
Rhapael menghancurkan air mancur dan menatap ke sekeliling.
"Dengan begini apa aku bisa mematahkan leher kalian berdua." Kata Rhapael sambil mencengkram leher kedua pelayan perempuan yang ternyata bangsa imortalia suruhan Galen teman dari wanita cantik bersurai hijau terang dekat telinga.
"Aarh... Tidak, Kami lebih baik mati dari pada berhianat pada Raja Galen," ucap keduanya dengan sepakat saling mengangguk.
Rhapael menatap dengan tatapan tajam dan ketika akan membunuh keduanya Ratu Zeline mendekat tapi, terlambat karena keduanya menjadi abu hitam.
Ratu Zeline terdiam dengan helaan nafas yang panjang.
"Lebih baik bersabarlah kita cari lagi Damanda mungkin masih ada di sekitar istana yang dia tinggalkan tanda." Ratu Zeline mencoba menurunkan amarah Rhapael.
Sepertinya tidak berpengaruh dan malah membuat Rhapael terdiam sekarang.
Seketika Elina datang dengan membawa sepatu kalung juga kabar di di taman tentang cakaran kuku seseorang.
Ketika baru Rhapael akan berbalik berjalan bersama Ratu Zeline, Elina membuat langkah mereka terhenti. Ratu Zeline sudah mengetahui tentang ini seharusnya tidak sekarang kenapa sekarang ini sangatlah terlalu cepat. Ratu Zeline terdiam sambil menggenggam kalung yang di berikan pada Damanda. Elina menatap Rhapael dan Ratu Zeline bergantian.
Ternyata maksudnya lepasnya kalung ini dari Damanda adalah karena untuk mengetahui sesuatu yang Ratu Zeline ingin tahu, sedangkan yang lainnya pun tidak tahu maksud Ratu Zeline.
Di dalam penjara yang kotor dan bau menyengat Damanda hanya duduk terdiam dengan lemah.
Rasa Haus menghinggapi tenggorokannya dan rasa lemah letih lesunya juga sangat terasa. Damanda berusaha bangun tapi, rasa lemasnya lebih mendominasi.
Sekarang di atas meja panjang ruangan Ratu Zeline dan semua orang penting yang bisa di percaya mendukung Rhapael sebagai Raja berikutnya.
"Saya akan mendukungnya jika ini positif untuk kita semua jika hasilnya sangat buruk maka, Saya akan berhenti sampai sini," ucap seorang dengan rambut putih seperti Marcus tapi, bukan penyihir melainkan bangsawan lainnya yang wilayahnya terkena dampak dari Galen.
"Jika saya akan mendukung sampai semua selesai entah apapun kemungkinannya, Saya tahu yangmulia Ratu Zeline pasti sudah mempertimbangkan segalanya hingga ke dasar akar yang paling belum terlihat."
Seketika pendapat orang yang tak sepakat itu mulai goyah.
__ADS_1
"Jika kalian keberatan dan ada yang terpaksa Saya Rhapael tidak akan memaksa tapi, jika daerah kalian terkena dampak perang ini jangan berteriak pada kerajaan selatan karena saya juga tidak akan tahu apa dampaknya bisa sangat besar atau tidak."
Rhapael bersuara membuat semua diam dan kembali berpikir masing masing.
Rhapael terdiam menatap semuanya.
Seketika mereka semua menatap Rhapael.
Di dalam penjara Damanda masih dengan situasi yang sama.
Di luar sana di bawah cahaya mentari pagi Rhapael dan lainnya pergi dengan berkuda mereka semuanya sudah lengkap dengan pakaian dan juga baju Zirahnya masing-masing mereka juga sudah siap untuk memulai hal yang bisa saja membuat nyawa mereka melayang.
Di kerajaannya Galen, Kerajaan Selatan milik Raja Damian yang diambil paksa.
Di atas Tahta Galen duduk dengan sangat sombong. Wajahnya menatap tak suka pada seorang ibu yang sedang hamil wajahnya sangat kotor dan badannya bau pakaiannya tak layak.
Galen memberi isyarat pada Algojonya untuk mengeksekusi ibu itu.
Ya, Damanda Ada disana Damanda menatap juga memperhatikan semuanya. Ibu itu memohon menatap padanya tapi, Tidak bisa Damanda melakukan apapun Damanda terdiam dan menggeleng lalu ibu itu meninggal sesaat setelah Damanda menggelng.
"Dasar Raja yang jahat dan Sombong," ucap Damanda masih seperti orang yang bertenaga.
"Rhapael akan sangat marah jika kau membunuh orang yang tak bersalah, aku yakin juga jika saat ini pasti dia sangat marah karena aku hilang dari sisinya," ucap Damanda dengan berani menantang Galen sang imortalia terkuat walaupun itu Rhapael belum di ketahui seberapa kuat dirinya.
