Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3

Di dalam ruangan Rhapael.


Sultan duduk dan asisiten memberikan beberapa kertas gulungan dan buku.


Di letakan diatas meja. Rhapael mendekat dan duduk di hadapan Sultan.


"Semuanya bisa kau katakan Pangeran," ucap Sultan dengan tenang.


Rhapael terdiam dan menceritakan kejadian sebenarnya secara singkat dan jelas. Limino dan asisten Sultan atau konsulnya mendengarkan dengan baik.


"Galen Zafer." Suara Sultan seperti terkejut tapi, tetap biasa saja. Sultan terdiam berdehem.


Tidak tahu jika pembicaraan nya sangat berat begini pembahasannya. Sultan dan Konsulnya terdiam.


Rhaparl menghadap Limino dan meminta untuk keluar.


Limino mengangguk dan berjalan keluar ruangan dan menutup pintu.


"Kenapa kau ingin mengambilnya lagi, Alasanmu?"


"Ada hal yang tidak boleh Galen miliki dalam istana itu dan kerajaan setelah ayahku meninggal.


Galen juga harus aku habisi sebelum wabah penyakit yang di bawanya menyebar semakin luas," ucap Rhapael dengan jelas.


Sultan mengerti mengangguk.


Sultan menatap Rhaparl dengan tenang.


"Baiklah aku akan memikirkannya," ucap sultan.


Tidak langsung pergi Sultan mengajak Rhapael bicara dengan santai dan membahas hal tentang mereka berdua di masa lalu.


Rhapael dan Sultan bicara sangat lama hingga waktu hampir gelap.


"Sepertinya sangat lama kita bicara." Sultan mengangguk dan berdiri lalu melangkah keluar ruangan Rhapael. Damanda yang masih menunggu Rhapael di depan kamarnya seketika bertemu dengan Sultan dan sekarang Rhapael juga ada dihadapan Damanda.


"Eh.. heheh.. Maaf," ucapnya malu menunduk menoleh kesamping membuang sedikit rasa gugupnya.


Sultan tersenyum.

__ADS_1


"Apa dia wanitamu," ucap Sultan dengan wajah yang sama sekali jauh dari yang di rumorkan para pelayan yang membantu menata rias Damanda di kamar tadi. Beberapa juga berburuk sangka jika Damanda adalah selir baru tapi, ketika Tristan masuk dan berdehem seketika itu mereka mengerti dengan perkataan Damanda sebelumnya yang mengatakan jika dirinya benar-benar bukan selir lain Sultan yang di bawa orang-orang tadi, yang dimaksudkan mereka adalah Rhapael Tristan Marcus dan Limino.


"Aah. Aku ingat, Dia wanita yang bersamamu itukan," ucap Sultan dengan biasa menatap Rhapael yang dingin.


"Iya."


"Kalo gitu kau jaga baik-baik, benar apa yang Zeline bilanh sebaiknya jaga dan jangan biarkan ia lepas. Kalung itu aku seperti tahu, Ah ya.. Ratu Alexa ibumu, Benar?" Sultan lagi membicarakan hal yang menyangkut Rhapael.


"Kira-kira begitu." Rhapael hanya menjawab seperlunya membuat Sultan menatap malas dan menatap santai pada Damanda yang malu diam mematung.


"Kami sedikit tahu jika kau keturunan Guarding, jaga dirimu baik-baik kau selalu bersama Monster bagaimana kesan pertama bertemu dengannya?"


"Tidak ada masalah," ucap Damanda dengan sopan.


Rhapael berdecak pelan tidak memikirkan sopan jika sudah seperti ini.


"Yaa.. ya baik lah, silakan silakan bertemu kalian berdua sepertinya aku bicara dengan kalian tidak dengan waktu yang senggang. Sepertinya malam ini tidak dingin tapi, semakin panas," ucap Sultan yang melangkah pergi setelah bicara meninggalkan kesan ramah pada Damanda dan kesan usilnya pada Rhapael.


Damanda membungkuk sopan ketika suktan melewatinya.


"Sedang apa kau disini?" ucap Rhapael tanpa basa-basi.


"Aku.. Haha.. Bicaralah aku menunggumu dari siang tadi, Aku boleh masuk," ucap Damanda.



...[Sky Tulip (Pinterest) ]...


Damanda menarik tangannya dari Rhapael dan membuat langkah keduanya berhenti Damanda bersandar pada jendela dan duduk di salah satu tempat yang bisa di duduki.


Damanda menatap Rhapael dan menghela nafasnya kedepan Rhapael yang berdiri di sampingnya terdiam.


