
Damanda tidak tega benar-benar tidak tega pada Rhapael dan menahan Ketakutannya pada Rhapael demi masalah ini selesai.
Sejujurnya Damanda tidak tahu apa yang di lakukannya sekarang, kenapa, dan bagaimana caranya pun Damanda tak mengerti sama sekali.
Damanda gemetaran ketakutan. Sekarang bagaimana?
Rhapael menundukkan wajahnya lalu berdiri mengangkat wajahnya dan memperlihatkan mata birunya.
"PERGILAH KELUAR DAMANDA AKU TIDAK INGIN MELUKAI MU, BELATI ITU MEMBUATKU GILA KEHILANGAN KENDALI DIRIKU SENDIRI!"
Terkejut dengan bentakan Rhapael didepan wajahnya. Refleks perasaan Damanda seperti tertusuk jarum perih rasanya.
"Tidak.. Aku akan melakukan apapun aku akan menjagamu, apa kau tidak mengerti jika kau sampai kenapa-kenapa lalu bagaimana dengan pengorbananmu mendapatkan istana dan pedang ini," ucap Damanda sedikit tinggi.
"TIDAK.. AKU TIDAK PERDULI!" Bentak Rhapael lagi.
Damanda terlanjur kesal dengan mata berkaca-kaca Damanda melangkah maju dengan berani dengan mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar juga darahnya menetes ke lantai ketika Damanda mengepalkan tangannya yang terluka tadi dan seketika membuat Rhapael semakin menahan dirinya mengepalkan kedua tangannya agar tidak menyerang Damanda.
"Menjauhlah," ucap Rhapael sembari menahan perasaannya yang berdebar juga gelisah tak karuan.
"Tidak... Tidak akan aku pergi sebelum kau menatapku Rhapael. Hanya kita berdua. Lihat aku, Aku tidak akan terluka aku justru akan lebih terluka jika Kau yang tersakiti seperti ini, Lihat aku Rhapael," ucap Damanda menahan emosinya.
Rhapael perlahan menoleh berusaha Menatap Damanda.
Damanda sedikit terkejut dengan mata Rhapael lalu kembali tenang dan tersenyum.
"Apa yang bisa aku bantu," ucap Damanda.
Rhapael melirik Tangan Damanda yang berdarah lalu membuang wajahnya dan menutup wajahnya dengan telapak tangan kanan.
Damanda mengikuti arah pandangan Rhapael seketika Damanda mengerti tapi, pedang di sampingnya yang selalu ada di punggunya di bawa ini jika Damanda sentuh dengan tangan terluka sekarang tidak ada gunanya jika Rhapael yang menyentuhnya mungkin bisa, Eh.. Damanda tangan yang tidak terluka kan ada. Damanda ini bagaimana, memangnya kenapa memikirkan pedang ini Damanda tinggal berikan tangannya dan Rhapael akan meminumnya.
Rhapael masih diam.
Seketika tangan Damanda meraih tangan kiri Rhapael dan membawa Rhapael duduk.
"Kemarilah," ucap Damanda.
Rhapael mengikuti saja tanpa penolakan dan duduk dengan tenang.
Damanda mengambil pedang itu dan meletakannya di samping Rhapael.
Rhapael terdiam memperhatikan Damanda.
Seketika melihat ada pisau di atas Meja, Damanda berjalan mengambil pisau buah yang sedikit tajam.
__ADS_1
Seketika luka Damanda bertambah lebar seketika itu Rhapael menahan pisau yang sudah terlanjur menggores lebar telapak Damanda. Darahpun keluar lebih banyak.
Damanda tersenyum dan memberikannya pada Rhapael. Rhapael bingung antara iya atau tidak.
"Jangan! Obati lukamu, Kau bisa membuat semua bangsa imortalia tahu jika kau..." Penolakan Rhapael tak berfungsi pada Damanda. Seketika Damanda mengecup bibir Rhapael dan tersenyum.
"Aku mohon bantu aku menyeyelesaikan masalah ini dan ini adalah permohonanku, setelah ini jika terjadi sesuatu denganmu aku akan mati saja lebih baik itu yang bisa kulakukan atau aku memberikan pedang itu sekarang padamu walau terpaksa dan percuma."
Damanda memberikan telapaknya yang sudah banyak sekali darah yang mengalir sampai lengan dan pakaiannya.
"Jangan dekati aku lagi setelah ini," ucap Rhapael dengan lembut.
Damandan mengangguk.
Seketika Rhapael menatap tangan Damanda dan mencium lukanya lalu menjilat dan menghisap darah yang keluar. Damanda merasa perih dan ngilu bersamaan dengan ada rasa mengelitik hingga merinding.
Rhapael mengangkat Damanda menggendongnya dan memangkunya di pangkuannya seminum semua darah yang mengalir di lengan Damanda.
'Tahan Damanda ini hanya sementara.' Mengeratkan pegangannya pada gaunnya Damanda memejam kuat tak mau melihat Rhapael menjilat luka dan mencium lukanya.
