Guarding The Vampire Sword

Guarding The Vampire Sword
Gtvs


__ADS_3


Ratu Zeline mengerti mengangguk dengan senyuman.


"Aku bukan termasuk orang yang mudah tersinggung makanya aku minta padamu untuk santai, aku senang sikap.u yang tidak terduga tadi, mari kita pergi," ucapnya lagi mengajak Damanda kembali berjalan lagi.


Damanda dan Ratu saling berjalan bersama berbarengan menuju ruang latihan pedang.


Tempatnya di luar tapi, tetap ada didalam istana. Damanda melihat ruangan yang luas dan hanya ada lantai dari tanah dan juga ada pohon di tengah juga rumput di bagian pinggir adalah seperti lorong mengelilingi dengan banyak pilar.


Trang... Ratu Zeline melempar pedang dan Damanda langsung menoleh melihat pedang yang Ratu Zeline lempar.


“Ayo ambil kita akan latihan bersama.”


“Tapi, aku tidak terlalu bisa bagaimana?” Damanda menatap dan mengambil pedang yang ada di atas tanah itu.


“Tidak masalah aku bisa membantumu aku hanya ingin melihat seorang yang akan belajar untuk menjadi yang terbaik bukan yang terbaik untuk terlihat lebih baik,” ucap Ratu Zeline seketika menyerang Damanda seketika Refleks Damanda menahan dengan pedang suara tangkisan pedang itu terdengar nyaring.


Rhapael dan Limino yang sedang berjalan berdua tidak sengaja melihat Dan memasuki ruang latihan milik Ratu Zeline bersama para kesatria wanitanya.


Pelayan perempuan yang berdiri dengan membawa suguhan dan juga handuk menatap kedatanga. Rhapael mereka menganggguk sekali dan menurunkan pandangannya.


Menoleh kearah dentingan pedang beradu mereka menghadap di mana Damanda dan Ratu Zeline.


Terlihat Damanda masih dengan pedangnya. Dibawa selalu tak pernah lepas Rhapael sampai heran dan baru tahu.


“Kenapa pedang itu tidak bisa jauh dari Damanda,” ucap Rhapael menatap kedepan.


Limino mengangkat pandangannya.


“Maaf Yangmulia pedang itu akan lepas jika nona Damanda sudah memberikan pada Anda jika masih seperti itu Nona Damanda sama seperti sarungnya dan jika lepas berarti pedang itu akan berbahaya juga mengancam.” Penjelasan limino.


Rhapael bergeming menatap Damanda dan ratu Zeline yang masih melakukan permainan atau latihan pedang yang entahlah.


“Damanda kau harus siap jangan sampai lehermu tergores dadamu tertusuk bahumu tergores, dan bagian yang seharusnya kamu lindungi jangan ragu,” ucap Ratu Zeline.


Damanda mengangguk dan menyerang Ratu Zeline tanpa takut. Tatatpan Ratu Zeline cukup senang dengan sorot tajam seperti ingin menerkam mangsa milik Damanda.

__ADS_1


‘Tatapan yang sama seperti wanita yang aku kenal,’ pikir Ratu Zeline dengan nada yang sangat sedih di dalam hatinya.


Hanya dirinya sendiri yang tahu bagaimana rasanya mengenang yang sudah tiada dari diri seseorang di hadapannya.


Damanda cepat sekali belajar Damanda membuat Ratu Zeline sangat senang dan puas. Rasanya seperti sudah banyak belajar Damanda merasakan jika gerakan tubuhnya seperti sudah terlatih seketika teringat jika ini bukan tubuh Damanda tapi, tubuh Manda.


Damanda membiarkan gerakan tubuhnya di kontrol logikanya.


Seketika sadarnya Damanda melihat jika orang yang ada di bayangan matanya Ratu Zeline adalah perempuan yang mirip wajahnya dengan Rhapael.


Tanpa sadar seketika teralihkan dengan adanya Rhapael dan Limino memperhatikannya.


Damanda mengacuhkannya dan pergi fokus kembali dengan pedang dan juga serangannya pada Ratu Zeline dan pertahanannya.


Damanda dan Ratu Zeline masih latihan pedang sampai hari berlalu dan sekarang mereka berdua sudah beristirahat masing-masing.


“Kemampuanmu bagus, bohong jika kau tidak bisa menggunakan pedang Damanda,” ucap ratu pada Damanda yang hanya Diam malu mengangguk tersenyum.


“Aku suka cara mu menahan dan menangkis besok kita akan latihan sebentar dan kamu ikut aku untuk mendapatkan hadiah dariku,” ucap Ratu.


“Damanda santai saja denganku, aku suka kau memanggilku dengan santai bicara dengan nyaman dan juga ya tidak penting hal terlalu kaku di hadapanku," Katanya sambil meletakan pedang di tempatnya.