"Kenapa kau mencariku," ucap Rhapael lagi dengan kata yang tidak santai tapi, sedikit ada rasa ingin tahunya.


"Kenapa ya.. Oh.. masalah waktu itu aku ingin bertanya, apa aku bisa memanggilmu tidak formal sekarang," ucap Damanda menoleh kekanan kekiri dan menatap wajah Rhapael.


Rhapael mengangguk.


"Apa." Suara Rhapael lagi seperti tidak sabaran. Damanda berdecak dan seketika mengatur duduknya dan berdehem Sepertinya akan serius.

__ADS_1


"Pertama. Kenapa mereka sangat dekat denganmu," ucap Damanda.


Rhapael mengangkat sebelah alisnya dan menatap aneh Damanda.


"Memangnya apa pentingmu tahu hal itu," ucap Rhapael menatap Damanda dengan berdiri di tempatnya tanpa goyah.


"Ya.. kan aku ingin tahu saja, ya setelah aku berpikir sepertinya nyawaku berharga jika aku salah jalan lagi, aku akan menjadi beban kalian dan menyusahkan, juga aku ingin minta maaf tentang serangan serigala itu dan yaa.. Memang benar aku ini beban aku hanya membawa pedangmu tanpa bisa berbuat apapun, Tidak.. bukan itu yang mau aku bahas tentang sekutu iya tentang hal itu. Bagaimana hem Ayo?" Damanda menatap penuh harap pada Rhapael.


"Lalu..."


"Yaa Apa Rhapael.. kau ya.. kenapa sulit sekali bicara langsung tanpa Ha hihu he ho... dan Babibu.. Rhapael aku ini membawa pedangmu, Apa kau tahu jika Aku kenapa-kenapa pedangmu bisa.."


"Iya aku tahu itu, Kau bicara tidak formal padaku," ucap Rhapael malah membuat semakin tidak jelas suasana di antara mereka berdua. Damanda menatap tajam melipat tangannya di atas perut depan dada.


"Lupakan izin itu sekarang katakan yang pertama tadi, ayo jawab." Damanda menatap Rhapael dengan serius.


"Hanya membicarakan tentangku dan aku juga mengajukan kerja sama militer untuk mengambil kembali tahta itu," ucap Rhapael dengan singkat padat.


Damanda menganggukkan kepala puas.


"Mereka sebenarnya sama seperti orang-orang Ratu Zeline tapi, mereka sedikit memiliki perbedaan jika tentang beberapa hal yang kamu temui di kerajaan Ratu Zeline."


"Iyaa. Baiklah intinya mereka teman."


Rhapael mengangguk dan melipat tangannya diatas perut depan dada.


"Lalu pembicaraan mu dengan Sultan, Ah.. itu lewatkan untuk beberapa hal. Apa aku bisa katakan padamu," ucap Damanda pada Rhapael yang wajah Damanda sudah sangat serius.


Rhapael terdiam mengerjapkan matanya pelan.


"Baik, seperti ini, Kenapa dia bisa tahu kalo aku darah Guarding, Lalu aku di berikan kalu dengan permata merah dari Ratu Zeline bilangnya untuk melindungimu dan akan di perlukan di kerajaan Timur memangnya..."


"Sepertinya sudah sangat gelap dan waktunya untukmu tidur." Rhapael menyela ucapan Damanda. Seketika Damanda tidak bergerak atau bersuara dan malah menatap Rhapael den tajam.


"Ada yang kau sembunyikan kau sudah tahu aku bukan pemilik tubuh ini dari awal sudah aku pastikan walau tak mungkin Marcus menyadarinya sedikit. Jadi Rhapael katakan saja," ucap Damanda dengan wajah merah padam mulai emosi.


Rhapael mendesah malas bibirnya pegal bicara terlalu banyak. Seketika Rhapael tersenyum dan mendekat pada Damanda.


Damanda langsung mundur ke belakang dan menatap tembok dengan berdiri.

__ADS_1


"Dimasa depan kau dan... Akan bertemu lagi dan yaa.. aku tidak akan mendekatimu, Kau tahu aku imortalia dan kau manusia. Nasibmu takdirmu tidak boleh sama dengan yang mereka bicarakan, termasuk perkataan Ratu Zeline yang membicarakan itu padamu jika pernah. Pembicaraan Sultan juga menyinggungmu."


Damanda terdiam mata dan alisnya menajam menatap serius pada wajah yang mendekat ke wajahnya.


__ADS_2