Seketika satu tangan Rhapael yang bebas memegang tangan Damanda yang mengepal erat.
"Aku ingin lagi," ucapnya lemah dan serak seperti seorang yang, Argh... Damanda sulit menjelaskannya dengan kata-kata.
Terkejut dan langsung membuka matanya Damanda menatap mata biru Rhapael yang sayu dan bibir merah dengan darah yang berantakan di sekitar bibirnya.
Seketika Damanda melihat lukanya ternyata sudah tertutup rapat dan darah juga bersih dari lengannya.
"Kau benar-benar ingin?" Tanya Damanda takut-takut.
Rhapael terdiam dan berdiri lalu melangkah ke pintu, belum sampai Tangan Damanda meraihnya lebih dulu.
Damanda memberikan leher sebelah kanan dengan memberikan tempat untuk mengigitnya.
Seketika itua Rhapael menoleh kesamping.
"Tidak.. Ini tidak bisa di teruskan kau sangat ketakutan bukan lebih baik jika..."
Rhapael menghentikan ucapannya ketika kedua telapak tangan Damanda menyentuh pipi Rhapael.
"Jika aku memberikannya apa ini akan selesai." Damanda menatap wajah Rhapael dengan tatapan yang tajam.
Rhapael terdiam seketika menarik dagu Damanda dan menahan tengkuk Damanda. Rhapael mencium Damanda untuk kedua kalinya dan kali ini membuat Damanda dan Rhapael saling menginginkannya mereka seperti tak ingin kehilangan hingga berulang kali Damanda mengambil nafas dan Rhapael yang tak sabaran, Setelah beberapa menit beciuman itu terhenti terganti dengan sesuatu yang... seketika Wajah Damanda meringis ketakutan menahan ngilu dan perih karena benda runcing merobek kulinya sampai sakit itu tergantikan dengan perasaan hangat dan juga nyaman.
Di depan ruangan itu Sultan Marcus dan Limino bersama Tristan masih menunggu.
Terakhir mereka mendengar kemarahan Rhapael tapi, berakhir sunyi kemudian.
__ADS_1
Di dalam sekarang.
Damanda terdiam. Rhapael juga terdiam wajah Damanda lemas dan pucat Rhapael yang lebih baik segera keluar dan melihat Sultan juga Marcus Limino dan Tristan menatapnya.
Mereka terkejut dan menatap Rhapael khawatir juga tajam.
Marcus langsung mengganti ekspresi wajahnya dan menatap biasa.
"Pangeran bagaimana?" Tristan menatap Damanda yang kini tertidur di kasurnya.
"Bisa kalian bawakan makanan dan juga beberapa hal, Aku terlalu banyak..." Ucapan Rhapael menggantung Sultan langsung mengerti dan berbalik.
Limino dan Marcus segera pergi menjalankan perintah dan Sultan juga akan memastikan jika Marcus dan Limino membawa sesuatu yang cukup untuk Damanda.
Rhapael dan Tristan masuk.
Damanda langsung duduk dan merenggangkan lehernya.
Menurunkan kakinya dari ranjang. Seketika Rhapael berdiri menatapnya. Damanda dan Rhapael lupa jika ada Tristan diantara mereka.
Seketika Tristan berdehem untuk memberikan tanda jika ada orang lain diantara mereka.
"M..Tristan, Hehe," Damanda masih malu dan berusaha berdiri ketika tubuhnya akan jatuh Rhapael langsung memegang tangan Damanda seketika itu Damanda melepaskannya.
"Tidak.. aku tidak apa-apa, Santai tenang jangan Khawatir." Damanda melangkah perlahan seketika terjatuh.
"Tidak apa-apa aku masih baik-baik saja," ucap Damanda lagi sambil mengacungkan jempol.
Damanda berusaha berdiri dan mendekati kursi lagi dan lagi bantuan Rhapael di tolak dan Tristan juga di tolak akhirnya Damanda duduk sendirian di atas sofa dengan tenang.
Tristan menghampiri dan mengalaskan tangannya dengan kain.
"Apa?" Damanda bingung.
"Luka mu yang tadi kau pikir aku lupa," ucap Tristan.
Damanda malu menoleh ke arah lain Rhapael tetap diam menatap apa yang Damanda dan Tristan lakukan.
"Jangan terkejut aku..." Ucapannya terhenti ketika Teristan meletakan tangan Damanda dengan kasar.
"HEEEY...." Pekik Damanda kesal.
"Aku tidak terkejut, Kau pasti sudah merasakannya bagaimana? Nyaman," ucapan Tristan seketika di jawab deheman Rhapael.
Mereka berdua saling diam seketika Tristan menahan tawanya membuat Damanda makin malu.
"Yaaa... Kau Tristan, Tidak Marcus tidak Kau sungguh menyebalkan aku tidak melakukan apapun kok," ucap Damanda yang jujur tapi, apa yang terjadi tidak bisa di jelaskan secara gamblang.
__ADS_1
Ketukan pintu membuat mereka menoleh seketika wajah mereka langsung berubah ekspresi secara bersamaan.