
Damanda tertidur di gendongan Rhapael Seketika, Rhapael dan Limino mengangguk dengan kekuatan Tristan lalu Rhapael membantu sedikit terbuka portal dan mereka melewati portal itu bersama.
Sampai di kota Utara Kerajaan Ratu Zeline. Mereka melangkah berbaur dengan semua orang pedagang dan rakyat di kerajaan utara itu.
"Sampai," ucap Damanda menatap ke sekeliling ramai orang dan beberapa hal aneh ada orang tapi, bukan manusia.
"Jangan terkejut," ucap Tristan memberikan isyarat pada Damanda diam dan tidak berteriak atau muntah namanya juga mahluk yang beda alam atau beda hal di pakai di konsumsi pasti mereka terlihat seperti Monster sebenarnya bukan monster.
"Iya," ucap Damanda berbisik.
Rhapael menurunkan Damanda dan Damanda menatap sekitar menatap lengan Rhapael.
Menusuknya dengan telunjuknya berulang kali.
"Apa aku berat, kau pegal atau sakit?"
Rhapael terdiam tidak menjawab ucapan Damanda malah mengedarkan pandangannya.
Limino pergi untuk memberikan mereka berempat jalan masuk bertemu langsung dengan Ratu Zeline.
Marcus dan Tristan bersama Rhapael menatap sekitar biasa sambil berjalan-jalan.
"Kau tidak pernah pergi ke pasar seperti ini," ucap Marcus.
"Tidak? Waktu itu kan kita ke pasar juga kalo gak salah masih daerah kerajaan Damian tapi, ini beda," Sahutnya menatap Orang yang barusan keluar dari kedai eskrim atau es serut dengan keju.
"Tunggu !" Damanda membuat ketiganya menatap Damanda dengan sebentar lalu mengajak Damanda berbelok dekat air mancur.
"Apa kalian kenal dengan aku, kalian panggil namaku, dan Kalian bilang aku ini punya darah Guarding lalu aku penjaga pedang ini itu terus aku juga akan melepas pedang ini setelah Rhapael jadi raja terus aku bagaimana apa aku di suruh pergi atau di bunuh? Aku ini bingung kenapa aku sulit memahami kondisi ini. Satu lagi kenapa kita cepat sampai kenapa kita ada disini. Utara, Ratu Zeline, Kerajaan Sekutu, Apa kalian mau perang ayo jelaskan padaku."
__ADS_1
Marcus menatap sekitar Tristan menatap Damanda tajam di balas tatapan tanya dari mata Damanda yang menatap Tristan bergantian Marcus bergantian Rhapel. Rhapael menoleh ketika Damanda menatapnya.
"Tunggu dulu tentang mimpi waktu itu kalian belum meminta maaf padaku," ucap Damanda lagi.
"Tanya itu satu persatu, pelan-pelan kami mau menjawabnya juga sulit, Tentang apa yang mau kau tanyakan Damanda." Tristan bicara.
Damanda menatap ketiganya bergantian dan menghela nafasnya.
"Semua!" Damanda tegas menatap tajam ketiganya.
"Sebaiknya kalian bicara di istanaku jika Kalian ingin nyaman, Ada banyak telinga dan mata disini," suara dari seorang wanita yang lembut juga penuh ketegasan dalam nada bicara yang halusnya.
Ke empatnya menoleh ke asal suara. Limino di samping seorang dengan tudung jubah coklat Rambut Putih panjang dan bagian ujung rambutnya berwarna hitam. Tingginya sama dengan Limino ramping dan cantik tersenyum menatap ke arah Damanda. Matanya berwarna hijau seperti Danau.
"Apa kabar Pangeran," ucap Ratu Zeline dengan sangat lembut.
"Aku baik yangmulia," ucap Rhapael dan di angguki oleh Ratu Zeline. Mereka semua pergi tapi, Damanda masih bimbang dang bingung. Seketika sebuah tangan menarik tangan Damanda dan mengambilnya agar jalan bersama.
'Aneh! langsung di sambut baik, memangnya Ratu ini kenal dengan semuanya yang bersama ku dan dia manusiakan bukan Vampier?' pikiran Damanda melayang ketika menaiki tangga menuju pintu utama Istana.
