Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3


Damanda dan lainnya melanjutkan perjalanan sesekali bernyanyi lagu yang bahkan membuat Tristan menggeram marah.


"Nanan.. nananan.. nanana."


"Nona suara mu sangat merdu, Hingga gendang telingaku sudah robek dan aku jahit berulang kali," ucap Tristan dengan pelan.


Damanda menoleh dan menjulurkan lidahnya.


"Kenapa kau terganggu! Pangeran Rhapael saja tidak, Limino tidak," ucap Damanda dengan membela diri.


"Mereka sabar karena mereka tahu kau itu wanita nona." Suara Marcus terdengar menyebalkan di telinga Damanda.


"Haah.. Apa aku tidak dengar jika ada yang bicara. Weeek... Terserah," katanya dengan mengejek Tristan dan Marcus.


"Nona berhati hatilah kami ini penyihir," ucap Tristan dengan suara pelan tapi terdengar seperti ancaman di telinga Marcus.


Mereka berjalan santai karena cuacanya sedang cerah, lebih baik begitu, berjalan santai lebih baik Damanda juga pasti cepat lelah tapi, perkiraan mereka salah. Ketika Damanda tidak ingin istirahat lagi mereka melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki di malam hari sekarang mungkin sudah tengah malam.


Damanda terus ada di samping Rhapael tidak pernah menjauh. Sekali pun jauh Damanda Langsung mendekat ke Rhapael dan ketika di tatapan Rhapael Damanda memasang senyuman terbaiknya.


Damanda meminta untuk duduk. Keempatnya pun mengangguk dan lagi pula sebentar lagi pagi jadi istirahat juga tidak masalah sudah dua hari mereka tidak istirahat tanpa sadar dari berjalan kaki sampai naik kuda sampai satu hari ful naik kuda dan sekarang mereka berjalan lagi.


Mereka beristihat di Hutan daerah utara, Hutan yang cukup aman karena hutan ini juga jarang terdapat bandit perampokan atau pembunuhan sadis.


"Tempat yang kita kira sebagai Tempat banyak bandit ternyata tempat itu malah berbau bangkai," ucap Marcus menatap Rhapael dan Tristan yang asik mencari ikan di sungai Limino menunggu Damanda yang tertidur di dekat para kudanya makan.


"Para Bandit itu mati dengan mengenaskan ketika kalian belum datang kesana," kata Rhapael tiba-tiba. Seketika, Mereka mengerti maksud Rhapael.

__ADS_1


Damanda yang tidur terlelap seketika terbangun dan melihat tempatnya kosong. Saat ingin melangkah pergi ternyata Damanda tidak membawa pedang itu.


'Kemana Pedangnya?' ucapnya menoleh kesana kemari pikirannya terus mencari dimana dirinya meletakan pedang tadi tidak mungkin jika hilang mereka bilang hanya Damanda yang bisa menyentuh lah sekarang kemana. Oh pedang hidup atau Pedang ini benda mati sih?


Damanda mencari dan terus membuka semak-semak seketika suara tawa wanita didengarnya Damanda mendekat dan ternyata wanita itu sangat cantik seperti bayangannya menggunakan mahkota dan gaun indah seperti Ratu yang sangat cantik.


Damanda mendekat seketika itu wanita itu menoleh menatap Damanda yang mendekat Dirinya juga mendekat dan memiringkan kepalanya seketika kepalanya lepas. Damanda terbangun dari tidurnya.


Seketika itu kenyataannya pedang ada di dekatnya tapi, kenapa sendiri Damanda berteriak memanggil Rhapael dan lainnya tapi, suaranya tiba-tiba Hilang Damanda terjatuh dan seketika itu bangun dan melihat sesosok perempuan cantik rambut bergelombang mata merah tiba-tiba mencekiknya dan menarik Damanda ke atas.


"Lepas.. Lepaskan..." Damanda bersuara tertahan Seketika itu perutnya tertancap belati seketika itu Damanda terbangun dan melihat semuanya lengkap berkumpul tapi, seketika mereka menoleh Mata mereka hilang termasuk Marcus yang wajahnya penuh darah dan Tristan penuh ulat. Seketika Manda datang.


