“Kenapa ayah selalu diam jika aku tanya dimana ibu, kenapa ayah tak bilang jika ibuku hidup,” ucapnya.


“Ayah jahat Ayah bilang ibuku masih ada tapi, aku tak pernah melihat wajahnya.” Si kecil Damian Rhapael memberi nama dengan huruf depan sama seperti milik Damanda dan Daman tapi, Rhapael hanya bisa mendapatkan Damian karena Damanda.


*


Damanda dan Daman sedang asik belajar membaca juga menulis hal hal yang Damanda ketahui di dunianya waktu itu.


Ketika baru akan menjemur pakaiannya di luar seketika itu Marcus dan Tristan datang bersama Elina.


Damanda mendekat dan meletakan baknya.


"Damanda," panggil Elina langsung menghampiri Damanda turun dari kuda dan memeluknya dengan erat melepaskannya menatap wajah Damanda dengan bahagia meremas bahu Damanda gemas.


"Aku merindukanmu Damanda kau ini kenapa mendengarkan perkataan si bodoh itu, Ia tidak akan merasakan penderiataannya karena Ia mengatakannya kalo posisinya berubah aku akan membuatnya benar-benar sengsara Damanda." Kata kata Elina membuat raut wajah Damanda senang sementara lalu kembali murung.


"Maafkan aku tapi, kalian kemari ada apa?" Kata Damanda langsung to the point.


Marcus dan Tristan berjalan sambil menatap kesana kemari tas bawah berputar bergantian arah.


"Apa Groures dan Green tidak ada disini? "Tanya Marcus.

__ADS_1


Damanda menggeleng seketika itu Daman keluar dengan mata satu tertutup dan pedangnya.


"Siapa kalian kenapa membuat ibuku seperti penjahat." Katanya diseram seramkan wajahnya di buat banyak hitam-hitam di atas bibir seperti kumis dan di dagu di buat janggut.


Marcus Tristan juga Elina ingin tertawa Damanda juga ingin tertawa seketika itu Daman berlari dan tersandung.


Hap.


Dengan cepat Damanda menangkapnya dan memeluknya menggendongnya.


"Daman ini Bibi Elina dan Paman rambut putih itu Marcus dan Satunya Tristan." Kata Damanda memperkenalkan pada Daman.


"Tapi ibu mereka orang asing di pasar yang mengataiku anak kecil aku ingin cepat jadi besar dan membuktikan jika aku bisa melindungi ibuku." Kata-kata Daman membuat Tristan dan juga Marcus tertegun.


Elina tersenyum berdiri sedikit merundik keduatangannya bertumpu pada Lutut.


"Anak cerdas, Siapa namamu." Kata Elina sambil mengusap lembut kepala Daman.


Daman tak suka disentuh Elina. Daman menghindari sentuhan tangan di kepalanya dan menatap Damanda.


Damanda mengangguk.


"Aku Daman Bibi, Paman," ucapnya.


"Salam kenal. " Katanya lagi dengan wajah kesal.


"Kau mau bermain dengan bibi, bibi bisa memperlihatkan sesuatu padamu, dan bawa pedangmu ayo," ucap Elina.


Daman mengeratkan pelukannya pada Damanda.


"Tenanglah nak, Bibi ini orang baik, Teman ibu, ikut sebentar ibu akan bicara dengan kedua paman ini," ucapnya dengan lembut seketika di mengerti Daman, mengganggukkan kepala lalu turun dari gendongan Damanda dan dituntun berjalan oleh Elina.


Sekarang tinggal Marcus dan juga Tristan.


"Kalian mau bicara apa Aku tak punya waktu," ucap Damanda kasar tak berubah jika bicara kasar pada Marcus terutama.


"Haah.. Yaaampun aku tertipu kukira sekarang karena kau punya anak anak kau bisa terlihat lebih ayu dan tenang ternyata sama-sama Kasar," ucap Marcus membuat Damanda kesal berbalik pergi meninggalkan Marcus.


"Heey.. kami tamu kau tidak meminta kami masuk," ucap Tristan dengan setengah keras.


Damanda berhenti didepan pintu dan berbalik.


"Jika mau masuk masuklah jika mau pulang pulang lah, Aku juga sedang malas menerima tamu seperti kalian," ucap Damanda seketika Tristan dan Marcus melangkah masuk dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2