Damanda menatap sekitar, rasanya masih gak disangka bagaimana bisa Manda pergi dan meninggalkan tempat ini lalu memberikan tubuhnya pada Damanda. Damanda juga harusnya bersyukur karena di berikan kesempatan hidup tapi, tunggu mimpi itu Damanda, Iya.. masih belum mendapat jawaban dari Marcus dan Tristan.
Mereka semua di ajak untuk bicara bersama di ruang makan di mana Ratu Zeline menikmati makan malamnya.
Setelah selesai makan Malam Ratu Zeline menunjukkan tempat untuk mereka bicara. Ketika Damanda masuk Ratu Zeline menatapnya dengan tersenyum.
"Kalian bertiga bisa bicara Aku akan meminjam Rhapael dan Limino sebentar, Damanda selesaikan pertanyaanmu dengan mereka," ucapnya lalu pergi meninggalkan Damanda dengan Marcus dan Tristan. Tidak lama Ratu Zeline pergi ternyata ada pelayan masuk keruangan itu dan memberikan suguhan kecil buah-buahan.
Setelah pelayan pergi Damanda berdiri bertolak pinggang menatap Marcus dan Tristan yang diam dan ketika Tristan akan memakan sedikit buah terhenti dengan Damanda yang berdiri menatapnya tajam tapi, sebentar diacuhkan lalu kembali melanjutkan makannya.
Marcus duduk di kursi dengan kaki di atas meja.
__ADS_1
"Lupakan saja itu hanya mimpi lagi pula itu tidak akan ada gunanya kalo sudah dapat jawabannya," ucap Marcus santai sambil memejamkan matanya.
"Tidak berguna. Heey.. Hey... Tuan Tuan penyihir yang sangat hebat yang mengancamku yang membuatku hampir mati di telan mimpiku sendiri. Kalian membunuhku berarti kalian tidak akan bisa menjadikan Rhapael Raja yang lengkap tanpa pedang," ucapan Damanda seketika membuat Marcus dan Tristan menatap nya serius.
Sadar jika itu salah dan akan sangat buruk akibatnya mereka tidak sampai sana berpikirnya.
"Yaa.. Ya.. baru tahu baru paham, Ingat baik-baik, kalian mengatakan aku memiliki darah Guarding dan memiliki keistimewaan untuk memegang membawa dan bahkan pedang itu mengikutiku kemanapun aku pergi, kalian ini, minta maaf tidak malah sok tidak bersalah, aku jadi malas dan ragu-ragu jika, jika saja aku tidak berpikiran tentang Rhapael dan Limino aku akan egois saja dan pergi dengan pedang itu dan menghilang saja aku pastikan sihir kalian pasti tidak akan bisa menemukanku, Heeh?"
Damanda melipat tangannya dan menantang Marcus dan Tristan.
"Iya.. Maafkan kami, kami hanya tidak suka kau dengan kau," ucap Marcus. Damanda menatap heran apa maksud ucapan Marcus.
"Kau ini terlalu cerewet," ucap Tristan memperjelas ucapan Marcus.
"Baiklah aku juga minta maaf, aku tidak bisa diam juga kalian diam saja aku bosan," ucap Damanda.
Marcus meneggakkan Tubuhnya.
'Aku juga tahu kau bertemu Manda,' pikiran Marcus menatap Damanda.
Damanda menatap keduanya.
Marcus menghela nafasnya.
Di ruangan Ratu Zeline sambil duduk dan menatap Limino dan Rhapael.
Mereka berdua berbincang sangat serius dengan sesuatu Ratu Zeline bawa. Buku tebal dengan tulisnan mantra kuno.
"Kau bisa menetapkan beberapa mantra ketika kejadian dimana kau dan Damanda terdesak, Aku juga berharap kalian bersama jika kau mau jika tidak ya yaa.. sudah tak masalah," ucapan Ratu Zeline dengan wajah yang sangat mengejek Rhapael.
"Ayahmu... Ah tidak lupakan Damian.. Oh tidak jadi," ucap Ratu Zeline ketika sadar aura Rhapael sudah sangat suram. Ratu Zeline suka sekali menggoda Rhapael dan Damian. Usianya sudah seabad tapi, tetap terlihat masih berusia setengah abad.
__ADS_1
Buku itu Rhapael tatap dengan datar.