"Ini ulah mereka. Kau itu jangan ketakutan Damanda jika kau berani kau akan bangun dari mimpi ini. Kali ini aku datang untuk berpamitan padamu dan jangan lupakan pesanku," ucapan Manda lalu menghilang seperti pasir berkilauan terkena tiupan angin.


Damanda bangun dan melihat sekitar ketika itu Damanda melihat kuda lengkap sedang makan pedang ada di sampingnya dan tanah tempatnya tidur asli bisa di cium bau rumputnya.


"Sudah bangun nona Apa tidur anda nyenak," ucap Limino tidak lama Rhapael dan Tristan datang membawa sedikit makanan.


"Disini tidak ada makanan binatang darat jadi makam ikan saja, kau tidak alergi bukan?" Suara Marcus terdengar sangat santai.


Damanda menatap Marcus tidak suka dan mengepalkan kedua tangannya di samping badannya.


Hari perlahan cerah mereka melanjutkan lagi perjalanannya Seketika akan berjalan di belakang Rhapael menatap Damanda.


"Aku.. akan di dekat mereka berdua." Damanda menunjuk Marcus dan Tristan.


Rhapael tidak merespon Damanda tahu artinya silakan saja pasti begitu.


"Kalian berdua!" Damanda menarik tali jubah di leher keduannya dengan kasar. Manarik kedepan hingga mereka membungkuk.

__ADS_1


"Nona kau ini wanita tapi sangat kasar." Tristan mengeluh menarik talinya dai tangan Damanda tapi, tidak terlepas.


"Oiya.. Kasar.. Baguslah kalian sadar, Aku ini wanita tapi, kalian membuatku hampir gila hampir aku mati karena mimpi itu," ucapan Damanda seketika membuat raut wajah Marcus. Berubah sebentar la ketahuan oleh lirikan tajam Mata Damanda.


"Kenapa Marah, atau ketahuan salah," ucap Damanda.


Seketika Sebuah ranting atau akar menjalar menangkap Damanda dan membuatnya terperangkap. Saat itu juga Tristan dan Marcus terikat juga. Mereka tergantung terbalik tidak bisa berteriak ataupun bicara mereka di tutup mulutnya dengan akar hitau dan daun tanaman rambat.


Tanpa sadar Damanda mengepalkan tangannya karena berusaha berontak. Marcus dan Tristan berusaha keluar tapi, tidak bisa. Seakan mereka terikat kencang.


Bugh... Bugh...Bugh... Damanda dan Tristan juga Marcus terjatuh dan terlihat Rhapael sendiri berdiri dengan memegang pedangnya. Banyak cairan hijau dan mata birunya.


"Aduh.. sakit... Rhapael eh Pangeran," ucap Damanda sadar ketika melihat Rhapael membantunya berdiri dengan mengangkatnya seberti anak kecil yang jatuh, mudah sekali.


"Kalian jaga Damanda." Rhapael pergi. Marcus mengangguk Seketika sebuah ranting muncul saat itu juga Tristan menebasnya dan fokus menjaga Damanda lagi.


Damanda langsung berbalik ketika ada ranting yang akan memegang pedang itu dan langsung mengering. Damanda memeluk Pedang itu dan mundur menjauh tetap di belakang Marcus, Tristan.


Rhapael menemukan Limino di ikat sampai terlihat akan mati. Rhapael membantu dan menyerang sebisanya. Sampai semua selamat mereka akhirnya berjalan kaki dengan langkah yang tidak terkira. Jarak menuju kerajaan Utara masih satu hari lagi.


Rhapael dan lainnya ke kurangan bahan makanan dan juga kuda. Kuda mereka di telan monster dan habis sampai tinggal sepotong pendek tali pelana kuda.


Rhapael dan Damanda Limino Tristan mereka tidak akan beristirahat sampai di kerajaan.


Damanda dengan semangat dan akhirnya bisa melangkah lebih cepat walaupun aslinya kakinya rasanya mau lepas. Ketika sudah terasa mau putus tulang persendiannya Damanda hampir terjatuh tapi, di tangkap Rhapael dengan cepat dan akhirnya bisa di bawa Rhapael di gendong belakang.


"Aah... Jangan turun kan aku," ucap Damanda.


"Sudah lah nona merepotkan saja. Anda itu terlalu lambat." Marcus bersuara seketika membuat mood Damanda Turun dan kesal.

__ADS_1


__ADS_2