Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3

Damanda menutup mulutnya ketika yang masuk adalah seorang putri atau seorang ratu yang cantik.


"Selamat pagi Nona Damanda apa tidurmu nyanyak? Ah.. seperti kurasa tidak terlalu terlihat dari wajahmu jika tidurmu tidak terlalu nyenyak. Oiya.. Bagaimana dengan masalah semalam ayahku sampai masih ada di ruang bacanya hingga malam menjelang subuh," ucap wanita cantik itu.


"Ah.. iya sudah selesai dan Aku Damanda aku datang bersama Pangeran Rhapael, terimakasih, Putri mau menyapa pagi di dalam kamar pribadiku," ucap Damanda kebingungan harus bicara apa.


"Panggil saja Azelia Aku tidak suka di panggil putri sepertinya menyenangkan jika kita saling memanggil nama walaupun kedengarannya aneh kalo ada bangsawan yang mendengarnya," ucap Azelia.


Damanda mengangguk pelan mengerti. Mereka berjalan bersama berjalan pelan melewati lorong yang mengarah ke taman istana tempat favoritnya Azelia. Azelia dengan senyum lebarnya berjalan santai dengan Damanda.


"Putri," ucap Damanda. Azelia seketika berhenti dan menyilangkan jari telunjuknya.


"Ayolah... Aku ini Azelia rasanya kalo panggilan dengan embel-embel putri itu tidak nyaman." Azelia menatap Damanda menghentikan kedua bahu Damanda dan berdiri di membalik tubuh Damanda agar menatapnya. Dengan tiba-tiba Damanda menghentikan langkahnya. Menatap wajah Azelin secara terang-terangan.


"Eeh.." Damanda terdiam.


"Damanda aku ingin mengatakan sesuatu tentang apapun apa kau bisa menjadi pendengar terbaikku," ucap Azelia dengan tatapan memohon.


Damanda mengangguk.


*


Rhapael dan Sultan bicara empat mata di ruangannya tentang meminta sekutu untuk mengambil kembali kerajaannya dari tangan Galen.


"Bagaimana mana pun aku harus membantumu, Alasanmu sudah aku ketahui sebelum kau datang kemari, Semoga saja beberapa kelompok pasukan itu bisa membantumu," ucap Sultan dengan wajah seriusnya menatap Rhapael yang datar.


Rhapael mengangguk.


Hari berikutnya mereka kembali ke kerajaan zeline untuk menyusun strategi dan ketika akan ada malam rapat para prajurit dan ketua kelompok masing-masing pasukan.


Damanda duduk di dekat para prajurit lainnya bersama Tristan seketika itu Damanda merasa haus dan ingin minum. Pergi Damanda ketempat air untuk minum seketika itu seorang wanita cantik dengan pakaian pelayan mengikuti Damanda dan dengan cepat mengambil Damanda dari sana.


Seketika itu Damanda melawan.

__ADS_1


"Tolong," ucapnya setengah berteriak. Wanita itu merubah dirinya menjadi wanita cantik dengan rambut coklat ada surai hijau terang di dekat telinga.


Damanda memukul perunya dengan sikut dan menjauhkan diri.


Berlari pergi ketika itu juga Damanda di tangkap banyak bergerak Damanda melepas sepatu dan sandalnya.


Damanda juga sempat memeluk pohon seketika itu cakaran di batang pohon dari kuku Damanda terlihat berbekas.


*


Tristan mencari Damanda karena ingin mengajaknya ke tempat Rhapael.


Damanda tidak di temukan di manapun.


"Dimana wanita itu?" ucap Tristan kesal sendiri.


Seketika Tristan bertabrakan dengan Limino tidak sengaja.


Di ruangannya Rhapael menatap RatuZeline yang tiba-tiba menyentuh meja seperti seseorang yang di serang.


Kalung itu ada di dekat taman dengan sepatu atau sandal juga cakaran kuku Damanda di salah satu batang pohon.


Rhapael langsung keluar untuk memastikan ketika akan melangkah ke arah Marcus Tristan dan Limino mereka terekejut dan menatap Rhapael.


"Pangeran, Maafkan kami, Damanda hilang bersama pedang itu," Jelas Marcus langsung dengan wajah yang ketakutan.


Rhapael dan Ratu Zeline juga semua pelayan bergegas mencari termasuk Marcus Tristan dan Limino.