Damanda di hampir Galen dengan langkah pelannya dan berjongkok di depan Damanda.
"Apa ini yang di sebut Guarding, Ternyata begitu buruk sampai bisa tertangkap, Kau sesombong itu, Kami adalah imortalia, Kau tidak tahu apa yang akan kami lakukan," ucapnya dengan menatap mata tajam Damanda. Seketika kekehan Galen membuat semuanya menunduk takut.
"Rumornya mengatakan Galen akan hidup sendiri, Rumornya Galen akan mati," ucapnya dengan percaya diri.
"Oh.. Tidak Aku ini akan abadi, aku akan membalaskan dendam untuk kematian dan penderitaan ibuku pada Rhapael, Matinya Rhapael adalah tujuanku," ucap Galen lagi dengan mengepalkan tangannya didepan wajah Damanda.
__ADS_1
Kemarahan Rhapael sangat terlihat nyata Marcus dan Tristan bisa merasakan itu sampai Limino sangat-sangat merasakannya.
'Semarah itukah pangeran ketika Nona Damanda hilang, sangat langka dan aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.' Pikiran Limino.
'Apa yang mereka lakukan semalam jangan jangan Damanda mengambil sesuatu sehingga Pangeran Rhapael sangat marah jika Sampai Damanda kabur setelah di lepaskan Galen.' Pikiran Tristan.
'Wanita itu, benar-benar rumit kenapa juga Pangeran harus bertemua Guarding jenis itu sih menyebalkan, Damanda gadis menyenang bukan, dia Gadis pembuat masalah.' Pikiran Marcus tidak selalu buruk untuk Orang lain tetapi jika pada Damanda entah dirinya selalu seperti itu. Seperti tikus dan Anjing.
'Aku benar jika yang hilang adalah sesuatu,' pikiran Tristan lagi melirik Rhapael lalu kaki kudanya. Pikirannya tak henti-hentinya tentang waktu malam itu, Tristan sangat curiga sepertinya.
Seketika Ingatan Rhapael melayang jauh dimana dirinya pertama kali melihat Damanda mengetahui tatapan mata penasaran dan rasa ingin mendekati, Kenapa bisa ada wanita seperti Damanda yang tahu jika Seorang vampir dirinya, Maksudnya, Rhapael itu putra dari Raja Damian Rumor menyebar dengan cepat jika Putranya Raja Damian seorang imortalia juga beberapa orang yang tak suka mungkin akan membencinya Rhapael dan Rhapael pun juga menganggap selama ini jika semuanya memang membencinya.
Dan Damanda ternyata tidak. Hanya dengan Damanda di pertemuan pertamanya dirinya bisa bicara dengan sangat menyenangkan. Rhapael ingat itu, Mengingat itu juga ketika Rhapael melawan seorang perempuan asap hitam yang Damanda katai dengan sangat enteng juga berani.
Walaupun Damanda yang Rhapael tahu bukan berasal dari sini tetap saja rasanya Damanda adalah penguni Dunia yang Rhapael tempati. Damanda sangat baik dan baik menurutnya.
Tapi, Galen adalah urusannya jika sampai Galen menyentuh Damanda barang sedikitpun Rhapael akan menghancurkan Galen sampai tak berbentuk sebelum menjadi abu dan menghilang untuk selamanya.
Rhapael mempercepat laju kudanya dan di ikuti semuanya.
Seketika itu Rhapael tersenyum membuat Tristan merasa aneh, pikiran buruk juga aneh-anehnya tentang malam itu sangat kuat dugaan nya dan Tristan yakin jika Damanda dan pangeran Rhapael benar-benar melakukan itu dan ternyata Tristan baru sadar juga jika semalam mereka menunggu ruangan dengan dua mahluk sedang bercinta.
Seketika Marcus memukul kepala Tristan dengan sihirnya hingga terasa seperti di pukul dengan tongkat.
"Kau..." Tristan kesal ingin marah.
"Aku tahu kau memikirkan apa, Jika kau memikirkan kejadian malam itu aku yakin Rhapael akan membenci itu dan marah padamu," ucap Marcus seperti anjing yang menyalak pada Kucing liar, sok berani.
"Diam lah kalo gitu simpan rahasiaku," ucap Tristan.
Marcus acuh saja seketika itu Tristan menghela nafasnya sudah sangat menyebalkan Marcus, di tambah dia adalah orang terdekat Tristan.
__ADS_1
'Untung masih bersaudara jika tidak ku copot lidahnya dari tempatnya,' pikirnya marah pada Marcus.