
Damanda di letakkan perlahan oleh Rhapael diatas kasur dan Damian bersama sama saling dorong mendekati Damanda.
"Ibu tidak apa-apa."Kata mereka bersamaan.
Damanda menggeleng. Ketika itu Rhapael menatap keduanya yang sibuk mengganggu damanda yang di ganggu justru tetap tersenyum mengusap dua kepala anak laki-laki itu.
"Elina bawa kedua dan minta mereka istirahat," ucap Rhapael dengan suara besarnya.
"Kenapa," ucap Rhapael ketika keduanya menoleh bersama.
"Aku tidak mau tidur." Kata Damian.
"Iya aku mau Bersam ibuku." Kata Daman.
"Apa Dia ibuku tahu," ucap Damian lebih keras menarik urat marahnya terlihat di lehernya kedua tangannya mengepal.
"Ibuku," kata Daman lagi lebih keras.
Para pelayan hanya diam menunduk sibuk mengerjakan tugasnya menyiapkan keperluan Damanda
Elina menahan senyumnya dengan menundukkan wajahnya Damanda menatap gemas keduanya Rhapael hanya menghela nafas beratnya.
"Kalian berdua bukan putraku, sekarang tidur dan istirahat."kata Rhapael.
"Memang bukan anak ayah kami anak ibu Damanda," ucap mereka tanpa sadar bersamaan Seketika Rhapael hilang kesabaran dan menarik kedua kerah baju anak laki-laki itu dan membawanya keluar bersama Elina mengikuti dari belakang.
"Huaa... Ibu lepaskan.. Orang ini jahat," ucap mereka berdua kembali bersama. Damanda menggeleng terkekeh.
"Istirahatlah sayang, Kalian tidak baik begadang sampai pagi, " ucap Damanda setengah berteriak.
Setelah Rhapael menutup pintu dan membiarkan mereka bersama Elina perlahan juga suara tangis mereka menjauh seingiringan itu Damanda di urus para pelayan untuk membersihkan dirinya.
Rhapael menunggu hingga Damanda selesai dan ketika sudah selesai.
Damanda di dudukkan pelan di atas kasur dan para pelayan pamit pergi.
__ADS_1
Tinggal Damanda dan Rhapael didalam ruangan itu rasanya canggung dan mereka juga berdehem bersamaan saat itu juga keduanya malu, sama-sama tahu jika mereka canggung satu sama lain.
Rhapael mengambil kaki Damanda pelan dan mulai mengobatinya pelan dengan pijat juga sihirnya.
Ada luka juga mungkin lecet karena terjatuh.
"Kau seharunya memikirkannya sejak awal jika kembali jika seperti ini tak aman akhirnya untukmu," ucap Rhapael pelan.
"Aku ingin besok pagi tapi aku tak nyaman ketika sekitar gubuk di awasi lagi pula kenapa juga aku harus di awasi dan bertemu mereka." ucap Damanda lagi.
"Tapi, jika kau kembali besok aku penasaran akan seperti apa keadaanmu," ucap Rhapael seketika Damanda menarik kakinya dan seketika itu ?enarik kerah Rhapael.
"Kau berharap aku kembali dengan keadaan mengenaskan, Kau gila Haah... Cih," katanya mendorong Rhapael lagi hingga duduk kembali dan seketika ngilu di kakinya terasa lagi.
Damanda mengelus sakit.
"Kau keras kepala dan sok berani akhirnya berakhir mengenaskan jika aku tak menolongmu."
"Oiya.. Rhapael kau pikir jika kau bangsa Imortalia aku akan merasa takjub tidak, aku tarik kembali kata terimakasih ku tadi dan pergilah dari hadapanku," kata Damanda lupa jika ini kamar siapa ruangan juga wilayah siapa.
"Menjauhlah dariku sialan," umpatan Damanda yang kesal.
Rhapael tersenyum miring. Seketika mata birunya muncul dengan tajam.
"Tidak."
"Apa.. Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku," ucap Damanda seketika Rhapael menambahkan tarikan garis senyumannya.
Membuat Damanda bungkam dan menatap kesamping.
Seketika akan mendekatkan bibir mereka Damanda bergerak wajahnya lagi ke samping lagi.
"Jika kau tidak diam aku akan membuat tanda yang dua bocah itu bisa lihat." Ancaman Rhapael berhasil membuat Damanda bungkam.
"Aap-Apa .. kau mengancam huuh.." Kata Damanda seketika menggerakkan kakinya yang tak sakit untuk melepaskan diri seketika itu Rhapael membuat kedua kakinya tak bisa bergerak.
__ADS_1
"Masih sakit saja bisa bergerak-gerak."
Damanda melotot tajam dengan dengusan nafas marah.
Di tempat lainnya hqlaman Marcus dan tristan masih mengobrol dan mengistirahatkan diri bersama para prajurit lainnya. Kekacauan ini sangat tak masuk akal tapi, nyata.
Mereka juga baru menemukan bukti aneh.
Tanpa sadar ternyata ada seorang wanita mengintip dari kegelapan di balik dinding dekat pembicaraan Marcus Tristan dan Limino.
Mereka menghela nafas dan bergerak masuk untuk istirahat. Seorang wanita dengan pakaian pelayan itu pergi menjauh dan seketika mengilang seperti asap hitam.
Tristan menghentikan langkahnya seketika mengorek hidungnya dengan kelingking.
Marcus menoleh.
"Tristan jaga sikapmu, " kata Marcus.
"Memang kenapa sesuka hati lah," ucapnya lalu kembali berjalan mengejar Marcus dan lainnya.
Malam yang dingin bersamaan bintang di langit berjajar Rapi kini akan segera berlalu setelah di dalam kamar Raja pasti terjadi pergulatan yang tak henti.
"Jangan sentuh," ucap Damanda mengancam Rhapael.
"Kenapa tidak bisa bahkan aku sudah..."
"DIAM. DIAM..." Teriak Damanda lebih kesal.
"Kenapa lagi?" Kata Rhapael.
"Yaa, aku tak mau dan pergilah dari hadapanku pergi sana.. huuh aku ingin istirahat." kata Damanda memohon dengan wajah menyamping seketika menatap wajah Damanda yang ternyata sedih dengan air mata menumpuk di mata. Rhapael hanya menggoda Damanda tapi, sampai menangis sekarang.
Rhapael mendekatkan bibirnya dan mencium Damanda semakin dalam hingga suara alulan indah dari kedua bibir itu terdengar di ruangan itu seketika itu tangan Damanda melemah.
Di detik berikutnya berubah mengeraskan memeganggannya dengan kuku. Mengigit bibir bawah Rhapael dengan kencang. Hingga terhenti acara itu yang sedang akan mencapai puncak.
__ADS_1
"Rhapael aku peringatkan jika aku..." Seketika Rhapael mengecup dahi Damanda dalam-dalam dengan memejamkan matanya dan seketika itu Damanda merasa tenang. Mereka berakhir tidur biasa bersama.