"Aku punya sesuatu aku harap kamu bisa menjaga dengan baik sampai aku sendiri yang menemukannya," ucap Ratu Zeline pada Damanda dengan tatapan bingung juga aneh.


"Hadiah,dari Ratu aku ataupun siapapun jika itu selagi bermanfaat dan baik maka kamu mau kan menerimanya.” Tambah Ratu Zeline ketika melihat ekspresi Damanda.


“Terimakasih Yang mulia atas perhatiannya,” ucap Damanda.


Beberapa waktu berlalu Damanda berganti pakaian yang nyaman seperti pakain untuk para kesatria wanita. Damanda sekarang sedang berjalan di lorong dan tidak sengaja melihat Limino dan seorang lelaki yang sepertinya seumuran melewati Damanda.


Acuh saja Damanda lagi pula Damanda menyapa juga rasanya aneh, sudahlah Damanda berjalan saja. Ini masih pagi jadi lakukan hal yang nyaman berhubung tenang.


Marcus dan Tristan duduk di bawah pohon dan di temani seorang wanita cantik dengan rambut coklat dan mata perak.


"Kalian ini kenapa menggunakannya untukelikai mimipi gadis itu," ucap wanita itu dengan wajah yang kesal.


"Hey... Elina kita ini satu perguruan jadi aku tidak bersalah, dia yang punya ide," bela Marcus.

__ADS_1


"Yaa.. apa kau gila menuduhku, pikirkan lagi ucapanmu yang asal, Kau yang minta , Tristan kerjailah gadis itu sebentar agar dia kapok, ayolah Tristan, Aku akan ada di belakangmu jika kau kenapa-kenapa," ucap Tristan.


Elina nama Wanita berambut coklat mata perak itu menatap kesal keduanya.


"Kalian ini sudah dewasa kau Marcus kau sudah di samakan penyihir level atas dan Kau Tristan, Kau kan sudah menjadi kesatria dan Penyihir walaupun kemampuan tak seberapa ku yakin kalian ini pasti sangat bijak dalam memakai sihir kalian," ucap Elina lalu diam melipat tangannya.


"Ehh... Sudahlah Elina kau sangat cerewet aku ingin istirahat nanti pasti Pangeran akan membawa kami sangat jauh lagi," ucapan Marcus seperti mengusir terdengar telinga Elina.


"Terserah kalian." Elina menjawabnya sambil berlalu pergi meninggalkan keduanya Tristan mengambil tempat nyaman di atas pohon dan itu sejuk juga tenang.


Damanda yang sedang melihat lihat sampai didepan Danau dengan pemandangan indah.


"Tenang dan sejuk," bermonolog pada dirinya memantulkan senyumannya dari Danau yang jernih.


Damanda berdiri berbalik seketika terkejut dan terpeleset. Rhapael menangkapnya tepat sebelum terjatuh.


"Tidak bisakah kau tidak berlebihan jangan berkeliaran sesuka hatimu," ucapan Rhapael terdengar kasar di tambah wajah cueknya.


"Iyaa.. aku tahu itu, trimakasih, aku akan pergi," ucap Damanda dengan suara terdengar kesal malas dan hancur sudah kesenangannya.


Rhapael menarik tangannya dan mengajak Damanda ke ruangan Latihan memberikan Damanda pedang.


'Untuk apa dia memberikanku ini, aku? latihan dengannya?' Pikiran Damanda tidak fokus seketika Rhapael menyerang tanpa aba aba membuat Damanda kelabakan.


Damanda menangkisnya dan mereka latihan berpedang sungguhan dan tanpa di sadari ratu Zeline memperhatikan mereka sambil menyesap teh dan camilannya sedikit


"Bawakan untuk mereka kecuali, pangeran air biasa saja," ucap Ratu pada pelayannya mereka pergi mengambil apa yang Ratu Zeline perintahkan.


Setengah jam berlalu Damanda menyerah dan Seketika itu Damanda menyingkirkan beberapa Rambut yang ada di wajahnya dengan telapak tangan di sisir kebelakang.


"Berhenti lah, aku lelah," ucap Damanda kesal.


Rhapael mengedikkan bahunya. Seketika suara tepuk tangan terdengar dan mereka berdua menoleh Damanda melihat ratu Zeline melangkah mendekat.


"Sekarang denganku, bagaimana satu set saja," ucapnya. Damanda menatap Rhapael.


Seperti tidak melihat apapun rhapael keluar area latihan dan duduk di kursi. Damanda mendengus kesal. Ia tidak bisa menolak permintaan Ratu Zeline masalahnya sudah di beri tumpangan tempat berteduh dan kenyamanan.

__ADS_1


__ADS_2