
Rhapael dan Marcus juga Tristan menyudahi berbalik badan mereka menyudahi waktu Damanda dan Damian yang sedang saling meluapkan rasa rindunya.
Rhapael berbalik badannya ketika Damanda dan Damian yang sedang mencium pipi Damanda.
Damanda menoleh menatap Rhapael yang sedang melangkah mendekat kearah mereka berdua.
Damian menoleh melihat Rhapael mendekat.
"Ibu. Ayah menyelamatkan kita!" Kata Damian dengan wajah yang senang.
"Kalian berdua selamat," ucap Rhapael dengan suara berat dan ekspresi datarnya mata birunya kini berubah kembali normal. Karena ada Damanda di sampingnya tentunya rasa berdebar dan ingin marah itu hilang ketika Damanda ada di dekatnnya.
Ketik Rhapael akan berbalik melangkah pergi berjalan Damian menunggu Damanda bangkit dari duduknya.
"A.." Sakit sekali kakinya rasanya seperti patah tapi ini perih sekali. Damanda menyembunyikan rasa sakit di ekspresi wajahnya dengan tertutup rambut dari penglihatan Damian.
"Ibu. Ibu tidak apa-apa?" Damian bertanya dengan nada suara khawatir ketika cara berdiri Damanda tidak terlihat baik-baik saja.
"Tidak.. Apa.. Ini hanya sakit karena kerikil kecil ato jalan duluan sana," ucap Damanda meminta Damian berjalan duluan.
Rhapael yang mendengar teriak kecil Damanda sudah menghentikan langkah kakinya sejak tadi dan berdiri memunggungi Damanda dan Damian.
Di atas Daman masih menangis dan histeris lagi ketika melihat seorang prjurit membawa tandu di hadapannya.
"Nona sepertinya Tuan muda melihat tanduh yang di bawa prajurit dan mengira jika ada hal buruk." Kata salah satu pelayan yang sadar akan tatapan Daman ketika melihat Tanduh melewatinya.
Elina terdiam dan terus menenangkan Daman Elina berusaha membuat tenang tapi sulit sekali.
Di bawah sana Damanda berjalan pelan seketika selangkah berjalan rasa sakitnya berkali lipat hingga tak sanggup dan kembali duduk Damian membantu Damanda dengan tangan kecilnya tapi, Damanda tersenyum menggeleng.
"Tidak apa-apa.. Naik lah dulu ke atas dengan paman paman prajurit Ibu akan menyusulmu nanti," ucap Damanda seketika tubuhnya terang(at tanpa aba aba dan Damian melihat ayahnya menggendong ibunya terdiam dan mengikuti mereka pergi.
Damian melangkah mengikuti Rhapael lalu di ajak salahs atu Prajurit untuk naik lebih dulu.
__ADS_1
Damanda dan Rhapael naik berdua tanpa bantuan apapun.
Mereka bertiga menghampiri Daman yang masih menangis.
*
Marcus dan lainnya memeriksa area sekitar jurang juga tempat bertarung Green dan prajurit lainnya juga memeriksa gubuknya.
"Aku akan memeriksa bagian atas," ucap Marcus mengalihkan dirinya pada sesuatu hal yang telah di pasangnya sebelum jembatan.
Tristan mengangguk dan Marcus mulai mencari beberapa hal yang itu adalah Tanaman serbuk bunga sihir berwarna ungu bentuk terompet kecil ungu dengan buah bisa meledak berbentuk panjang seperti batang tanaman cambah ijo.
Marcus melihat beberapa tanaman itu mati dan tak bisa tumbuh lagi.
Pantas saja dirinya merasa aneh tapi ketika melihat ini masih utuh waktu itu tapi dua hari belakangan ini Marcus sibuk dengan urusan kerajaan.
Marcus menghela nafasnya dan menatap beberapa tanaman tersisa dan terkena penyakit.
Marcus dan Limino juga Tristan kembali lagi ke istana dan mulai memulihkan diri dari rasa terkejut.
Di dalam Istana.
"Maafkan aku menggiring mereka kemari," ucap Damanda dalam gendongan Rhapael.
"Aku tak bertanya."
"Iya aku tahu kau kesal karena aku membuat kekacauan tapi, aku merasa ingin kemari lagian lagipula mereka kenapa muncul segala seharunya mereka itu pergi saja bukannya Galen sudah musnah." Kata Damanda kesal dalam Gendongan Rhapael.
"Kau tidak salah mereka memang masih ada kau juga menggunakan kalung itu, mulai sekarang jika kau menerima mimpi atau bertemu siapapun katakan padaku jangan percaya ucapan mereka." Kata Rhapael tegas. Damanda terdiam.
Anggukan kepalanya lalu melirik kebelakang lalu kedepan.
"Dimana kau akan membawaku?" kata Damanda.
__ADS_1
Rhapael tak menjawab dan terus berjalan. Di belakangnya para pelayan juga Elina menuntun Daman dan Damian bersama-sama.
"Kau siapa ?" Kata Damian
"Aku yang seharusnya tanya kau yang siapa?" Kata Daman dengan kesal dan marah.
"Aku tak mengajakmu bertengkar ya!" Kata Damian kesal seketika karena sikap Daman.
"Oiya. Tapi Kau dekat-dekat ibuku!" Kata Daman lebih kesal.
"Heey.. Dia ibuku bukan ibumu!" Kesal Damian lebih keras.
"Oiyaa. katakan bagaimana kau tahu dia ibumu kau saja tidak tahu lahir dari siapa?" Kata Daman lebih berani menantang Damian yang kesal.
"Huuh.. Diam lah aku robek mulutmu aku itu putranya ibu Damanda dan Raja Rhapael jika kau tak percaya lihat mata wajah kulit rambut aku mirip segalanya KAU?" Kata Damian lebih keras dan lebih pasti.
Daman mencibir ucapan Damian.
Damian tambah kesal menghentakan kakinya.
"Jika kalian mau berkelahi aku akan meletakan kalian di halaman istana," ucapan Rhapael seketika meredakan suara marah keduanya dalam berdebat tentang siapa ibu mereka dan siapa ayah mereka.
Rhapael berhasil buktinya keduanya langsung terdiam.
Merek berdua, Damian dan Daman saling membuang wajah dan Elina masih menggandeng keduanya dengan kekehan kecil tertahan mengulum bibirnya kedalam.
"Jika para Tuan muda marah dan berdebat istana ini lebih terasa seperti sangat ramai dan juga indah ya," bisik para pelayan.
Seketika Damian menoleh menatap semuanya seketika menunduk.
"Ya walaupun para Tuan muda tidak tahu seperti apa sifat helek mereka mereka tetap lucu menggemaskan untuk sekarang." bisik para pelayan lagi.
Masuk ke dalam Kamar Rhapael dan setelah pintu terbuka Mereka semua melangkah masuk bersama.
__ADS_1