Mereka mencari keseluruh sudut istana dan mereka juga hampir memeriksa semua tempat tiga kali bahkan mereka memeriksa gerbang untuk pertama kalinya seorang penjaga mati tergantung di gerbang pintu masuk dengan kepala dan tubuhnya menggantung di bagian dalam.


Para pelayan dan prajurit yang ikut mencari terkejut. Darah para perajurit itu masih menetes dan baunya sangat amis. Rhapael tak bisa menganggap hal ini remeh.


Jika mereka memiliki masalah dengan Rhapael bawa saja Rhapael kenapa harus membawa Damanda juga.

__ADS_1


Sial.


Damanda tidak akan bertahan dengan kondisi babak belur dan lemah di dalam sel tahanan yang bau dan lembab gelap dan semuanya berlumut juga berkarat.


Damanda membuka matanya merasakan sinar bulan masuk ke dalam celah-celah ventilasi penjara atau jendela dengan pagar atau teralis besi tanpa kaca.


Damanda mendudukkan dirinya dan menatap ke setiap arah dan seketika mendengar suara hembusan nafas di belakangnya dan sesuatu mengkilat menyentuh dagunya mengangkatnya dan meminta menatap kearah depan.


"Cantik dan baumu sangat harum, Rhapael sudah menandaimu sebagai makanannya," ucap Seseorang dalam kegelapan. Damanda menyingkirkan dagunya dari pedang itu.


"Uhsss... Tenang cantik, Aku tidak akan menjadikanmu santapan ku tapi, aku akan menjadikanmu teman tidurmu, Bagaimana? kau suka, tentu saja kau suka," ucap seseorang otu lalu menyingkirkan diri dari kegelapan dan berdiri di bawah sinar bulan.


Wajahnya sama seperti orang yang pernah Damanda lihat. Tunggu itu orang yangs ama seperti waktu memberikan Damanda kartu nama untuk naik bis kunjungan ke musium itu, lalu kenapa dia disini. Damanda terdiam menatap tak suka sesekali heran.


"Kenapa kau merasa mengenalku, Tentu saja kau mengenalku karena Raja Damian adalah adikku dan kami satu ayah aku tidak menikah dan memiliki anak, sayang sekali aku harus mengatakan kalo aku mengingiginkan pedang yang kau bawa. Tapi," Menggantukan ucapannya dan menarik dagu Damanda seketika itu ada asap keluar dari dua jari yang menyentuh dagu Damanda.


"Sangat panas dan berbahaya.. Memang darah imortalia asli tak bis adi sepelekan jika ingin melindungi sesuatu."


"Baiklah Bagaimana jika kita membuat kesepakatan Manda. Aku ingin pedangmu sebentar lagi akan ada gerhana dan juga bulan purna yang datang hanya lima menit. Jika perjanjian kita terjadi sekarang setelah selesai kau memberikan pedangmu, aku akan sangat berterima kasih dan memberikan apapun yang kau mau," ucap Lelaki itu.


Damanda menyipitkan matanya dan meludah tepat di samping orang itu, dengan kekehan kecil orang itu mengangkat dagu Damanda dengan belati dan menatap mata merah miliknya.


Damanda mengalihkan ke lain arah.


"Kau tak pantas membuatku menunggu jawabanmu," ucap Lelaki itu dengan merapatkan giginya dan mengencangkan rahangnya.


"Kau Galen.. Kau paman terkutuk yang pernah aku temui, Tega membunuh ibu kandung lalu membuat seluruh istana hancur karena keserkahan, Oiya satu lagi, TEGA MEMBUNUH ADIKNYA DEMI JANTUNGNYA," kata-kata Damanda dengan berani dan menusuk membungkam bibir Galen untuk Diam.


"Kenapa Diam Tahu jika itu salah baru sadar, Bodoh.." Seketika Galen melempar Damanda ke dinding dengan keras dan batuk berdarah. Damanda merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"TIDAK ADA YANG BISA MELUDAH ATAUPUN MEMBUAT HAL MEMALUKAN DIDEPAN WAJAHKU TERMASUK KAU DARAH GUARDING!"


Damanda dengan setengah kekuatan terkekeh.

__ADS_1


"Hehe.. Bagulah itu adalah yang pertama bagimu dan dan pertama bagiku, Aku akan melakukan apapun untuk kau mati di tangan Rhapael," ucap Damanda.


Galaen berdecih dan keluar dari sana sempat sebelumnya mencengkik leher Damanda tanpa menyentuh lalu lepas setelah Galen pergi dari sana.


__ADS_2